She Is My Woman

She Is My Woman
BAB 6



Setelah masuk keruangan Interview Pricilya dipersilahkan duduk dengan begitu sopan. Semua orang yang berada didalam rungan tersenyum padanya


" Ada apa ini? kenapa aku tidak merasa seperti akan di interviw? apakah dari tadi semua orang diperlakukan sama seperti aku? ini terasa aneh menurutku tapi ya sudahlah apa peduliku. Mau mereka bersikap seperti apa pun terserah mereka yang pasti aku harus keterima disini " ucapnya dalam hati


" Nama kamu Pricilya Arnold? " tanya salah satu dari mereka bertiga


" Benar, nama saya Pricilya Arnold. Saya lahir di Indonesia karna orang tua saya orang Indonesia " jawabnya


" Kamu anak ke-3 dari 3 bersaudara? " tanya salah satu dari mereka lagi


" Iya, dan saya anak perempuan satu- satunya dikeluarga saya " jawab Pricilya seadanya


" Nilai mu bagus dari semua mata pelajaran, IQ mu diatas 200 kenapa kamu tidak melamar jadi sekretaris presdir saja? kebetulan kami sedang mencari sekretaris untuk presdir dan kamu sepertinya masuk dalam kategori layak untuk melayani presdir kami " ucap laki- laki yang sudah berumur yang berada tepat diantara dua orang yang menanyainya tadi


" Maaf tapi saya tidak tertarik untuk menjadi sekretaris dari presdir anda " jawabnya tegas


" Mengapa? Semua gadis saling berebut untuk berada disamping presdir kami. Seharusnya kamu merasa beruntung karna kami menawarimu tanpa kau harus berlutut untuk mendapatkan posisi itu " ucap wanita yang berada di samping kiri laki-laki tua tadi


" Baru satu lift dengan presdir saja sudah sombong begini " celotehnya dalam hati


" Maaf kan saya sekali lagi tapi saya benar- benar tidak berminat. Jika sudah selesai saya pamit undur diri " ucapnya mulai berdiri dari posisi duduknya


" Tunggu nona " ucap laki- laki tua tadi


" Pikirkanlah sekali lagi. Jika kau berubah pikiran segera hubungi kami " ucapnya lagi


" Terima kasih tuan, saya pamit undur diri " ucap Pricilya sambil melangkah menuju pintu keluar


" Cih... Dasar wanita tidak tahu berterima kasih. Dikasih pekerjaan yang enak malah memilih yang lebih sulit " cibir wanita yang disebelah pak tua tadi


" Dia itu bukan kamu " ledek laki- laki yang satu lagi yang disebelah pak tua itu


" Heh... " kesal wanita itu karena ridak ada yang membelanya sedari tadi


Diruangan lain terlihat sesosok pria tampan yang sedang sibuk dengan berkas- berkas yang harus ia tanda tangani. Disisi lain Jho juga sedang sibuk dengan leptopnya menyusun jadwal meeting atasannya itu yang selalu membuat kepalanya pusing karna ada beberapa jadwal yang bentrok jadi dia harus menyusun ulang dan ulang kembali saat ada jadwal yang bertabrakkan


Ttuuut....


Ttuuuut....


" Ya tuan? " jawab Jho mengangkat telepon disampingnya


" Masuk keruangan ku sekarang " titahnya langsung


Tok tok tok


Diketuknya pintu itu guna memberi tahu bahwa ia sudah didepan pintu. Tanpa menunggu jawaban atasannya itu Jho pun langsung masuk begitu saja kedalam ruangan itu


" Ada apa tuan? " tanya Jho sambil mendekat kearah boss nya berada


" Kau sudah mendapatkan sekretaris untuk membantumu?" tanya nya langsung pada inti yang ingin ia tanyakan


" Belum tuan " jawabnya agak ragu


" Apakah sesulit itu menemukan sekretaris untuk membantumu? " ucap nya mulai kesal karena sudah setengah bulan ini masih belum juga mendapatka sekretaris untuk membantu pekerjaan Jho yang banyak itu


" Kalau saja standar pekerja dikantor ini kau turunkan sedikit aku sudah mendapatkan sekretaris kedua untukmu dari setengah bulan yang lalu " gerutu Jho dalam hati


" Saya akan menanyakan pada bagian SDM segera " ujarnya mencoba menenangkan boss nya itu


" Ya sudah kalau begitu pergi sekarang jangan menunda-nunda lagi lebih cepat lebih baik " ujarnya lagi dan kembali duduk dikursi singga sananya itu


Ditempat lain Pricilya terduduk sendiri disebuah cafe sambil meminum jus alpukat kesukaannya itu. Matanya terus tertuju pada pintu mansuk seperti menunggu seseorang. Benar saja, tak lama setelah itu orang yang ditunggu Pricilya sedari tadi pun datang menghampiri pricilya


" Sudah lama nunggunya? " ujar laki- laki tersebut


" Kau lihat saya jus alpukat yang ku minum sudah hampir kering " ucapnya dengan nada kesal dan mengaduk aduk jus alpukat yang sudah tinggal sedikit itu dengan sedotan yang dipegangnya


" Ada apa? apakah kau tidak diterima? tapi mana mungkin kau tidak diterima mengingat IQ mu yang diatas 200 itu dan wajahmu juga tidak jelek- jelek amat ko " ucapnya sambil membolak balikkan wajan Pricilya


" Ya' hentikan membolak balikkan wajahku. Memang nya aku buku yang sering kau baca itu apa " ucapnya sedik berteriak karna merasa kesal dengan tingkah temannya itu, ya dia adalah Bobi teman semasa kuliahnya dulu dan mereka dekat sampai sekarang. Bobi menjadi tempat curhatan bagi Pricilya. Semua kisah senang, sedih, duka diceritakannya pada Bobi. Mereke sudah seperti adik kakak yang terpisah begitu lama jika sedang bersama . Karena usia Bobi yang lebih tua 3 tahun dari pada Pricilya jadi Bobi selalu mengerti kan sikap Pricilya yang kadang kekanakan saat didekatnya dan selalu memberikan masukan kepada Pricilya jika anak itu sedang berada dalam masalah


" Baik lah, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi tadi saat interviw " ucap Bobi kembali ke inti permasalahan Pricilya


Pricilya pun menjelaskan semuanya dari awal ketikan dia bertemu presdir itu dalam insiden tabrakan yang tidak disengaja karna kecerobohan pricilya yang tidak memperhatikan jalan sekitarnya hingga saat interviw yang menawarinya sebagai sekretaris presdir Cruise tersebut namun ditolak mentah- mentah oleh Pricilya. Bobi yang mendengarkan kisah jalan cerita Pricilya hari ini pun tertawa terbahak- bahak hingga menetes kan air mata disudut matanya. Menurut nya cerita Pricilya itu sangat lucu sehingga dia tidak tahan untuk tertawa


" Kenapa kau malah tertawa " ucap Pricilya dengan kesalnya karena bukannya memberi masukan seperti biasanya, Bobi malah tertawa sampai meneteskan air mata


" Kamu ini ada- ada saja yah tingkahnya haha " ucapnya sambil kembali tertawa


" Harusnya kamu terima tawaran itu Lya, jarang- jarang loh ada yang menawarkan kesempatan sebagus itu. Toh kamu juga pintar, pasti kamu bisa cepat menyesuai kan diri dan melakukan pekerjaan itu dengan mudah " ucapnya lagi kini dengan nada biasa tanpa ada tawa dibibirnya


" Kamu tahu Bob, aku paling tidak suka dengan laki- laki yang memiliki tampang rupawan ditambah lagi dia orang kaya. Aku tidak akan betah berada disisinya meski cuma semenit karena itu hanya akan mengingat kan aku pada masalaluku dulu " ucapnya mencoba mengingatkan Bobi


Bobi mulai berpikir bagai mana caranya agar Pricilya mau menerima tawaran itu tanpa harus berdekatan atau bertemu dengan presdir itu