Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (9)



Damian datang menemui Deborah. Damian bertanya apakah Deborah disakiti Exel atau semacamnya? Damian tampak khawatir.


Deborah menegaskan, jika Exel tidak menyakitinya. Exel hanya mengambil foto tanpa izin, masuk ke dalam rumah dan memegang barang pribadinya. Deborah mengaku tak sedikitpun bersentuhan dengan Exel.


"Jangan khawatir, Kak. Aku baik-baik saja," kata Deborah.


Damian mengusap wajah Deborah dengan lembut. Ia berakata, kalau ia selalu mengkhawatirkan Adiknya. Damian juga meminta maaf, karena temannya Deborah jadi dirugikan.


"Maaf," kata Damian lirih.


"Tidak apa-apa. Semua juga sudah langsung ditangani. Hanya saja dari yang kudengar, si penguntit itu belum mau menjawab beberapa pertanyaan polisi dan penyelidikan terhambat." kata Deborah.


Damian tidak mengatakan kalau ia datang ke kantor polisi dan menemui Exel. Ianpun tak mengatakan apapun terkait penemuan polisi pada Deborah. Damian khawatir adiknya stres dan mentalnya terganggu.


"Sial! aku sampai tidak bisa berkata apa-apa karena si bedebah itu. Awas saja kalau dia masih tutup mulut, akan aku robek mulutnya itu." batin Damian kesal.


Damian melihat sekeliling tempat tinggal Deborah. Ia merasa tempatnya bagus dan nyaman.


"Tempat ini cocok untukmu. Aku harap kamu baik-baik saja di sini. Jaga dirimu, Bora. Dan maafkan Kakakmu ini, aku tak bisa menjagamu karena pekerjaanku." kata Damian.


Deborah tersenyum, "Kakak tidak perlu sampai merasa bersalah seperti itu. Aku yakin akan baik-baik saja. Lagipula gedung ini memiliki keamanan yang bagus dan fasilitasnya canggih dibanding apartemenku dulu. Hehe ... " sahut Deborah menghibur sang Kakak.


Damian mengusap kepala Deborah, "Adik kecilku sudah sebesae ini ternyata, ya." Kata Damian yang lalu mengacak-acak rambut Deborah.


"Kakak. Jangan diacak-acak. Rambutmu mudah kusut. Jangan sok seperti orang tua, selisih umur kita hanya berbeda tiga tahun saja." Kata Deborah.


"Hehehe ... apa aku kelihatan seperti itu? Sok seperti orang tua?" tanya Damian menatap Deborah.


Deborah mengiakan perkataan Samian. Mengatakan kalau Damian sangat suka mengomel. Bahkan lebih baik diomeli Mama merwka daripada oleh Damian.


Mendengar kata-kata sang Adik pun, Damian merasa aneh. Apa benar ia seperti apa yang dikatakan sang Adik? Padahal menurutnya, sang Mama adalah yang paling suka mengomel dan cerwet di dunia ini.


Ponsel Damian berdering. Damian mendapat pesan dari Managernya untuk cepat turun karena akan ada jadwal pemotretan iklan.


"Aku harus pergi. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku, ya. Aku akan pergi sendiri, kamu tak perlu mengantar." kata Damian.


"Hati-hati, Kak. Semagat kerja, ya. Dahhh ... " kata Deborah menyemangati.


Damian tersenyum. Ia kembali mengingatkan Deborah untuk tidak hati-hati dan selalu waspada. Juga mengingatkan agar tak mengundang orang asing sembarangan masuk ke dalam rumah.


Damian keluar dari apartemen Deborah. Di depan pintu, ia bertemu Jofferson. Melihat seseorang yang tidak ingin dilihatnya membuat Damian sedikit tak senang. Ia ingat, kalau pria di hadapannya itu tinggal di gedung dan lantai yang sama dengan sang Adik.


"Kamu menguping?" tanya Damian.


Damian mengamati Jofferson, "Dilihat dari segimanapun, pria ini memang sangat luar biasa. Hahh ... bisa-bisahya aku kesal begini. Padahal aku bukan tipe orang yang peduli pada penampilan orang lain." batin Damian.


Damian juga ingat, ia diberitahu polisi kalau Jofferson membantu Deborah menangani Exel. Sebagai Kakak korban, ia pun menyampaikan rasa terima kasih.


"Terima kasih sudah membantu adikku mencari tempat tinggal baru dan menangani Exel. Aku dengar kamu terluka, apa kamu baik-baik saja?" tanya Damian.


"Oh, ya. Bukan luka yang serius. Dan kamu tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan itu sebagai balasan karena Deborah sudah membantuku." kata Jofferson.


"Ah, iya. Hm ... aku tak punya waktu hari ini. Berikan aku nomormu, agar aku bisa menghubungimu dan mentraktirmu minum kopi. Aku tak mau berhutang. Kamu sudah membantu Adikku, aku anggap aku punya hutang padamu. Jangan beralasan ini itu dan cepat masukan nomormu," kata Damian mendesak Jofferson.


Damian memberikan ponselnya pada Jofferson. Ia menatap Jofferson dengan tajam. Jofferson pun menerima ponsel dan memasukkan nomornya, ia tidak tahu kenapa sikap Damian seperti itu padanya. Padahal setiap bertemu atau berpapasan, Damian pasti akan diam saja.


"Dia acuh tak acuh. Apa sifatnya memang seperti ini?" batin Jofferson.


Jofferson mengembalikan ponsel Damian. Setelah menerima ponselnya, Damian berpamitan dan pergi. Jofferson menatap kepergian Damian, tak lama ia masuk ke dalam apartemennya.


***


Malam harinya ....


Ryan datang ke apartemen mengantar barang-barang Deborah yang diambilnya toko langganan Deborah. Karena kejadian tidak mengenakkan itu, Deborah harus merelakan baju-bajunya untuk dibuang. Padahal baju-bajunya adalah edisi khusus. Setiap ingat Debora kesal, sekaligus merasa jijik. Ia tidak mungkin memakai pakaian yang sudah disentuh Exel.


"Kalau ada hal lain yang kamu perlukan. Katakan saja," kata Ryan.


"Terima kasih, Kak. Apa Kakak dihubungi Papa atau Mama? kalau ia katakan kalau aku baik-baik saja. Jangan membuat mereka khawatir," kata Deborah.


"Aku tahu. Aku pun sudah mengatakan itu sebelum kamu memintanya. Lagipula masalah berita dan penguntit itu sudah ditangani, kan. Untuk sementara waktu, sampai akhir pekan ini kamu bisa istirahat. Jadwalmu sudah aku susun ulang. Hari senin minggu depan kita mulai syuting. Karena pemeran utama prianya juga cidera, syuting kalian diundur, digantikan dengan syuting adegan lain selain pemeran utama pria dan wanita." jelas Ryan.


"Apa Paman mengomel?" tanya Deborah.


"Tidak. Beliau hanya shock. Sebagai CEO sekaligus Pamanmu, beliau sepertinya sangat khawatir. Makanya beliau langsung bertindak mengeluarka artikel bantahan dan menghilangkan jejak-jejak berita tak berguna itu. Beliau sempat mengomeliku juga. Yahh ... begitulah. Aku juga salah, sebagai Manager terlalu mengikuti kemauanmu. Kamu selalu bilang tidak apa-apa, atau aku baik-baik saja, dan lain-lain. Sampai akhirnya ada kejadian seperti ini. Hahh ... (menghela napas) untung saja si bedebah itu tak melukaimu." kata Ryan.


Deborah merasa terharu. Mulai dari Kakaknya, Managernya, sampai CEO agensinya mengkhawatirkannya. Ia beruntung memiliki orang-orang baik disekelilingnya.


"Terima kasih, Kak. Kakak yang terbaik," kata Deborah memuji. Menatap dengan mata berbinar-binar.


Ryan mengerutkan dahi, "Ahh ... jangan menatapku seperti itu. Itu menggelikan. Dasar ..." kata Ryan.


Deborah tertawa. Ia senang sekali menjahili Ryan. Setelah selesai berbincang, Ryan pun berpamitan. Ia harus kembali ke kantor karena akan bertemu stradara terkait pengunduran jadwal syuting. Debora mengantar Ryan sampai depan pintu. Ia menatap kepergian Ryan sampai menghilang dari penglihatannya.


Pandangan Deborah berpindah. Ia memalingkan pandangan menatap pintu apartemen Jofferson yang terletak di seberang kamarnya. Ia mengingat kembali perkataan Ryan, yang mengatakan jadwal syuting pemeran utama pria dan wanita diundur. Dan hari senin akan mulai syuting.