Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (27)



Saat Jofferson dan Antonio pergi meninggalkan apartemen Deborah, Ryan langsung mengajak Deborah bicara serius.  Ryan berkata, apa Deborah mau bertemu seseorang? Deborah menatap Ryan dan bertanya, bertemu siapa? Ryan menjawab, kalau dia sendiri tak tahu siapa. Ryan bercerita, jika ada seseorang yang menghubunginya, berkata kalau Tuannya ingin bertemu Deborah. Bahkan seseorang itu tahu kalau Ryan dan Deborah adalah saudara sepupu.


Deborah kaget, matanya melebar. Ia langsung bertanya, bagaimana bisa dia tahu? Padahal selama bertahun-tahun tak ada yang tahu satupun, kecuali keluarga dan CEO Agensi, yang juga merupakan Paman Deborah dari pihak Papanya. Ryan lantas menunjukkan pesan kiriman seseorang itu, begitu mwmbaca pesan itu, Deborah langsung meminta Ryan bertanya kapan bisa bertemu? kalau bisa secepatnya. Isi pesan itu membuat Deborah kesal sekaligus penasaran. Sepertinya Deborah akan tahu, siapa orang dibalik bebasnya Exel.


Begitu mendapat jawaban dari Deborah.  Ryan lantas mengirim pesan pada Asisten Papa Exel. Ryan bertanya, kapan bisa bertemu? memberitahukan kalau Deborah ingin secepatnya bertemu.


***


Keesokan harinya ....


Deborah ada di dalam mobilnya, diparkiran sebuah restoran. Ia menatap kw arah restoran, berpikir apakah itu adalah keputusan yang tepat untuk datang atau malah sebaliknya. Namun, kalau ia mengurungkan niat dan membatalkan janji, ia tidak akan pernah bisa tahu siapa orang yang berdiri dibalik Exel selam ini. Dan akhirnya Deborah pun menyerah. Ia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam restoran.


Begitu masuk, ia disambut pelayan. Deborah langsung menyebutkan kalau ia adalah tamu dari seseorang yang sudah memesan tempat. Deborah menyebut nama Asisten Papa Exel. Pelayan langsung mengantar Deborah menuju ruangan khusus pengunjung VIP. Setelah sampai dan pintu ruangan diketuk, seorang pria paruh baya membukakan pintu dan keluar dari ruangan menyambut Deborah.


"Nona Deborah?" tanya pria itu.


Deborah menganggukkan kepala, "Ya," jawabnya singkat.


"Silakan masuk, Tuan saya sudah menunggu." kata pria itu.


Deborah langsung masuk. Pria itu lantas menutup pintu ruangan dan meminta pelayan segera menyajikan hidangan makan siang yang sudah dipesanan sebelumnya. Pelayan menganggukkan kepala mengiakan, dan pria itu menunggu di depan pintu dengan tenang.


Sementara itu, di dalam ruangan. Begitu Deborah menginjakkan kakinya masuk. Ia melihat seorang pria paruh baya kira-kira seusia Papanya sedang duduk dan menatap ke arahnya. Pria itu lantas tersenyum, menyambut kedatangan Deborah.


"Selamat datang, Nona. Silakan duduk dengan nyaman." kata pria itu.


"Terima kasih," jawab Deborah.


Deborah segera menarik kursi dan duduk di hadapan pria paruh baya itu. Ia langsung bertanya, ada kepentingan apa pria itu memanggilnya. Bukannya jawaban, pria paruh baya itu justru tertawa pelan dan menatap Deborah. Meminta Deborah untuk santai saja dan bicara pelan-pelan.


"Kita bisa bicara santai, dan perlahan. Jangan buru-buru," kata pria itu.


"Maaf, tapi siapa Anda?" tanya Deborah.


"Aku Eiden, Papa Exel. Senang bertemu denganmu, Deborah Smith." kata Eiden.


"Maaf, Pak. Karena saya punya waktu terbatas, bisakah Anda langsung bicara saja? saya ada janji lain setelah ini," kata Deborah.


Eiden meganggukkan kepala, "Oh, begitu. Baiklah kalau itu kemauanmu. Tujuanku bertemu denganmu, tak lain adalah untuk melamarmu menjadi istri putraku. Bagaimana? apakah kamu bersedia?" tanya Eiden.


Deborah melebarkan mata, "Apa maksud Anda, Pak? saya menolak. Saya sudah punya calon suami dan kami akan menikah dalam beberapa bulan kedepan," jawab Deborah tegas.


Eiden bertanya pada Deborah, apakah calon suaminya lebih baik dari putranya? Memberitahukan, jika Exel juga punya segalanya yang dimiliki calon suami Deborah. Mendengar itu Deborah pun emosi dan kesal. Ia menjawab, kalau Eiden tak berhak membanding-bandingkan calon suaminya dengan Exel. Mengatakan, jika calon suaminya masih jauh lebih baik daripada Exel yang bahkan sudah menyusup masuk dan mencuri barangnya.


"Apa Anda tahu apa yang sudah putra Anda lakukan, Pak? saya rasa Anda tidak mungkin tidak tahu. Atau ... Anda justru ingin menutup mata dan mengatakan itu bukanlah perbuatan buruk? bukankah aneh, kalau orang tua justru memberikan contoh yang buruk pada anaknya?" kata Deborah menatap tajam pada Eiden.


"Apa kamu sedang menguruhiku?" tanya Eiden tersinggung.


"Entahlah. Silakan asumsikan sendiri kata-kata saya. Saya begini karena merasa dirugikan. Bisa-bisanya Anda membantu Exel bebas dari tuntutan. Sayang dan mencintai anak tentu boleh dilakukan orang tua, tapi bukan berarti orang tua harus menutup mata untuk semua perbuatan tak baik dari putranya. Orang tua saya juga sayang pada anak-anaknya, tapi orang tua saya tak pernah menutupi kesalahan kami. Jika kami salah, patutnya kami minta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahan. Bukan lepas tangan dan melarikan diri seperti seorang pengecut." kata Deborah.


Braaakkk ....


Suara meja yang dipukul Eiden.


"Hentikan ucapamu!" teriak Eiden.


Deborah kaget. Ia tidak sadar, kalau ucapannya yang meluap-luap akhirnya memancing amarah Eiden. Deborah hanya mengatakan apa yang ada dipikirkannya, ia bahkan tak peduli kalaupun ucapannya pedas atau tidak didengar Eiden.


"Jaga ucapanmu itu. Bisa-bisanya kamu bicara tidak sopan begitu pada orang tua. Apa ini juga bentu ajaran dari orang tuamu?" kata Eiden.


Deborah mengerutkan dahinya. Ia kesal karena Eiden seolah sedang mengolok orang tuanya. Deborah langsung menjawab, kalau orang tuanya selalu mengajarkan untuk jujur, dan bertanggung jawab. Soal sopan satun itu urusan berbeda. Ia hanya akan menghargai orang yang mau menghargainya. Deborah mengaku mungkin ucapannya memang tak pantas dikatakan, tapi ia juga hanya sedang meluapkan kekesalannya.


"Silakan saja, jika perkataan saya tak berkenan di hati Anda. Saya permisi pergi, karena sepertinya tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan. Saya sejak kemarin bertanya-tanya, siapa orang yang membantu Exel bebas. Dan saya tahu jawabannya sekarang. Bahkan saya tahu, setelah bertemu Anda, saya rasa Anda dan putra Anda tak jauh berbeda. Permisi," kata Deborah.


Deborah langsung pergi meninggalkan Eiden. Ia sangat kesal, tapi tak bisa meluapkan kekesalannya pada Eiden. Ia tidak mau Eiden mengolok orang tuanya lagi, dengan mengatakan orang tuanya mengajarkan hal tak baik ataupun sopan santun padanya. Di depan pintu, Deborah bertemu Asiste Eiden. Deborah tak menyapa ataupun memandang Asisten Eiden dan langsung pergi.


Deborah kini mengerti, kalau ada orang tua yang cinta gila pada anaknya sampai-sampai ketika anaknya salah pun orang tuanya akan melempar kesalahan pada orang lain dan menutup mata juga juga telinga seolah anaknya tak pernah salah apa-apa. Ia tak menampik, pernah bertemu orang tua yang demikian, tapi Eiden adalah orang berlebihan menurutnya. Bahkan saat bertemu dengannya bukannya meminta maaf atas perbuatan putranya, tapi justru ingin melamar. Sungguh perbuatan tak bijak.