Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (28)



Deborah bertemu dengan Damian dan mengadukan semuanya. Damian terkejut. Pasalnya ia sama sekali tak tahu kalau Exel punya Papa. Yang ia tahu, Exel hanya punya Mama. Mamanya itupun tinggal di tempat jauh karena sakit.


"Sakit?" tanya Deborah menatap Kakaknya.


"Ya, sakit. Seingatku dulu Exel pernah berkata kalau Mamanya sering mencakar tangan dan kakinya sendiri, dan menangis tersedu-sedu setiap malam." jawab Damian.


Deborah mengertukan dahi, "Kenapa bisa begitu, Kak? Kakak pasti tahu sesuatu, kan?" tanya Deborah.


"Tahu apa? aku tidak tahu apa-apa." jawab Damian.


Deborah bertanya lagi, bukankah Damian dan Exel adalah teman lama? bagaimana bisa tidak tahu apa-apa? Damian menjawab, teman bukan berarti tahu semuanya. Ia dan Exel hanya teman les. Damian bahkan tak pernah datang ke rumah Exel, mereka hanya bermain di luar rumah. Karena itu pula Damian mengajak Exel ke rumah dan bermain di rumah. Jarang sekali Exel membahas Mamanya. Damian sendiri juga hampir tak pernah bertanya, kecuali Exel membahasnya duluan.


Damian bertanya, seperti apa Papa Exel? Deborah menjawab, tatapan matanya mirip Exel, wajahnya sedikit berbeda dari Exel. Tinggi, dan cukup rupawan.


"Namun, aku merasa tak asing dengan wajahnya. Mirip seseorang ... " kata Deborah.


Deborah menebak usianya kisaran usia Papanya. Mungkin dibawah Papanya beberapa tahun. Damian bisa membayangkan dan menggambarka kira-kira seperti apa orang yang dimaksud Adiknya. Damian lantas bertanya, apakah Deborah sudah memberitahu Papa dan Mama mereka atau belum? Damian menatap Deborah tajam, berkata kalau Deborah tak boleh menyembunyikan apapun.


"Kamu akan menikah beberapa bulan lagi. Setidaknya sampai kamu menikah, katakan dengan jujur pada Papa dan Mama tetang keadaanmu yang sesunguhnya. Selagi kamu belum menikah Papa dan Mama adalah walimu. Mengerti?" kata Damian.


"Itulah tujuanku datang menemuimu, Kak. Apakah Kakak luang hari ini? karena aku berencana pulang dan makan malam dengan Papa, Mama. Sekalian mau memberitahukan kejadian hari ini tadi." tanya Deborah menjelaskan.


"Kebetulan sekali, aku juga mau pulang. Besok dan lusa aku tidak ada kegiatan. Baru mulai pemotretan minggu depan." jawab Damian.


Deborah senang, ia meminta Damian menghubungi Mama mereka, dan mengatakan kalau anak-anaknya akan datang dan ingin makan malam bersama. Di saat Damian menghubungi Mamanya, Deborah mendapat panggilan dari Jofferson dan berpamitan pada Damian menerima telepon di lain tempat.


***


Deborah pergi ke luar Caffe. Ia menerima panggilan Jofferson dan berbincang dengan pria kesayangannya itu.


"Ya, Joff ... " jawab Deborah.


"Sedang apa? di mana?" tanya Jofferson.


"Bersama Damian, di Caffe. Kamu sudah selesai dengan urusanmu? kapan kembali? apa tidak pulang?" tanya Deborah.


"Entahlah. Papa sepertinya sangat menikmati pertemuan dengan temannya. Mama juga sibuk bicara denga istri teman Papa. Aku kesepian. Karena itu aku menghubungimu." jawab Jofferson.


"Jangan seperti itu. Cobalah berbaur dengan beliau-beliau." kata Deborah.


"Ya, sayang. Apa Damian sedang tidak sibuk? Kamu jadi pulang ke rumah orang tuamu dan makan malam bersama?" tanya Jofferson.


"Ya, Damian juga ikut. Dia tidak ada kegiatan esok dan lusa." jawab Deborah.


Jofferson mengingatkan Deborah untuk hati-hati, jika pulang malam saat mengemudi. Andai kata lelah atau mengantuk, lebih baik Deborah menginap dan pulang keesokan paginya. Deborah mengiakan perkataan kesayangannya. Ia juga berpesan agar Jofferson hati-hati dan selalu waspada. Setelah itu panggilan keduanya berakhir. Deborah menatap layar ponselnya. Terlihat fotonya dan Jofferson di layar ponsel, ia mengusap foto Jofferson dan tersenyum tipis.


Deborah belum bercerita perihal pertemuannya dengan Eiden pada Jofferson. Ia takut Jofferson akan kepikiran dan mengganggu perjalanan Jofferson sekeluarga ke luar kota. Namun, Deborah sudah berniat untuk langsung memberitahu Jofferson saat bertemu nanti. Jofferson adalah pria yang akan menjadi pendamping hidupnya, ia tidak boleh merahasiakan apapun, meskipun hal kecil sekalipun. Mulai dari sekarang ia harus jujur dan terbuka. Deborah lantas kembali masuk ke dalam caffe dan menemui Damian.


***


Jofferson sekeluarga sedang menginap di Hotel. Mereka menyewa president suite karena tak ingin pisah kamar. Tiba-tiba saja pintu kamar Jofferson di ketuk oleh seseorang dari luar.


"Ya?" jawab Jofferson membuka pintu.


Jofferson kaget. Melihat sosok yang sudah lama tak ditemuinya. Sosok itu adalah Kakak Jofferson, Jennifer.


"Jeni ... " panggil Jofferson.


Jennifer langsung memukul pelan kepala Jofferson. Jennifer berkata, tidak boleh kurang ajar padanya. Bukan Jeni, tapi Kakak. Dasar tidak sopan. Jofferson langsung berteriak, begitu dipukul Kakaknya.


"Ouch ... sakit, Kak!" seru Jofferson.


"Baru tahu sakit? jangan kurang ajar pada Kakakmu, Joff." kata Jennifer.


"Iya, iya. Maafkan aku. Apa Kakak baru datang? mana Kakak ipar?" tanya Jofferson.


"Kakak iparmu sedang bicara dengan Papa dan Mama. Ayo, temani Kakak minum di bar." ajak Jennifer.


"Kenapa tiba-tiba ingin minum? Kakak baik-baik saja, kan?" tanya Jofferson.


Jennifer berkata ia sedang stres berat dengan pekerjaan. Untungnya suaminya diperbolehkan libur kerja selama dua minggu. Jennifer langsung mengajak suaminya pulang ke rumah orang tuanya. Sayangnya saat sampai rumah, ia diminta Mamanya ke luar kota.


Jofferson mengangguk-anggukkan kepala. Ia meminta Kakaknya menunggu, karena ia mau ambil jaket dan topi juga masker. Jofferson tak bisa berkeliaran menunjukkan muka, karena tak ingin dikerumini penggemar tiba-tiba. Jennifer mengerti, ia menunggu Adiknya yang sedang bersiap-siap. Setelah Jofferson mengambil jaket dan mengenakannya, ia langsung keluar kamarnya lagi.


"Ayo, Kak." kata Jofferson.


Jennifer pamit pada suami dan Papa, Mamanya untuk pergi ke bar bersama Jofferson. Suami Jennifer mengiakan. Ia meminta Jofferson menghubunginya, kalau Kakaknya mabuk dan tak bisa berjalan. Jofferson tersenyum dan mengiakan perkataan Kakak iparnya. Jofferson berpamitan pada Papa dan Mamanya, dan pergi meninggalkan kamar bersama Jennifer.


***


Di dalam lift ....


"Memangnya siapa yang akan melihatmu?" tanya Jennifer.


"Siapa saja bisa lihat, Kak. Sudahlah, Kakak diam saja dan jangan ajak aku bicara. Nanti ada orang yang dengar suaraku bisa-bisa mereka berkerumun." kata Jofferson.


Jennifer menganggukkan kepala. Ia pun langsung diam. Tidak lama lift berhenti. Lift telah sampai di lantai tujuan dan pintu ift terbuka. Jennifer dan Jofferson keluar dari dalam lift bersamaan. Jennifer merangkul lengan Jofferson. Keduanya berjalan bersamaan menuju bar yang ada di Hotel


***


Di bar ....


Jennifer memesan minuman. Jofferson juga memesan minuman dengan kadar alkohol rendah. Jofferson dan Jennifer duduk berdampingan. Jofferson melepas masker, tanpa melepaskan topinya. Jennifer lantas bertanya tentang Deborah. Bagaimana Deborah, dan orang seperti apa Deborah itu. Ia ingin adiknya bercerita. Tentu saja Jofferson tak pernah jenuh menceritakan semua tentang Deborah. Karena Deborah adalah segalanya bagi Jofferson.


Jennifer tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia bisa mengerti apa yang diceritakan Jofferson, Adiknya. Melihat sang adik tersipu malu dan wajahnya memerah, ia rasa Adiknya sangat, sangat menyukai Deborah.