
Setelah kejadian hari itu ketika Pricilya bertemu dengan Nindi. Pricilya tidak jadi bertemu dengan Rayi dan nomor Hp Rayi pun di blokir oleh Pricilya. Berbagai macam alasan Pricilya lontarkan agar dirinya tidak bertemu dengan Rayi. Saat jam istirahat berbunyi Pricilya langsung pergi ke perpustakaan, karna hanya tempat itu yang paling aman bagi Pricilya untuk menghindari Rayi
Hari berganti hari, minggu berganti minggu ,bulan pun berganti bulan, namun Rayi masih belum bisa bertemu dengan Pricilya. Berbagai macan cara ia lakukan agak ia bisa bertemu dengan Pricilya. Mulai dari mendatangi rumahnya, namun dia tidak ada dirumah, menurut kakak keduanya dia pergi bersama Rara entah kemana. Didatanginya semua tempat kesukaan Pricilya yang dulu pernah menjadi saksi kebahagiaan mereka namun hasilnya nihil. Rayi masih belum bisa menemukan Pricilya
Ujian Nasional pun telah berlalu namun Rayi masih belum bisa bertemu dengan Pricilya. Harapan terakhir Rayi untuk bertemu Pricilya adalah ketika acara kelulusan dan perpisahan nanti. Jika saat itu Rayi tidak bisa juga bertemu dengan Pricilya maka entahlah apa yang akan terjadi
Hari ini adalah acara kelulusan dan perpisahan. Rayi terlihat begitu tampan mengenakan kemeja biru muda dan jas hitamnya, ditambah dasi yang melingkar indah dilehernya memberi kesan wah pada Rayi. Ini ia lakukan agar terlihat tampan dan rapi didepan Pricilya nanti pikirnya. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Pricilya, karna pricilya pernah berkata bahwa ia sangat menyukai lelaki yang rapi jadi Rayi ingin terlihat sempurna dimata pricilya
Rayi duduk dikursi paling ujung dibarisan kelasnya agar saat pricilya datang ia bisa melihatnya. Rangkaian acara pun sudah dimulai sedari tadi namun Pricilya masih belum terlihat. Apakah dia tidak akan datang? pikirnya sambil menundukkan kepada
Tak berapa lama terdengar suara gerombolan wanita yang sedang tertawa riang. Diselanya terdengar suara Pricilya berbicara lalu ikut tertawa bersama mereka. Diangkatnya wajah itu yang sedari tadi menunduk, matanya mencari sesosok gadis yang sangat ia rindukan selama ini. Matanya menangkap sesosok gadis yang sangat cantik berbalut dres warna hijau pudar selutut, rambutnya tergerai indah dan riasan wajahnya yang begitu natural menambah kecantikan yang alami untuknya. Ditatapnya lekat-lekat gadis itu yang terus tertawa bersama teman-temannya. Tawa itu yang selalu ia rindukan selama ini, tanpa terasa air matanya jatuh membat aliran sungai kecil dipipinya. Diusapnya air mata itu sambil tersenyum melihat Pricilya yang kembali ceria seperti dulu lagi
Ingin rasanya Rayi pergi mendekati Pricilya dan memeluk tubuh mungilnya itu yang sangat ia rindukan selama ini , namun takut jika Pricilya akan pergi lagi jadi diurungkannya niatnya itu.
Rayi terus memperhatikan gerak gerik pricilya tak tertinggal sedikit pun, merasa takut jika ia lengah ia akan kehilangan Pricilya lagi jadi dia terus memperhatikan gadis itu dari kejauhan. Dilihatnya Pricilya memainkan ponselnya sebentar kemudian ikut berbincang ria kembali bersama teman-temannya. Dirasanya ponselnya bergetar dari dalam saku jas Rayi, diambilnya ponsel itu dan tertera nama HONEY mengirimnya pesan.
Betapa bahagianya Rayi melihat pesan itu yang berarti nomornya sudah tidak di blokir lagi oleh pricilya. Dibukanya pesan itu dan dibacanya dengan hati yang berdegup kencang sama persis ketika ia pertama kali akan menyatakan cintanya pada Pricilya dulu
" Jangan terus menatapku aku merasa risih. Aku tidak akan pergi kemana- mana jadi nikmati acaranya " isi pesan itu membuat senyum diwajah Rayi sangat lebar
" Baiklah Princess ku " balasnya sambil kembali melihat Pricilya yang memainkan ponselnya kembali mungkin sedang membalas pesannya
" Jangan panggil aku seperti itu aku tidak nyaman. Dan lagi nanti sehabis selesai acara ada yang ingin aku katakan padamu " balasnya
" Baiklah nyonya Anggara "balasnya diakhiri emoticon senyum diakhir kalimat
Tak ada balasan lagi dari Pricilya. Acara demi acara pun berlangsung sampai selesai, kini Rayi berdiri didekat kantin sekolahnya tempat biasa dulu ia sering makan, bercanda tawa dengan Pricilya. Dilihat nya kantin yang kosong itu hanya ada beberapa anak sekolah saja yg sedang berkumpul. Kantin itu terasa hampa tanpa tawa Pricilya, biasanya ia akan berteriak- teriak memesan ini dan itu mengerjai ibu kantin. Tanpa terasa ujung bibir Rayi pun terangkat membentuk senyuman indah disana membayangkan ulah kekasihnya yang selalu aneh saat bersamanya. Gambaran demi gambaran berkelebatan di pikiran Rayi hingga membuatnya tak berhenti tersenyum bahagia
" Aku akan bicara langsung pada intinya " ucap Pricilya membuka suara karna sedari tadi Rayi tak mengucapkan sepatah kata pun
" Aku sudah mendaftar ke Universitar Harvard dan aku keterima disana jadi ini pertemuan kita untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi nanti. Dan.... " ucapan Pricilya menggantung sesaat
" Aku ingin mengakhiri hubungan ini " ucapnya lagi mulai bersikap dingin pada Rayi
Rayi tak menyangka,ternya pertemuan awal dari hilangnya Pricilya selama ini menjadi akhir dari hubungan mereka berdua. Rayi hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab karna dia tau jika Pricilya sudah mengambil keputusan tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya
" Aku akan pergi besok lusa. Semoga dengan kepergianku ini bisa menjadi awal kebahagiaan yang baru untukmu " ucapnya lagi kemudian berbalik dan berlalu pergi diikuti Rara dan Bagas tanpa menunggu Rayi membalas perkataan nya
Rayi yang merasa bodoh hanya bisa terduduk lemas diatas lantai sambil merutuki kebodohan nya
" Kenapa kau tidak bicara sejujurnya bodoh. Kenapa kau tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu dan malah membuat wanitamu membencimu. Kau sungguh pengecut R A Y I A N G G A R A " ucapnya memarahi dirinya sendiri karna merasa tak berguna menjadi laki-laki pengecut didepan Pricilya
Disisi lain kini Rara sedang dirumah Bagas guna menenangkan Pricilya yang kembali menangis setelah pertemuannya tadi bersama Rayi
" Untung tadi kamu langsung pergi Cil. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu saat itu nanti " ucap Rara sambil terus menenangkan Pricilya dengan mengelus punggungnya
" Kenapa perempuan ribet sekali sih? didepan bilang udahan tapi dibelakang nangis kejer-kejer " gerutu Bagas dengan suara kecil namun masih bisa terdengar oleh telinga Rara
" Sayang.... Apakah kamu mau aku mutilasi dan ku jual dagingmu itu ke tukan sate? " ucap Rara dengan senyum merekah namun terlihat mengerikan menurut Bagas
" Tidak terima kasih sayang aku akan pergi " ucap Bagas langsung buru-buru terbangun dari duduk santainya
" Menangis lah sampai kau lelah Cil. Luapkan semua yang menggumpal dihatimu selama ini, tidurlah dengan nyenyak dan bangun lah dengah hari yang baru tanpa ada Rayi atau siapapun itu. Lupakan semuanya, anggap kau tak pernah bertemu Rayi sebelumnya dan jadi lah dirimu yang ceria lagi " ucap Rara panjang lebar mencoba menenangkan Pricilya