
" Yuu-chan!" Panggil seseorang dari pintu.
" Oh, Kai-san. Sudah selesai makan?" Tanya Yuki yang mendapati Kaito berdiri di ambang daun pintu, Kaito balas dengan anggukan sebelum berjalan masuk ke dalam.
" Bagaimana kalau kita mulai pemeriksaannya?" Tanya Kaito pada si manis yang kini terduduk diatas brangkar.
" Baik" Jawab Yuki sembari melangkahkan kakinya turun dari atas ranjang.
Keduanya melangkahkan kakinya berjalan menuju ke ruang pemeriksaan, Kaito nampak beberapa kali melirik Yuki dari ekor matanya, sedang si cantik nampak begitu tenang dan biasa saja.
Setelah berjalan cukup lama keduanya tiba di ruang pemeriksaan, Kaito membuka pintu dan berjalan masuk diikuti Yuki yang menutup pintu dan melangkahkan kakinya menuju ke brangkar.
" Kau sudah siap?" Tanya Kaito yang mulai mengeluarkan beberapa peralatan dari laci, Yuki balas dengan mengangguk.
Kaito tersenyum kecil sebelum mulai melakukan beberapa pemeriksaan indra dari si cantik, mulai dari pendengaran, penglihatan, refleks, saraf, dan lainnya. Setelah menyelesaikan pemeriksaan fisik, Kaito membawa Yuki melakukan CT scan, MRI, dan PET Scan guna memeriksa pertumbuhan sel tumor di otak si cantik.
Waktu berlalu cukup lama, hampir 3 jam lebih pemeriksaan berjalan sedang Yuki begitu tenang. Berbeda dengan Kaito yang memasang raut kesal diwajahnya, bahkan bibir pria itu mengerucut ke bawah saking sebalnya. Yuki terkadang terkekeh melihat ekspresi yang ditampilkan oleh sang dokter, walau begitu gadis kecil itu menahan tawanya dengan baik.
" Sudah selesai!" Ucap Kaito yang melepas berbagai macam alat dari tubuh Yuki, Yuki menatap Kaito yang memasang raut masam. Gadis kecil itu menghela nafas pelan.
" Kai-san" Panggilnya yang hanya dibalas dengan lirikan oleh Kaito, setelahnya pria itu kembali fokus menulis hasil pemeriksaan.
" Hahhh, Kai-san!" Panggil Yuki sekali lagi, Kaito memutar bola mata nya malas sebelum menjawab.
" Ada apa?" Tanya Kaito yang berakhir dengan sebuah kecupan kecil mendarat di pipi sang dokter.
" Aku tahu, mungkin sudah sampai tingkat 3? Tapi, kau akan menyembuhkanku bukan?" Ujar sang gadis yakin, padahal dalam benaknya menyimpan ribuan keraguan.
Yuki tidak percaya bahwa dia akan selamat, bahkan jika melakukan operasi tingkat keberhasilannya juga tidak sampai 100%. Keraguan dan ketakutan terus membayanginya, sedang sisi lain dalam dirinya mengharapkan kesembuhan yang hampir mustahil.
" Ya, aku pasti?" Jawab Kaito yang juga sama ragunya, pria itu yakin bisa mengangkat tumor milik Yuki.
Tapi, apakah sang ayah akan mengizinkan Yuki menjalankan operasi? Apa setelah operasi Yuki harus melakukan kemoterapi? Apa kemoterapi akan menyembuhkannya? Apa operasinya akan berhasil? Apa Yuki akan selamat?
Begitu banyak pertanyaan menggenang dalam hati dan pikirannya, tapi pria itu lebih memilih mengangguk guna menenangkan si kecil.
" Nee, Kai-san" Panggil Yuki yang kini terduduk sembari merapikan pakaiannya, Kaito tak membalas pun dirinya juga tidak menoleh.
" Seandainya..., jika seandainya aku tetap hidup.." Jeda terpotong cukup lama, Kaito memberikan atensinya sedang Yuki malah menatap lantai dibawahnya.
" Apa yang harus ku lakukan?" Sambungnya mengungkapkan pertanyaan, Kaito sedikit bingung dengan maksud pertanyaan Yuki. Akan tetapi sepertinya dia paham kemana arah pembicaraan ini berakhir.
" Kalau begitu kau hanya harus hidup, banguj setiap hari dan berbahagialah!" Jawab Kaito yang membuat raut tidak puas terlukis diwajah si cantik.
" Kau menyebalkan, Kai-san!" Ketus Yuki yang tidak terima dengan jawaban yang di dapat, selalu saja jawaban yang sama yang membuatnya muak.
" Haha, kalau tidak punya tinggal cari saja alasan untuk hidup!" Celetuk Kaito yang mebuat bibir Yuki semakin tertarik ke bawah. Kesal dan tidak puas dengan jawaban yang ia dapat.
" Hahh, pak tua itu menghukummu lagi semalam? Tanya Kaito yang dibalas dengan anggukan singkat oleh Yuki.
" Bukankah kau bisa melihatnya sendiri!" Rutuk Yuki yang kini tengah memakai bajunya.
" Ya, aku bisa dan aku tidak suka jika itu terjadi padamu" Jawab Kaito santai, walau begitu gurat kekesalan begitu nampak di wajahnya membuat Yuki menarik senyum simpul.
" Aku baik-baik saja, Kai-san tidak perlu khawtair!" Ucap Yuki menghibur sang dokter yang dia anggap selayaknya orang tuanya sendiri.
" Hahhh, selalu saja mengatakan baik-baik saja!" Ketus Kaito kesal, Yuki terkekeh pelan.
" Apa kau sudah mengobati lukanya?" Tanya Kaito khawatir, Yuki balas dengan anggukan mantap membuat Kaito mengukir senyum kecil.
" Baiklah" Jawab Yuki singkat, gadis itu kemudian melangkahkan kakinya berjalan menuju ke ruangannya.
.
.
.
" Hahhhh...." Yuki menghela nafas panjang begitu tubuhnya ia rebahkan pada brankar miliknya. Gadis itu lelah setelah menjalankan berbagai macam pemeriksaan, ekor matanya melirik ke arah jam dinding yang menujuk pukul 2 dini hari.
" Biasanya aku juga tidur jam segini?" Gumamnya pelan, rasanya dia selalu tidur begitu larut dan bangun begitu awal.
Apa semua anak di dunia juga tidur di jam segini?- Pikir gadis itu
" Tidak mungkin, Kak Fuyumi selalu tidur setelah makan malam. Bahkan kadang Kak Fuyumi tidur jam setengah 7 malam" Gumamnya mengingat kalau sang kakak selalu tidur saat dirinya pulang untuk mengganti pakaian atau menyantap makan malam. Padahal gadis kecil itu mampir ke rumah di jam 8 malam, tapi dia selalu mendapati sang kakak yang telah terlelap di kamarnya.
" Hahh, sebaiknya aku tidur sekarang" Ujarnya yang mulai menarik selimut dan memejamkan mata, berusaha terlelap dan menjelajah ke alam mimpi indah.
.
.
.
Waktu terus berlalu dan kini jam menunjuk pukul 05:30 pagi, Yuki yang masih tidur merasa terusik dengan sinar mentari yang menjelajah masuk dari jendela kaca. Gadis kecil itu menggeliat pelan, setelahnya mendudukkan tubuhnya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali.
" Silau sekali.." Gumamnya yang tengah meggosok mata kirinya, gadis itu nampak begitu mengantuk dan lelah.
" Ini jam berapa?" Lanjutnya bergumam sembari menoleh ke arah jam dinding
" 05:30..." Ucapnya begitu mendapati waktu saat ini, gadis itu merenggangkan tubuhnya kemudian beranjak dari kasur dan berniat melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
BRUKK
" Aww..." Ringisnya begitu tubuh kecilnya jatuh begitu saja ke lantai.
" Benar juga, anemia ku kambuh!" Rutuknya begitu mengingat hasil pemeriksaannya semalam, si kecil masih terduduk di lantai selama beberapa saat hingga rasa pusing dikepalanya mulai membaik. Sekitar 10-15 menit hingga gadis kecil itu kembali bangkit dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Yuki membasuh muka, menggosok gigi, kemudian menyempatkan dirinya untuk bersih-bersih dan mandi sejenak. Hingga waktu menunjukkan pukul 06:15 Yuki menelfon taksi untuk menjemputnya dan mengantarnya menuju ke kediaman Yuki, 20 menit menanti dan taksi yang akan mengantarnya telah tiba.
" Dimana orang tuamu, nona?" Tanya sang supir begitu mendapati seorang gadis kecil yang menjadi pelanggannya.
" Snow" Ucapnya menyebutkan nama, sang supir langsung mengangguk patuh. Seakan dirinya mengerti dengan siapa dia berhadapan.
" Paman tolong bergegas" Ucap Yuki begitu mendudukkan tubuhnya di kursi penumpang.
Ya, jika kalian penasaran kenapa supir taksi itu langsung patuh pada gadis kecil tanpa pengawasan, maka jawabannya ada pada Seiji. Pria itu telah membeli semua perusahaan transportasi yang ada di sekitar Kanto, dan pak tua itu telah memberi pesan pada setiap bawahannya, jika mereka mendengar nama "Snow" dari gadis kecil berambut perak, mereka harus patuh dan melayani gadis itu dengan baik.
Ya, tidak hanya transportasi. Seiji juga telah bekerjasama dengan pemerintah untuk membatasi para dokter agar mereka menjaga rahasia tentang Yuki dan penyakitnya, mungkin terlihat seperti pak tua itu sedang melindungi gadis kecilnya.
Namun sayang sekali yang di lakukan oleh Seiji hanya demi menjaga salah satu pion miliknya tetap utuh, karena keberadaan Yuki yang akan menjadi kunci sukses dari Fuyumi.
Seiji tidak akan membuang pion sebagus Yuki begitu saja, tidak sampai dirinya sendiri yang menginginkan gadis itu untuk pergi.
" Nona, kita sudah sampai!"