
Setelah P r i c i l y a menjelaskan semua apa yang sudah terjadi tadi saat diperjalanan menuju rumah Bagas pada Rara. Kini giliran Rara yang marah, Rara tidak terima sahabatnya yang ia sayangi disakiti sampai seperti ini
Wajah Rara terlihat sangat menyeramkan saat dia sedang marah bagi Pricilya. Pricilya yang tau akan sifat Rara saat ia marah mencoba menenangkan Rara agar meredakan amarahnya
Bagas yang baru keluar dari kamarnya melihat Rara yang sedang menahan amarahnya menjadi bingung. Apakah Rara marah karna dia terlalu lama mandi tadi? pikirnya, tapi biasanya Rara tidak akan marah hanya gara-gara hal sepele semacam itu. Jadi apa yang menyebabkan Rara kekasihnya sampai bisa semarah itu? pikiran Bagas terus berputar mencari kesalahannya sendiri yg membuat Rara menjadi marah tapi hasil nya nihil, dia tak menemukan apapun
Karena Bagas tak tau apa salahnya, lebih baik ia meminta maaf saja dulu untuk menenangkan amarah Rara itu lebih baik dari pada nanti Rara meledak secara tiba-tiba akan lebih runyam urusannya, pikirnya
" Sayang, honey, darling, pity, sugar ku,cinta ku, kasih ku, permaisuri ku.... Aku minta maaf kalau aku berbuat salah padamu. Aku mohon jangan marah lagi yah " ucapnya panjang lebar sambil memasang wajah memelas dan berjongkok didepan Rara
Rara yang bingung dengan sikap Bagas yang tiba-tiba langsung meminta maaf membuat Rara mengerutkan keningnya heran. Ada apa dengan anak ini? pikir Rara. Rara yang tadi nya marah, melihat ekspresi wajah Bagas yang memelas tanpa sebab jadi tertawa terbahak-bahak sampai tersedak air liurnya sendiri
" Kamu ini kenapa Gas? Kesambet yah? Hahaha.... " tawanya lagi lebih keras
" Bukannya kamu lagi marah sama aku yah? " tanyanya masih dengan wajah memelas yang membuat Rara tidak kuat menahan tawanya sampai keluar air mata diujung matanya
" Apakah kamu bodoh? Kenapa aku harus marah sama kamu? Apa kamu berbuat salah sama aku? Enggak kan? Terus kenapa kamu minta maaf? haha " ucapnya beruntun masih dengan tawa diujung katanya
" Lah terus kenapa tadi wajah kamu kelihatan marah banget pas aku baru keluar kamar? " tanyanya sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk dikursi yang kosong sebelah Rara
" Aku gak marah sama kamu ko sayang tenang aja " ucapnya dengan senyum mengembang dibibirnya " Hanya saja aku sangat marah dengan temanmu itu " lanjutnya dan kini mukanya mulai berubah kembali menjadi menyeramkan seperti semula
' Apakan pacarku ini ada titisan dari dewa bunglon? Kenapa ekspresi wajahnya bisa secepat itu berubah kembali ke mode marah? ' pikir Bagas bicara dalam hatinya
" Siapa maksud kamu sayang? Apakah Rayi ? " tanyanya sambil melihat sekilas kearah Pricil mencoba bertanya dengan isyarat mata
" Tentu saja Dia. Memang nya kamu punya teman lain selain D I A ? " jawabnya dengan penuh penekanan di kata DIA
' Astaga... kenapa aku haru mencintai dia Tuhan? Bolehkah aku mengganti orang yang aku cintai? Dia terlalu seram saat mode marahnya on ' gerutunya dalam hati
" Sayang tenanglah sedikit, memang nya apa yang dia lakukan sehingga bisa membuatmu sampai semarah ini? Dan juga, aku juga punya teman yang lain sayang bukan hanya dia seorang. Apakah kamu tidak tahu itu? " ucapnya panjang lebar merasa tidak terima dengan ucapan kekasihnya yang menganggap dia tidak punya teman lain selain Rayi. Yah meski sejujurnya cuman Rayi yang benar-benar dekat dengan nya, tapi kan dia juga punya teman di eskul basketnya disekolah. Meski tak sedekat Rayi, tapi apakah itu bisa disebut bahwa dia cuman punya teman Rayi seorang?
" Apakah kamu tahu Rayi sedang dekat dengan siapa akhir-akhir ini? " kini giliran Pricilya yang angkat bicara
" Siapa namanya? " tanya nya lagi
" Nindi "
" heh.. " desahnya sambil tersenyum miring mengisyaratkan sesuatu
Tak lama Rayi pun muncul dari pintu masuk menbawa satu kresek kecil yang berisikan minuman kesukaan Pricilya
" Sayang maaf membuatmu menunggu lama tadi disana ramai sekali yang membeli hehe... Ini jus alpukat kesukaan kamu" ucapnya sambil memberikan kresek bening yg berisikan jus alpukat itu
Pricilya tidak mengambil minuman itu dan malah langsung berdiri ketika Rayi akan duduk disebelahnya
" Kita tidak usah jadi kepantai, aku merasa lelah hari ini, aku ingin pulang. Kamu disini aja kalau kamu mau aku akan pulang bersama Rara " ucapnya dingin tanpa ekspresi
Rara yang sedari tadi merasa geram akan sikap Rayi yang seolah tidak ada apa-apa membuat Rara ingin sekali memukul wajah laki-laki itu kalau saja Pricilya tidak menggenggam tangan nya mungkin Rayi sudah habis ditangan Rara.
Rara adalah atlit karate yang sudah menjuarai beberapa kali pertandingan dari sejak SMP. Namun karna wajahnya yang imut dan juga terlihat lugu, orang-orang tidak akan ada yang percaya bahwa dia adalah seorang atlit karate sebelum melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri
Pricilya menarik tangan Rara sampai ke parkiran motor. Sesampainya diparkiran, Rara menyalakan motornya dan memundurkannya menuju jalan. Dilihatnya Pricilya dari sepion masih belum naik dan terus melihat kebelakang seolah berharap Rayi akan datang
" Dia tidak akan muncul Lya. Sudah lah lebih baik kita pulang saja dulu, kau tenangkan hatimu dulu baru setelah itu bicara baik-baik pada Rayi " ucapnya menyadarkan Pricilya yang tidak kunjung naik ke motor
" Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan dia Ra. Semuanya sudah jelas dari pesan itu, bahkan dia tidak mengejarku untuk bertanya apa yang terjadi " ucapnya sambil menaiki motor Rara
" Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang pada Rayi Kalo kamu lelah. Lalu apa yang perlu ditanyakan lagi oleh Rayi? " ucapnya merasa kesal sambil melajukan motor matic nya itu
" Yah setidaknyaaa...... " ucap Pricil menggantung mencoba membenarkan perkataan Rara. Andai dia lebih berani bertanya maksud pesan itu pada Rayi. Tapi Pricil takut akan jawaban Rayi yang membenarkan akan pesan tersebut
Disepanjang perjalanan Pricilya terus terdiam tanpa suara. Bahkan nafasnya saja tidak terdengar oleh Rara. Ini bukan lah Pricilya yang Rara kenal dulu. Karna Pricilya yang Rara kenal, orangnya sangat cerewet tidak bisa berhenti bicara. Namun sekarang dia terdiam seribu bahasa membuat Rara takut akan perubahan sikap Pricilya yang sangat drastis