She Is My Woman

She Is My Woman
BAB 11



Kini mereka sudah duduk dikursi ruang tamu tersebut


P r i c i l y a Pov


Sekarang aku duduk bersebelahan dengan tuan muda Ronald meski masih ada jarak diantara kami, karna tuan muda Ronald memang dikenal paling anti berdekatan apalagi bersentuhan dengan seorang wanita. Makanya, meski dia memiliki tubuh tinggi, tampan, mapan, tapi masih menyendiri sampai saat ini.


Entah apa yang menjadi penyebab dia tidak bisa berdekatan atau bersentuhan dengan seorang wanita, itu masih rahasia dan hanya dirinya dan keluarga nya lah yang tahu apa alasan yang mendasarinya


" Siapa gadis disebelah mu itu? " ucap wanita paruh baya yang kuyakini adalah ibu dari tuan muda Ronald. Entah apa yang ia bicarakan aku tidak mengerti karna dia menggunakan bahasa Italia. Dia menatap anaknya itu kemudian menatapku. Karna aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan, aku hanya tersenyum kikuk kearahnya


" Dia wanita ku, kami akan segera menikah dalam beberapa bulan kedepan. Jadi, hentikan perjodohan konyol itu karna aku sudah menemukan wanita yang tepat untukku " ucapnya dingin tanpa menoleh kearah wanita patuh baya itu


" Dari keluarga kaya mana dia berasal? apakah dia tidak berpenyakitan? dan kenapa dia diam saja? apakah dia bisu? tuli? " ucapnya panjang lebar


" Dia hanya gadis biasa yang mengembara mencari jati dirinya di negeri orang "


" Apa? kau ini orang terhormat. kamu harus menikah dengan keluarga yang sederajat dengan kamu Ronald. Kamu mau mempermalukan keluarga Cruise dengan menikahi wanita kampungan itu? " ucapnya kini dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat marah


' Apa yang sedang mereka bahas sih sampai- sampai si nenek sihir itu meledak- ledak seperti itu? membuat udara diruangan jadi pengap saja ' gerutuku dalam hati


" Poko nya kamu harus mengikuti perjodohan ini, titik " ucapnya " Dan tinggalkan wanita kampungan itu " lanjutnya lagi


" Apa kau lupa bahwa anakmu ini tidak bisa berdekatan atau pun bersentuhan dengan seorang wanita? kalau kau terus bersikekeuh dengan keinginan mu itu, kapan anak kita akan memiliki keturunan? dia sudah bukan anak remaja lagi yang harus kau atur- atur seperti dulu. Biarkan dia memutuskan jalan kehidupannya sendiri " ucap lelaki paruh baya yang berada disamping nenek sihir itu kemudian angkat bicara setelah dari tadi hanya menyimak perbincangan antara ibu dan anak tersebut


Kini pandangan matanya terarah padaku


" Apa kau mencintai putra ku? " ucapnya, what? dia lagi ngomong apa nih? aku harus jawab gimana? tanyaku dalam hati. Kulihat sekretaris Jho yang berdiri disebelahku dari tadi. Dinya memejamkan matanya sebentar sambil menganggukkan kepalanya menandakan bahwa aku harus menjawab 'iya'


" Ya " ucapku sambil tersenyum ramah padanya. Apakah aku menjawab dengan benar? awas saja sekretaris sialan itu kalau menjerumuskanku pada lubang hitam, akan ku cincang tubuhnya dan kubuat menjadi daging giling, gerutuku dalam hati


" Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan kalian? " ucap pria paruh baya itu kini sambil menatap tuan Ronald


" Dalam waktu sebulan kedepan, kami akan melangsungkan pernikahan kami di Prancis " jawabnya dengan santai


" Baik lah kalau begitu kami akan hadir kesana. Sekarang kalian istirahat lah terlebih dahulu, pasti kalian lelah dalam perjalanan jauh sedari tadi " ucap pria paruh baya itu " Pelayan antarkan nona muda ke kamar tamu " ucapnya kemudian


" Tunggu " ucap wanita paruh baya itu kemudian angkat bicara setelah dari tadi diam membisu " Buka penutup wajahmu itu. Setidaknya aku ingin melihat wajah calon menantuku seperti apa? aku takun dia cacat dibagian wajah karna sedari tadi mengenakan topeng itu " ucapnya , aku hanya diam tanpa melakukan pergerakan apapun atau pun menjawab perkataanya karna memang aku tidak mengerti apa yang sedang ia bicarakan hingga ia berdiri dari duduknya dan akan menghanpiriku


" Silahkan nona ikuti pelayan itu " ucapnya membungkuk sambil tersenyum kearahku seolah berkata " Cepat lah pergi ikuti pelayan itu sebelum kau menyesalinya " itu lah kira- kira yang aku artikan dari raut wajahnya saat menatapku.


Aku pun berdiri dari dudukku kemudian membungkukkan sedikit badanku dan pamit dari hadapan mereka lalu mengikuti pelayan itu dari belakang. Ku edarkan pandanganku melihat ke sekeliling ruangan yang aku lalui masih merasa takjub akan rumah bak istana ini. Aku seperti masuk kedalam dunia Barbie yang sering ku tonton waktu kecil dulu


" Ternyata memang beneran ada rumah yang seperti di film- film Barbie hehe aku kira itu hanya ada dalam dunia film Barbie saja dan dalam drama- drama korea hihihi "ucapku sambil terus tertawa


" Apa kau mengatakan sesuatu nona? "(dalam bahasa inggris)


" Aaaahh..... Akhirnya ada orang yang berbicara dengan bahasa yang aku mengerti " ucapku kegirangan sendiri tanpa sadar


" Semua pelayan dirumah ini mahir berbagai macam bahasa nona " ucapnya lagi


" Benarkah? " ucapku merasa ragu dengan perkataannya


" Kau bisa mengetesnya sendiri padaku nona " ucapnya terdengar agak sombong sama seperti majikannya haha


" Baik lah, aku ingin tahu sepintar apa kalian sehingga membanggakan diri kalian sendiri heh " ucapku mulai agak kesal dengan tingkah pelayan yang ada didepanku ini


" Sing endi kamar nu bade ku abdi anggo kulem bengi iki? ( Kamar mana yang akan aku pakai untuk tidur malam ini? ) " ucapku dengan mencampur bahasa jawa dan sunda. Apa kalian tau ekspresi dia saat ini? haha ingin rasanya aku tertawa lepas didepannya melihat tampang bodohnya itu tapi tentu saja ku tahan, aku tidak mau merusak image ku didepan pelayan sombong ini


" Cih tadi kau dengan bangganya menyebutkan bahwa kalian mahir dalam berbagai macam bahasa. Nyatanya...?? Makanya jangan terlalu sombong, diatas langit masih ada langit jadi jangan berbangga hati dulu sebelum kau melengkapi kelemahanmu itu. Pijak lah tanah dibumi selagi bisa jangan berhayal memijak awan diatas sana " ucap ku panjang lebar mengeluarkan semua kekesalanku karna kesombongannya tadi.


Pandangannya kini tidak lagi lurus kedepan seperti tadi saat pertama menyombongkan diri, kini dia tertunduk sambil terus berjalan didepanku tanpa berkata apa- apa lagi


Kini pelayan itu berhenti didepan pintu ruangan berwarna putih tulang


" Ini kamar anda nona, silahkan " ucapnya sambil membuka knop pintu dan mempersilahkanku masuk


" Wow luas sekali ruangan ini? bahkan kamar ini lebih besar dari apartemen yang kutempati selama ini. Benar- benar orang kaya " ucapku pelan supaya tidak terdengar oleh pelayan itu


" Baik lah kau sudah boleh pergi sekarang, terimakasih " ucapku dan tak lupa mengucapkan terimakasih padanya


" Sama- sama nona, kalau begitu saya pamit undur diri. Kalau ada sesuatu, anda bisa memanggil saya atau pelayan yang lain " ucapnya kemudian berbalik dan pergi menjauh