
" Aku tidak akan tersesat, jalannya mudah dihafal" Jawab Yuki seadanya.
" Hm.." Fuyumi balas dengan deheman singkat, sedikit tak percaya sang adik begitu percaya diri. Fuyumi pikir Yuki seorang penakut, pasalnya ia selalu menuruti setiap perintah sang ayah dan menuruti semua permintaannya. Sepertinya Fuyumi yang terlalu bodoh hingga tak menyadari sang adik yang begitu berani.
" Aaaaa, Yu-chan benar-benar menyebalkan!" Rutuk Fuyumi yang kini sibuk menggerutu sembari menggandeng tangan Yuki dengan erat, membuat Yuki melirik risih pada sang kakak yang bergelayut manja padanya. Jujur, ia masih belum terbiasa dengan kontak fisik seperti ini, apalagi Fuyumi yang memiliki garis wajah yang lebih mirip dengan sang ayah membuat Yuki kadang merasa gemetar ketakutan.
Yuki segera membawa Fuyumi kembali ke tempat sang ayah dan Kinro sudah menungu mereka, setelahnya Yuki langsung mengembalikan peralatan make up ke dalam dashboard kemudian melanjutkan tugasnya untuk menuliskan topik yang harus diingat oleh Fuyumi, sedangkan Fuyumi berbincang dengan sang ayah yang nampak kesal.
" Papa lihat, aku benar-benar mirip dengan Yu-Chan sekarang!" Ucap Fuyumi dengan riang, Seiji yang melihat itu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Seiji PoV on
" Papa lihat, Aku benar-benar mirip dengan Yu-Chan sekarang!" Ucap Fuyumi dengan riang, entah kenapa aku terdiam dan tak mampu berucap. Mereka memang kembar, akan tetapi aku tak pernah membayangkan, Yuki yang tersenyum lebar seperti Fuyumi.
Cantik -Ucapku dalam hati
Sial, apa sih yang ku pikirkan!- Rutukku yang kemudian menatap putri kecilku lembut dan balas mengangguk.
" Kau benar-benar cantik memakai itu" Ucapku pada satu-satunya putriku, Fuyumi yang mendengarnya nampak begitu bahagia.
" Kinro, antar Snow kembali dan segera kembali ke mari!" Titahku pada Kinro yang sedari tadi diam menatap Yuki yang tengah menulis sesuatu pada kertas, sepertinya itu topik yang akan diperbincangkan malam ini.
" Baik, Seiji-sama" Balas Kinro memberi hormat.
" Ayo kembali Fuyumi" Ucapku pada Fuyumi, Fuyumi balas mengangguk dan berjalan sembari mengandeng tanganku. Fuyumi nampak begitu senang, sepertinya dia benar-benar bosan dirumah sendirian.
" Ah, tunggu sebentar Ayahanda!" Panggil bocah sialan itu yang berlari sembari menyodorkan kertas yang ia tulis lagi pada Fuyumi. Fuyumi menatap malas kertas itu, dia sedikit cemberut karena itu.
" Segeralah kembali ke perusahaan" Ucapku pada bocah itu, dan dia hanya membalas dengan anggukan singkat. Benar-benar tidak tau sopan santun, dia bahkan tak menatap mataku. Aku segera menarik tangan Fuyumi kemudian membawanya kembali ke pesta, gadis kecilku nampak begitu senang sekarang.
Apa aku harus pulang dan menemaninya? -Pikirku saat menatap senyum riang pada wajah Fuyumi.
Tapi aku punya banyak sekali pekerjaan dikantor, ah ku berikan pada bocah itu saja! -Batinku tak peduli
Seiji PoV Off
Author PoV On
" Ayo pergi" Ucap Kinro yang segera masuk ke sisi kemudi dan menyalakan mobil.
" Hm, apa kita bisa mampir ke kedai ramen di ujung jalan Kinro-San?" Tanya Yuki dengan suara lirih, Kinro yang mendengarnya berdecak kesal dan tak memberikan jawaban. Yuki yang mengerti hanya bisa menghela nafas pelan, dia lapar, akan tetapi Kinro tak ingin mengantarnya, sepertinya ia harus memasak malam ini.
Yuki menoleh ke sisi jendela, menyandarkan kepalanya pada jendela yang menampilkan pemandangan malam Shinjuku. Ya, mereka berada di distrik Shinjuku saat ini. Tempat itu selalu terang, banyak gedung-gedung dengan lampu berwarna-warni yang akan memanjakan mata penikmatnya. Sayangnya itu tak bisa menggetarkan hati Yuki, keindanhan kota tak bisa menerangi hatinya yang hampa.
Mobil terus melajut dengan kecepatan tetap melewati jalanan malam hingga tiba-tiba berhenti didepan sebuah kedai ramen yang sangat dikenal oleh Yuki, Yuki menatap Kinro terkejut, sesaat dia juga bingung dan tak mengerti. Kinro melepas sabuk pengamannya kemudian membuka kaca dan menyalakan rokok miliknya, Yuki malah semakin bingung dibuatnya.
" Uhm, Kinro-San?" Panggil Yuki yang dibalas dengan lirikan oleh Kinro dari kaca spion.
" Ck, kau bilang ingin membeli ramen! Cepat pergi, aku harus segera kembali untuk menjemput tuan besar!" Ujar Kinro kesal, Yuki yang mendengarnya terkejut, tanpa sadar ia menarik kecil sudut bibirnya.
" Baik, terimakasih Kinro-San!" Ucap Yuki membungkuk kemudian beranjak keluar dengan cepat, Kinro yang melihat itu hanya menghela nafas pelan. Hingga ia teringat kalau Yuki pasti tak membawa uang.
" OII BOCAH!" Teriak Kinro dari mobil membuat Yuki menghentikan langkahnya, Yuki menoleh menatap bingung pada Kinro yang melemparkan sebuah kartu. Yuki refleks menangkap dan kemudian menatap lekat kartu debit miliknya yang terkadang ia simpan di mobil.
" Arigatou Kinro-San" Ucapnya sekali lagi sebelum melangkah masuk kedalam kedai.
KRIINGG
Bunyi bell pintu membuat para pelayan menoleh pada sosok yang baru saja masuk ke dalam toko mereka.
" Ah, Selamat datang" Ucap para pelayan yang menantar makanan pada pelanggan lain, Yuki balas dengan anggukan.
" Oh, selamat datang Snow-chan!" Ujar sang koki utama kala mendapati Yuki yang mendudukkan tubuhnya di kursi.
" Paman aku pesan seperti biasa, ah juga tolong satu tonkatsu!" Ucap Yuki yang dibalas dengan anggukan mantap oleh sang koki.
" Baiklah, akan ku buatkan yang paling enak!" Ucap sang koki dibalas dengan kekehan pelan oleh Yuki.
Yuki duduk dengan tenang sembari menanti pesanannya siap, tak lupa sesekali ia bertukar canda dengan sang koki yang tengah memasak. Malam ini kedai itu cukup ramai, walau sang rembulan semakin meninggi, akan tetapi tak menghalangi para pengunjung untuk mampir.
" Pesanannya sudah jadi, Snow-Chan!" Ucap sang koki yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki, Yuki beranjak turun dari kursi sembari melangkahkan kakinya menuju kasir.
" Terimakasih paman!" Ucap Yuki yang melangkah menuju kasir, di kasir sudah ada seorang pegawai yang tengah memberikan uang kembalian pada pelanggan lain.
" Oh snow-chan!" Ucap sang kasir kala mendapati Yuki yang berdiri dibelakang pelanggan yang ia layani, Yuki menarik senyum kecil saat sang kasir mendapati dirinya.
" Berapa total pesananku, Haruto-san?" Tanya Yuki yang mendekat ke meja kasir kala pelanggan didepannya sudah pergi, sang kasir yang dipanggil Haruto hanya terkekeh pelan sembari memberikan makanan yang dipesan yuki.
" Totalnya 3500 yen" Ucap Haruto, Yuki mengangguk kemudian memberikan debit miliknya pada haruto.
" Heh, tumben pakai debit?" Ucap haruto yang sedikit bingung, Haruto tau kalau Yuki memang orang kaya, tapi pemuda itu sangat jarang mendapati Yuki mengeluarkan debit hanya untuk membeli ramen. Biasanya gadis kecil itu membawa beberapa puluh ribu yen.
" Aku tidak bawa uang jadi pakai debit" Jawab Yuki seadanya, Haruto mengangguk kemudian menggesek kartu dan mengembalikannya pada Yuki bersama dengan struk belanjanya.
" Arigatou" Ucap Yuki yang kembali menyimpan kartu itu, Haruto mengangguk menatap gemas Yuki.
" Baiklah, hati-hati dijalan pulang oke?" Ucap Haruto yang dibalas dengan anggukan mantap oleh Yuki.
" Bye haruto-san!" Ucap Yuki yang berjalan kembali menuju ke mobil.
" Kalau sudah selesai cepat masuk!" ketus Kinro saat mendapati Yuki yang masih berdiri diluar, Yuki nampak mengangguk kemudian membuka pintu dan mendudukkan tubuhnya di sisi kemudi. Kinro hanya melirik malas, kemudian melanjutkan laju kendaraan roda 4 itu menuju ke kantor.