Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Rumah sakit hewan



" Wah, kau benar!" Si penjaga toko masih tidak percaya mendapati seorang kucing jantan Calico, karena bagaimanapun jumlah populasi mereka sangat sedikit dan sangat jarang bisa menemukan Calico berjenis kelamin jantan.


" Hmm, jadi berapa totalnya paman?" Tanya Yuki pada si penjaga toko.


" Hei, aku baru 19 tahun okay! Jadi aku belum pantas dipanggil paman!!" Protes si penjaga toko tidak terima.


" Lalu, bagaimana aku harus memanggilmu paman?" Tanya Yuki masih menyebut penjaga toko itu dengan sebutan paman.


" Jangan memanggilku paman! Keita! Namaku Seijuro Keita!" Ucap penjaga toko memperkenalkan dirinya.


" Baiklah Keita-san, berapa totalnya?" Tanya Yuki yang nampak tidak begitu peduli dengan nama si penjaga toko.


" Hahhhh, kau benar-benar!" Ucap Seijuro Keita lelah.


" Totalnya 36.210 Yen" Ucap Keita pada Yuki, Yuki meletakkan Sho ke bahunya kemudian mengambil blackcard dan memberikannya pada Keita.


" Ini" Ucapnya menyodorkan blackcard miliknya, membuat Keita terdiam sejenak.


" Oi bocah!" Panggil Keita begitu mendapati blackcard milik Yuki.


" Apa ada masalah?" Tanya Yuki mendapati ekspresi kebingunan dan keterkejutan diwajah Keita.


" Dimana orang tua mu?" Tanya Keita yang membuat Yuki mengerti.


" Bekerja, ini asli. Kau bisa mencobanya!" Ucap Yuki meletakkan kartu debitnya di meja kasir, Keita langsung saja mencoba apakah itu asli atau bukan. Dan setelahnya, pemuda 19 tahun itu membeku karena terkejut mendapati kartu itu asli.


" Kalau begitu tolong antar semuanya ke Suzue Corp!" Pinta Yuki yang membuat Keita makin ternganga, jadi gadis di depannya ini adalah putri tunggal Suzue. Pantas saja dia punya banyak uang.


" Oi, kau harus membayar ongkos pengirimannya!" Ujar Keita memberi tahu Yuki.


" Gesek saja kartunya, kan masih di tanganmu Keita-san" Ucap Yuki yang begitu santai, Keita lagi-lagi terkena serangan batin.


" Cih, orang kaya bisa menghamburkan uang dengan mudah!" Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh indra pendengaran Yuki yang tajam.


" Arigatou!" Ucap Yuki mengambil kembali kartunya dan pergi begitu saja dair sana, kata-kata Keita benar-benar keterlaluan.


" Nah, sekarang kita pergi ke vet lalu berbelanja bahan makanan!" Ucap Yuki yang membawa Sho pergi ke salah satu vet yang berada di tidak jauh dari sana.


.


.


.


KRINGG


Bunyi lonceng pintu yang terdorong membuat atensi para pengunjung menoleh pada gadis kecil itu, Yuki dengan santai melanngkahkan kakinya menuju ke meja resepsionis yang telah ia temukan begitu pintu dibuka.


" Permisi, bisa aku meminta vaksin untuk kucingku?" Tanyanya pada resepsionis yang berjaga.


" Tentu saja dik, vaksin apa yang kucingmu butuhkan?" Tanya pegawai resepsionis itu dengan sopan, Yuki tidak tau harus menjawab seperti apa. karena ini juga baru pertama kalinya ia memelihara kucing, jadi si kecil memutuskan untuk meminta bantuan.


" Aku baru memungut Sho kemarin, bisa beritahu aku vaksin apa saja yang harus diterima Sho?" Tanya Yuki pada resepsionis itu, sang pegawai sedikit terkejut dengan ucapan Yuki. Tapi memutuskan untuk diam dan melaksanakan tugasnya.


" Hm, tentu saja nona kecil! Ini nomor antrianmu!" Ucap sang pegawai memberikan sebuah kertas nomor pada Yuki, Yuki menerima kertas itu dan mendapati nomor antrian 32 disana.


" Arigatou.." Ucapnya setengah membungkuk, si pegawai hanya tersenyum kecil dan mengangguk.


Yuki melangkahkan kaki-nya menuju salah satu kursi tunggu yang kosong, kemudian mendudukkan tubuhnya di samping seorang wanita tua yang tengah menunggu bersama seekor anjing ras berukuran cukup besar yang duduk di depannya. Yuki melirik kondisi Sho sejenak, takut kucing kecilnya merasa terintimidasi dengan anjing di depannya.


" Wah, kau punya kucing kecil yang lucu, nona." Ucap wanita tua yang duduk di samping Yuki, Yuki yang diajak bicara tentu saja reflek menoleh. Dengan sedikit rasa takut, gugup, dan bingung Yuki menagguk.


" Arigatou..." Ucapnya pada wanita tua itu.


" Haha, boleh aku tau siapa namanya?" Tanya wanita itu lagi, Yuki terdiam sejenak kemudian menjawab.


" Sho, namanya Sho!" Jawab Yuki yang diangguki oleh wanita itu, wanita tua itu nampak tersenyum kecil.


" Apa itu anjing peliharaan nenek?" Tanya Yuki menatap keberadaan anjing yang tak jauh darinya.


" Ya, namanya Toshi. Toshi seekor anjing penggembala, putraku membawanya dari perkebunan tua yang sudah ditinggalkan." Jelas wanita itu sembari mengusap kepala anjing miliknya dengan lembut, Yuki yang melihatnya merasa gemas dengan sikap anjing itu. Tapi Yuki merasa sedikit takut, pasalnya dia punya kenangan buruk dengan anjing.


" Dia anjing yang baik, ya?" Ucap Yuki terdengar sedikit ragu, wanita itu mengangguk dan tersenyum lembut.


" Ya, Toshi sudah menjadi temanku sejak 8 tahun lalu" Jawab wanita itu yang membuat Yuki tersentak kaget.


" Dia sudah sangat tua..." Ucap Yuki tanpa sadar membuat wanita itu terkekeh pelan.


" Haha, kau benar nona! Usianya sudah hampir 10 tahun!" Ucap wanita itu menggosok sisi leher sang anjing.


" Wow, ku harap Sho bisa bersamaku selama itu..." Ucap Yuki mengusap tubuh si kucing yang terlelap diatas pangkuannya.


" Haha, aku yakin dia akan!" Ujar Wanita itu dengan senyum lebar.


" Arigatou, nek!" Ucap Yuki sekali lagi, wanita itu tersenyum.


" Oh, sudah giliranku!" Ucap Wanita itu bangkit kemudian melangkah masuk ke ruang pemeriksaan meninggalkan Yuki yang masih menunggu gilirannya.


Waktu berlalu beberapa lama, sudah cukup lama ia mengantri dan kini gilirannya tiba. Nomor antriannya di panggil dan Yuuki segera mengangkat Sho ke pelukannya kemudian membawanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


" Selamat siang, apa yang bisa ku bantu nona kecil?" Tanya dokter yang menyambut kedatangan Yuki dan Sho diruangannya, Yuki dengan perlahan mendekat ke meja sang dokter dan meletakkan Sho disana.


" Apa ada yang bisa ku bantu? Apa kucingmu sakit? Atau dia terluka?" Tanya dokter itu menatap bingung, Yuki mendudukkan tubuhnya ke kursi dengan sedikit perjuangan karena kursinya terlalu tinggi untuk anak seusinyaa.


" Anu, aku ingin Sho mendapat suntikan vaksin dan sterilisasi!" Ucap Yuki pada sang dokter, sang dokter sedikit tersentak kaget. Pasalnya ia pikir kalau anak kecil di depannya hanya menemukan kucing yg terluka dan memintanya untuk di obati.


" Haha, apa dia kucing peliharaanmu?" Tanya sang dokter yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki.


" Apa dokter bisa melakukannya?" Tanya Yuki lagi, sang dokter mengangguk.


" Tentu saja, tapi biayanya cukup mahal. Sebaiknya kau bawa orang tuamu bersamamu lain kali!" Ucap sang dokter yang membuat Yuki mengangguk paham, tapi ia yakin kalau dia bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Jadi gadis itu mengeluarkan blackcard miliknya kemudian meletakkannya di meja.


" Snow" Ucap Yuuki sembari menyodorkan blackcard itu, sorot mata dingin dan tatapan angkuh nampak begitu jelas pada sosoknya. Membuat sang dokter terkejut, kode yang di ketahui oleh semua orang di bidang kesehatan dengan sangat baik.


" A-ah, tolong maafkan saya. Saya akan segera mengurus semuanya!" Ucap sang dokter yang langsung bangkit dan membungkuk hormat pada Yuki.


" Tolong angkat kepalamu, sensei!" Ucap Yuki yang langsung dipatuhi oleh sang dokter, Yuki turun dari kursi dan mengusap puncak kepala Sho dengan lembut.


" Tolong jaga Sho dengan baik, hubungi aku saat Sho sudah membaik!" Ucap Yuki menyodorkan salah satu kartu namanya ke meja.


" Sho, jadi anak baik dan aku akan segera menjemputmu!" Ucap Yuki dengan sebuah senyum tipis yang terukir diwajahnya.


" miaww" Balas Sho dengan eongan singkat


" Haha, jaga dirimu baik-baik!" Ucapnya yang kemudian melangkah pergi.


" Terimakasih untuk kunjungan anda, saya akan memberikan penangangan yang terbaik untuk kucing anda!"