
" Kau pulang kebih awal?" Tanya sang ayah menatap Yuki tepat di mata, Yuki mengangguk pelan.
" Benar ayahanda.." Jawabnya singkat, sang ayah kini menatapnya lamat sampai akhirnya helaan nafas keluar dari bibirnya
" Kau bisa ke rumah sakit hari ini, bawa Kinro bersamamu" Ujar sang ayah memberi izin, Yuki menatap tak percaya pada sang ayah sebelum mengangguk setuju dan membungkuk hornat.
" Terimakasih, ayahanda" Ucapnya sembari membungkuk.
Yuki melangkahkan kaki nya keluar dari kantor, membawa dirinya pergi ke tempat parkir di bawah. Mencari keberadaan sopir sang ayah, setelah beberapa lama mencari dan Yuki menemukan Kinro tengah duduk beristirahat tidak jauh dari tempat terparkirnya mobil sang ayah.
" Kinro-san" Panggil Yuki pelan, sang pemilik nama menoleh kemudian berdecak begitu mendapati Yuki yang memanggilnya.
" Ada apa, bocah?" Tanya Kinro kesal, Yuki menatap sang sopir beberapa saat.
" Ayahanda memintamu mengantarku ke rumah sakit" Ujar Yuki menyampaikan perintah sang ayah, Kinro menghela nafas sejenak sebelum akhirnya berdiri dan melangkahkan kaki nya menuju mobil.
Yuki berjalan tepat di belakang Kinro mengikuti sosok itu masuk, Yuki mendudukkan dirinya di samping kursi pengemudi. Ya, mau bagaimanapun dia tidak pernah di perlakukan ataupun mendapat hak sebagai seorang nona.
Mobil di lajukan dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan Tokyo yang padat. Dalam perjalanan Yuki menfokuskan perhatiannya pada ponsel nya, dimana sang ayah mengirim pesan untuknya.
*administrasinya sudah di urus, Kinro akan menjemputmu besok pagi* - message Ayahanda
Pesan itu tertulis di layar handphone nya, Yuki menatap lama pesan itu. Dalam benaknya ribuan pertanyaan tersimpan tanpa tau apa jawabannya, menayakan apakah sang ayah benar-benar mempedulikannya atau hanya sekedar mempertahankan nyawa-nya agar Fuyumi bisa menjadi presdir dan dirinya yang akan menjadi bayangan Fuyumi.
" Kita sampai, turun!" Titah Kinro begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, Yuki tersentak kaget sebelum akhirnya melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu keluar.
" Terimakasih sudah mengantarku Kinro-san, aku bisa pergi dengan taksi besok pagi" Ujar Yuki yang membuat Kinro mengukir smirknya.
" Baguslah kalau begitu, aku bisa beristirahat besok pagi" Balas Kinro yang kemudian melajukan mobilnya pergi dari sana.
Disinilah Yuki berada, menatap bangunan rumah sakit yang selalu dia kunjungi hampir setiap bulannya. Rumah sakit suiren, Yuki menghela nafas sejenak sebelum melangkahkan kakinya berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu. Setibanya di pintu depan, seorang petugas penjaga pintu sudah menyambut kedatangannya.
" Permisi nak, apa yang kau lakukan disini?" Tanya petugas itu, Yuki memandang petugas itu sejenak. Dalam benaknya berpikir, mungkin petugas itu baru disini. Pasalnya Yuki belum pernah berjumpa dengannya.
" Aku mau menemui Kaito-sensei" Ujar nya yang dibalas dengan anggukan pelan dari si petugas.
" Apa yang kamu maksud, Yuhi Kaito-san?" Tanya petugas itu yang dibalas anggukan singkat
" Dimana orang tua mu?" Tanya petugas itu lagi, kali ini Yuki diam tak menjawab.
" Nak?" Tanya petugas itu lagi, sedang Yuki masih memutar otak mencoba mencari jawaban yang mungkin dapat di percaya oleh si petugas.
" Apa semua baik-baik saja, Akio-kun?" Tanya sebuah suara yang muncul di belakang Yuki, Yuki menoleh dan mendapati seorang dokter wanita berusia 40-an di belakangnya.
" Eh, Snow-chan? Kamu datang hari ini?" Tanya dokter itu yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki.
" Kenapa tidak langsung masuk? Yuhi-sensei ada di ruangannya hari ini" Pertanyaan dan penyataan keluar dari bibir si dokter cantik, membuat petugas keamanan itu menatap bingung.
" Selamat siang, Chisaki-sensei" Sapa nya terlebih dahulu pada wanita cantik itu.
" Aku mau masuk tadi, tapi kakak ini menanyakan beberapa hal padaku" Jawab Yuki yang dibalas dengan anggukan tanda mengerti oleh sang dokter.
" Ouh begitu. Akio-kun lain kali kalau Snow-chan datang, suruh masuk saja. Atau kau bisa langsung mengantarnya ke tempat Yuhi-sensei!" Ujar Chisaki-sensei
" Baik, maafkan kesalahan saya Chisaki-sensei!" Ujar Akio sembari membungkuk
" Haha, santai saja okay? Snow-chan adalah pasien rawat jalan di rumah sakit ini, selain itu dia selalu datang sendiri. Jadi kesalahan seperti ini sering terjadi pada pegawai baru" Jelas Chisaki-sensei memaklumi
" Baik, akan saya ingat! terimakasih Chisaki-sensei!" Ucap Akio yang ditanggapi dengan senyuman singkat
Chisaki-sensei membawa Yuki menuju ke lantai 2, dimana ruang rawat khusus anak-anak sekaligus kantor Yuhi Kaito berada. Sepanjang jalan Yuki mengernyitkan dahi nya, sesekali menutup hidung tak kuasa menahan bau disinfektan dimana-mana.
" Haha, kau masih tidak menyukai bau-nya, Snow-chan?" Tanya Chisaki-sensei yang dibalas dengan anggukan singkat.
Sedang Chisaki terkekeh melihat ekspresi Yuki yang nampak imut, sejak pertama kali melihatnya. Chisaki sudah jatuh hati pada gadis dingin itu, paras cantik dan sikap patuhnya membuat hati Chisaki teketuk, juga terkadang ekpresi lucu atau pemberontakan kecil yang di berikan setiap proses pengobatan membuat Chisaki selalu ingin tertawa melihatnya.
" Kau benar-benar menggemaskan, Snow-chan!" Puji Chisaki yang membuat senyum tipis di wajah Yuki mengembang.
" Andai aku punya seorang putri sepertimu...." Ujar Chisaki-sensei, mengucap sebuah permohonan yang tidak akan mungkin terwujud. Pasalnya takdir membuatnya terlahir di kelurga Suzue, andai bisa... Yuki pasti memohon dilahirkan pada kelurga yang menyayanginya.
" Oh, sudah sampai" Ucap Yuki yang membuat Chisaki menoleh dan menatap ruang kerja Kaito di sisi kirinya.
" Terimakasih sudah mengantarku, Chisaki-sensei" Ucap Yuki membungkuk mengucap terimakasih.
" Hm, bukan masalah. Kalau begitu aku pergi dulu ya!" Ujar Chisaki-sensei melambaikan tangan sebelum berjalan pergi menuju tempat tujuannya. Yuki balas melambai pelan
TOK
TOK
TOK
" Masuk!" Ujar sebuah suara dari balik pintu, Yuki mendorong pintu dan membukanya.
Gadis kecil itu melangkahkan kakinya masuk, ruangan putih khas ruang dokter menyambut penglihatannya. Tumpukan kertas yang memenuhi meja, brangkar kecil di sisi ruangan dan peralatan medis lainnya yang berjajar rapi di sekitar brangkar.
Yuki mendapati seorang pria berkepala 3 yang masih sibuk dengan rekam medis milik salah satu pasien disana, tanpa menghiraukan soosk itu Yuki mendudukkan tubuhnya ke sofa. Menghela nafas sejenak kemudian memilih untuk menunggu sampai pria itu selesai dengan pekerjaannya.
Setengah jam berlalu, dan pria itu masih sibuk dengan kertas-kertas di depannya. Yuki bosan, saking bosannya sampai gadis itu terkantuk dan beberapa kali memejamkan matanya. Sudah terhitung 45 menit sejak Yuki masuk ke ruangan sang dokter, dan kini dokter itu selesai dengan tumpukan kertas di hadapannya.
" Urghhh~~" Erangnya sembarai merengganggkan punggungnya
" Hahh, ini benar-benar melelahkan." Ucapnya merapikan tumpukan kertas di depannya, sampai sudut matanya menangkap sosok gadis kecil yang terlelap di kursi di hadapannya.
" EH, SNOW!!?" Pekiknya kaget mendapati gadis itu terlelap di depannya.
" Kapan dia masuk?" Tanyanya sembari bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Yuki yang terlelap di sana. Setelah berjarak beberapa langkah, sang dokter berhenti dan membungkuk dengan tangan menumpu lututnya.
" Yuu, bangun..." Ujar sang dokter dengan lembut, Yuki dengan perlahan membuka mata sembari menggosok mata kirinya. Menatap ke depan dimana sang dokter sudah tidak berada di tempat, sedikit bingung juga karena efek baru bangun. Yuki menguap pelan.
" Kau sudah bangun, Yuu?" Tanya sang dokter membuat Yuki menoleh ke samping, mendapati sang dokter tengah berjongkok di sebelahnya.
" Apa kau sudah selesai, Kai-san?" Tanya Yuki yang masih mengantuk, orang yang dipanggil Kai hanya terkekeh mendengarnya.
" Ya, kau seharusnya memberitahu ku kalau kamu sudah datang" Ucap sang dokter yang dipanggil Kai pada Yuki.
Ya, Yuhi Kaito. Dokter spesialis anak yang sudah merawat Yuki sedari ia di lahirkan, salah satu alasan mengapa Yuki masih hidup sampai saat ini adalah karena Yuhi Kaito yang terus berusaha keras untuk merawat, menjaga, membesarkan, dan menyelamatkan Yuki.
" Habis, Kai-san begitu sibuk. Aku tidak ingin mengganggu!" Balas Yuki memutar kursi menghadap sang dokter, Kaito terkekeh pelan.
" Apa kau sudah makan?" Tanya dokter Kaito ramah, Yuki membalas dengan gelengan singkat.
" Haish, bukan kah aku sudah bilang untuk tidak melewatan jam makan!?" Tanyanya menyelidik, Yuki hanya membalas dengan senyum kecut di wajahnya.
" Aku sibuk, Kai-san!" Jawab nya singkat, Kai yang melihat itu hanya menghela nafas lelah.
" Baiklah, ayo segera lakukan pemeriksaan kemudian kita pergi makan!" Ajak Dokter Kaito, Yuki mengangguk mengiyakan.
" Bisa kita makan Ramen? Atau mungkin okonomiyaki? " Ujar Yuki memberikan beberapa saran sekaligus meminta izin dari sang dokter.
" Hm, mungkin kita bisa membeli Ramen di dekat sini?"