
" Sudahlah ayo pulang!" Ajak Kai menaiki montornya
Sato Osamu PoV Off
.
.
.
Author PoV On
Flashback Off
" Rasanya sudah sangat lama, Sato ya..." Lirihnya bergumam, sedang sang kakek masih berusaha menyadarkan Yuki dari lamunannya.
" Nak!!!"
" NAK!!!" Teriak sang kakek menyadarkan Yuki dari lamunannya, membuat Yuki menatap bingung sang kakek yang nampak khawatir.
" Haish, jangan melamun begitu! " Ujar sang kakek membuat Yuki menunduk malu.
" Maaf membuat anda khawatir kakek, oh sudah jam segini. Sebaiknya aku berangkat sekarang!" Ujar Yuki sembari melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 07:15.
" Berhati-hatilah dijalan!!" Seru sang kakek sembari melambai, Yuki berhenti dan membungkuk hormat sebelum kembali berlari ke sekolah.
.
.
.
Memakan hampir 15 menit bagi Yuki untuk tiba di depan taman kanak-kanak yang dia tuju, Yuki menghentikan langkahnya sejenak. Mengambil nafas sebelum melangkahkan kaki nya masuk, ya bukan karena apa. Yuki merupakan korban bully disekolahnya, hanya karena dia yang sering datang ke sekolah dengan bekas memar atau bahkan kadang luka goresan membuat teman-teman nya tidak mau mendekat padanya.
Hiraukan saja mereka semua -Batin Yuki yang mengeratkan pegangannya pada tas nya.
Yuki melangkahkan kaki nya masuk, taman kanak-kanak masih sepi karena ini baru pukul setengah delapan pagi. Sedangkan taman kanak-kanak masuk pukul 08:15 pagi. Mungkin 10-15 menit lagi anak-anak yang lain akan datang.
Yuki membuka pintu kelas nya perlahan, kemudian membersihkan ruangan kelas dengan cepat. Setelah 10 menit, Yuki menghempaskan tubuhnya ke kursi yang selalu menjadi tempatnya. Meja di sudut belakang dekat pintu, Yuki merapikan barang-barangnya kemudian merebahkan kepalanya ke meja.
" Aku lapar..." Lirihnya memejamkan mata, Yuki ingat kalau Bibi Rin membawakannya sarapan. Tapi dia sedang tidak selera untuk makan, jadi Yuki memilih memejamkan matanya sejenak.
.
.
.
Beberapa saat telah berlalu dan kini Yuki merasakan rambutnya ditarik cukup kuat sampai membuatnya meringis dan mendongak, menatap tajam pada si pelaku penarik rambutnya.
" Argh...." Ringis nya pelan, Yuki menatap anak laki-laki yang sebaya dengannya dengan tatapan membunuh, sayangnya anak itu antara tidak tau, tidak peduli, dan meremehkan Yuki. Anak itu hanya semakin memperkuat tarikannya walau dalam dirinya menahan rasa takut sesaat.
" Lepas, Koushi" Peringat Yuki pada anak itu, Koushi a.k.a Koushi Sawamura berjengit sejenak kemudian melepaskan tarikan dirambut Yuki.
" Hehh, pagi-pagi sudah tidur. Mama bilang cuma pengangguran yang tidur di pagi hari" Celetuk Koushi yang dibalas tawa oleh teman-temannya yang lain. Yuki merapikan rambutnya, kemudian menatap sekeliling. Rupanya kelas sudah terisi penuh, Yuki menghela nafas pelan kemudian membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan.
" Heiiii, jangan mengabaikanku!!" Ujar Koushi marah, sedang Yuki menatap datar pada bocah itu.
" Menyingkir, Koushi. Kau menghalangi pemandangan" Balas Yuki membuat Koushi tersentak kaget.
" Cih, cuma anak buangan saja begitu sombong!!" Maki Koushi sembari memandang rendah pada Yuki.
" Hei, Sawamura hentikan." Sebuah suara mengalihkan atensi seluruh makluk disana, bahkan Yuki juga menatap sang pemilik suara.
" Kau tidak tahu ya? Kalau seekor monster marah, dia bisa menghancurkanmu!!!" Jelas pemilik suara itu, seketika gelak tawa memenuhi ruangan sekali lagi
" Ahahahhaha"
" Hahaha, maaf-maaf. Aku lupa soal itu Ken-kun" Ujar Koushi menghapus air mata dari sudut matanya, efek tertawa berlebihan.
" Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengalahkan monster ini, Ken-kun?" Tanya Koushi Sawamura menatap bocah bertubuh tinggi itu.
" Tentu saja kita harus menghabisinya!" Ujarnya menyatukan kepalan tangan. Koushi yang mendengar hal itu menyeringai, sebelum menarik tubuh Yuki ke belakang hingga jatuh ke lantai.
" Argh.." Yuki meringis kala tubuhnya menghantam lantai, ia harap tidak ada syarafnya yang mengalami cidera.
" Mari mulai Ken-kun?" Ajak nya pada pemuda bernama Minamoto Kenzo, Yuki menatap keduanya datar.
" Hahhh..." Memilih menghela nafas sebelum bangkit dan berjalan kearah pintu.
" ARGH!!" Pekik Yuki terkejut saat kerah belakangnya ditarik, Yuki dengan cepat melepas paksa tarikan Minamoto Kenzo sebelum berlari keluar dari kelas. Yuki berlari disepanjang koridor, mengabaikan atensi dari murid-murid lainnya. Kaki nya terus berlari, melupakan rasa sesak di dada yang kian menyeruak, atau rasa pusing di kepalanya yang kian menjadi. Cukup lama Yuki berlari hingga kaki nya berhenti di taman belakang sekolah, Yuki menyandarkan tubuhnya ke dinding.
" Sakit..." Lirihnya meremat dada, Yuki menatap rumput di bawah kakinya lamat.
" Kenapa?" Tanyanya menatap kosong pada rumput di depannya.
" Kenapa dari milyaran orang di dunia ini..."
" Apakah tidak cukup memberikan penyakit ini padaku?"
" Apakah disiksa oleh ayahku sendiri tidak membuatku jadi sosok yang harus kau kasihi?"
" Apakah di hina dan direndahkan oleh orang-orang tidak cukup membuatmu melirik padaku?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir pucat itu, mengucap keluhnya pada sang pencipta, memohon belas kasih dan pengertian dari pemiliknya.
" Ini tidak adil,...."
" Kau tidak adil, ini menyakitkan!"
" Ini sangat menyakitkan!!!! Aku sudah berjuang keras tuhan, lalu kenapa?"
" Kenapa kau tidak adil padaku!?"
" Dalam dunia yang kau ciptakan penuh warna dan aku yang berjalan dalam abu-abu gelap, tak mengetahui apakah putih atau hitam."
" Aku lelah...."
" Aku lelah tuhan, ini menyakitkan...aku tidak bisa! Aku tidak bisa..."
" ...Saat semua perjuanganku tidak dianggap, saat diriku yang berjuang keras menahan rasa sakit dan terus bertahan. Dan kau tak peduli, akan tetapi..."
" ...Tetapi kau tak mengizinkanku untuk pulang..."
" Raga ku sesak, jiwa ku sakit, ingin sekali rasanya pergi dari semua penderitaan ini"
" Aku lelah...."
" Aku ingin istirahat, tidak boleh kah aku beristirahat sejenak?" Tanya nya lirih di bagian akhir, kepalanya tertunduk dalam saat merasakan pedih di matanya. Yuki mulai mendongak, kini setetes air mata mulai mengalir dari sidut matanya.
" Ahh..." Ucapnya menghapus air matanya dengan segera, Yuki semakin mendongak dan menahan tangisnya.
" Hiks...sakit..." Lirihnya mengusap air mata.
" Hiks.."
" Hahhh, sudahlah..." Ujarnya sebelum melepas dinding pertahanannya, di taman belakang yang kosong itu Yuki menangis, menumpahkan rasa sakit dan penderitaannya disini.
Yuki meremat dadanya kuat, air mata nya terus mengalir waktu demi waktu. Membuat bendungan yang ia tahan selama ini meluap dan menumpahkan tangisnya.
Air mata membasahi pipi, bibir pucat yang digigit pelan. Cukup lama Yuki menangis dalam diamnya, menggigit bibir cukup kuat hingga bibir nya terkoyak menahan isak tangis yang terus menerus mencoba keluar, beradu dengan rasa sakit yang terus menerus berpacu dalam tubuhnya.
Yuki menangis dalam diam, mungkin sudah beberapa puluh menit dia disana. Bahkan bell masuk sudah berbunyi sedari tadi, tapi Yuki masih memilih menetap dihalaman belakang.
'meow~~'
Yuki menoleh, ke arah makhluk mungil didepannya. air mata yang kian membeludak kini mulai berhenti, dengan wajah sembab nya Yuki menatap datar anak kucing dihadapannya.
' miaww'
Anak kucing itu mengeong pada Yuki, kemudian menggosokkan kepalanya pada kaki Yuki.
'miwww'
'prrrrrr'
" Pfft, kau mencoba menghiburku?" Celetuk Yuki menatap gemas anak kucing itu. Tangannya perlahan terulur mengusap puncak kepala anak kucing itu. Kucing itu malah kian menggosokkan kepalanya pada telapak tangan Yuki, seakan memberi tanda bahwa kucing itu tidak takut padanya.
" Kau benar-benar tidak takut padaku, ya?" Gumamnya masih setia mengusap kepala kucing kecil dengan corak calico itu.
' Prrrr'
Bukannya gigitan atau geraman, malah dengkuran manis yang didapati oleh Yuki. Membuat seutas senyum tipis terlukis dalam bingkai senyumnya.
" Hahhh, sebaiknya aku pergi sekarang..." Ujar nya mencoba bangkit dari sana.
' miiiiiwwwww'
Menghiraukan anak kucing itu yang mengeong kencang. Yuki menumpu tubuhnya dengan kedua tangan disamping tubuh sebelum mengangkat tubuhnya. baru beberapa saat Yuki bangkit dan...
BRUKK
' mmiiwww!!'
Anak kucing itu mengeong kaget, bersamaan dengan tubuh Yuki yang kembali terjatuh ke tanah.
" Argh.." Ringisnya memegang pelipis kala rasa sakit yang parah membuat tubuhnya tidak mampu menahan keseimbangan, hingga tubuhnya kembali jatuh pada bumi.
' miww'
Kucing itu lagi-lagi mengeong, kini anak kucing itu mengendus pelan kaki Yuki. Sembari menjilat kaki si manis yang masih terduduk ditanah, seakan mencoba mengobati gadis kecil itu.
" Haha, kamu benar-benar manis!" Ujar Yuki mengusap kepala kucing itu, membuat Kucing itu kini berganti menjilati ujung.jemari Yuki.
" Nee, apa kamu punya rumah?"