
" Nona, kita sudah sampai!" Ucap sang sopir begitu mereka tiba di mansion Suzue, Yuki mengangguk sebelum membuka pintu dan berjalan keluar.
" Terimakasih paman, ini uangnya!" Ucap Yuki menyodorkan beberapa ratus Yen sesuai dengan tarif yang tertera. Sang supir segera mengambil uang itu kemudian melajukan mobilnya pergi.
Sedang Yuki kini menghela nafas panjang, hari ini pasti akan jadi sangat melelahkan. Walau sang ayah memberikannya libur akan tetapi gadis itu harus tetap mengerjakan berkas-berkas perusahaan, dan beruntungnya sang ayah mengizinkannya bekerja dari rumah.
Yuki mengkhawatirkan kucing kecil yang dia temukan semalam, karenanya gadis itu lebih memilih untuk pulang dan menemani si kucing daripada menyelamatkan dirinya dari siksaan di istana ini.
Yuki mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki pekarangan mansion, beberapa petugas penjaga gerbang yang melihatnya hanya bersikap tak acuh seakan tidak ada siapapun yang berjalan disana.
Yuki terus melangkahkan kakinya walau kaki-kaki kecil itu kelelahan, setengah jam waktu berlalu dia lalui dengan berjalan hingga akhirnya gadis kecil itu tiba di taman depan mansion.
Yuki sempat mendudukkan tubuhnya sejenak di salah satu bangku yang disediakan disana, mengistirahatkan kaki kecilnya yang sepertinya sedikit membengkak dan mengistirahatkan tubuhnya yang sama lelahnya.
" Hahhhh..." Helaan nafas terdengar dari belah bibirnya, gadis kecil itu menatap taman mawar yang begitu indah. Gugusan merah merona sepanjang mata memandang, itu membuat perasaannya menjadi lebih baik sampai sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
" Heehh, kau sudah pulang?" Tanya salah seorang pelayan yang tengah membersihkan taman itu, Yuki bangkit kemudian mengangguk pelan pada pelayan itu.
" Baguslah, kalau begitu kau selesaikan pekerjaanku!" Titah pelayan itu melempar sapu ditangannya pada Yuki.
CTAK
Yuki reflek menangkap sapu itu agar tidak jatuh ke tanah ataupun mengenai tubuhnya, sedang pelayan tadi nampak tertawa puas sembari melangkahkan kakinya pergi jauh-jauh dari sana.
" Hahhh, harusnya aku tidak istirahat disini tadi..." Gumamnya lelah, padahal kakinya sudah bengkak karena berjalan dan sekarang gadis itu harus menyapu taman seluas hampir 500m persegi itu sendrian.
" Sebaiknya aku segera menyelesaikannya dan kembali ke kamar..." Tambahnya lagi, gadis itu mulai menggerakkan sapu ditangannya dan mulai menyapu seisi taman. Dua setengah jam berlalu dan taman itu menjadi bersih berkat kerja keras dan usahanya.
" Selesai" Ucapnya megusap peluh di kening dengan lengannya, gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk pergi ke gudang dan menyimpan kembali sapu itu kemudian bergegas beranjak kembali ke kamar dan berniat untuk beristirahat sembari bermain dengan kucing pelihraannya yang baru.
.
.
.
Setibanya di kamar, Yuuki langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Beruntung kali ini ruangannya tidak hancur bak kapal pecah, jadi Yuuki bisa beristirahat dengan tenang.
' Miww '
Sebuah suara membuat Yuuki menoleh, mendapati kucing kecil yang ia pungut tengah menatapnya dengan melas membuat Yuuki terkekeh pelan. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kaki-nya menuju lemari es disudut ruangan.
" Haha, kau pasti lapar ya?" Ucapnya mengamabil sebotol susu kemudian melangkahkan kakinya mengambil mangkuk di salah satu rak dapur.
" Ini, minumlah" Ucap Yuki sembari meletakkan mangkuk susu itu di hadapan si kucing. Kucing itu langsung saja meminum susu itu hingga tandas setengah, sedang Yuuki yang melihatnya hanya terkekeh pelan.
" Pelan-pelan saja, aku tidak akan megambilnya" Ucap Yuki sembari mengusap pelan kepala si kucing dengan ujung jari telunjuknya.
" Nee, apa kau suka disini?" Tanya Yuki pada si kucing yang masih sibuk meminum susu dimangkuknya.
" Haha, ku pikir kau suka disini?" Ucapnya ragu, gadis kecil itu menyandarkan tubuhnya ke ranjang di belakangnya dan mulai menutup matanya kembali. Karpet usang sebagai alas agas tubuhnya tetap hangat, pikirannya kembali melayang tanpa arah.
TOK
TOK
Sebuah ketukan membuat Yuki beranjak bangun dan segera membuka pintu.
" Ada yang bisa ku-, A-ayahanda!?" Pekiknya terkejut mendapati sang ayah yang mendatangi gubuk kecil miliknya.
" Se-selamat pagi, Ayahanda!" Ucapnya memberi salam, sang ayah hanya balas dengan deheman singkat.
" Apa kau tidak akan mengizinkanku masuk?" Tanya sang ayah yang membuat Yuki langsung menyingkir dari pintu.
" Silahkan masuk, Ayahanda." Ucapnya mempersilahkan sang ayah untuk masuk ke dalam ruang peristirahatan baginya, sang ayah berjalan masuk ke dalam gubuk tua nan sederhana itu.
" Maaf karena tempatnya kotor dan berantakan Ayahanda" Ucap Yuki pada sang ayah, sedang sang ayah nampak tak peduli dan mendudukkan tubuhnya begitu saja pada sisi ranjang milik Yuki.
Keras -Pikir sang ayah begitu tubuhnya jatuh ke atar ranjang, sangat berbeda dengan kasur lembut nan nyaman yang ada di kamarnya.
" Kau memelihara kucing?" Tanya sang ayah begitu mendapati seekor kucing yang tengah bersikap waspada terhadap dirinya beberapa meter dari ranjang.
" A-ah, saya memungutnya semalam" Ucap Yuki yang segera mengambil kucing itu dan membawanya ke gendonganya.
" ...." Sang ayah hanya melirik malas, pandangannya ia edarkan ke penjuru ruangan kecil itu. Dan yang ada dipikirannya hanya hancur, berantakan, kotor, rusak, dan tidak layak huni.
Sang ayah sedikit bingung mengapa dia peduli dengan kondisi ruangan putri bungsu nya itu, sedang Yuki nampak gemetar sembari memeluk lembut tubuh kucingnya. Dan si kucing yang terus menggerang rendah, sesekali Yuki berikan usapan lembut guna menenangkan kucing miliknya.
" Semalam Yuhi memintaku menandatangani surat operasi, dia juga mengirim rekam medis mu" Ucap sang ayah menatap Yuki dingin, sedang Yuki sedikit terkejut dengan ucapan sang ayah. Pasalnya Yuki tau bahwa Kaito memang keras kepala, tapi ia tidak menyangka bahwa dokternya akan melakukan hal seperti ini demi dirinya.
" Aku rasa kau masih bisa bertahan dengan kondisi itu selama beberapa tahun lagi" Lanjut sang ayah membuat Yuki menunduk, hati nya terasa sakit dan otaknya tiba-tiba kosong.
Memangnya sang ayah tau apa tentang penyakitnya?
Setiap hari bernafas saja rasanya sulit, apalagi setiap rasa sakit dan nyeri yang muncul membuat tubuhnya terasa begitu sulit untuk digerakkan. Sedang sang ayah hanya bisa meminta dan memerintah tanpa pernah memberikan istirahat, amarah begitu menguasai diri sang gadis dalam sesaat.
" Lalu, apa kau bisa bertahan tanpa operasi?" tanya sang ayah tiba-tiba, Yuki mendongak menatap sang ayah bingung. Pasalnya dirinya bisa saja menjalankan operasi dengan uang yang dia hasilnkan selama 4 tahun bekerja, uang itu cukup, bahkan lebih dari cukup baginya untuk membeli sebuah pulau kecil disekitaran Jepang.
" Saya akan menerima semua keputusan ayahanda" Ucap Yuki pasrah, tidak mampu dan tidak bisa melawan sang ayah yang menguasai hidupnya. Seakan rantai besi imajiner terikat pada lehernya dan ujung rantai itu berada di tangan sang ayah.
Sang ayah terdiam sejenak, kemudian berdecih pelan. Sebuah smirk tersungging di bibirnya, membuat Yuuki tak berani menatap sang ayah lebih lama.
" Baguslah kalau begitu, kau istirahat saja hari ini. Mulai besok kau pindah ke kantor, bawa juga kucing mu itu!" Ucap sang ayah memberi titah, Yuki terkejut bukan main. Biasanya sang ayah akan menyeretnya ke ruang hukuman, atau segera menarik gadis kecil itu kembali ke kantor untuk bekerja.
" B-baik ayahanda, terimakasih untuk kebaikan hati ayahanda" Ucap Yuki membungkuk hormat, sedang sang ayah berjalan pergi dari sana. Kucing kecilnya beranjak turun dan menjilati bulunya, Yuki masih termenung tidak percaya.
" Apa yang sebenarnya terjadi?"