
Kini Pricilya telah berada didalam pesawat pribadi milik tuan Ronald
" Apa kau bisa berbicara bahasa Italy? " tanya sekretaris Jho
" Tidak " jawabnya singkat padat dan jelas
Sekretaris Jho pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti
" Tuan Ronald ada di depan jadi kau jangan berisik dan banyak bicara " ucap sekretaris Jho kemudian
" Bukannya dia sendiri yang dari tadi banyak berbicara? " nyinyir nya dengan suara pelan yang hanya bisa ia dengar sendiri
" Apa kau berbicara sesuatu nona? " tanya nya merasa mendengar sesuatu
" Tidak ada aku hanya sedang bersenandung saja " ucapnya sambil melihat kearah jendela kaca pesawat
" Oh iya, nanti kau tidak boleh membuka kaca mata dan masker itu apa pun yang terjadi " ucapnya memberi tahu
" Ya ya ya apa pun perintah mu akan saya laksanakan dengan senang hati tuan sekretaris yang terhormat " ucapnya sambil memutarkan bola matanya malas
∆∆∆∆
Setelah mendarat, kini mereka sudah dijemput oleh beberapa mobil hitam yang berderet rapi tepat tidak jauh dari pintu pesawat
" Selamat datang tuan muda (bahasa Italy)" ucap para penjaga berbaju hitam serempak sambil membungkukkan badan. Tuan Ronald tidak menjawab sapaan mereka dan langsung pergi menuju mobil utama yang terparkir dibarisan tengah.
Terlihat
sama kalau sekilas karna warna mobil itu yang senada dengan yang lain, tapi jika dilihat lebih dekat? itu mobil konglomerat booo...... yah meski tuan Ronald memang konglomerat
Dibukanya pintu mobil bagian depan oleh salah seorang penjaga mempersilahkan tuan Ronald untuk masuk. Tapi kenapa dia dibagian kemudi mobil bukannya dibagian kursi penumpang? sudahlah suka- suka hati dia saja mau duduk dimana apa peduliku, ucap Pricilya dalam hatinya
" Naiklah " ucap sekretaris Jho sambil menyikut lengan kiri Pricilya
" Hah... Aku? " ucapnya bingung sambil menunjuk kearah dirinya sendiri
" Cepat lah naik jangan banyak bicara. Ingat kau jangan membuka kaca mata dan maskermu apapun yang terjadi dan kuncilah mulutmu selama diperjalanan. Karna tuan Ronald paling tidak suka orang yang banyak bicara " ucapnya panjang lebar
" Iya aku tahu " balasnya kemudian pergi menuju mobil yang dikendarai tuan Ronald tersebut
" Apa kau pikir aku ini supirmu? duduk didepan " perintahnya dengan dingin. Pricilya pun menurut tanpa membantah sedikit pun
Tidak ada percakapan diantara dua manusia didalam mobil tersebut, hanya keheningan yang menyelimuti mereka didalam sana hingga tanpa terasa
Pricilya
pun terlelap dalam tidur panjangnya karna merasa bosan dan memilih untuk tidur dari pada berdiam tanpa melakukan aktifitas apapun
" Mmmmhh.... " ucapnya mulai menggeliat dan mengerjap- ngerjapkan matanya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih bergentayangan dimana- mana
" Bangun, kita sudah sampai " ucapnya dingin dan dilihatnya sekeliling mereka sudah ada didepan sebuah istana yang sangat megah dan tepat didepan pintu masuk utama terdapa banyak orang disana yang mengenakan pakaian seragam pelayan
" Kenapa harus menamparku hanya untuk membangunkanku? " gerutunya pelan yang tidak didengar oleh siapa pun karna tuan Ronald juga sudah keluar dari mobil
Tak lama Pricilya pun mengikuti turun dari mobil. Dilihatnya sekeliling istana tersebut. Begitu megah dan terdapat taman yang luas, pikirnya dalam lamunan. Namun sekretaris Jho langsung membuyarkan lamunannya itu
" Pergilah kesamping tuang Ronald, cukup diam dan jangan banyak tingkah " ucapnya berbisik pada telinga Pricilya
" Cih memang nya apa yang bisa aku lakukan didekat orang berwajah es batu itu " cibirnya namun dengan suara kecil kemudian berjalan mendekati boss nya itu
" Nanti kau hanya berlu tersenyum, mengangguk, dan berkata iya " ucapnya dengan suara pelan namun masih bisa didengar Pricilya
" Aku bisa melakukan kedua hal terakhir tapi tidak untuk yang pertama " ucapnya sama pelan namun masih bisa didengar lawan bicaranya
" Kenapa? " ucapnya yang tiba- tiba berhenti berjalan kemudian melihat kearah Pricilya
" Apa kau tidak menyadari wajahku ditutupi benda- benda ini? " jawabnya mulai kesal sambil menunjuk kaca mata dan masker yang menutupi mulut dan hidungnya untuk merasakan udara disekitar
" Jho, pergi ambilkan topeng didalam mobil " ucapnya kemudian
" Baik tuan muda " ucapnya dan berlalu pergi menuju parkiran mobil
" Ini tuan muda " ucapnya menyerahkan topeng penutup mata warna hitam itu dengan nafas sedikit terengah- engah karna berlari saat mengambil topeng tersebut
" Pakai ini dan buang itu semua " ucap nya dingin kemudian melihat kearah depan
" Cih apa bedanya dengan kacamata ini? " gerutunya dengan suara pelan
" Jangan banyak bicara dan cepat pakai " ucap sekretaris Jho kemudian
Setelah selesai berganti topeng, kini mereka melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk utama diikuti para pelayan dibelakang mereka.
Dibukanya pintu besar itu oleh penjaga yang terdapat dikedua samping pintu tersebut. Betapa megahnya rumah bak istana itu pikir Pricilya. Semua barang- barang yang terdapat diruangan tersebut terlihat mahal , mulai dari guci, lukisan dan fornitur ruangan lain membuat mulut Pricilya ternganga dibuatnya
" Memang konglomerat " ucapnya pelan sambil menggelengkan kepalanya merasa takjub
Mereka terus berjalan melewati beberapa ruangan hingga tibalah kini mereka diruang tamu yang terdapat sepasang suami istri diasana sedang asyik mengobrol. Setelah mengetahui kedatangan mereka, sepasang suami istri itu pun menghentikan perbincangan mereka dan berdiri kemudian sang istri menghampiri sosok laki- laki yang berada didepannya. Ya dia adalah tuan muda Ronald Cruise, anak tunggal dari keluarga Cruise yang akan menjadi penerus perusahaan yang dikelolanya saat ini
" Apa kau baik- baik saja nak? kau terlihat lebih kurus dari 2 tahun yang lalu, apa kau makan dengan baik? ( bahasa italy ) " ucapnya panjang lebar
" Aku baik- baik saja. Bagai mana dengan mama dan papa sendiri? " ucapnya bertanya balik
" Kami akan baik- baik saja selama kamu mau mengikuti perjodohan yang kami buat " ucapnya dengan pandangan penuh harap dari anak satu- satunya itu " Dan siapa gadis ini? " tanyanya sambil melihat kearah Pricilya