Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (14)



Malam harinya. Deborah yang tidak bisa tidur memilih jalan-jalan di sekeliling villa. Ia bertemu lagi dengan aktor yang tadi diajaknya bicara dan mereka kembali mengobrol.


Deborah sebenarnya merasa canggung, ia tidak nyaman bersama seseorang di hadapannya. Karena tidak ingin meninggalka kesan buruk, Deborah terus tersenyum dan bersikap ramah pada rekan seprofesinya itu.


"Mau ku temani jalan-jalan?" tanya rekan seprofesi Deborah.


Terlihat seseorang itu punya maksud dan tujuan yang tidak baik. Deborah pun bingung, kalau ia menolak, maka besok paginya pasti akan ada berita yang tidak-tidak. Kalau diterima, Deborah merasa terbebani.


"I-itu ... a ... " kata-kata Deborah terpotong oleh Jofferson yang tiba-tiba datang.


"Maaf, ya. Bora sedang mau berdiskusi denganku. Karena kami sudah janjian." kata Jofferson.


Jofferson mendekat dan menatap Deborah. Ia meminta maaf karena datang terlambat dan membuat Deborah menunggu. Itu karena ia sedang menerima panggilan penting.


Deborah menganggukkan kepala, mengiakan perkataan Jofferson. Sesungguhnya ia tidak tahu apa maksud Jofferson karena mereka tidak ada janji untuk bertemu apalagi berdiskusi. Berkat kedatangan Jofferson, ia bisa menolak rekan seprofesinya tanpa memberitahukan alasannya.


"Kami mau ke pantai, kamu mau ikut?" tawar Jofferson. Menatap tajam pria asing yang dianggapnya pengganggu.


"Eyah kamu lalat penganggu! Beraninya kamu mendekati wanitaku." batin Jofferson.


Seseorang itu tersentak kaget melihat tatapan dingin Jofferson. Ia pun menolak dan mangatakan sedikit tidak enak badan. Ia harus segera menemui Managernya.


Jofferson langsung tersenyum cerah. Ia berpura-pura menyayangkan kejadian yang menimpa pria di hadapannya itu. Deborah yang tahu Jofferson hanya basa-basi, tertawa dalam hati.


Seseorang itupun pergi meninggalkan Jofferson dan Deborah. Melihat orang yang mengganggunya pergi, Deborah langsung terkekeh. Ia menyiku lengan Jofferson dan memuji tindakan Jofferson.


"Wah, wah, aktor kita sangat hebat ya dalam mengusir seseorang. Lihat dia sampai berlarian seperti melihat hantu. Hahaha ..." kata Deborah.


"Kenapa berkeliaran malam-malam begini? menyusahkan saja," kata Jofferson.


Deborah mengerutkan dahi, "Aku? menyusahkan katamu? memangnya aku meminta apa darimu? dasar ..." kata Deborah kesal.


Deborah pun pergi. Ia berjalan menuju tepi pantai. Jofferson mengikuti Deborah, berjalan dibelakang Deborah. Ia mengamati Deborah diam-diam di belakang.


"Kamu ingat? saat dulu aku terkunci di kamar mandi? aku penasaran, bagaimana bisa kamu tahu dan membantuku. Aku sampai berpikir, apa saat itu kamu mengikutiku sampai ke kamar mandi atau apa?" kata Deborah.


Jofferson kaget. Sebenarnya ia bukan mengikuti Deborah. Melainkan ia secara tak sengaja mendengar dan melihat Deborah yang berpamitan ke kamar kecil pada teman-temannya.


***


Kilas balik ....


Saat itu Jofferson sedang ingin sendirian dan ia tidak sengaja mendengar Deborah bicara. Saat itu sekolah sedang mengadakan kegiatan keluar kota untuk kegiatan wisata. Dan bus yang membawa mereka berhenti untuk istirahat. Teman-teman Deborah mengajak Deborah segera naik ke dalam bus, tapi Deborah menolak karena ia masih mau ke kamar mandi. Meminta dua temannya lebih dulu naik ke bus.


Jofferson dipanggil guru untuk segera naik dalam bus, dan ia pun mengikuti apa kata guru. Pada saat di dalam bus, ia merasa ada yang aneh.  Ia tidak melihat keberadaan Deborah. Karena tempat duduk Deborah tepat di depannya. Jofferson pun segera turun dan menyusul Deborah. Padahal bus yang membawa mereka sudah akan berangkat. Tidak ada yang tahu Jofferson turun, karena semua orang sibuk sendiri-sendiri. Dan bus pun pergi dari area peristirahatan.


Di sisi lain, Jofferson yang mencari keberadaan Deborah, akhirnya menemukan Deborah. Ia mendengar Deborah menangis dan meminta tolong karena pintu terkunci dari luar.


Deborah dan Jofferson akhirnya menunggu dijemput supir Deborah. Untungnya penjaga minimarket berbaik hati mau meminjami telepon menghubungi orang tua. Deborah pun menghubungi Papa dan Mamanya, tapi karena Papa dan Mamanya sibuk, ia hanya bisa menghubungi orang rumah dan meminta bibi pelayan rumah mengirim supir. Akhirnya Deborah dan Jofferson diantar menuju lokasi tujuan oleh supir.


***


Deborah melihat Jofferson melamun. Ia lantas dikejutkan Deborah dan terkejut. Melihat Jofferson kaget, Deborah tidak bisa menahan tawanya.


"Astaga, wajah kagetmu kenapa begitu? Hahahaa ... " kata Deborah.


Jofferson menatap Deborah, "Kamu ini sangat berbakat membuat orang kaget, ya." kata Jofferson.


Jofferson yang gemas mengejar dan akhirnya bisa menangkap Deborah. Jofferson memeluk Deborah dari belakang. Tiba-tiba suasana hening.


"Bukankah ini aneh?" Tanya Deborah.


"Apanya?" tanya balik Jofferson.


"Kenapa kamu memelukku? kita tidak sedang syuting sekarang. Bagaimana kalau ada yang melihat?" tanya Deborah.


"Jawab saja, kita sedang latihan untuk besok. Mudah, kan?" jawab Jofferson.


Deborah melepas kedua tangan yang melingkari perutnya dan berbalik menatap Jofferson. Deborah merasa aneh, setiap kali berada dekat dengan Jofferson. Ia seringkali menganggap Jofferson asalah seseorang yang menyebalkan, tapi juga terkadang mengangap Jofferson penolongnya yang siap datang menolongnya kapan saja.


"Kamu ini siapa sebenarnya, Joff?" tanya Deborah.


Jofferson tersenyum, "Kamu melihatku sebagai siapa?" tanya balik Jofferson.


"Kamu aneh. Kadang membuatku kesal. Kadang memnuatku marah dan jengkel, tapi terkadang membuatku berterima kasih karena kamu membantuku. Dan yang paling tidak aku mengerti, kenapa kamu selalu tahu kalau aku membutuhkam bantuan? itu yang aku pikirkan tentangmu. Karena itu, jawab aku sekarang. Siapa kamu? dan apa alasanmu membantuku?" tanya Deborah serius.


Jofferson merapikan rambut Deborah yang menutupi wajah Deborah ke belakang telinga. Ia pun mengatakan apa yang selama ini ia rasakan dan ia ingin katakan pada Deborah.


"Kalau aku katakan yang sejujurnya, berjanjilah untuk tak mejauhiku. Kalau kamu tidak bisa berjanji, biarlah ini menjadi rahasia." kata Jofferson.


Debora merasa aneh. Ia semakin penasaran dengan apa yang mau Jofferson sampaikan. Ia tidak tahu kenapa ia sampai harus berjanji, tapi kalau tidak janji, Deborah tak akan tahu isi hati dan pikiran Jofferson.


"Baiklah, aku berjanji. Apapun itu aku tidak akan menjauhimu. Lagipula syuting film kita kan belum usai. Kita masih harus bertemu, membaca naskah bersama, dan syuting bersama, kan?" jawab Deborah.


"Deborah ... " panggil Jofferson dengan penuh perasaan.


"Ya?" jawab Deborah.


"Aku menyukaimu, aku menyayangimu dan juga mencintaimu. Maukah kamu menerima perasaanku? sejujurnya sejak dulu aku menyukaimu, hanya saja aku enggan mengakuinya karena malu. Lagipula aneh, hubungan kita kan tidak akur dulu saat sekolah." kata Jofferson menjelaskan.


Deborah kaget. Ia tidak sangka akan mendapatkan pernyataan cinta dari Jofferson. Jantungnya berdegup kencang. Ada perasaan aneh muncul yang serasa menggelitik sekujur tubuhnya.