
Ronald pov
Bwahahaha
Tawaku pun pecah seketika setelah kembali kekamarku mengagetkan sekretaris Jho yang sedang sibuk dengan leptop nya
" Hahaha.... Kau dapat dari mana wanita aneh itu hahaha " ucapku sambil terus tertawa terpingkal- pingkal membayangkan kekonyolannya tadi
" Dia sekretaris kedua mu tuan " ucap Jho memberi tahu
" Oh dia si gadis ber IQ 200 itu? aku meragukan dia ber IQ 200 bwahaha " ucapku dan kembali tertawa
" Dia memang pintar namun terkadang juga bertingkah bodoh " ucap Jho kemudian
" Hahaha baiklah. Sekarang cari semua informasi tentangnya. Sekecil apapun itu jangan sampai terlewat kan, semakin banyak informasi yang kau dapat akan semakin bagus lalu beri tahu aku semuanya " ucapku mengakhiri tawaku dan kembali bersikap dingin seolah tidak terjadi apa- apa
" Baik tuan muda " jawabnya singkat kemudian beralih ke ponsel yang berada disampingnya
" Cari semua informasi tentang Pricilya Arnold. Cari sampai celah terkecil sekalipun jangan sampai ada yang terlewatkan " ucapnya pada seseorang disebrang sana kemudian menutup panggilan dan kembali terfokus pada leptop didepannya
Author pov
Ditempat lain kini Pricilya merutuki kebodohan nya sendiri
" Bodoh, bodoh, bodooooh..... " ucapnya berteriak- teriak sambil memukul kepalanya pelan dengan tangannya sendiri
" Kenapa tadi aku tidak langsung menutup pintunya dan menguncinya saja kalau tau dia akan kesini. Dasar bodoh, dan aku malah bertingkah konyol didepannya tadi. Pasti dia berfikir bahwa aku wanita aneh atau apalah itu " gerutunya tanpa henti
" Ah sudah lah aku tidak peduli dia mau berfikir apa tentangku, sudah terlanjur malu dilihatnya juga " ucapnya kemudian. Lalu merebahkan kembali badannya diatas kasur dan tertidur dengan lelap
Tak terasa sore pun telah tiba, Pricilya terbangun dari tidur panjangnya
" Hoaaamm..... Ah akhirnya aku bisa tidur dengan nyenyak "ucapnya sambil meregangkan otot- otot tangannya tanpa membuka matanya
" Sudah puas tidurnya? " ucap Ronald yang sedari tadi duduk di sofa kamar tersebut dan membuat Pricilya terlonjak kaget
Kenapa dia senang sekali mengaget kan aku sih? gerutunya dalam hati
" Tu... Tuan Ronald? anda sedang apa disini? " tanya nya gelagapan
" Ini rumah orang tuaku, kenapa kamu mengatur ku aku harus ada dimana? " ucapnya dingin sambil bertumpang kaki dan menyenderkan tubuhnya ke sofa tersebut
" Ma... Maaf kan saya tuan Ronald karna telah lancang bertanya seperti itu. Kalau begitu saya akan keluar " ucapnya buru- buru kemudian turun dari ranjang dan bersiap akan pergi tanpa merapikan kasur itu terlebih dahulu karna merasa grogi
" Siapa yang memboleh kan mu keluar dari ruangan ini? " ucapnya lagi dingin " Kemarilah " ucapnya kemudian sambil mengisyarat kan Pricilya agar mendekat dengan telunjuknya.
" Ya tuan Ronald? " ucapnya setelah sampai didepan boss nya itu
" Besok kita akan ke Prancis, kau tidak usah menyiapkan apapun karna Jho sudah menyiapkan semuanya disana " ucapnya datar tanpa menghirau kan orang didepannya yang kini sudah menganga dibuatnya
" Apakah kita ada perjalanan bisnis kesana? Tapi seingatku tidak ada jadwal perjalanan bisnis kesana tuan? atau kah aku salah mengingat? " ucapnya bertanya panjang lebar
" Kau hanya perlu mengikuti perintahku, tidak usah banyak bicara. Sekarang bersiap lah untuk turun kebawah sebentar lagi jam makan malam " ucapnya masih tetap dingin kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar meninggal kan Pricilya yang masih setengah sadar atas ucapan atasannya itu tadi
" Apa kah aku salah ingat jadwal? aku rasa tidak? atau kah ada pertemuan dadakan disana? yah mungkin saja, namanya juga pembisnis pasti sering mengadakan rapat dadakan atau pertemuan dadakan seperti ini. Benarkan? " ucapnya bertanya pada dirinya sendiri.Kemudian bersiap untuk pergi kebawah
Setelah sampai di meja makan, Pricilya pun langsung duduk disamping tuan Ronald tanpa menunggu perintah darinya seperti tadi pagi. Seketika udara disekitar meja makan terasa mencekam bagi Pricilya setelah tak sengaja bersitatap dengan ibu dari tuan Ronald. Dari tatapan nya terlihat bahwa ia sangat tidak suka dengan keberadaan Pricilya di samping tuan Ronal
Sudah lah persetan dengan nenek sihir itu. Anggap saja dia patung pancoran Pricilya. ucapnya dalam hati. Kemudian mulai memotong steak yang ada didepannya
" Kenapa sulit sekali sih? apa ini belum matang? atau pisaunya yang kurang tajam? " ucapnya dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
Tak lama tuan muda Ronal menukar piring nya dengan piring Pricilya dan sudah memotong steak itu menjadi bagian- bagian kecil agar Pricilya lebih mudah memakannya. Mungkin bagi orang yang melihat kejadian itu terlihat sangat romantis tapi tidak dengan Pricilya. Ia malah merasa ada sesuatu yang aneh pada diri presdirnya itu
Apakah dia sedang sakit? mengapa tingkahnya selalu perhatian padaku dari tadi pagi? sepertinya ada yang tidak beres. ucapnya dalam hati
" Makan lah, aku sudah memotongnya agar kau bisa langsung memakannya " ucapnya tanpa menoleh pada Pricilnya.
Tanpa pikir panjang, Pricilya pun langsung melahap steak tersebut tanpa ragu lagi. Dilirik nya ibu tuan Ronald sekilas
Kenapa dia terus memperhatikanku makan? apakah cara makan ku salah? dan matanya itu.... ih seperti akan keluar dari tempat persinggahannya saja. ucap Pricilya dalam hati dan tanpa sadar bergidik sendiri
Setelah selesai makan malam, Pricilya pun kembali lagi kekamarnya atas perintah tuan Ronald. Ia diperintahkan istirahat lebih awal karna besok mereka akan pergi ke Prancis setelah sarapan pagi
" Cih.... Bukankah dia juga tau aku baru saja bangun dari tidur panjangku? lalu kenapa dia menyuruhku kembali tidur sekarang? dia pikir aku babi apa yang habis dikasih makan langsung tidur " gerutunya saat tiba didalam kamar kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan memainkan ponselnya
Karna merasa bosan, Pricilya pun keluar dari kamar dan berniat pergi kedapur untuk mencari makanan atau sekedar teman mengobrol. Dari kejauhan terdengar samar- samar orang sedang berbicara atau mungkin sedang beradu argumen.
" Jika mama tidak merestui pernikahanku dan dia? dan akan menggagalkan acara pernikahanku dengan nya? aku tidak akan menikah dengan wanita manapun seumur hidupku " itu lah kira- kira yang terdengar oleh Pricilya, namun tentu saja ia tidak mengerti karna menggunakan bahasa Italia.
Pricilya pun cuek dengan topik pembahasan yang sedang mereka ributkan itu. Toh dia juga ridak akan mengerti arah pembicaraan mereka karna Pricilya tidak bisa bahasa Italy
" Kamu jangan keras kepala Ronald, dia itu siapa dan kita itu siapa kamu tahu lebih jelas. Dia tidak lebih dari perempuan rendahan diluar sana. Mama tidak mau memiliki menantu seperti dia, apa yang mau mama bilang nanti kepada teman- teman mama? wajahnya saja kami tidak tahu, pokonya kamu tidak boleh menikah dengannya " ucap wanita paruh baya itu
" Terserah, kalau mama mau melihat anak mama tidak menikah seumur hidup. Mama bisa melakukan apa pun yang mama suka. Ronald cape ingin istirahat " ucapnya kemudian berjalan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu
" Ronald mama belum selesai bicara " ucapnya sambil berteriak namun Ronald tidak mengindahkan teriakan mamanya itu dan terus berjalan pergi menjauh dari ruangan itu