Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Siapa Namamu?



" Makan-makanan yang enak!" Ujar Yuki yang menyeret Sanada menuju kantin.


" Bukannya makanan di kantin sama saja?" Tanya Sanada, dia ingat tadi siang sang kakak membawakannya makanan dari kantin rumah sakit.


" Haha, kalau kamu makan di kantin pengunjung memang benar rasanya hampir sama hambarnya dengan bubur untuk pasien. Tapi tidak jika kamu makan di kantin khusus staf!" Jelas Yuki pada Sanada, Sanada mengernyit heran.


" Memangnya kita bisa makan disana?" Tanya Sanada lagi.


" Memang kau tidak bisa makan disana kalau pergi sendiri, tapi kau bisa makan disana bersamaku" Ucap Yuki membuat Sanada semakin heran.


" Kau mengatakannya seakan kau tinggal disini" Celetuk Sanada membuat Yuki terkekeh pelan.


" Ya, aku pasien rawat jalan disini. Tempat ini sudah seperti rumah keduaku" Ujarnya dengan senyum kecil yang mengembang membuat Sanada tersipu melihatnya.


.


.


.


Keduanya berjalan cukup lama hingga akhirnya berhenti didepan pintu bertuliskan "staf only" disana, Yuki membuka pintu perlahan kemudian menarik Sanada masuk.


" Permisi.." Ucap Yuki memanggil staf yang bertugas.


" Ada yang bisa dibantu?" Tanya seorang staf pria yang baru keluar dari dapur.


" Oh, Sawamura-san!" Sapa Yuki begitu mengenali wajah sang koki utama


" Are, Snow-chan? Kali ini kenapa lagi?" Tanya Sawamura to the point, Yuki terkekeh pelan mendengarnya.


" Aku baik paman, hanya datang untuk meminta obat dan menjalani pemeriksaan" Jelas Yuki menjawab pertanyaan Sawamura.


" Hehh, tumben sekali kau menghabiskan obatmu?" Ujar Sawamura menatap heran pada Yuki, pasalnya pria itu sangat hafal dengan tabiat Yuki.


Setiap bulan saat pemeriksaan rutin Yuki selalu mengeluh padanya saat makan, gadis kecil itu selalu bilang bahwa Kaito-sensei lagi-lagi menambah dosis obatnya, atau memberikannya obat lagi dan lagi padahal obatnya yang bulan lalu belum habis..


" Yah, ada yang membuang obatku. Jadi aku meminta lagi pada Kai-san" Ujar Yuki sembari menggaruk pipinya, Sanada yang melihat interaksi keduanya merasa kesal karena diacuhkan


" Kapan kita makan?" Tanya Sanada kesal, Yuki yang mendengarnya terkejut.


" Ah maaf, Sanada-nii aku lupa" Ujarnya menyesal, Sanada hanya berdehem pelan.


" Haha, apa yang kalian inginkan anak-anak?" Tanya Sawamura pada kedua anak itu, Sanada nampak memutar otaknya sedang Yuki sepertinya sudah menemukan jawabannya.


" Apa yang kau buat hari ini Sawamura-san?" Tanya Yuki menatap Sawamura polos


" Hm, kami membuat kare, ramen, dan miso" Ujar Sawamura memberi jawaban, Yuki mengangguk-anggukan kepalanya.


" Kalau begitu aku mau ramen" Ujar Sanada menentukan pilihannya, Yuki tersenyum kecil.


" Sawamura-san, Sanada-nii terkena tifus!" Ucap Yuki memberitahu Sawamura, Sawamura mengangguk paham.


" Baiklah, kalau begitu bagaimana denganmu Snow-chan?" Tanya Sawamura lagi


" Aku mau nasi kare" Ujar Yuki dengan senyum riang diwajahnya, Sawamura memberikan ancungan jempol sebelum beranjak menuju dapur untuk mengambil pesanan keduanya.


" Ayo duduk disana!" Ujar Yuki mengajak Sanada duduk di salah satu meja.


Keduanya berjalan dan mendudukkan tubuhnya di meja yang ada, Yuki mendudukkan tubuhnya disusul oleh Sanada yang mengikuti.


" Oi" Panggil Sanada pada Yuki, membuat Yuki menatap bingung pada Sanada.


" Ada apa?" Tanya Yuki bingung, sedang Sanada beedecak malas.


" Namamu!" Ucap Sanada yang membuat Yuki membulatkan bibirnya.


" Benar juga, kita belum berkenalan secara formal ya?" Ucap Yuki yang diangguki oleh Sanada.


" Hei aku memintamu memperkenalkan diri lebih dulu!" Gerutu Sanada yang membuat Yuki terkekeh.


" Kau harus memperkenalkan dirimu sendiri sebelum meminta orang lain memperkenalkan dirinya Sanada-nii" Jelas Yuki sembari menggoda anak itu, Sanada nampak mengeram pelan.


" Sanada Izana, Sanada nama keluargaku dan Izana nama depanku" Jelas Sanada memperkenalkan dirinya.


" Izana ya?" Gumam Yuki yang membuat Sanada, ah panggil saja Izana. Menatapnya bingung.


" Kenapa?" Ketus Izana yang mendapat gelengan pelan dari Yuki.


" Tidak, hanya saja kau punya nama yang bagus" Ucap Yuki tersenyum, Izana malah semakin bingung.


" Terimakasih, ah lupakan itu dan katakan saja namamu!?" Tanya Izana sekali lagi setelah menghanturkan terimakasih.


" Haha, kau benar-benar keras kepala ya Iza-nii" Celetuk Yuki lagi-lagi mrngalihkan topik, engga menyebutkan namanya.


" Hei, siapa yang kau panggil kakak!?" Protes Izana tak trima, Yuki tersenyum puas kala tawa ringan juga ikut keluar dari belah bibirnya. Puas karena berhasil mengalihkan pembicaraan.


" Aku berbicara dengan pemuda tampan disebelahmu!" Ujar Yuki membuat Izana langsung menoleh dan bergeser mengambil jarak dari tempat duduknya tadi.


" AHAHAHAHAHA, aku bercanda okay! Kau benar-benar lucu, Iza-nii!" Celetuk Yuki yang masih terkekeh, Izana mencebik kesal.


" Kau benar-benar menyebalkan bocah!" Gerutu Izana yang membuat tawa makin meluap ke udara, para staff dapur yang mengdengar itu tentu saja merasa heran.


Seingat mereka hanya Yuki dan Izana yang datang, tapi mereka tidak pernah melihat Tuku tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum saja sangat jarang apalagi tertawa. Maka dari tu rasa penasaran menghantui mereka, jadi mereka memeriksa di kuar dan benar saja, mereka mendapati Yuki yang tertawa terbahak dna Izana yang sedang mengutarakan protesnya.


Para staf tentu saja terkejut, salah satu dari mereka segera mengambil ponsel dan memotret si cantik dengan ponselnya. Sedang yang lain mengukir senyumnya, ini pertama kalinya mereka melihat Yuki yang begitu bebas dan riang. Tak pernah mereka sangka bahwa mereka akan melihat hal seperti ini dari Yuki.


" Sudah, ayo kita siapkan makananya. Mereka pasti sudah lapar" Ucap salah seorang staf.


" Ya, ayo" Sambung Sawamura yang mendorong mereka masuk kembali ke dapur, sedang Izana masih menyuarakan protesnya.


" Hei hentikan itu dan katakan saja siapa namamu!!" Lagi dan lagi Izana menanyakan hal yang sama, Yuki menghentikan tawanya.


" Hahh, bukannya kau sudah tau namaku Iza-nii!" Celetuk Yuki yang membuat Izana geram.


" Kalau aku tau aku tidak akan bertanya!" Kesal Izana pada si cantik, Yuki terdiam pasalnya Izana nampak kesal dan tanpa dia sadari tangannya mulai bergetar pelan.


" Berhenti bercanda dan katakan siapa namamu!" Pinta Izana kali ini garang, Yuki meneguk ludahnya paksa. Aura Izana benar-benar mengeirkan saat ini.


" S-snow, orang-orang memanggilku Snow" Ucap Yuki lirih dan sedikit terbata, sedang Izana menatap kesal pada Yuki.


" Aku tidak menanyakan nama panggilanmu! Aku bertanya siapa namamu!? Nama yang orang tuamu berikan, bukan nama yang digunakan orang-orang untuk memanggilmu" Gerutu Izana kesal, Yuki terkesiap kaget. Pasalnya tidak ada seorangpun yang pernah menanyakan atau mempedulikan nama aslinya, Izana adalah yang kedua setelah Sato Osamu.


" Memangnya kenapa?" Tanya Yuki tenang, gadis itu mencoba berpikir jernih setelah keterkejutannya.


" Karena aku harus tau namamu agar aku bisa memanggilmu dengan benar!" Ujar Izana yang membuat air mata menetes dari sudut mata si cantik, membuat Izana bingung dan panik seketika.


" O-Oi! Kau kenapa!?" Tanya izana panik, Yuki menggeleng sembari menghapus air mata di wajahnya.


" Shiroi" Ucapnya membuat Izana bingung.


" Ha?" Sahut Izana yang tidak mengerti dengan maksud perkataan Yuki.


" Shiroi Yuki, itu namaku" Ucap Yuki yang membuat Izana tersenyum puas.


" Hehh, benar-benar nama yang cocok untukmu!" Celetuk Izana membuat Yuki mengerutkan keningnya.


" Ya, rambut perak dan kulit putih benar-benar pantas disebut sebagai salju yang indah" Sambung Izana membuat Yuki lagi-lagi terpana, bocah itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih kuat dibanding yang biasanya.


" Apa-apaan itu, Iza-nii!!?" Protes Yuki pada Izana, kini giliran Izana yang mengetarkan tawa di udara.


" Makanan sudah siap!" Ucap Sawamura yang menghidangkan 2 nampan berisikan pesanan kedua bocah itu, Izana menatap isi nampan itu dengan mata berbinar, sedang Yuki nampak biasa saja tapi tangannya sudah menyendok nasi kare dihadapannya.


" Selamat makan!"