She Is My Woman

She Is My Woman
BAB 12



Mentari pagi menerobos masuk melalui sela- sela hordeng yang sedikit terbuka mencoba membangunkan sesosok mahluk kecil yang masih terlelap dari tidur panjangnya


" Selamat pagi nona " ucap pelayan perempuan yang membawaku semalam. Dibukanya hordeng itu lebar- lebar hingga sinar mentari masuk menerangi seluruh isi ruangan yang ku tempati ini


" Aaaahh..... Aku masih mengantuk. Bolehkah aku tidur 10 menit lagi? hanya 10 menit aku janji " ucapku dari dalam selimut


" Tidak nona, semua orang sudah menunggumu dibawah untuk sarapan pagi,ini pakailah topeng mu dan segeralah turun " ucapnya sambil menyodorkan topengku kedalam selimut


" Baik lah aku akan turun sebentar lagi setelah mencuci muka " ucapku kemudian sambil memakai topengku dan bangun dari atas kasur berjalan menuju kamar mandi.


Kulihat sekilas dia mulai membereskan tempat tidurku yang berantakan karna posisi tidurku yang tidak pernah mau diam saat tertidur. Ibuku pernah bilang bahwa kalau aku sedang tertidur, aku akan berputar seperti jarum jam.


Maka saat aku terbangun, tak jarang kakiku yang berada di atas bantal atau semua benda yang ada di atas kasur bertebaran di atas lantai kecuali selimut seperti sekarang ini. Semua bantal dan guling berserakan di atas lantai, haha maaf kan lah aku yang memiliki kebiasaan tidur yang unik ini


Setelah selesai mencuci wajahku ,aku pun turun kebawah diikuti pelayan itu dibelakang ku


" Namamu siapa? " tanyaku sambil terus berjalan menuruni anak tangga


" Nama saya Abel nona " ucapnya singkat


" Oh , Kalau namaku Pricilya Arnold. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Pricil, lya, cila atau apa pun senyaman mu, jangan memanggilku nona aku merasa tidak nyaman " ucapku memperkenalkan diri


" Maaf nona, saya tidak seberani itu " ucapnya


" Aku hanya tamu disini jadi jangan sungkan. Anggap saja aku sebagai temanmu dan berbicaralah dengan santai denganku " ucapku kemudian


" Maaf nona.... " ucapannya menggantung karna sekretaris Jho menyelanya


" Nona anda sudah ditunggu sedari tadi diruang makan. Mohon agar nona segera ke sana " ucap sekretaris Jho memberitahu


" Ya baiklah, ini kan juga sedang berjalan ke sana " ucapku dan mengecilkan volume suaraku kemudian


Ku lihat dari kejauhan semua orang sudah berkumpul di meja makan tanpa ada satu pun dari mereka yang makan atau pun bercengkrama. Apa yang mereka lakukan sedari tadi? apakah mereka sedang menonton pertunjukan makanan yang berbalapan memilih orang yang akan memakan mereka? gerutuku dalam hati karna melihat dari kejauhan piring mereka masih bersih tanpa noda dan debu sedikit pun


" Duduk " ucap tuan Ronald sambil menepuk bangku kosong disebelahnya. Aku mengernyitkan sebelah alisku merasa ada yang aneh. Sekretaris Jho pun menyikut ku dan menyuruh ku untuk duduk dikursi itu dengan gerakan matanya.


Aku pun duduk disebelah gunung es itu eh maksudnya tuan Ronald, habis dia begitu dingin pada siapapun bahkan pada orang tuanya sekali pun


" Ambilkan aku nasi dan sop iga " titahnya padaku. Aku pun berdiri dari dudukku dan mengambil apa yang dia perintahkan padaku tadi. Ku lihat semua orang yang berada di meja makan mulai mengambil makanan mereka masing- masing. Ternyata mereka menunggu yang mulia raja toh? bukannya dia sedari tadi juga duduk disini yah? kenapa tidak ambil sendiri atau menyuruh sekretaris Jho saja dan malah menungguku lama hanya untuk mengambilkannya makanan. Merepotkan sekali gerutuku dalam hati


" Duduklah dan ambil makanan mu " titahnya lagi. Tanpa malu- malu aku pun mengambil selembar roti tawar dan selai kacang yang ada disana. Belum aku mengoleskan selai kacang itu tanganku ditepis olehnya dan membuat roti tawar yang ada di tanganku itu jatuh diatas meja makan


" Aku menyuruhmu makan " ucapnya tegas dan dingin


Memang apa salahku? bukankan roti juga termasuk makan? ucapku dalam hati


" Simpan roti- roti itu kebelakang dan jangan simpan disini saat sarapan " titahnya pada salah seorang pelayan


" Lalu aku harus makan apa? "ucapku sambil memasang wajah yang dibuat sedih


" Disini ada begitu banyak makanan dan kau masih bertanya mau makan apa? "ucapnya dengan nada sedikit tinggi


" Aku tidak biasa sarapan nasi " ucapku kemudian dan akan beranjak dari dudukku


" Berhenti. Duduk dan makan sarapanmu. Biasakan sarapan nasi mulai sekarang " ucapnya, kulihat sekretaris Jho menatapku seolah berkata " ikuti perkataannya kalau kau ingin selamat " huh baik lah aku terjebak diantara orang- orang sadis rupanya, hanya nasi kan? lalu apa susahnya? makan ya makan saja. ucapku dalam hati kemudian mengambil se centong nasi dan sop iga seperti tuan Ronald


Setelah selesai sarapan pagi yang panjang yang penuh dengan konflik dan drama di sana kini akhirnya aku kembali lagi kedalam kamar yang nyaman ini. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur nyaman itu kemudian berguling- guling ke kanan dan ke kiri berulang- ulang tanpa kusadari ada seseorang yang memperhatikan ku di pintu kamar


" Apakah senyaman itu? " tanya nya yang membuatku terlonjak kaget dan langsung duduk dari posisiku berguling- guling tadi


" Aku hanya sedang berolah raga sedikit, membakar lemak yang ada di dalam perutku ini " ucapku asal karna malu terciduk tuan Ronald sedang bertingkah konyol


" Apa kau yakin dalam perutmu itu terdapat lemak? Aku bahkan berpikir bahwa cacing- cacing dalam perutmu pada mati karna kekurangan makanan " ucapnya dingin tanpa ekspresi.


Aku hanya bisa menundukkan mukaku karna malu. Kurasakan telinga dan wajahku mulai panas menahan malu bahkan mungkin sudah merah karna malu sekali