
" HEI!" Teriak Yuki memanggil sosok itu, sosok itu menoleh dan mendapati Yuki yang tiba-tiba mencengkram erat lengannya.
" Apa yang kau lakukan?" Tanya Yuki menyeret anak itu dan membawanya menuju ke tempat kran air yang di sediakan di taman, setibanya disana Yuki langsung membasuh tangan anak itu dan membersihkan darah yang keluar dari bekas infus yang dilepas paksa.
" Seharusnya kau tidak asal menarik jarumnya keluar!" Gerutu Yuki sembari membersihkan sisa darah di tangan anak itu, sedang anak itu masih terdiam bingung menatap Yuki.
" Ke..napa kau?" Tanyanya bingung, Yuki yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan langsung terdiam membeku sebelum akhirnya ia selesai membersihkan noda darahnya.
" Maaf, tapi... kau seharusnya tidak mencabutnya sembarangan.." Ucap Yuki menunduk, anak laki-laki itu mengusap telapak tangannya yang basah karena air kemudian menatap Yuki yang menunduk.
" Memangnya apa pedulimu?" Tanya anak laki-laki itu sangsi, Yuki terkesiap kaget dengan perkataan anak itu, dan membuat gadis itu semakin menunduk.
" Itu bisa infeksi, dan lagi..rasanya pasti akan sakit saat suster memasang infus yang baru" Lirih Yuki yang membuat anak itu menatapnya heran.
" Memangnya kau tahu apa? Aku benar-benar muak ada disini, dan kau malah membuatku semakin kesal!" Rutuk anak itu, Yuki mengumamkan maaf lagi.
" Maaf..." Ucapnya menyesal, anak itu menghela nafas sejenak.
" Kalau kau menyesal lebih baik bantu aku keluar dari tempat ini!" Ucap anak itu membuat Yuki mendongak, menatap anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua darinya.
" Memangnya kenapa?" Tanya Yuki lirih, membuat anak itu menatap bingung pada Yuki.
" Tentu saja karena tempat ini menyebalkan, dan Osamu tidak bisa terus mengunjungiku karena sibuk dengan sekolahnya!" Rutuk anak itu kesal, sedang Yuki mengernyit bingung kala mendengar nama Shin.
" Osamu?" Tanyanya bingung
" Dia kakak ku!" Balas anak itu singkat, Yuki mengangguk mengerti.
" Kalau kau beristirahat selama seminggu, meminum obat dengan benar dan makan dengan cukup. Kau akan keluar dari sini dalam seminggu!" Ucap Yuki yang membuat anak itu terheran.
" Hehh, kau benar-benar pintar ya" Cemooh anak itu memandang rendah pada Yuki.
" Sebaiknya kau kembali ke ruang rawat dan minta perawat memasang infus yang baru" Ucap Yuki memberi nasihat, anak itu malah mengukir smirknya.
" Kalau begitu kamu yang pasang!" Tantang anak itu, Yuki terdiam sejenak menatap sosok itu tak percaya.
" Kenapa? Apa kau tidak bisa?" Tanya anak itu meremehkan, Yuki yang ditatap begitu tentu saja gemetar. Rasa takut menyerang seluruh tubuhnya, tapi akal sehatnya menyadarkan dirinya bahwa sosok didepannya bukan sang ayah, menciptakan keberanian kecil dalam dirinya.
" Baik" Jawab Yuki yakin, sedang anak itu malah terkejut. Padahal anak didepannya mungkin masih berada di taman kanak-kanak, tapi bagaimana anak itu bisa memiliki keberanian sebesar itu?
Yuki akhirnya menyeret paksa anak laki-laki kembali ke ruangan, suasana di lantai 2 nampak sedikit kacau karena para perawat yang sedang pusing mencari keberadaan Yuki dan seorang pasien yang menghilang dari kamar rawatnya. Yuki yang sudah biasa dengan situasi seperti ini bersikap biasa saja seakan tidak terjadi apapun, tanpa mengetahui bahwa dirinya lah yang sedang mereka cari.
" Snow-Chan!" Teriak sebuah suara membuat Yuki menoleh dan mendapati seorang perawat dengan rambut hitam sebahu tengah berjalan ke arahnya dengan raut wajah, kesal?
" Oh, Shouko-san?" Ucapnya menyapa, sedang perawat yang dipanggil Shouko langsung saja mendudukkan tubuhnya lemas didepan Yuki.
" E-eh, Shouko-san? Ada apa?" Tanyanya bingung mendapati perawat itu jatuh terduduk di depannya, sang perawat itu masih menatapnya garang.
" Lain kali kalau keluar tolong pamit lebih dulu!" Ujar Shouko menceramahi Yuki, sedang Yuki yang sadar kalau dirinya lah yang tengah mereka cari langsung membungkuk meminta maaf.
" Maafkan aku, Shouku-san." Ujarnya menyesal, Shouko mengangkat tubuh kecil Yuki kemudian mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.
" Baiklah tidak apa, lain kali jangan diulangi ya!?" Ujarnya mengacungkan jari kelingking, Yuki menatapnya sejenak sebelum membuka kembali mulutnya.
" Tapi shouko-san, aku sudah memberitahu Minamoto-san bahwa aku akan keluar setelah menyelesaikan pekerjaanku" Ujar Yuki memberi penjelasan, sedang Shouko yang mendengar itu malah menatapnya bingung.
" Tapi, Minamoto-san yang memberitahu kami kalau kamu menghilang...?" Ujar Shouko bingung, Yuki kembali berpikir begitu pula dengan Shouko sampai akhirnya mereka teringat satu hal.
" Hahhhh, rasanya sia-sia sekarang..." Ujar Shouko lelah, Yuki masih diam begitu pula anak laki-laki yang tadi ditarik paksa oleh Yuki.
" Oh ya Snow-chan! Apa kau melihat anak laki-laki berambut pe- SANADA-KUN!" Pekik Shouko di akhir begitu mendapati sosok lain yang tengah mereka cari-cari, Shouko langsung berdiri dan mendekati anak itu.
" Astaga Sanada-kun, kemana saja!?" Tanyanya kesal, Yuki terkekeh pelan melihat hal itu sedang anak yang dipanggil Katsuo itu berdecih pelan.
" Kau belum menyantap makan malammu, dan kau seharusnya memberitahu perawat saat kau ingin pergi berjalan-jalan!" Nasihat Shouko yang tak di acuhkan oleh Sanada
" Aku bosan di kamar dan makannya tidak enak, aku tidak suka" Jawab Katsuo ketus, sedang Shouko yang mendengar itu hanya bisa emghela nafas lelah. Memijat pelipisnya sejenak sebelum matanya menangkan jarum infus ditangan Sanada terlepas
" Sanada-kun! Kau mencabut jarum infusnya?" Tanya Shoukobmenatap anak itu menghakimi, Sanada mengangguk pelan dan Shouko malah semakin menatapnya dengan garang.
" Shouko-san, bisa aku bantu pasang jarumnya?" Tanya Yuki yang membuat Shouko mengalihkan fokusnya, Shouko nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju.
" Baiklah, kalau begitu ayo ke ruang pemeriksaan" Ajak Shouko yang menggandeng tangan kedua bocah itu, nggak sih lebih tepatnya menyeret keduanya agar tidak hilang lagi.
Setibanya di ruang pemeriksaan, Yuki langsung membantu Shouko mempersiapkan jarum dan infus sedang anak yang dipanggil Sanada tadi tengah sibuk memberhatikan Yuki.
" Kemarilah, Sanada-nii!" Pinta Yuki memanggil anak itu mendekat.
" Hei, siapa yang memperbolehkanmu memanggilku kakak?" Tanya Sanada protes, Yuki hanya mengulir bola matanya jengah sebelum melambaikan tangannya agar Sanada mendekat.
" Sudahlah, kemari saja!" Ketus Yuki yang tidak sabar, Sanada berjalan mendekat ke arah Yuki.
" Tahan sebentar okay?" Ucap Yuki yang mulai mengoleskan alkohol ke punggung tangan Sanada, Sanada mulai menatap takut pada jarus di tangan Shouko.
" He-hei, kau benar-benar bisa melakukannya kan?" Tanya Sanada menatap ngeri Yuki yang nampak fokus.
" Aku bisa, jadi diamlah sebentar" Ujar Yuki yang akhirnya menusukkan jarum ke kulit Sanada .
" Ouch" Erangnya begitu jarum itu masuk dalam tubuhnya, sedang Yuki kini mengangkat kedua tangannua di udara.
" Lihat, aku selesai" Ujarnya dengan kedua tangan di udara, Sanada menatap punggung tangan kiri-nya yang sudah tertanam jarum
" Wow, kau benar-benar serius?" Ucap Sanada masih tidak percaya, padahal kemarin perawat membutuhkan 3 kali percobaan sampai jarum itu mendarat di pembuluh darah.
Sedang bocah yang beberapa tahun lebih nuda darinya berhasil melakukannya dalam satu kali percobaan, Sanada benar-benar terkejut.
" Hm, karena sudah selesai. Ayo pergi makan!" Ajak Yuki pada Sanada, Shouko menatap Yuki garang sedang Sanada menatap Yuki dengan kesal.
" Tidak mau / Tidak boleh!" Ujar Sanada dan Shouko bersamaan, sedang Yuki malah menatap bingung keduanya.
" Aku hanya akan mengajaknya ke kantin, janji tidak membawanya makan di luar!" Ucap Yuki mengangkat tangannya, Shouko yang menatap itu hanya bisa menghela nafas
" Baiklah hanya di kantin okay? " Tanya Souko memastikan, Yuki membalas dengan anggukan mantap.
" Baiklah, Sanada-kun terkena tifus! Tolong ingat itu Snow-chan!" Jelas Shouko
" Baik, terimakasih Shouko-san!" Ucap Yuki yang kemudian menarik lengan kanan Sanada dan membawanya pergi
" Ayo pergi!" Ucapnya sembari membawa tiang infus ditangan kirinya, dan lengan kanan Sanada ditangan kanannya.
" Memangnya kau mau membawaku kemana?" Tanya Sanada menatap bingung pada Yuki
" Makan-makanan yang enak!"