
Setelah kejadian hari itu, kini Pricilya menjadi lebih pendiam dan memilih belajar meski di jam istirahat
" Hai Mrs.Jenius bisakah kamu membuang buku-buku itu dan mengganti dengan makanan ini? ini sudah jam istirahat kenapa juga kamu masih memeluk buku-buku menyebalkan itu yang penuh dengan rumus-rumus yang tidak aku mengerti sama sekali " ucap Rara sambil menjahili sahabat nya itu dengan mengacak acak buku dimeja Pricilya
" Kalau kau ingin pintar maka belajar bukan mengacak acak bukunya " ucap Pricilya dingin tanpa melirik sedikit pun pada Rara
" Ayolah Lya kau sudah sangat cerdas, bahkan kau jadi juara umum disemua sekolah untuk apa kau terus belajar seperti ini? " celotehnya merasa kesal karna sahabatnya itu jadi jarang bercanda dengannya semenjak kejadian hari itu
" Aku akan ikut ujin masuk Universitas Harvard " ucapnya enteng tanpa memedulikan sahabatnya yang terkejut akibat ucapannya itu
" What? Cil? Apa kau tega meninggalkan aku sendiri? kau kan bisa pilih masuk Universitas mana saja yang ada di Indonesia cil dengan IQ mu itu, aku yakin semua Universitas akan berebut kamu. Lagian kenapa harus Harvard? kenapa harus luar negeri? " ucapnya panjang lebar memberikan pertanyaan
" Ra aku kesana bukan untuk berlibur. Aku kesana untuk masa depanku, aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dan kedua kakak ku dengan keberhasilan ku suatu hari nanti " ucapnya menjelas kan niatnya pergi ke luar negeri
" Apakah Rayi tau? " tanyanya ragu-ragu takut Pricil tidak nyaman
" ........... " Pricilya tak menjawab pertanyaan yang Rara lontarkan. Namun wajahnya menunduk begitu dalam mengisyaratkan bahwa dia belum berbicara masalah ini pada Rayi atau pun masalah pesan yang waktu itu
" Cil.... Apapun keputusanmu, apapun kemauanmu, asalkan itu yang terbaik untukmu, aku akan selalu mendukungmu " ucap Rara mencoba menyemangati sahabatnya itu
" Aku akan berbicara padanya saat pulang sekolah nanti " ucapnya masih dengan wajah yang menunduk
" Apa kau perlu ku temani? " tanya nya sambil menawarkan diri
" Tidak usah. Aku akan baik-baik saja Ra " jawabnya meyakinkan Rara bahwa ia akan baik-baik saja meski tidak ada Rara disampingnya. Kini wajahnya sudah diangkat dan senyum mengembang diwajahnya agar Rara yakin bahwa Pricil akan baik-baik saja
Setelah pulang sekolah Pricilya mengirimkan pesan singkat pada Rayi
" Bisakah kita bicara sebentar? Aku akan menunggumu ditempat biasa " ujarnya kemudian membereskan buku-buku nya yang masih berserakan diatas meja
" Cil aku pulang duluan yah? " ucap Rara berpamitan
Pricilya tak menjawab hanya menganggukkan kepala dan tersenyum pada Rara
P r i c i l berjalan menelusuri lorong sekolah yang sudah mulai agak kosong karna memang sudah waktunya pulang. Saat ia melewati kelas 10-5 B ia berhenti sejenak dan memandang pintu ruangan itu. Dibukanya pintu itu mencoba melihat isi didalam kelas. Tak disangka ternya masih ada siswa didalam kelas itu
" Eh.... Kakak mau cari siapa? " tanya anak gadis itu ramah dengan senyum yang indah
" Tidak ada, hanya melihat-lihat saja. Kamu kenapa belum pulang? "jawabnya dan bertanya balik
" Oh aku sedang menunggu kak Anggara. Aku ada lest hari ini dengan kak Anggara " ucapnya dan begitu terlihat bahagia ketika mengucapkan nama Anggara
Deg
Deg
Deg
" Apa kakak tidak apa-apa? " tanya nya merasa cemas
" Apakah maksud kamu, kamu sedang menunggu Rayi Anggara? " jawabnya balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan gadis itu
" Iya benar kak, apakah ada yang salah? " ujarnya dengan wajah yang polos
" Apa hubungan kalian berdua? " tanyanya langsung pada inti yang ingin ia tanyakan pada Rayi sebetulnya
" Kenapa kakak bertanya seperti itu? aku dan kak Anggara hanya sekedar kakak dan adik kelas itu saja. Lagian kakak siapa kenapa menanyakan hal privaci seseorang " ujarnya menjelaskan
" Jangan bohong. Ada hubungan apa antara kalian berdua? " tanya Pricilya lagi kini dengan sedikit berteriak dan mulai terisak
" Kami pacaran " jawabnya
Seketika itu pula Pricilya terduduk lemas diatas lantai. Tangisnya mulai pecah mengingat pesan yang ia baca waktu itu ternyata benar adanya
Flash back on
Pricilya melihat-lihat semua pesan dari para gadis-gadis itu yang terus mengirim pesan pada kekasihnya itu. Jarinya terhenti menggesel layar ponsel itu dan matanya tertuju pada nama N I N D I. Di akhir pesan tertera sebuah emoticon cium yang terdapat tanda love diujungnya dibukanya pesan itu ternyata itu balasan dari Rayi. Digesernya terus layar ponsel itu hingga Pricilya terhenti pada kalimat
" Nindi, kamu itu baik, cantik, pintar tapi kenapa masih sendiri? " tanya nya
" Karena Nindi suka sama kakak makanya Nindi masih sendiri hehe " jawab nya sambil emoticon senyum diakhir katanya
" Serius Nindi suka sama kakak? Kok kita sehati yah? hehehe " balasnya dan membuat pricilya semakin geram membacanya
" Waaaahh..... Jadi kak Anggara juga suka sama Nindi? Senangnya, berarti cinta Nindi gak bertepuk sebelah tangan dong hehe " jawabnya dan makin membuat Pricilya panas
" Nindi kakak serius. Mau gak Nindi Jadi pacar kakak? " ujarnya dan membuat Pricilya *** kuat ponsel itu, namun ia redam kembali karna ingin tahu apa jawaban si cwe
" Seriu... ??? Ya mau lah kak. Eh tapi kak gak punya pacar kan? " balasnya
" Kalau kakak punya pacar untuk apa kakak nembak kamu sayang " ujarnya dan kini benar-benar membuat Pricilya naik darah dan ingin membanting ponsel itu ke aspal. Tapi semua niatnya itu ia urungkan karena tidak ingin membuat keributan ditengah jalan mengingat itu ponsel kesayangan Rayi
Akhir cerita akhirnya si cwe yang bernama Nindi itu menerima unkapan perasaan Rayi padanya
Flash back off