She Is My Woman

She Is My Woman
BAB 20



" Priciiiiiiiiiiillll.............. " ucap Rara berteriak sambil berlari begitu melihat sahabat nya yang selama ini sangat ia rindukan


" Raraaaaaa......... " ucap Pricilya ikut berlari meninggalkan kopernya ditempat


" Eh ko badan kamu kaya ada yang beda yah? dan terasa lebih tinggi sekarang " ucap nya sambil memeluk seseorang didepannya


" Priciiiilll..... Apa kau menjadi rabun sekarang setelah sekian lama tinggal diluar negeri? " ucap Rara yang berdiri dibelakang Pricilya dan memanyunkan bibirnya berpura- pura marah


" Aaahh.... Ternyata aku memeluk Bagas hihi pantas saja ada sensasi yang berbeda saat aku memeluk. Aku sempat bertanya tadi kalau dadamu mengempes dan tinggi badanmu bertambah saat aku tinggalkan setelah sekian lama bwahahaha " ucapnya kemudian tertawa sangat keras


" Huh aku membencimu Pricilya Arnoldi " ucapnya masih memanyunkan bibirnya


" Hahaha baiklah- baiklah aku minta maaf, aku sungguh sangat merindukan kalian sahabat- sahabatku yang tengil heheh " ucapnya sambil menarik tangan Rara agar mendekat kearahnya, kemudian mereka berdua pun berpelukan sangat erat saling melepas rasa rindu yang telah menggunung dibenak mereka masing- masing


" Hiks aku lebih- lebih sangat merindukanmu Pricil hiks hiks " ucap Rara sambil sesenggukan karna menangis


" Uuuuuhhh..... Cup cup cup... Bayi kecilku, berhentilah mengeluarkan tambang berlian itu, nanti wajahmu akan terlihat seperti kepiting rebus kalau terus menangis " ucap Pricilya sambil menepuk- nepuk punggung Rara pelan mencoba menenangkan sahabatnya itu. Namun bukannya berhenti menangis Rara malah semakin menjadi dipelukan Pricilya


" Huwaaaaa..... Kau hiks memang kejam hiks Pricilya , bukannya hiks menghiburku hiks malah mengejekku " ucapnya sambil mendorong tubuh Pricilya pelan


" Sudah lah, apa yang sedang kau tangisi ini? aku kan sudah didepanmu sekarang " ucapya sambil mengelap aliran sungai kecil di kedua pipi Rara


" Kenapa kau tidak mengabariku terlebih dahulu? aku kan bisa menjemputmu dibandara tadi " ucapnya sudah mulai tenang dan menghapus sisa air mata dipipinya


" Aku memang sengaja tidak memberitahumu kan biar surprise hehe " ucapnya sambil cengengesan


" Ya ampun Ciiiill..... Kau seperti pada siapa saja, kalau kau mau menginap, menginap saja. Lagian orang tuaku juga pasti merindukanmu karna sudah lama tidak bertemu " ucapnya sambil tersenyum bahagia mendengar sahabatnya akan menginap dirumahnya


" Makasih ya Ra, kau memang sahabatku yang paling baik hehe " ucapnya kembali memeluk Rara


" Memangnya kamu memiliki sahabat yang lain selain kami haha " ucapnya mengejek


" Haha benar juga " ucapnya membenarkan, lalu mereka bertiga pun hanyut dalam nuansa kerinduan saling bercerita mengenai masalalu mereka saat disekolah


Ditempat lain, banyak penjaga yang sudah bersiaga didepan pintu kamar yang bahkan tanpa mereka ketahui sudah tidak ada siapapun didalam sana


" Bagai mana? apa gadis itu memaksa keluar pada para penjaga? " ucapnya sabil membolak- balikan dokumen ditangannya


" Tidak tuan muda, dari saat pengawal tiba hingga sore hari ini, tidak ada tanda- tanda nona muda akan keluar. Mungkin nona muda sudah tahu beritanya, makanya dia tidak berniat pergi keluar " tuturnya


" Hmmm baguslah kalau begitu biarkan saja dia. Nanti malam kita kesana melihat keadaan nya " ucapnya kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan kearah kamar mandi diruangan tersebut


" Baik tuan muda " ucapnya kemudian membungkuk dan berniat akan segera pergi melihat tuan nya akan masuk ke kamar mandi


" Jho... Jangan ganggu aku apa pun yang terjadi, kecuali itu benar- benar sangat penting kau mengerti? " ucapnya kemudian sebelum benar- benar masuk kedalam kamar mandi


" Baik tuan muda, saya mengerti " ucapnya kemudian keluar dari ruangan tersebut