She Is My Woman

She Is My Woman
BAB 17



Setelah berjalan cukup lama, tibalah kini mereka didepan meja bundar didekat kaca yang menampilkan pemandangan indah dibawah menara Eiffel


" Waaaahhh.... Harus aku dekomentasikan terlebih dahulu sebelum dirusak oleh si gunung es itu " ucapnya pelan kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempangnya


cekrek



" Waaaahh.... Indah sekali " ucapnya sambil terus mengagumi pemandangan indah yang ada didepan matanya itu


" Dasar nora. Apakah calon nona mudaku beneran kau? aku jadi merasa salah telah memilihmu " ucap sekretaris Jho mengejek tingkah Pricilya yang seperti orang kampung dimasukkan ke sebuah tempat berharga


" Haaaaa... Akhirnya kau mengeluarkan taringmu juga sekarang. Dan apa tadi kau bilang? jadi kau yang menyarankan aku untuk menjadi istri kontrak dari tuan muda mu itu hah? "ucapnya mulai berteriak karena kesal


" Kau pikir aku serigala apa mengeluarkan taring? lagian harusnya kau ber-terimakasi padaku karna aku sudah merekomendasikan mu kepada tuan muda Ronald. Asal kau tau saja banyak wanita diluaran sana yang lebih cantik dan sexy yang ingin naik ke ranjangnya tuan muda Ronald " ucapnya dengan gaya so cool sekarang


" Ah benar, terimakasih banyak sekretaris Jho aku sangat bahagia kau telah memilihku diantara ribuan wanita diluaran sana " ucapnya sambil tersenyum


" Apa kau pikir aku akan mengucapkan itu padamu? bermimpi saja sana huh " ucapnya kembali berteriak kemudian menendang kaki sekretaris Jho lumayan keras


" Aaahh.... Apa kau seorang pemain bola" pekiknya sambil mengelus kakinya yang ditendang Pricilya tadi


" Sudah lah aku malas bertengkar dengan orang bodoh sepertimu. Duduklah dengan tenang dan tunggu tuan muda datang " ucapnya kemudian lalu berbalik pergi meninggalkan Pricilya sendiri


" Hey sekretaris bodoh kau mau kemana? dasar menyebalkan " gerutunya kemudian berjalan mendekati salah satu kursi dimeja tersebut dan duduk disana


Untung keadaan restoran tidak terlalu ramai jadi Pricilya tidak terlalu malu meski ada beberapa dari merekan yang melihat dan berbisik- bisik karena pertengkaran Pricilya dan sekretaris Jho barusan


" Aku pikir dia sekretaris yang seperti didalam novel atau film yang pernah aku tonton ternyata.... zonx dia hanya manusia biasa ternyata " ucapnya pelan sambil memainkan ponselnya mulai merasa bosan


" Silahkan tuan muda " ucap pelayan sambil menggeser kursi di sebrang Pricilya mempersilahkan orang yang dia sebut tuan muda itu untuk duduk


Pricilya tak menyadari kedatangan Ronald karna sedang fokus menonton Youtube melihat beberapa acara lawakan Indonesia seperti Ini Talk Show, wib, standup comedy, dan lain-lain yang menurutnya menarik untuk ditonton


" Hahaha wajah om sule lucu sekali " ucapnya sambil tertawa terpingkal- pingkal


" Hahaha pak haji bolot coba ngomongnya sama Pricilya pasti denger semua " ucapnya lagi kemudian tertawa kembali


" Ekhm, excuse me bisakah kau menyimpan ponselmu sebentar " ucapnya sambil mengetuk meja beberapa kali.


Dan sontak saja itu membuat Pricilya kaget bukan main, pasalnya dia tidak tahu kapan tuan mudanya itu sudah duduk diasana dan kenapa pula dia tidak bersuara dari tadi? pikirnya


" Ma.. Maaf tuan muda, saya tidak menyadari kehadiran anda sedari tadi. Apakah anda sudah lama duduk disana? " ucapnya gugup merasa bersalah tidak mengetahui kehadiran boss killer nya tersebut


' Dimana sekretaris bodoh itu? biasanya dia ada disekitar si gunung es ini kenapa sekarang malah tidak ada ' ucapnya dalam hati


" Langsung saja pada inti alasan mengapa aku menyuruhmu datang kemari " ucapnya dingin dan Pricilya hanya duduk diam memahami pembicaraan boss nya tersebut


" Ibu ku tidak percaya bahwa kita akan menikah karna saling mencintai "


" Bukan kah kenyataan nya memang begitu? " gumamnya


" Romantis jidatmu, harusnya kau boking satu restoran ini lalu kau hias sedemikian rupa agar aku terharu kemudian nyatakan cintamu sambil berlutut dihadapan ku seperti di film- film romantis yang pernah aku tonton " gumamnya lagi


" Kau ikuti saja instruksi dariku " ucapnya kemudian terbangun dari duduknya, berjalan mendekati Pricilnya dan memegang kedua pundak Pricilya lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Pricilya yang membuat wanita itu bergidik ngeri


" Maaf tuan muda, bisakan anda sedikit menjauhkan wajah anda? hembusan nafas anda membuat bulu kuduk saya berdiri " ucapnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain


" Jangan banyak protes dan lakukanlah bagianmu dengan benar " ucapnya dingin


" Sekarang tersenyumlah dan tatap mataku " pintanya


Tanpa banyak membantah lagi Pricilya melakukan perintah atasan nya tersebut


" Apa kau ingin mati dihadapanku sekarang? " ucapnya dingin tanpa memalingkan wajahnya kearah lain


" Hmm? " ucap nya bingung


" Bernafas lah sekarang. Aku hanya menyuruhmu tersenyum dan menatapku bukan menahan nafas mu " ucapnya terdengar sedikit kesal dari nada bicaranya kemudian berjalan kembali kearah kursinya


" Oh iya. Maaf tuan muda saya refleks tadi " ucapnya sambil menundukkan wajahnya


" Dasar bodoh, kenapa aku harus berhenti bernafas tadi? membuat gunung es ini jadi meletuskan lava saja " gerutunya dalam hati


" Sudah lah lupakan adegan selanjutnya, aku sudah tidak berminat . Pelayan, antarkan pesananku tadi " ucapnya masih sedikit kesal


" Maaf kan saya tuan muda saya tidak bermasud apa- apa tadi. Saya hanya tidak terbiasa saja diperlakukan seperti itu " ucapnya merasa bersalah


" Sudah lah lupakan " ucapnya kembali dingin seperti semula kemudian meraih ponsel dari dalam jas yang ia kenakan


" Jho, kemari " ucapnya pada sekretaris Jho disebrang sana kemudian memutuskan panggilannya


" Ini pesanan anda tuan " ucap pelayan yang membawa makanan yang dipesan Ronald tadi


" Ya, letak kan saja " ucapnya tanpa melihat kearah pelayan tersebut


" Ya tuan muda? apakah sudah selesai? "


" Dimana reporter itu? suruh dia kemari sekarang juga " titahnya tegas dan dingin


" Baik tuan muda " ucapnya kemudian menelpon seseorang


Tak lama kemudian datanglah seorang pria mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah


" Apa dia akan melayad? topi hitam, kaca mata hitam, masker hitam, baju, celana sampai sepatu pun hitam. Kenapa tidak sekalian saja warnai kulitnya dengan warna hitam haha " gerutunya dalam hati merasa aneh sekaligus geli ingin tertawa melihat orang yang ada dihadapannya tersebut


" Mana hasilnya? " ucapnya meminta kamera yang di pegang pria tersebut


" Ini tuan muda " ucapnya kemudian melepas dan menyodorkan kamera yang menggantung di lehernya sedari tadi


" Tidak buruk, ambil satu lagi " ucapnya kemudian orang tersebut pun kembali ke posisi awalnya berada