Shiroi Yuki

Shiroi Yuki
Pindah



Hari berganti dan Yuuki benar-benar pindah ke kantor mulai saat ini, semua barangnya sudah disiapkan oleh Rin pagi ini dan dia hanya harus berangkat bersama dengan Kinro untuk sampai ke kantor. Sang ayah tak mengantar kepergiannya, dan Yuuki sudah maklum dengan hal seperti itu.


" YUU-CHAN!!!" Teriak sebuah suara begitu Yuuki hendak masuk ke mobil, membuat gadis itu menghentikan kegiatannya dan menoleh ke sumber suara.


" Kak Fuyumi...?" Ucapnya begitu mendapati sang kakak kembarnya yang kini tengah berlari ke arahnya, Yuki menatap heran dan merasakan de javu akan situasi ini.


" Ada apa, Kak?" Tanya Yuki begitu Fuyumi menghentikan langkahnya beberapa puluh centi didepannya, Fuyumi masih nampak mengatur nafasnya yang tersengal karena lelah selepas berlari.


" Hahhh...hahhh.... Kau..." Fuyumi masih mencoba mengatur nafasnya sedang Yuki yang tanggap dengan situasi hanya tersenyum maklum.


" Aku pindah ke kantor mulai hari ini, maaf jika aku tidak bisa menemani kakak bermain mulai hari ini.." Ucap Yuki menjelaskan, gadis itu enggan menerima kebaikan dari saudara kembarnya. Pasalnya hatinya selalu menghangat dengan setiap kebaikan yang diberikan oleh yang lebih tua, akan tetapi disisi lain kebaikan sang kakak hanya akan menjurumuskannya dalam jurang penderitaan yang lebih besar.


" Ke-kenapa!?" Sentak Fuyumi tidak terima, gadis kecil itu menolak kepergian yang lebih muda. Pasalnya sang kakak tak pernah bisa menghabiskan waktu dengan sang adik karena sang adik yang sibuk bekerja, juga karena perbedaan sekolah dan lokasi tempat tinggal membuat keduanya jarang berinteraksi.


Walau begitu tak bisa dipungkiri bahwa Fuyumi begitu menyayangi sang adik, bahkan ia selalu menarik paksa sang adik dari kantor hanya untuk menemaninya bermain atau sekedar menyantap makan siang bersama. Sayang sang kakak tak mengetahui rahasia yang disembunyikan oleh adiknya, seandainya sang kakak tau. Mungkin Yuki akan tinggal dirumah sakit seumur hidupnya.


" Kak..." Panggil Yuki lembut, membuat sang kakak menoleh dan menatap sendu pada sang adik.


" Kenapa kau harus pergi?" Tanya Fuyumi lagi.


" Apa bekerja seharian tidak cukup untuk mu membantu ayah? Apa harus sampai pindah ke kantor?" Tambah Fuyumi melayangkan pertanyaan pada sang adik, lagi-lagi Yuki hanya balas tersenyum.


" Kak..." Panggil Yuki untuk kedua kalinya, kali ini sedikit lebih keras tapi begitu menampakkan kelembutan dan kasih sayang dari nada suaranya.


" Suatu hari nanti, kakak pasti akan mengerti kenapa aku melakukan hal ini!" Ucap Yuki singkat.


" .... " Fuyumi diam, walau begitu rasa kesal begitu kentara dalam raut wajahnya. Sang kakak hanya mengharapkan dirinya bisa menghabiskan waktunya dengan sang adik lebih lama, Fuyumi hanya ingin menjalan hidup dengan adiknya. Pasalnya hatinya selalu merasa hal buruk dan sakit setiap sang adik bersama ayahnya.


" Kapan?" Tanya Fuyumi lagi, Yuki menghela nafas lelah. Sedang Fuyumi nampak begitu kukuh mengharap sebuah jawaban yang memuaskan.


" Kenapa kakak begitu keras kepala?" Tanya Yuki menatap Fuyumi jengah, kali ini raut dingin begitu kentara dengana aura kekesalan. Sedangkan Fuyumi diam tak mampu berucap, kebingungan melanda pikirannya.


" Apa hanya karena Ayahanda begitu menyayangi kakak?" Lanjut Yuki bertanya.


" Apa karena kakak merasa di anak emas kan?" Sambungnya yang masih menatap dingin pada yang lebih tua.


" Sepertinya kakak harus tau, kalau semua itu bohong" Bisiknya tepat ditelinga Fuyumi. Membuat sang kakak membolakan matanya penuh keterkejutan.


" Sebenarnya, Ayahanda lebih menyangiku daripada kakak. Karena itu ayahanda berniat membawaku jauh dari kakak" Ucap Yuki setengah berbisik, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya mundur dan membalik tubuhnya. Melajukan langkahnya ke arah mobil, dimana Kinro sudah menunggunya.


BRAK


" Tidak ada yang tertinggal bukan?" Tanya Kinro yang dibalas dengan anggukan oleh Yuki, kemudian mobil dilajukan menjauh dari mansion Suzue.


Yuki tersenyum kecil, dalam hati mengucap ribuan syukur dan memuji sang pencipta yang telah membebaskannya dari sangkar emas. Perasaan puas begitu kentara pada dirinya, terutama saat sang ayah memperbolehkannya merawat kucing peliharaannya.


miww


Meong kucing itu yang dibalas dengan elusan lembut pada belakang kepala si manis, Kinro melirik kucing Calico yang imut itu sejenak, kemudian kembali fokus ke jalanan.


" Siapa namanya?" Tanya Kinro yang dibalas dengan gelengan oleh Yuki.


" Aku belum memberinya nama " Ujarnya santai.


" Oh.." Percakapan itu berhenti begitu saja, Yuki yang memang tidak terbiasa mengobrol tentu saja memilih menutup mulutnya begitu Kinro berhenti berucap. Perjalanan berlangsung cukup lama karena Kinro melajukan mobilnya dengan kecepatan standart, tidak seperti hari-hari biasa dimana dia harus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hanya untuk mengantar Yuki ke kantor.


.


.


.


" Terimakasih sudah mengatarkanku, Kinro-san" Ucap Yuki sembari membungkuk setelah turun dari mobil.


" Hm.." Kinro berdehem begitu saja, kemudian melajukan mobilnya pergi begitu saja.


Yuki memandang mobil yang dibawa Kinro pergi menjauh lalu menghilang setelah berbelok, sedangkan dirinya kini masih terdiam di depan kantor sang ayah. Gadis itu berbalik dan menatap gedung tinggi dihadapannya, 4 tahun lalu gedung itu belum setinggi sekarang. Hanya sebuah gedung berlantai 10 yang berpenghasilan cukup besar, sedang saat ini gedung itu berubah menjadi salah satu pencakar langit di tokyo.


Angannya melayang begitu teringat akan masa lalu, sudah 4 tahun rasanya dia bekerja keras dan membawa cukup banyak perubahan dan kemajuan bagi perusahaan sang ayah. Entah berapa banyak kesalahan dan kegagalan yang membawa Yuki menuju keberhasilan seperti ini, dan kedepannya pun akan semakin berkembang lagi. Karena itu sang ayah tak ingin melepaskannya begitu saja, berbakti pada sang ayah adalah sebuah kehormataan dan berkat baginya karena bisa berguna bagi sang ayah.


Akan tetapi disisi lain, semua ini tidak akan berakhir. Penderitaannya akan terus bertambah hari demi hari dan semua kerja kerasnnya dianggap sebagai hasil orang lain. Hanya demi membangun citra sang kakak dirinya harus bekerja keras tanpa kenal lelah, terus belajar dan belajar hingga sang ayah puas dengan kesempurnaan. Beruntungnya Yuki merupakan anak yang cerdas dan berbakat, sehingga dia bisa memenuhi keinginan sang ayah.


Walau begitu salam lubuk hatinya ia menginginkan kebebasan, gadis itu ingin pengakuan, dia menginkan cinta dan tempat untuk pulang. Terutama semenjak bertemu dengan Sato Osamu dan Sanada Izana membuatnya haus akan cinta dan hasrat akan hidup.


" Hahhh, ayo masuk.." Ucapnya melangkah masuk sembari membawa tasnya, ia membiarkan kucingnya bertengger dengan tenang diatas bahunya.


Kantor cukup sepi karena hari masih begitu pagi, hanya beberapa petugas keamanan, petugas kebersihan, dan beberapa karyawan yang lembur sejak semalam. Yuki menghela nafas dalam setiap langakahnya, gadis itu terbiasa dengan pemandangan seperti ini dan si cantik harus semakin membiasakan dirinya untuk tidak pulang dan kembali pada Rin.


" Oh, Ohayou Snow-chan!"