Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Calico



" Nee, apa kamu punya rumah?" Tanya Yuki menatap kucing kecil di depannya.


Kucing itu nampak mungil, mungkin usia nya baru beberapa bulan. Mungkin sekitar 2 bulan? tubuhnya juga nampak kurus dan bulunya terlihat kusam, dari sini Yuki bisa menarik kesimpulan bahwa kucing itu tidak punya pemilik, bahkan ia bisa mengatakan bahwa kucing itu merupakan kucing liar.


" Nee, mau kah kamu pulang bersama ku?" Tanya Yuki menatap lama pada manik hijau milik kucing di depannya.


' miww~~' Balas kucing itu mengeong, seakan memberikan persetujuan.


Yuki terkekeh sejenak, sebelum kembali mengumpulkan kekuatannya dan mencoba bangkit dari sana. Setelah berusaha keras Yuki akhirnya bisa kembali bangkit walau tubuhnya harus bersandar pada dinding. Kucing itu masih setia berada di sampingnya menemani Yuki.


" Baiklah, ayo ikuti aku." Ujar nya melangkahkan kaki nya perlahan sembari menumpu tubuhnya pada dinding, Yuki berjalan dengan kucing kecil yang masih setia mengikutinya di belakang. Kakinya melangkah menuju ke ruang kelas dimana tas nya berada. Butuh cukup waktu bagi Yuki agar sampai menuju ke kelasnya, setibanya disana Yuki mengetuk pintu perlahan.


Tok Tok


" Silahkan masuk" Ujar seorang wanita yang merupakan guru di kelas nya, Yuki menggeser pintu dengan perlahan menampakkan eksistensi nya di hadapan penghuni kelas.


" SHIROI-SAN!" Pekik sang guru begitu mendapati Yuki yang berdiri di depan pintu, Yuki membungkuk sejenak sebelum mengambil tas nya di meja.


" Maaf mengganggu sensei, tapi saya pamit pulang duluan hari ini." Ujar nya sembari membungkuk, teman-teman sekelas nya mulai berbisik datu sama lain, sedang sang guru menatapnya lelah.


" Hei lihat, dia mau membolos lagi"


" Benar-benar tidak tahu malu!"


" Apa dia akan menangis dan mengadu pada ibunya?"


" Tidak mungkin, dia kan yatim piatu! Kita bahkan tidak pernah melihat orang tua nya hadir dalam acara sekolah"


" Hm, itu benar juga"


" Aku setuju denganmu Koushi! "


" Hahhh, pergilah dan tidak usah kembali lagi besok! Toh kamu hanya harus menunggu kelulusan 2 bulan lagi!!" Cerca sang guru yang dihiraukan oleh Yuki, sudah tertanam dengan jelas prinsip dalam diri nya untuk menghiraukan semua ucapan tidak berguna, tidak bermutu, dan yang membuang waktu juga memberi penyakit untuk diri nya.


" Baik, terima kasih Koyuki Sensei" Ucap Yuki sebelum keluar dan menutup pintu dengan pelan, Yuki berjongkok dan mengambil anak kucing itu kemudian memasukkannya ke dalam tas.


" Ayo pulang, aku harus segera bekerja setelah ini" Ujar Yuki membawa kucing dan tas miliknya digendongannya, Yuki kembali melangkahkan kaki nya menuju rumah.


Kaki kecil nya melangkah di tengah sakura yang mulai berjatuhan, tangan kecil nya saling digosok guna menciptakan kehangatan. Yuki menatap datar pada jalanan sepi di hadapannya, putih dan pink dari kelopak yang berguguran saling bertumpuk memenuhi pandangan. Yuki mengulum senyumnya, bunga sakura benar-benar indah dipandang. Berbeda dengan butiran salju yang selalu dianggap merepotkan, orang-orang lebih suka memandang sakura yang berguguran.


Yuki tak membencinya, hari bersalju selalu menjadi waktu dimana dia akan bekerja lembur di kantor, hari dimana tubuhnya akan semakin melemah dan rasa sakitnya akan semakin meraja lela karena perubahan suhu dan kondisi tubuhnya. Hari dimana ia akan merayakan malam natal dan tahun baru sendirian, hari dimana diri nya di lahirkan dan ditakdirkan menderita. Semua selalu diliputi oleh salju, karenanya Yuki membenci salju, dia benci segala hal yang berhubungan dengan musim dingin dan segala hal tentang diri nya sendiri.


Dan musim semi yang datang setelahnya kan menjadi malapetakan yang lebih besar, pasalnya tumpukan pekerjaan dan sekolah akan membuat Yuki makin sibuk. Belum nanti sang kakak yang akan terus merecokinya dan memintanya melakukan banyak hal, karenanya Yuki suka saat dirinya bisa memandang sakura dalam perjalanan sepulang sekolah. Setidaknya ini bisa mengalihkan suasana hatinya.


" Sebaiknya aku bergegas sebelum siang " Gumam nya menatap langit sebelum mempercepat langkah nya kembali ke rumah.


Satu jam berlalu dan Yuki akhirnya tiba di depan mansion yang tinggi nan kokoh. Tangannya dengan perlahan membuka kunci gerbang sebelum mendorong gerbangnya agar terbuka sedikit, dengan cekatan Yuki kembali menutup dan mengunci pintu gerbang sebelum akhirnya melangkahkan kaki nya dengan cepat kembali menuju tempat peristirahatannya.


' miww~' Kucing itu mengeong senang saat mendapati diri nya berada dalam ruangan asing yang terasa hangat, kucing itu melangkah kan kaki kecil nya menyusuri penjuru ruangan sedang Yuki kini sibuk berkutat menyiapkan air hangat dalam ember di kamar mandi.


Setelah memakan waktu untuk menyiapkan bak mandi untuk si kucing, Yuki segera mengangkat tubuh kucing kecil itu menuju ke kamar mandi. Dengan perlahan Yuki memandikan kucing kecil itu, kucing itu nampak menikmatinya walau sesekali kucing itu terkejut saat air hangat membilas tubuhnya.


" Heee, kamu jantan!" Ucap Yuki sedikit terkejut, pasal nya dia pernah membaca buku soal binatang di perpustakaan kota. Dan di bab yang membahas kucing tertulis bahwa Kucing Calico biasanya merupakan kucing betina, dan spesies Calico jantan sangat jarang di temukan.


Yuki kembali menggosok tubuh kucing itu dengan shampo, juga membersihkan kutu-kutu yang menempel pada tubuh kucing itu. Butuh waktu satu setengah jam bagi Yuki untuk membersihkan kucing itu, ya dia memakan satu jam lebih guna membersihkan dan mematikan semua kutu yang ada si tubuh kucing kecil itu.


" Akhirnya selesai!!"Uujar Yuki mengeringkan tubuh kucing itu dengan handuk, setelah dirasa cukup kering Yuki baru mengeringkannya dengan menggunakan hairdryer.


' miww' Kucing itu mengeong saat sudah selesai di mandikan dan dikeringkan, Yuki mencoba mencari apa ada sesuatu yang bisa dimakan oleh kucing itu dalam ruangannya. Dan setelah mencari cukup lama, Yuki menemukan beberapa roti yang mungkin bisa dimakan si kucing, juga susu sapi segar yang selalu tersedia dalam lemari pendinginnya.


Yuki memberikan roti dan semangkuk susu segar pada kucing itu, sebelum dirinya pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh mungilnya yang kotor. Setelah selesai mandi Yuki mendapati kucing itu terlelap di atas ranjang miliknya.


" Gawat aku harus bergegas sebelum ayahanda menelfon!!" Ujarnya ketika melirik jam yang menunjukkan pukul 11:15, Yuki segera menyambar tas obat miliknya, mengambil masker hitam dan kemudian melangkahkan kaki nya dengan sedikit berlari menuju ke halaman depan mansion mereka.


8 menit berjalan dan berlari sesekali, Yuki akhirnya tiba di depan mansion Suzue. Disana sudah ada sopir pribadi sang ayah yang akan mengantar nya menuju ke kantor, Yuki menghentikan langkahnya sembari mengatur nafas sedang sang sopir menatapnya kesal.


" Kenapa kau lama sekali!?" Tanyanya menuntut penjelasan yang memuaskan, Yuki mengambil nafas panjang guna mengambil aba-aba untuk menjawab.


" Maaf, penyakitku kambuh tadi..." Ujarnya sembari membungkuk pada si sopir,


" Ck, cepat masuk! Bos sudah menunggu!!" Ujar sopir itu memberikan titah, Yuki mengangguk sebelum mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang, mengambil beberapa pil obat kemudian menelannya.


Butuh waktu 45 menit jika mengendarai mobil dengan kecepatan 100 km/h agar mereka bisa tiba di kota dengan cepat, mobil berhenti di depan sebuah gedung dengan 75 lantai. Yuki segera turun setelah mengucap terimakasih pada sang sopir.


Yuki melangkahkan kaki nya berjalan masuk ke dalam perusahaan itu, Suzue Corp. Yuki dapat melihat banyak karyawan yang tengah sibuk di depan komputer mereka, mengerjakan tugas-tugas yang menjadi kewajiban mereka. Yuki memakai maskernya, walau begitu di sepanjang jalan Yuki mendapat sapaan dari para karyawan disana.


Ya, walau Yuki lebih muda dari mereka. Yuki tetap dihormati dan disegani di mata para karyawan Suzue Corp, bagaimanapun posisi dan jabatan Yuki lebih tinggi dari para karyawan disana. Selain itu Yuki selalu bersikap sopan dan menghormati para karyawannya, walau gadis kecil itu sangat dingin dan pendiam.


TOK


TOK


Pintu diketuk dengan perlahan


" Permisi, ayahanda.." Ujarnya setelah mengetuh pintu, Yuki setia menanti didepan pintu sampai akhirnya seorang wanita dengan kaca mata yang membingkai wajahnya keluar dari sana. Itu sekertaris ayahnya, Hiyori Mito.


" Kau bisa masuk, Snow" Ujar sang ayah saat Hiyori Mito sudah keluar.


Yuki melangkahkan kakinya masuk ke dalan ruang kerja sang ayah, seperti biasa meja yang bersih selalu menjadi pemandangan yang dia lihat di ruang kerja sang ayah. ya dia yang menghandel semua kertas itu, maka dari itu meja ayahnya sangat bersih.


" Kau pulang lebih awal?"