Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (18)



Pesawat yang ditumpangi Jofferson, Deborah dan kru mendarat dengan selamat ditujuan. Karena syuting akan dilakukan esok pagi, maka dihari kedatangan semua dibebas tugaskan.


Deborah lelah, ia ingin segera istirahat. Begitu juga Jofferson, yang juga memilih istirahat. Jofferson dan Deborah diantar Manager masing-masing ke kamar mereka. Kebetulan kamar mereka berdampingan.


Setelah mengantar Deborah dan Jofferson, Manager keduanya juga langsung pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat. Kamar Manager juga berada di lantai yang sama. Kamar Ryan bersebelahan dengan kamar Antonio.


***


Malam harinya ....


Saat Ryan dan Antonio pergi untuk jalan-jalan. Deborah mendatangi kamar Jofferson sambil membawa naskah. Mereka lagi-lagi membaca naskah untuk adegan esok.


Setelah selesai membaca naskah bersama, Deborah ingin mengajak Jofferson pergi jalan-jalan juga, tapi Jofferson menolak. Ia ingin menghabiskan waktu berduaan hanya dengan Deborah.


"Kamu tidak lapar? setidaknya kita makan dulu," kata Deborah.


"Bagaimana kalau aku memakanmu?" tanya Jofferson.


Deborah tersenyum manis, "Aku bukan makanan, jadi tak bisa dimakan." kata Deborah.


Deborah ingin pergi, tetapi ia langsung dipeluk Jofferson dari belakang. Jofferson mengendus Deborah, dan menciumi leher Deborah.


Deborah memejamkan mata menikmati perlakuan Jofferson. Ia melengkuh, mengeluarkan suara seksinya. Membuat Jofferson semakin menggila.


"Jangan ditahan. Keluarkan suaramu," bisik Jofferson.


Jofferson menghisap dan mengigit lembut daun telinga Deborah. Membuat Deborah menggeliat seperti cacing. Deborah melepas tangan Jofferson dan berbalik, ia menatap Jofferson, mengusap wajah tampan Jofferson.


Keduanya saling berciuman. Ciuman lembut mereka berubah menjadi ciuman panas. Tangan Jofferson  berhasil menyusup masuk dan menyentuh bagian dada Deborah.


"Umh, Joff  ... " lengkuh Deborah.


Deborah meminta Jofferson berhenti. Mereka tidak boleh melakukan apa-apa karena esok sampai beberapa hari kedepan akan sibuk syuting.


"Biarkan aku menciummu, Ok." kata Jofferson.


"Hanya mencium, tak lebih." kata Deborah mengingatkan.


Jofferson menganggukkan kepala. Ia membuka satu per satu kancing kemerja Deborah dan menanggalkan kemeja. Ia melepas pengait pakaian dalam Deborah dan menanggalkannya juga. Jofferson tersenyum melihat betapa indahnya tubuh sang kekasih di hadapannya.


Jofferson menciumi setiap inci kulit tubuh Deborah. Tidak disangka, ia meninggalkan banyak jejak ciuman di punggung, pinggang, perut dan dada Deborah.


Karena Jofferson melihat Deborah sudab berkeringat dingin, ia pun menyudahi aksinya. Ia mencium pipi Deborah dan membatu Deborah bangun untuk mengenakan pakaiannya kembali.


"Apa kamu takut?" tanya Jofferson.


Deborah menganggukkan kepala. Jujur saja ia sangat takut.  Jofferson adalah pria pertama yang menciumnya, membuka pakaiannya, melihat tubuhnya tanpa pakaian dan meninggalkan jejak ciuman ditubuhnya.


"Aku tak akan menyekitimu. Aku hanya ingin menandaimu saja," kata Jofferson.


Deborah menatap Jofferson, "Bisakah kita tak melakukannya? aku tidak mau melakukan itu sebelum menikah. Kuharap kamu bisa mengerti, Joff." kata Deborah berkata jujur.


"Tidak apa-apa kalau hanya sebatas ini. Hanya saja aku takut kamu tidak bisa menahan diri, begitu juga aku. Mungkin alasanku terdengar aneh dan ketinggalan zaman, tapi aku ingin memberikannya pada suamiku." kata Deborah.


"Kalau begitu, simpanlah dan berikan padaku. Aku akan menikahimu. Aku serius," kata Jofferson.


Deborah melepas pelukan, "Kamu mau menikah denganku?" tanya Deborah.


Jofferson menganggukkan kepala, "Sebenarnya aku memang memikirkan soal pernikahan. Asal kamu tahu, Mamaku tahu aku menyukaimu dan beliau terus mendesakku agar segera melamarmu. Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kita langsung umumkan pernikahan saja begitu kita kembali?" kata Jofferson.


"Jangan. Kita umumkan saat jumpa fans setelah akhir film kita saja. Bagaimana?" kata Deborah.


"Begitu, ya. Baiklah. Sesuai keinginamu saja. Lagipula itu tidak akan lama, aku hanya perlu menunggu satu bulan lagi." kata Jofferson.


Jofferson memasang kembali kancing kemeja Deborah. Mereka pun pergi meninggalkan kamar untuk pergi makan malam.


***


Syuting dilakukan keesokan harinya sampai enam hari kedepan. Setelah malam itu, Jofferson tidak lagi menggangu Deborah. Ia fokus pada pekerjaannya, begitu juga Deborah. Kedua orang itu kembali seperti sebelumnya saat sebelum mereka saling nenyatakan cinta.


Sesuai janji, di hari terkahir setelah selesai syuting, Jofferson dan Deborah pergi jalan-jalam membeli buah tangan untuk keluarga. Keduanya juga mencoba berbagai macam kuliner khas yang baru pertama kali mereka coba.


Puas berjalan-jalan, mereka kembali ke Hotel dan istirahat di kamar masing-masing. Mereka juga harus berkemas karena keesokan harinya harus kembali ke negara asal.


***


Sekembalinya mereka dari Bali. Deborah dan Jofferson kembali melakukan rutinitas mereka seperti sarapan dan makan malam bersama. Membaca naskah bersama atu menonton film bersama. Dan juga syuting bersama.


Meski terkadang Jofferson tergoda dan goyah. Ia rasanya ingin menggoda Deborah lagi. Namun, Jofferson mencoba menahan diri. Bahkan untuk mencium Deborah saja sekarang Jofferson akan izin lebih dulu.


Sesuai janji, Jofferson tak akan melakukan apa-apa  pada Deborah sampai mereka berdua menikah. Jadi Jofferson sebisa mungkin mengendalikan diri agar ia tak melanggar janji. Padahal Deborah mengatakan, kalau hanya sekadar berciuman saja tak masalah. Jofferson juga tak perlu meminta izin. Deborah hanya memberi batasan tertentu saja, sesuai dengan kata-katanya saat mereka di kamar Hotel, di Bali.


"Bukankah aneh? saat syuting kita bahkan melakukan adegan mesra, saat tidak syuting kita menjaga jarak." kata Deborah.


"Bukan menjaga jarak, tapi menjaga batasan. Kalau aku tidak begini, aku tidak akan tahan menciummu. Kamu tahu itu, kan?" kata Jofferson.


Deborah menganggukkan kepala, "Ya, ya, ya. Lakukan sesukamu saja sana." kata Deborah.


Jofferson tertawa, ia menarik pipi Deborah gemas. Jofferson meminta maaf pada Deborah, mengatakan untuk Deborah bersabar sedikit lagi.


"Setelah kita umumkan pernikahan kita, dan kita menikah nanti, jangan sampai kamu memintaku berhenti melakukan apa yang kusukai." kata Jofferson.


Deborah menatap Jofferson, "Hm ... Joff, apa tak sebaiknya kita beritahu orang tua kita lebih dulu? kalau tiba-tiba kita umumkan pernikahan, bukankah akan menimbulan rumor?" tanya Deborah.


"Kita akan bicara pada orang tua masing-masing setelah mengumumkan kita akan menikah. Dan kita abaikan saja rumor yang nantinya beredar. Lagipula kita tak melakukan kesalahan, jadi tidak perlu takut." kata Jofferson.


"Ya, sudah kalau maumu seperti itu. Aku ikut saja apa katamu. Aku hanya takut, beberapa pihak terkejut dan tak menyukai apa yang akan kita umumkan nanti." kata Deborah.


"Tidak mungkin. Pengumuman pernikahan kita pasti akan menjadi berita besar, lihat saja nanti. Bahkan para fans kita akan mendukung keinginan kita ini. Aku tidak tahu bagaimana tentang keluargamu, tapi kalau keluargaku mereka pasti akan setuju." jawab Jofferson.


Mendengar kata-kata Jofferson, ia ingat akan permintaan sang Mama. Ia langsung menyampaikan permintaan Mamanya pada Jofferson. Dengan senang hati Jofferson menerima, ia langsung menjadwalkan hari pertemuannya dengan orang tua Deborah.