
Yuki PoV on
" Ah, thanks " Ucap pemuda itu sembari meneguk habis air mineral yang ku berikan tanpa sisa.
Aku memandang heran pemuda itu, dari atas sampai bawah penampilannya benar-benat acak-acakan. Sekilas dalam benak ku berpikir mungkin dia seorang berandalan, atau mungkin seorang pembuat onar?
" Hahhh, aku tidak mau mengalami hal ini lagi! " Ucap pemuda itu sembari bangkit dan membersihkan pakaiannya dari tanah. Aku ikut bangkit dan melangkahkan kaki ku keluar dari sana, membawa tubuhku ke ayunan tua yang nampak masih kokoh disana.
KRIEETT
Suara besi berderit begitu aku mendudukkan tubuhku disana, sedikit takut tapi akhirnya aku tetap mendudukkan tubuhku. Pemuda itu nampak mengikutiku, dia duduk dan mengayunkan tubuhnya ke belakang mendorong ayunan itu bergerak.
" Terimakasih, untuk yang tadi" Lirih ku mengucap terimakasih.
" Hmm" Dan hanya sebuah deheman singkat yang menjadi jawaban, ini membuatku kesal tapi ya sudahlah.
" Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya pemuda itu sembari memandang jalanan didepan sana. Aku menoleh sembari mengernyitkan keningku, sepertinya pemuda itu menanyakannya secara sembarang.
" Ini belum saat nya sekolah dibuka, apalagi untuk anak TK sepertimu. Adikku saja mungkin masih tidur sekarang" Ucap pemuda itu membuat sudut hati ku terasa sakit.
" Bukankah itu bagus?" Tanyaku lagi membuat pemuda itu berhenti mengayun kemudian menatap bingung ke arahku.
" Ya? Lalu, kenapa kamu sudah ada disini?" Tanya pemuda itu lagi.
" Ku sarankan padamu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih dariku. Jangan terlalu mencampuri urusan orang lain" Ucap ku sembari menatap langit biru dipagi hari.
Cantik -Batinku menatap langit biru
" Pfftt, ahahahaahhahahahahahah" Gelegar tawa memenuhi indra pendengaranku, pemuda itu tertawa terbahak sampai berguling-guling ditanah.
Aku menatap nya jengah, sebelum mengambil botol susu di tas ku. Pemuda itu masih tertawa sedang aku tengah meneguk susu vanilla yang diberikan oleh Bibi Rin sebelum berangkat.
" Hahh... Hahhh... Hahh" Pemuda itu nampak mengatur nafasnya, sebelum kembali mendudukkan tubuhnya di ayunan.
" Sato, Sato Osamu " Ujar pemuda itu, ku rasa dia memperkenalkan dirinya? Mungkin? Aku sedikit ragu.
" Nama mu?" Tanyanya, oh jadi dia benar-benar memperkenalkan dirinya... Rasanya malas memperkenalkan diri ku pada orang asing. Apalagi pemuda ini sedikit menyeramkan.
" Snow.." Cicit ku pelan, Sato Osamu menoleh dan menatap bingung padaku.
" Salju?" Tanyanya menatapku bingung.
" Aku tau ini bersalju, tapi aku sedang menanyakan namamu nona kecil" Ujar Sato sedikit kesal. Aku menatapnya balik sebelum membuka suara.
" Snow, namaku snow. Begitulah orang-orang memanggilku" Ujarku ketus dihadapan wajahnya, Sato sepertinya semakin bingung.
" Orang bodoh mana yang memberikan nama seperti itu? Apa orang tua mu memberikan nama itu?" Tanya Sato Osamu lagi, aku menggeleng kemudian mengangguk pelan dan membuatnya semakin pusing.
" Dasar aneh, siapa yang mau memanggil mu snow?"Celetuknya kesal entah karena apa.
" Begini saja, ku berikan nama yang bagus untumu!" Ujarnya yang membuatku bingung, ini pertama kali ada orang yang mempermasalahkan soal nama ini. Biasanya orang-orang hanya memberikan respon bingung tapi kali ini, untuk pertama kalinya ada orang yang memprotes dan mempertanyakan hal ini didepanku.
" Hm, karena kamu punya rambut putih keperakan juga hari ini salju pertama turun, bagaimana dengan Yuki?" Tanya Sato Osamu dengan nada bangga, aku terdiam sejenak sebelum..
" Pfft, ahahahahahahhaha" Aku tertawa pelan karena pernyataannya, ini benar-benar menggelikan. Apa tidak ada nama lain yang pantas untuk ku sandang selain Yuki? Oh ayolah, dia memberikan namaku pada ku.
Yuki PoV Off
.
.
.
Sato Osamu PoV On
" Pfft, ahahahahahahhaha"
Manis -Batinku mendapati tawa bocah menyebalkan ini.
" Heh, kenapa kau tertawa?" Tanyaku menatap kesal bocah itu, Yuki, itu nama yang baru saja ku berikan padanya. dan sebagai balasan, dia malah menertawai nama yang ku berikan.
" Keduanya sama-sama berarti salju bukan!" Seru gadis itu, maksudku Yuki yang membuat ku terdiam, ya itu tidak salah sih. Tapi kan lebih baik di panggil Yuki daripada Snow, rasanya benar-benar aneh jika seseorang memiliki nama seperti itu. Bahkan adik tiriku diberikan nama yang lebih baik daripada itu.
" Ya kan daripada dipanggil snow, bukankah lebih baik dipanggil Yuki?" Tanya ku sedikit kesal, gadis itu nampak terdiam sebelum akhirnya mengangguk setuju.
" Yuki...., Shiroi Yuki" Ujarnya membuatku bingung, aku menatapnya penuh tanda tanya dan sebuah senyum tipis terukir diwajahnya.
" Itu nama ku, nama yang diberikan oleh Ayahku. Shiroi Yuki..." Ujar nya, nampak kini ada gurat kesedihan di wajahnya, juga kekosoangan yang mengisi sorot mata nya. sedang aku terdiam membisu, jadi karena itu dia tertawa.
" Cih, jadi aku memberikan nama yang sama dengan nama mu begitu!!!??" Kesal ku yang hanya dibalas dengan anggukan.
" Jadi, apa yang kamu lakukan pagi-pagi disini...Ki-chan" Tanya ku yang membuatnya merengut, ayolah dia benar-benar lucu. Andai adik-adikku seperti dia pasti sangat menyenangkan menggoda mereka. Pikirku, sedang Yuki masih nampak marah disana.
" Apa-apaan itu?" Protesnya yang membuatku bingung.
" Siapa yang kau panggil Ki-chan?" Tanya nya kesal, aku terkekeh pelan sebelum mengulurkan tanganku untuk mengusap surai nya.
KLANG
Yuki berdiri dengan cepat sembari mengambil beberapa langkah mundur, seakan menjaga jarak dari ancaman yang mungkin akan membahayakan nyawanya. Aku mengamati gadis itu sedikit gemetar tapi wajahnya hanya datar, sorot matanya tajam penuh kewaspadaan, tangannya sudah berada tepat di depan dada terkepal sebelah.
" Ah, maaf mengejutkanmu" Ujarku menarik tanganku cepat, Yuki terkesiap. Sesaat kemudian dia langsung menetralkan emosinya.
" M-maaf" Ujarnya dengan kepala tertunduk.
" Hm, bukan masalah" Yuki mendudukkan tubuhnya kembali, akan tetapi kini gadis itu diam merunduk. Ku pikir ada banyak hal yang misterius dari gadis kecil ini.
" Tidak apa, adik-adikku juga tidak suka saat aku mengacak rambut mereka" Ujar ku mencoba mencairkan susasana. Yuki melirik sekejap dari ekor matanya.
" Kau punya adik?" Tanyanya yang ku balas dengan anggukan singkat, gadis itu mendongak menatapku dengan tatapan yang tidak aku mengerti.
" Ya, kenapa?" Tanya ku membuat dia kembali merunduk sebelum akhirnya menatap aspal kosong didepan sana. Aneh, aku yakin ada sesuatu yang ingin ia ucapkan. Tapi aku tak mengerti kenapa ia tak mengatakannya?
" Kamu pasti sangat menyayangi mereka..." Ucapnya dengan sebuah senyum....pasi. Tunggu, apa dia cemburu karena aku punya adik? Oh hahahha, jika itu benar pasti akan sangat lucu
" Kau bisa meminta seorang adik pada orang tua mu!" Canda ku membuat sebuah tatapan kosong terpampang dimatanya. Jujur, aku mulai bingung dengannya.
" Hm, apa kau membenci adikmu?" Tanya ku mencoba mencari tau lebih banyak tentang gadis ini. Melihatnya seperti ini membuatku bertanya-tanya akan banyak hal, gadis kecil yang nampak kuat sepertinya seakan menyimpan begitu banyak hal sendirian. Ini membuatku kesal melihatnya murung
" Aku tidak punya adik" Ujar nya datar, Yuki nampak kembali menundukkan kepalanya sejenak.
" Kalau begitu kamu anak tunggal?" Tanyaku lagi yang dibalas dengan gelengan lemah.
" Aku punya saudara kembar,....dia beberapa menit lebih tua dariku" Lirihnya membuatku terkesiap, tak ku sangka aku akan menemui seorang saudara kembar. Ya, secara eksistensi mereka sangat jarang terkadang membuatku penasaran bagaimana rasanya memiliki kembaran.
" Jadi kamu bertengkar dengan kakakmu?" Tanya ku lagi yang dibalas dengan gelengan pelan.
" Itu bukan urusanmu, dan lagi sebaiknya kamu segera pulang! Aku mau berangkat ke sekolah" Ujarnya merapikan pakaiannya dan melangkahkan kakinya pergi. Ku lirik mentari yang ternyata sudah menyingsing tinggi, lalu deru motor yang mulai bersahutan beriringan.
" OII!!!"
" OSAMUU!!!" Sebuah teriakan membuatku menoleh, melupakan eksistensi Yuki yang berjalan menjauh. Nampak ke-empat teman ku yang mulai mendekat dengan motor mereka.
" Ck, lu ditelfon kagak diangkat!" Ujar salah satu temanku, pemuda dengan rambut pirang dan anting rosario ditelinganya. Minato keiji.
" Ya maaf, HP gua lowbat" Jawabku seadanya.
" Dasar!" Ketus Kouki Shiro, sahabatku yang paling pendek diantara kami. Ayolah aku mengungkap fakta, rata-rata tinggi kami sekitar 160 sampai 170-an, dan dia hanya 148 padahal sudah kelas 2 SMP.
" Sebaiknya kita pulang sekarang Osamu" Ujar Akashi Kiyoomi, anak dengan rambut panjang dan tato burung phoenix yang merambat sampai ke lehernya.
" Kiyoomi benar, kita juga harus pergi ke sekolah..." Sahut malas Kaito, Hayashi Kaito. Anak dengan wajah malas yang ingin sekali ku pukul, tapi dia lebih kuat dariku jadi lebih baik ku urungkan niatku. Lagi pula Kai sangat mengerikan saat marah.
" Huhh, ini juga karena kalian yang terlalu acuh sampai tidak sadar teman kalian hilang" Kesalku yang hanya dibalas dengan gelak tawa mereka.
" Maafkan kami okay" Bujuk Keiji padaku.
" Oh ayolah Samu, kami minta maaf okay" Sambung Shiro terkekeh pelan.
" Sudahlah ayo pulang!"