Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
On my mind



" Haha, dia sangat manis saat makan" Ucap rekan Taketora mendapati Yuki yang menyantap makannya dengan tenang.


" Hm, lebih baik jika dia tetap seperti itu.." Ucap Taketora memandang Yuki dengan tatapan lembut. Jujur, dalam hatinya yang paling dalam ia menolak untuk melihat Yuki menderita.


" Kau benar, ku harap ia bisa sedikit santai disini" Jawab wanita itu tersenyum pasi, Taketora mengangguk kemudian mengambil kembali blackcard Yuki dan mengembalikannya pada sang pemilik.


" Apa kau akan kembali bekerja setelah ini?" Tanya Taketora kala ia meletakkan blackcard itu ke meja, Yuki mendongak untuk menatap pria di hadapannya kemudian balas dengan mengangguk.


" Aku masih punya rapat penting yang harus ku hadiri setelah ini" Ucap Yuki sebagai balasan.


" Hahhh, apa kau tidak membolos lagi hari ini?" Tanya Taketora lagi


" Aku tidak membolos, aku sudah menyelesaikan study-ku. Jadi aku hanya harus menunggu 1 tahun lagi sampai aku benar-benar dinyatakan lulus secara resmi." Jawab Yuki yang membuat Taketora ternganga, gadis kecil itu memang pintar. Tapi ia tak menyangkan kalau Yuki diluluskan setelah 3 bulan bersekolah, hal ini benar-benar membuatnya terkejut.


" Kau!" Ucap Taketora yang kehilangan kata-kata, Yuki hanya terkekeh kemudian melanjutkan acara menyantap makannya.


" Hm, tahun depan aku akan masuk ke SD didekat sini" Ucap Yuki yang membuat taketora mengangguk paham.


" Kalau didekat sini bearti ke Sendagaya?" Ucap Taketora menyatakan pendapatnya


" Hm, kalau tidak ke Sendagaya ya ke Hatomori!" Jawab Yuki cuek, iya sangat yakin sang ayah akan memasukkannya ke salah satu dari 2 sekolah dasar terdekat dari kantor.


" Hehh..., kau sendiri terlihat ragu?" Ucap taketora yang mendapati ekspresi aneh di wajah Yuki,


" Ya, ayahanda pasti akan memilihkan Sd yang dekat dengan kantor. Jadi, hanya 2 pilihan itu yang paling dekat!" Jawab Yuki menjelaskan pemikirannya.


" Begitu ya.." Ucap Taketora yang nampak ragu. Yuki kembali melanjutkan makannya sedangkan Taketora kembali bekerja.


Yuki menyantap makanannya dengan tenang, sesekali ia melirik ke luar sekat kaca yang memisahkan dirinya dengan jalanan diluar. Tokyo memang kota yang penuh dan sibuk, bahkan disaat seperti ini ia masih bisa mendapati keramaian dari para pejalan kaki yang berlalu lalang. Kadang kala ia berpikir, seandainya ia melangkahkan kakinya tanpa arah, kemana ia akan berheti?


Gadis malang itu tak punya tepat untuk pulang, bukan hanya sekedar bangunan untuk berlindung dari panas atau dingin. tetapi juga tempat yang bisa ia datangi kala ia merasa sedih, kala ia merasa lelah, kala dirinya hancur, atau bahkan saat ia ingin menghilang dari dunia yang begitu kejam.


" Seandainya ayahanda membuangku..." Ucapnya menatap kosong pada langit dari balik sekat kaca, entah kenapa rasanya begitu kosong dan hampa. Seakan dirinya tak punya tujuan apapun yang bisa ia lakukan kala hal itu terjadi.


" Haha, itu tidak mungkin!" Ucapnya membantah pemikiran konyol tersebut, Yuki terkekeh sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya kemudian mengunyah dan menelannya.


"Jika ayahanda tidak membutuhkanku, ayahanda pasti akan membunuhku.." Ucapnya lagi, kali ini kotak bento dihadapannya yang menjadi sasaran. matanya menatap kosong bulir nasi dan karage yang ada dalam bento itu.


" Ya, seperti yang dijanjikan ayahanda sejak dulu." Ucapnya yakin, bahkan ia meremat sumpit yang ada di tangannnya cukup kuat.


Yuki menutup kembali kotak bento yang tersisa setengah, kemudian mengangkat tubuhnya dan beranjak pergi dari sana dengan 2 kotak bento yang masih ia bawa. Para pelayan mengucapkan salam saat Yuki keluar dari mini market tersebut, bahkan Taketora yang begitu sibuk membantu para pembeli juga mengucap salam.


Yuki melangkahkan kakinya, harusnya ia kembali menuju ke tempat yang selalu menyita seluruh waktunya saat ini. Suzue corp, perusahaan sang ayah yang berjalan 40 meter dari mini market tersebut. tapi kali ini ia tak langsung pergi ke perusahaan, melainkan mengarahkan kaki nya menuju ke salah satu jalanan kumuh yang jaraknya sekitar 30 menit dari mini market itu.


Yuki terus berjalan, hingga ia tiba di jalanan padat yang sesekali dapat ia jumpai seorang gelandangan yang tengah duduk bersandar di depan toko-toko yang berjajar di tempat itu. Yuki menghentikan langkahnya kala ia mendapati salah seorang pria tua yang merupakan gelandangan yang ada di distrik perbeanjaan itu, Yuki mengeluarkan salah satu kotak bento yang masih penuh kemudian meletakannya di depan pria tua itu.


" Aku belum memakan yang ini" Ucap Yuki yang kemudian pergi melanjutkan langkahnya pergi, kali ini gadis itu benar-benar kembali ke perusahaan. Sekarang jam menunjuk pukul setengah 2 siang, Yuki harus bergegas kembali karena ia punya rapat penting pada jam 3.  Yuki terus melangkahkan kaki-nya, sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan yang menarik matanya.


" Terimakasih untuk kerja kerasnya, Arata-san" Sapa Yuki yang kemudian masuk dan segera kembali ke ruangannya. Yuki melirik jam kala ia sudah tiba di ruangannya, jam sudah menunjuk pukul 2 lebih 15 menit dan ia belum menyiapkan berkas yang harus di tanda tangani oleh sang ayah dalam rapat sore nanti.


" Hahhh, aku harus cepat" Ucapnya lelah, ia meletakkan sisa bento di meja dan langsung mendudukkan tubuhnya di depan komputer, kemudian menggerakkan jemarinya di atas keybord. Dan mengubah halaman kosong menjadi lembaran kontrak yang bisa menghasilkan ratusan juta Yen.


Ctak


Tak tak


Suara jemari kecil yang bertemu dengan keybord berulang dalam ruangan, Yuki tak lupa memeriksa kembali dokumen yang ia buat sebelum mencetaknya. Yuki memandang lembaran demi lembaran yang baru saja ia singkirkan dari mejanya, sepertinya jatah pekerjaan untuk 3 hari kedepan sudah selesai ia tangani semua, jadi ia bisa pergi bersantai atau mungkin tetap di kantor dan menyelesaikan pekerjaan lainnya.


Setelahnya bergegas pergi ke ruang rapat dimana sang ayah dan klien merekaa telah menunggunya, Yuki membungkuk memberi maaf kala ia tiba di ruangan. Pasalnya ia terlambat datang, walau saat ini jam belum menunjuk pukul 3 tepat. Tapi sang ayah dan klien mereka telah menunggu, jadi Yuki meminta maaf atas keterlambatannya.


.


.


.


" Hahhh, aku harus bersiap untuk pesta" Ucapnya kala melirik jam sudah menunjuk pukul 5 sore, pestanya akan di mulai pukul 8 dan berakhir pada am 10. Yuki segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, melakukan berbagai macam perawatan yang membuat kulitnya terlihat lebih indah dan berkilau dari biasanya.


Hampir 1 jam ia habiskan waktu di kamar mandi untuk melakukan perawatan, hingga akhirnya Yuki keluar dan mengenakan pakaian santai yang biasa. Setelahnya Yuki segera menghubungi Kinro untuk mengantarnya menuju ke salon yang akan membantunya bersiap, tak lupa menghubungi pihak toko bahwa ia akan segera datang ke sana.


.


.


.


" Ayo cepat, aku harus mengantar Tuan besar setelah ini!" Ucap Kinro dingin, Yuki mengangguk dan bergegas masuk. Kinro segera melajukan mobil menuju ke tempat yang akan dituju oleh Yuki, sesekali ia melirik pada gadis kecil yang harusnya berstatus sebagai majikannya itu tengah melamun sembari menatap jalanan dari sisi kaca.


" Kita tiba" Ucap Kinro menghentikan laju mobilnya, Yuki yang tersadar segera keluar dan membungkuk mengucap terimakasih pada Kinro yang sudah mengantarnya. Kinro hanya acuh dan melajukan mobilnya pergi dari sana begitu saja.


Yuki menghela nafas pelan, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bangunan di hadapannya. Nuansa elegan dan mewah begitu jelas dari bangunan itu, membuat si cantik selalu terpukau dengan keindahan bangunan itu. Walau bukan pertama kalinya ia datang ke sana, bahkan bisa dibilang sudah puluhan kali ia kesana akan tetapi Yuki masih belum terbiasa.


" Selamat datang, Suzue-sama!" Ucap penjaga pintu yang mempersilahkan Yuki masuk ke dalam, Yuki balas dengan anggukan sopan kemudian melangkahkan kakinya ke meja resepsionis.


" Oh, anda sudah datang. Suzue-sama" Ucap pegawai resepsionis yang langsung datang menghampiri Yuki.


" Hm, apa gaunku sudah sampai?" tanya Yuki memastikan bahwa pakaian yang ia pesan sudah datang ke tempat ini atau belum, pasalnya akan menjadi masalah jika gaun yang akan ia kenakan belum tiba.


" Ah tentu saja, kami sudah menyiapkannya di ruang ganti seperti biasa. Apa anda ingin mengganti baju lebih dulu?" Tanya sang pegawai pada Yuki, Yuki balas mengangguk kemudian membiarkan pegawai itu mengantarnya menuju ke ruang ganti yang dimaksud.


" Perfect.." Gumam Yuki kala mendapati gaun yang ia pesan sudah tergantung dengan begitu indah, semua perminataannya tentang mengubah gaun itu juga dilakukan dengan sangat baik dan sempurna. Memang benar, tangan seorang desainer membawa keajaiban bagi para pemakainnya.


" Aku akan menganti pakaian, setelahnya aku akan langsung pergi ke ruang make up."