
Setelah memutuskan panggilan itu, tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamar Pricilya
Tokk
Tokk
Tokk
" Tunggu sebentar "
ceklek
" Selamat sore nona muda. Saya kesini untuk menjemput anda atas perintah tuan muda Ronald " ucap pria berjas hitam yang kini berada didepan pintu kamar Pricilya
" Ya aku tahu. Tunggu sebentar aku akan mengambil ponselku dulu " ucapnya kemudian masuk kedalam kamar kembali dan mengambil ponselnya yang terdapat di meja rias nya
" Ayoo... " ucapnya kemudian sambil berjalan mendahului orang suruhan tuan muda Ronald tersebut
" Maaf nona. Apakah tidak sebaiknya anda mengganti pakaian anda terlebih dahulu? " ucapnya sambil melihat Pricilya dari ujung kaki hingga ujung kepala
" Memangnya kenapa? aku merasa nyaman dengan pakaian ini " ucapnya sambil melihat penampilannya sendiri yang memakai baju setelan tidur dan sendal bulu rumahan dengan karakter Doraemon
" Sudahlah lagian juga kita tidak akan pergi ke tempat istimewa kan? " lanjutnya lagi menebak kemana mereka akan pergi. 'yah paling- paling apartemen Justin siapa lagi' pikirnya
" Maaf nona kita akan pergi ke Le Jules Verne " ucapnya memberi tahu
" Apa? kenapa kau tidak bilang dari tadi? " ucapnya sedikit syok mendengar nama salah satu Restoran terkenal di Prancis yang katanya memiliki pemandangan yang sangat indah karna terletak di lantai 2 menara Eiffel dan tentu saja itu restoran yang cukup menguras kantong karna menu yang ada disana terbilang sangat mahal bagi kalangan Pricilya
Kini Pricilya telah mengganti baju tidurnya dengan gaun putih selutut, menggerai rambut indahnya dan sedikit mengenakan make up meski yang ia pakai hanya bedak dan lipstik karna dia tidak terbiasa berdandan seperti layaknya wanita diluaran sana namun cukup membuat dia terlihat cantik dimatanya sendiri.
(Loh ko dimatanya sendiri sih thor? karena Pricilya kan mengenakan topeng heheh)
" Oke flawless muach.... " ucapnya sambil mencium bayangannya sendiri di cermin
" Ayo berangkat " ucapnya setelah keluar dari kamar hotelnya dan kembali berjalan mendahului orang suruhan tuan muda Ronald tersebut
Sekarang Pricilya sudah berada di depan restoran terkenal tersebut. Tanpa menunggu perintah dari siapa pun Pricilya langsung keluar dari mobil yang dikendarainya tersebut dengan tidak sabaran dan senyum terus mengembang dibibir mungilnya tersebut
" Waaahh.... Aku tidak menyangka bisa menginjakkan kakiku di restoran yang sangat mahal ini " ucapnya sambil terus mengedarkan pandangannya mengagumi pemandangan yang ada disekitarnya
" Aku akan mengabadikan momen langka ini dan akan ku pamerkan pada Rara hehe " ucapnya sambil terus tersenyum bahagia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempangnya
Rara, kapan kita bisa makan disini barsama yah heheh. Send
Pricil, kau jahat sekali... Aku akan marah radamu huh
Sayangku, jangan lah marah. Nanti kalau aku sudah punya banyak uang, aku akan mengajakmu dan keluargaku makan disini
Janji yah? aku akan menunggumu pulang. Cepat lah pulang aku sudah sangat rindu
Iya aku janji. Sabarlah, nanti jika aku akan pulang aku akan menghubungimu terlebih dahulu. Yasudah, aku ada urusan sekarang lain kali kita berbincang lagi. Bye
Baik lah, kamu baik- baik yah disana kami semua merindukanmu disini. Bye bye
Itulah percakapan singkat yang Pricilya kirimkan pada Rara sahabat baiknya di Indonesia
" Apa kau sudah selesai dengan urusan mu itu nona muda? " ucap Jho tiba-tiba yang entah dari mana datangnya
" Aaaa..... " teriaknya karna kaget dengan suara Jho dan hanpir menjatuhkan ponselnya
" JHO..... " ucapnya masih dengan berteriak meluapkan kekesalan dalam hatinya karna sekretaris Jho yang datang tiba-tiba seperti jin tomang dan mengagetkan Pricilya
" Bisakah anda mengecilkan suara anda nona muda? saya tidak tuli dan itu akan mengundang tatapan orang lain nona muda" ucapnya dengan raut wajah datar dan dia bertingkah so cool, meski kenyataanya begitu
" Sejak kapan kau berdiri didepanku? dan bisakah kau tidak mengaget kan ku? kau hampir saja membuat jantungku yang berharga ini berhenti berdetak tau. Dan apa tadi kau bilang? nona muda? biasanya juga kau hanya memanggilku dengan sebutan nona tanpa ada embel- embel apapun dibelakangnya. Atau jangan- jangan kau menganggapku tua kemarin- kemarin, ia kan? benarkan? " cerocosnya lagi masih dengan raut wajah yang terlihat kesal
Tanpa menjawab satu patah kata pun pada Pricilya, sekretaris Jho langsung membalikkan badannya dan masuk kedalam restoran karna dia tahu pasti Pricilya akan mengikutinya meskipun dia tidak menyuruhnya untuk mengikutinya. Dan benar saja Pricilya terus mengekori sekretaris Jho masuk kedalam restoran tersebut
" Cih, dasar menyebalkan. Kau tak ada bedanya dengan boss mu itu, sama- sama membuatku naik darah. Yang satu gunung es yang satu udah kaya tembok beton, ada namun tak bisa diajak bicara. Kusumpahi kalian berdua supaya memiliki istri yang buruk rupa, jorok, cerewet, gendut hmmmm apa lagi yah? ah sudah dulu saja nanti aku pikirkan lagi selanjutnya apa haha " umpatnya dengan suara kecil kemudian tertawa tanpa suara
" Eh tunggu dulu. jangan sumpahi gunung es itu, aku kan calon istrinya. Bagai mana kalau itu semua malah terjadi padaku? iiihhh ngeri- ngeri. Aku batalkan sumpah serapahku tadi kepada si gunung es itu tpi untuk si tembok beton ini? biarkan saja lah hihihi " ucapnya lagi masih dengan suara pelan
" Apa yang sedang anda tertawakan nona muda? "ucapnya karna melihat gadis kecil dibelakangnya itu terus tertawa tanpa henti namun tidak mengeluarkan suara
" Dasar kepo. Urus saja urusanmu jangan ikut campur dengan urusanku " jawabnya ketus
" Baik nona muda " ucapnya patuh
" Tumben sekali dia tidak membalas perkataanku? apa dia salah makan sesuatu hari ini? " ucapnya bertanya- tanya pada dirinya sendiri