Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Dia pemeran utamanya!



" Kenapa kau lama sekali bocah!!" Murka seorang pria dewasa berkepala 3 yang berdiri di ambang pintu.


" A-ayahanda! Maaf, tolong tunggu sebentar Ayahanda. Saya akan segera menyelesaikan ini dalam sekejap." Ucap bocah berusia 6 tahun yang kini tengah sibuk berkutat dengan kertas-kertas.


Pria yang di panggil ayahanda itu berjalan masuk, kemudian menarik lengan bocah itu dengan kuat dan menyeretnya keluar.


" ARGH!" Pekik-nya kala lengannya di cengkram kuat dan di tarik begitu saja.


" Kita mau kemana, Ayahanda?" Tanya bocah itu dengan nada suara penuh ketakutan, akan tetapi dia paksakan untuk mendapat jawaban atas rasa penasarannya.


sedangkan sang ayah seakan menulikan pendengarannya, lengan kecil itu ditarik makin cepat dan di cengkram dengan kuat. Sang ayah membawanya turun ke parkiran sebelum akhirnya melepaskan tangan si kecil dan membuka pintu di sisi kemudi.


" Apa yang kau tunggu? Cepat masuk, Fuyumi sudah menunggu!" Cerca sang ayah yang membuat si kecil segera membuka pintu dan berniat masuk.


" Apa yang kau lakukan!?" Ucap sang ayah menghentikan langkahnya, si kecil segera menutup pintu dan berlari ke sisi lain mobil, sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di samping kursi sang ayah.


" Maaf ayahanda..." Lirihnya setelah duduk, si kecil menunduk sembari mencengkram ujung baju nya. Gadis kecil itu lupa kalau kursi penumpang hanya boleh ditempati oleh Fuyumi.


" Cih " Decih sang ayah sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan, membawa mobil sport berwarna hitam itu kembali ke mansion. Sepanjang perjalanan hanya hening di antara keduanya, si kecil yang tidak berani membuka mulutnya dan sang ayah yang tidak peduli akan kehadirannya.


1 jam lebih 10 menit berlalu dengan waktu yang cukup lama, mobil putih itu kini tiba di depan sebuah mansion di tepian kota. Bukan karena sang ayah yang tidak mampu membeli tanah di kota, sang ayah mampu, bahkan jika dia mau dia bisa membangun sebuah istana di pusat kota.


Hanya saja sang istri menginginkan tempat yang damai dan jauh dari riuh nya metropolitan. Membuatnya membangun mansion megah di tepi kota, ini artinya dia harus merelakan cukup banyak waktu untuk sampai ke kantornya hanya demi keinginan sang hawa.


Pintu gerbang di buka, mobil di lajukan dengan kecepatan sedang memasuki pekarangan. Dapat terlihat ribuan semak mawar tumbuh dengan indah di sepanjang jalan, jangan lupakan pohon sakura yang akan menebar keindahan dikala musim semi, dan pohon ginko yang tertanam di antara sakura - sakura yang kan mewarnai langit biru di musim panas.


Tidak butuh waktu lama mobil di hentikan di depan sebuah bangunan yang megah, mansion keluarga suzue yang berdiri dengan kokoh disana. Cat seputih salju dengan goresan kuas berwarna emas di setiap sudutnya. Sungguh nampak sangat elegan bukan.


" Turun!" Titah sang ayah yang langsung beranjak turun dan melonggarkan dasinya.


" Selamat datang kembali Tuan Seiji" Sambut kepala pelayan sembari membungkuk, terlihat deretan maid dan butler yang berjejer rapi menyambut kedatangannya.


Walau begitu sang ayah, Suzue Seiji hanya memasang wajah datar dengan sorot mata tajam pada bawahannya. Sampai derap langkah kaki kecil yang tengah berlari terdengar, disusul oleh suara langkah beberapa orang dewasa dibelakangnya.


" Nona muda!!" Panggil salah satu pelayan pada gadis kecil yang tengah berlari di depan mereka.


" Nona, tolong jangan lari! Anda bisa jatuh nanti!!" Peringat pelayan lain yang di hiraukan oleh sang nona, sosok yang di sebut nona itu terus berlari sampai akhirnya langkahnya terhenti kala dirinya melompat ke arah sang ayah.


" Selamat datang, Papa!!!" Sambut gadis kecil itu riang.


Sang ayah balas memeluk tubuh itu dan mendekapnya erat, membawanya ke dalam gendongannya kemudian mengecup pipi gembil si cantik penuh sayang. Membuat gadis itu tergelak karena geli, sedangkan si kecil yang satunya hanya bisa menatap interaksi di hadapannya dengan tatapan sendu.


Dalam benaknya, selalu ada khayalan tentang dirinya yang di peluk seperti itu, di kecup dan dimanjakan dengan cinta dari sang ayah. Sayangnya takdir tidak akan pernah berpihak padanya,tak peduli sebara banyak ia berharap akan kebahagiaan. Mimpinya tak kan pernah terwujud.


" Papa, Yu-chan ada dimana?" Tanya si cantik di gendongan Tuan Seiji, yang ditanya mengernyit sebelum memasang raut kesal. Kesal akan pertanyaan putri kesayangannya itu.


" Aku ada disini, Kak Fuyumi.." Lirih si kecil yang sedari tadi menunduk, tak ingin melihat apa yang terjadi didepannya.


" Aku merindukanmu, Yu-chan!!" Seru Fuyumi sembari mengeratkan pelukannya pada sosok Yuki. Yuki terdiam sebelum akhirnya membalas pelukan sang kakak dengan penuh keraguan, dirinya dapat merasakan tatapan tajam dan aura tidak mengenakkan dari ayah dan para pelayan di sana.


Rasanya mengerikan, seakan dirinya akan di kuliti di tempat. Ingin sekali air mata keluar dari pelupuk matanya, akan tetapi dirinya sadar. Semakin dia menjadi lemah maka semakin menjadi pula kekejamam yang kan dia alami dan rasakan. Karenanya Yuki memilih diam.


" Kenapa lama sekali? Aku merindukanmu Yu-chan!" Rengek Fuyumi pada sang adik. Ya, Yuki adalah adik sekaligus saudara kembar dari Fuyumi. Itu artinya dia juga putri dari Seiji, yang sayangnya dianggap sebagai monster oleh sang ayah.


" Maaf kak, aku harus membantu mengurus pekerjaan Ayahanda." Ucap Yuki memberi penjelasan, Fuyumi merengut sedih sedangkan sang ayah tersenyum puas dengan jawaban yang di berikan Yuki.


" Urgh, memangnya untuk apa Yu-chan membantu Papa!?" Kesal Fuyumi sembari melepas pelukannya dengan kuat, membuat Yuki sedikit terdorong ke belakang.


Yuki diam, sementara Fuyumi masih menatapnya sengit meminta penjelasan. Para pelayan mulai berbisik satu sama lain karena amarah Fuyumi, dalam hati Yuki percaya setelah ini dia akan mendapatkan banyak sekali masalah.


" Sayang sudah ya, biarkan Snow beristirahat okay? Dia pasti lelah setelah perjalanan panjang." Ucap sang ayah menengahi perkelahian di depannya, membawa Fuyumi ke gendongannya sebelum melangkah masuk ke dalam. Para pelayan mengikuti langkah tuannya, meninggalkan Yuki yang masih berdiri di sana.


Padahal cuaca sedang cerah, dimana bunga-bunga bermekaran dengan indah di musim semi. Begitu pula dengan halaman mansion keluarga Suzue yang asri, banyak burung liar bernyanyi dengan indah disana, kupu-kupu yang tengah berlarian entah kemana, dan kucing peliharaan Fuyumi yang tidur di atap.


Suasananya begitu damai dan menenangkan, tapi tidak dengan Yuki. Hatinya bergemuruh tak karuan. Amarah, kesal, iri, sedih, kecewa, hancur, entah apa saja yang dia rasakan saat ini. Yuki sendiri tidak tau apa namanya, dia tidak mengerti perasaannya sendiri.


Yuki melangkahkan kaki nya masuk kedalam mansion, tepatnya ke halaman belakang. Disana ada gudang kecil yang kini berubah menjadi tempat tinggal gadis malang itu. Sepanjang perjalanan Yuki melewati banyak lorong dengan tiang-tiang tinggi nan besar.


Lantai marmer dan batu kuarsa berada di setiap sudut rumah itu, bahkan beberapa bagian pintunya dilapisi dengan emas dan permata. Benar-benar layaknya istana di masa lalu.


Yuki tersenyum kecut, dalam benaknyaselalu terpikir seandainya dirinya bisa berada di posisi yang sama dengan Fuyumi. Duduk santai dirumah dan bermain, makan malam bersama sang ayah, atau pergi liburan ke suatu tempat yang jauh. Sebuah mimpi sederhana yang begitu penuh akan kebahagiaan, yang sayang-nya tak akan pernah terwujud seberapa banyak ia meminta.


BRUK


" Berhati-hatilah saat berjalan, dasar sampah!!" Maki salah seorang tukang kebun yang menabrak tubuh kecil Yuki dengan sengaja, Yuki segera bangkit dari duduknya kemudian menyingkir dari jalanan.


" M-maaf.." Cicit nya sembari menunduk, walau dia punya status yang tinggi di keluarga Suzue hal itu tidak ada gunananya bagi Yuki.


Dimata para pelayan Yuki hanyalah sampah yang harus segera disingkirkan dari kediaman Suzue, karena itu berbagai macam penghinaan dan tindakan kekerasan atau bahkan hukuman mereka berikan pada Yuki setiap harinya membuat mental gadis itu menjadi tidak stabil.


" Cih, pergilah ke kebun dan urus semak mawar di sebelah selatan! Tanpa mu kami kerepotan mengurus tempat ini!" Titah si tukang kebun sembari melangkahkan kaki nya menjauh.


Yuki menatap punggung tukang kebun itu dengan marah dan penuh kebencian, apa seperti ini cara nya memeperlakukan tuan-nya? Tapi Yuki tak bisa melawan, dia tak punya kuasa untuk melawan seorang pelayan di kediaman ini.


Yuki melangkahkan kaki nya pergi menuju gubuk kecil yang kan menjadi tempat peristirahatannya, cukup lama berjalan sampai akhirnya mata nya mendapati gubuk kecil nya yang nampak bersih dari luar. Dalam hatinya merapal semoga barang-barang nya masih ada disana.


Langkah kaki nya berhenti tepat di depan pintu kayu mahoni yang sudah tua dan rapuh, tangannya terulur memegang knop putih dari besi di depannya.


KRIETT


knop di putar dengan perlahan agar pintunya tidak rusak, kemudian di dorong nya daun pintu itu dengan perlahan. Nampak ruangannya yang sudah seperti bangkai kapal pecah, beberapa pakaiannya yang berceceran disembarang tempat, juga ranjang kecil nya yang kini hancur.


" Sialan, ini terjadi lagi"