
Kini Pricilya sudah di apartemen miliknya, merebahkan tubuhnya dikasur sambil terus memikirkan tawaran itu untuk menjadi sekretaris presdir Cruise Group karna tadi sewaktu di cafe ibunya menelfon
flash back on
Bobi sedang meminum kopinya sambil melihat pemandangan sore hari di cafe itu sedangkan Pricilya sedang memakan nasi goreng yang dipesannya tadi. Hp Pricilya pun berbunyi menandakan ada telfon masuk ke Hp nya itu. Diambilnya ponsel itu dari dalam tas selempang miliknya, dilihatnya nama yang tertera disana
" Ibu? " ucapnya lirih. tidak biasanya ibu melefon karna biasanya Pricilya duluan yang akan menelfon mereka
" Hallo bu ada apa? " tanyanya mencoba mencari tahu apa yang membuat ibunya menelfon
" Pricil.... " ucap ibu diujung sana terdengar suaranya yang berat seperti sedang menangis
" Bu... Ada apa? " tanyanya lagi mulai hawatir
" Ayah masuk rumah sakit lagi " ucapnya memberi tahu sambil terus menangis
Yah karna sedari dulu ayahnya memang sering sakit- sakitan dan sudah sering keluar masuk rumah sakit. Bukan hanya sekali dua kali, tapi sering hampir setiap bulan tapi itu dulu waktu Pricilya masih duduk dibangku SMP. Setelah Pricilya masuk SMA ayah nya mulai agak jarang dirawat dirumah sakit paling hanya cuci darah dan priksa rutin tiap bulannya. Tapi kini disaat dirinya jauh dari ayahnya, ayahnya malah masuk rumah sakit kembali dan Pricilya tau bahwa bukan sedikit uang yang harus ia keluarkan untuk membayar pengobatan ayahnya itu
" Ibu tenang lah disini Pricil udah dapat pekerjaan, nanti bulan depan Pricil tansferkan uangnya ke rekening ibu. Tapi untuk sekarang Pricil belum memegang uang, ibu pinjam lah dulu pada paman Cipto, nanti bulan depan saat Pricil mengirimkan uang nya, ibu bayarkan langsung pada paman Cipto " ucapnya berbohong guna menenangkan ibunya
" Tapi sayang paman Cipto itu rentenir yang sangat kejam. Dia pasti akan memberi bungah yang lebih besar agar kita tidak bisa melunasinya nanti ditambah lagi kita dalam posisi seperti ini pasti dia tidak akan segan- segan memberi bungah yang cukup tinggi " ucap ibunya masih hawatir takut keluarganya terlilit hutang terus menerus dengan rentenir kejam itu
" Ibu tenang saja disini Pricil akan berusaha mendapatkan uangnya apapun yang terjadi untuk melunasi uang yang akan kita pinjam dari paman Cipto " ujarnya mencoba meyakinkan ibu nya lagi meski dirinya sendiri juga takut keluarganya akan terlilit hutang pada paman Cipto. Karna setau Pricilya setiap keluarga yang terlilit hutang dengan paman Cipto dan memiliki anak gadis harus membayarnya dengan memberikan anak gadis itu untuk dinikahinya guna melunasi hutang keluarganya. Tapi Pricilya yakin bahwa ia akan dapat melunasi hutangnya itu pada paman Cipto nanti
" Baiklah kalau begitu ibu akan coba meminjam pada para tetangga lebih dulu sebelum meminjam pada paman Cipto sirentenir itu " ucap ibu Pricilya kemuadian
" Sekarang ibu tidak usah hawatir lagi, Pricil akan bekerja lebih giat lagi disini dan membahagiakan kalian nanti " ucap nya pada ibunya diseberang sana
" Kalau begitu ibu tutup dulu telfonnya, nanti kita bicara lagi. Kamu baik- baik disana jaga kesehatan jangan sampai sakit " ucapnya memberi perhatian pada anak gadis satu- satunya itu
" Iya, ibu juga harus jaga kesehatan disana. Jangan terlalu menghawatirkan yang tidak perlu " ucapnya kemudian mematikan panggilan itu
flash back off
" Apakah aku harus menerima tawaran itu? " ucapnya bertanya pada dirinya sendiri
" Tapi tadi aku sudah menolaknya mentah- mentah " ucapnya lagi mulai frustasi memikirkan kejadian tadi siang ketika sedang interviw dan Pricilya yang dengan sombongnya menolak tawaran itu mentah- mentah
Keesokan harinya Pricilya datang kembali ke kantor Cruise Group mengenakan baju setelan hitam putih sama seperti kemarin saat dia akan interviw. Kantor itu terlihat sangat sibuk, melihat para karyawan yang pergi dengan tergesa- gesa kesana kemari ada pula yang sibuk mengangkat telefon dan ada pula yang sibuk dengan berkas- berkas dan komputer didepannya
Pricilya berhenti tepat didepan pintu ruangan SDM dikantor itu. Ditariknya nafas kuat- kuat kemudian menghembuskannya secara perlahan guna menenangkan rasa gugup nya itu
" Permisi nona, bisakah anda membukakan pintu itu? tangan saya membawa banyak barang jadi tidak bisa membukanya" ucap laki- laki didepan Pricilya itu meminta bantuan. Tanpa menjawab perkataan pria itu Pricilya pun membukakan pintu itu
" Terima kasih nona " ucap pria itu kembali sambil tersenyum ramah kemudian masuk kedalam ruangan tersebut. Lagi- lagi Pricilya tak menjawab perkataan laki- laki itu
Pricilya pun ikut masuk kedalam ruangan tersebut mengikuti laki- laki tadi. Dilihatnya ruangan tersebut begitu rapi meski banyak berkas- berkas yang menumpuk di meja kerja sang pria tadi. Sepertinya ini ruangan nya karna hanya ada satu meja disana. Pikir Pricilya mencoba menebak
" Apa kau mencariku? " ucap laki- laki itu kemudian sambil mengambil satu berkas dari tumpukkan nya itu
" Saya Pricilya Arnold, pak Sena menyuruh saya untuk datang kemari " ucapnya memperkenalkan diri dan mengatakan kedatangannya atas perintah pak Sena
" Oh kau gadis ber IQ diatas 200 itu yang satu lift bersama presdir waktu itu? " tanyanya mulai antusias
" Berikan aku kontrak kerjanya " ucap Pricilya dingin dan langsung pada inti kedatangannya keruangan itu
" Kau galak sekali, padahal wajahmu sangat manis, tidak cocok jika kau bersikap seperti itu " ucapnya mencoba bergurau dengan Pricilya. Namun berbeda dengan Pricilya, ia malah merasa muak akan ocehan pria didepannya itu
" Berikan aku kontraknya sekarang juga atau tidak sama sekali " ucapnya mulai geran dengan tingkah pria didepannya itu yang so asik dan so akrab dengannya
" Baiklah nona manis, ini kontraknya kau bacalah dulu. Kau bisa duduk disana jika kau mau " ucapnya sambil menunjuk sofa yang ada diruangannya denga mulutnya
Tanpa pikir panjang Pricilya pun duduk diatas sofa tersebut dan membaca semua isi kontrak yang diajukan pihak perusahaan atau mungkin keinginan dari presdir mereka itu karna isinya sungguh membuat orang ingin tertawa
Peraturan pertama tidak boleh memandang wajah presdir saat dia sedang bicara, kedua tidak boleh masuk keruangan presdir, ketiga dilarang bergosip tentang presdir dan masih banyak lagi yang aneh- aneh didalamnya. kontrak apaan ini? pikir Pricilya. Apakah anak SD yang membuat kontrak ini?kekanakan sekali, pikir Pricilya lagi. Hingga berhentilah pada pembahasan gaji karyawan yang menjadi sekretaris presdir
" 40 juta perbulan? belum termasuk gajih lemburan juga? "ucapnya pelan merasa puas dengan jumlah yang ditawarkan
Setelah membaca dan memahami isi kontrak tersebut Pricilya pun menandatangani kontrak tersebut dan memberikannya kembali pada pria yang berpangkat ketua SDM diperusahaan itu
" Apa kau tidak ingin meminum sesuatu dulu nona? " tanyanya karna Pricilya langsung pergi dari hadapannya tanpa berkata apa- apa
" Tidak usah, aku akan kembali lagi besok untuk langsung mulai kerja. Lantai 17 kan? " ucapnya, diakhiri denga menyebutkan lantai tempat ia akan bekerja nanti dan hanya diangguki oleh pria itu membenarkan kerkataan Pricilya