Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Ruang kerja yang berfungsi ganda



" Oh, Ohayou Snow-chan!" Sapa salah seorang petugas yang berjaga di pintu depan, Yuki menoleh pada si penjaga kemudian mengangguk pelan.


" Ohayou, Genji-san.." Balas Yuki yang menoleh pada sang petugas itu.


" Apa yang membawamu kemari sepagi ini, Snow-chan?" Tanya Genji pada si kecil didepannya.


" Mulai hari ini aku pindah ke kantor, jadi mungkin aku akan sedikit merepotkan anda Genji-san!" Ucapnya sembari membungkuk hormat.


" Eh? " Genji nampak bingung untuk beberapa saat hingga dia memahami maksud perkataan atasan kecilnya itu.


" Astaga, apa Suzue-sama yang meminta anda tinggal di kantor?" Tanya Genji to the point, pasalnya semua pegawai di perusahaan juga sudah tau bahwa hubungan ayah dan anak itu tidak baik sama sekali. Bahkan keduanya tidak pernah terlihat makan bersama di kantor, atau kadang sang ayah yang memarahi si kecil didepan para pegawai menjadi bukti nyata bagaimana hubungan keduanya.


" Haha.." Yuki balas dengan tawa hampa sebagai jawaban atas pertanyaan Genji


" Kalau begitu aku permisi dulu, Genji-san" Sambung Yuki yang berjalan menuju ke lift yang biasa ia gunakan untuk naik ke ruang Presdir.


" Katakan saja jika butuh bantuan!" Ucap genji mengingat gadis itu benar-benar memaksakan dirinya untuk mandiri.


" Baik.." Jawab Yuki sebelum pintu lift tertutup dan membawanya menuju ke lantai teratas di perusahaan ini.


.


.


.


DING


Pintu lift terbuka menampilkan lorong dengan karpet merah dan dinding berisikan lukisan-lukisan kuno yang berhagra jutaan dollar menyambutnya,Yuki melangkahkan kakinya berjalan menuju ke ruangannya. Hanya ada 3 ruangan disana, ruang miliknya, milik sekertaris sang ayah dan ruangan sang ayah.


KRIETT


" Ayo turun!" Ucap Yuki begitu membuka pintu dan meminta kucingnya untuk turun dari bahunya.


' miww ' kucing itu beranjak turun dan mulai melangkahkan kakinya mejelajahi ruangan baru itu, sedangkan Yuki mulai menatap beberapa pakaiannya dan menyimpan obat dan barang-barang pribadi miliknya.


" Urgh, aku lapar.." Gumam Yuki melirik jam yang menunjuk pukul setengah 7 pagi.


" Ayo makan!" Ucapnya memanggil si kucing yang sibuk menjelajahi ruangan barunya. Yuki berjalan menuju ke lemari pendingin di ruangannya, mendapati sepotong sosis dan air mineral disana.


" Hahh, aku harus berbelanja" Gumamnya menutup kembali lemari pendingin dan membuka sekaleng makanan kucing dari tas miliknya.


" Ini!" Ucap Yuki memberikan makanan kalengan itu pada si kucing.


BRUKK


Yuki menghempaskan tubuhnya pada ranjang double bed dibelakangnya. Mulutnya sibuk mengunyah potongan sosis itu sedang matanya menjelajah ruangan itu. Ruangannya cukup besar, hanya ranjang, lemari, dan sebuah meja belajar dengan rak buku sedang disebelahnya yang menjadi dinding pemisah dengan ruang kerjanya. Jadi sepertinya ia masih bisa membelikan beberapa mainan dan tempat bermain untuk kucingnya.


" Hm, sepertinya aku harus memberimu nama lebih dulu?" Ucap Yuki menatap kucing kecil miliknya.


SRAKK


Yuki bangkit dan meraih secarik kertas dan bolpoin yang ada di sudut meja, membuang bungkus sosis ke tempat sampah dan menghapus sisa makanan di sudut bibirnya. Si kecil lanjut mendudukkan tubuhnya ke lantai, meletkkan kertas itu dibawah kemudian menuliskan beberapa kalimat disana.


" Baiklah, bagaimana kalau kau memilih satu?" Ucap Yuki menyodorkan kertas itu pada kucingnya. Si kucing nampak menatap heran pada sang majikan dan kertas didepannya.


" Pilih satu! Ini Kei, artinya berkah. Karena tuhan mengirimmu untuk menghiburku. " Ucapnya menunjuk kalimat yang pertama disisi kiri, si kucing memiringkan kepalanya menatap Yuki.


" Lalu yang ini, Sho, artinya terbang atau alat musik angin. Memang tidak ada hubungannya, tapi aku suka langit. Dan kau datang tak diundang seperti angin sepoi-sepoi." Lanjutnya menunjuk kalimat ditengah.


" Dan yang terakhir, Kyou, artinya apricot. Kita pertama kali bertemu dibawah pohon Apricot." Jelas Yuki menunjuk kalimat terakhir dibagian paling kanan, si kucing masih diam tak bergerak, hingga beberapa saat kemudian kakinya diletakkan diatas kalimat yang berada di tengah.


" Oh, jadi kau suka yang ini?" Ucap Yuki melirik si kucing yang menjilati bulunya.


' Meoowww' Eongnya nyaring, Yuki terkekeh pelan.


.


.


.


Waktu berlalu dengan Yuki yang menghabiskan waktunya untuk menatap ruangan dan mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk selama dia tidak masuk kemarin. Padahal baru 2 hari tapi kertas-kertas itu sudah memenuhi semua penjuru ruang kerjanya, bahkan Yuki nampak begitu jengah dengan pemandangan yang tidak pernah berubah diruang kerja miliknya.


" Hahh, jangan tidur di sana Sho!" Ucap Yuki mendapati kucingnya yang tidur diatas tumpukan berkas yang sudah ia selesaikan, gadis itu tidak ingin tumpukan itu jatuh berantakan kala si kucing turun nantinya.


' Meow' Eongnya yang kemudian beranjak turun dari sana, dan beberapa lembar kertas yang ikut jatuh karena terdorong kaki si kucing.


"Argh..." Erang Yuki lelah, gadis itu bangkit dan mengambil kertas-kertas yang berjatuhan dan mengembalikannya ke tempatnya.


" Hahhh, ini sudah hampir jam makan siang..." Gumamnya sembari mengambil sebagian tumpukan kertas itu dan berniat membawanya ke ruangan sang ayah.


" Tunggu disini, Sho!" Ucap Yuki yang beranjak keluar dengan sebuah troli berisikan berkas yang sudah ia selesaikan.


Yuki mendorong troli itu menuju ke ruangan sang ayah yang letaknya tidak jauh dari ruang kerjanya, setibanya di depan ruangan sang ayah Yuki mengetuk pintu sejenak.


TOK TOK


" Masuk!" Ucap sang ayah dari dalam ruangan.


KRIETT


Knop diputar dan pintu didorong agar terbuka, setelahnya mendorong troli itu untuk dibawa masuk ke dalam.


" Permisi ayahanda, saya membawakan berkas yang sudah selesai saya periksa!" Ucapnya sembari menunduk.


" Hm..., kau juga membawa kucingmu?" Tanya sang ayah yang membuat Yuki mendongak menatap bingung pada sang ayah.


" Mohon maaf ayahanda, tapi Sho ada di-/ belakangmu..." Sela sang ayah memotong ucapan Yuki, membuat Yuki langsung menoleh dan mendapati kucingnya berada di ambang pintu masuk.


" Maafkan saya ayahanda, saya akan segera membawanya kembali ke ruangan!" Ucap Yuki yang membungkuk hormat, kemudian segera beranjak dari sana dan mengambil kucingya.


" Bawa kemari!" Ujar sang ayah begitu Yuki mengangkat Sho dan berniat membawanya kembali ke ruangannya, Yuki yang hendak menutup pintu tentu saja langsung membeku ditempat. Gadis itu takut sang ayah akan menyiksa kucing peliharaanya, atau malah dia akan dibunuh langsung ditempat.


" Ada apa? Bawa kucingnya kemari!" Titah sang ayah yang mendapati kalau Yuki tengah melamun.


" A-ah, baik!" Jawab Yuki yang segera masuk dan membawa kucingnya ke hadapan sang ayah, Yuki meletakkan kucingnya di pelukannya karena takut sang ayah macam-macam dengan kucingnya. Sho masih diam sembari menjilati bulunya.


" Dia benar-benar tidak takut padaku!?" Ucap Seiji heran, pasalnya dari sekian banyak binatang peliharaan yang dia temui. Baru kali ini ia menemukan yang tidak takut padanya, bahkan kucing ras milik Fuyumi takut padanya.


" Bawa kemari!" Titah sang ayah lagi sembari menunjuk meja miliknya, Yuki meneguk paksa saliva ditenggorokannya. Kemudian melangkahkan kakinya dan dengan gemetar meletakkan Sho diatas meja sang ayah.


' miww' Eong Sho begitu mendapati dirinya di turunkan, kucing itu mengosokkan kepalanya pada tangan kecil Yuki yang masih ada disekitarnya.


" Hehhh, dia benar-benar tidak menganggap ku ada!" Celetuk Seiji sedikit terkejut.


" Siapa namanya?" Sambungnya bertanya pada Yuki.


" Sho..." Cicit Yuki tak mampu menatap sang ayah, matanya hanya fokus pada kucing kecil yang sibuk menggosokkan kepalanya guna menenangkan dirinya.


" Ohh..." Ucap Seiji ber'o'ria kala mendapat jawaban atas pertanyaannya.


" Nanti malam akan ada pesta perayaan ulang tahun ke-16 Bank Mitsuko, jadi belilah pakaian dan bersiap!" Ucap Seiji yang masih mencoba mengelus si kucing.


" Baik, ayahanda!" Ucap Yuki membungkuk, gadis itu mengambil si kucing kemudian melangkah pergi dari ruangan sang ayah. Membungkuk sekali lagi diambang pintu sebelum menutup pintunya.


" Hahhh...." Helaan nafas lega kelaur dari bibirnya, gadis itu benar-benar membutuhkan udara segar untuk bernafas.


" Ayo belanja, Sho.."