Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (24)



Deborah langsung meminta hal ini diusut tuntas. Ia akan menuntut Exel dengan segala perbuatannya. Tak hanya menguntit, memasuki rumah orang tanpa izin dan juga mengambil fotonya sembarangan. Bahkan Exel berani mencuri barang-barangnya. Deborah berkata, akan membicarakan hal ini pada pengacara keluarganya karena ia sudah tidak bisa hanya diam saja.


Jofferson juga mengatakan pada Polisi, jika apapun yang terjadi, polisi tak boleh melepaskan Exel meski nantinya keluarganya menjaminnya. Deborah mengerutkan dahi, ia memikirkan sesuatu tentang Exel. Ia merasa aneh, siapa keluarga yang dimaksud polisi. Deborah pun bertanya apa keluarga dua korban memberitahukan siapa keluarga Exel yang memberi kompensasi? Polisi menjawab, seorang pria paruh baya, yang mengaku disuruh oleh atasannya.


"Jadi maksud Anda, yang datang itu bukan keluarga, melainkan pesuruh keluarga, begitu?" kata Deborah.


"Sepertinya begitu. Apa Ada sesuatu yang Ada ketahui. Karena jujur saja saya belum menemukam petunjuka apapun tentang keluarga Exel ini. Saya datang dan bertanya pada beberapa orang tetangga Exel, tidak ada satupun yang tahu." kata petugas polisi.


Deborah menarik napas dalam-dalam, lalu memgembuskam napas perlahan. "Saya sendiri tidak tahu di mama dan apa pekerjaan orang tua Exel, Pak. Namun, kemungkinan besar Kakak saya tahu. Karena Exel sangat akrab dengan Kakak saya. Saya mengenalnya setelah saya lulus sekolah dari luar negeri dan tinggal sementara dengan Kakak saya selama dua minggu. Setelau itu memang kami sering bertemu dan mengobrol seperti biasa." kata Deborah.


Tidak ada yang mencurigakan ataupun ia bercerita sesuatu terkait keluarganya. Ia pernah mendengar samar kalau Exel tak punya Papa itu saja dari sang Kakak. Apa maksudnya Deborah sendiri tidak tahu karena saat itu ia tidak fokus bicara dan fokus pada sesuatu yang lain. Itulah yang Deborah tahu dan sampaikan pada petugas.


Petugas pun menganggukkan kepala. Ia berkata, kalau begitu harus secepatnya bertemu dengan Kakak Deborah agar semuanya menjadi lebih jelas. Baru saja petugas berkata seperti itu, tak lama pintu ruangan di ketuk dan pintu terbuka. Seorang petugas lain masuk dan mendekati petugas yang ada di hadapan Deborah dan Jofferson. Petugas itu berbisik, ia pun melebarkan mata setelah mendengar sesuatu dari bawahannya itu.


"Apa? bagaimana bisa?" ucap petugas itu menatap bawahannya.


"Maaf, Pak. Apa ada sesuatu?" tanya Joffeeson penasaran. Begitu juga dengan Deborah.


"Ya, ada seseorang yang datang ingin manjamin Exel. Meski sudah dijelaskan apa yang membuat Exel ditahan, dia seolah tak peduli dan mengatakan akan menuntut balik penuntut karena sudah mengusik hal yang tak seharusnya. Begitu yang disampaika oleh bawaha saya," kata petugas itu.


Deborah dan Jofferson saling menatap. Mereka pun sama-sama mengerutkan dahi. Sepertinya Deborah dan Jofferson punya pemikiran sama tentang siapa orang tersebut.


"Apa kami boleh bertemu orang tersebut, Pak?" tanya Jofferson.


"Apa tidak apa-apa? saya ragu kerena sepertinya dia bukan orang sembarangan," jawab petugas itu khawatir.


"Tidak apa-apa. Kalau dia tidak bisa diberitahu baik-baik, berarti hanya dengan menunjukkam kesalahan Exel saja dan membuatnya melihat sediri apa yang membuat exel harus ditahan." jawab Jofferson.


Deborah mengaikan perkataan Jofferson. Ia ingin bertemu sekaligus melihat siapa orang yang ingin menjamin Exel. Mungkin saka Deborah kenal atau pernah bertemu orang tersebut, karena dulu Exel diantar jemput supir saat main ke rumahnya.


***


Pada kehirnya Jofferson dan Deborah pun menemui seseorang yang ingin membebaskan Exel. Benar saja, Deborah pernah melihat wajah yang sama dengan supir yang biasa mengantar jemput Exel. Saat bertemu Deborah, seseorang itu langsung mengenali Deborah sebagai Adik dari teman baik Exel.


"Paman kan supir Exel. Untuk apa Paman ke sini?" tanya Deborah.


"Oh, Anda Nona yang itu ya. Adik dari teman baik Tuan Muda kami." jawab seseorang itu.


"Kami sudah tahu apa yang terjadi. Dan kami memang berniat menemui Anda secara langsung. Kalau sudah begini, maukah Anda menemui atasan saya? Karena ada hal yang ingin beliau sampaikan langsung pada Nona." kata seseorang itu.


Deborah langsung menolak tegas keinginan seseorang itu. Ia berkata kalau ia tidak perlu menemui siapa-siapa apalagi bicara sesuatu yang tak berarti. Deborah meminta seseorang itu menyampaikan pada atasannya, untuk tidak menyamakan dirinya dengan korban lain. Mendengar perkataan Deborah dan wajah murka Deborah, seseorang itupun terkejut. Ia serasa diintimidasi oleh Deborah.


"Ba-bagaimana bisa wanita ini?" batin seseorang itu.


Seseorang itu mengerutkan dahinya. Ia berpikir, bagaimanapun caranya, ia harus berhasil membujuk Deborah. Kalau tidak berhasil, maka Deborah dan Tuannya tak akan bisa bertemu dan kesepakatan tak akan pernah terjadi. Kalau seperti itu, maka Tuan Mudanya pun tak bisa dibantunya lagi.


"Nona, mohon simpan amarah Anda lebih dulu. Dan tolong pikirkan baik-baik apa yang saya sampaikan ini. Tuan saya bertemu Ands untuk menyampaikan permintaan maaf. Beliau tulus ingin melakukannya," kata Seseorang itu mencoba merayu Deborah.


Deborah tersenyum, "Bagitu ya ... kalau memang beliau sungguh-sungguh tulus meminta maaf dan menunjukkan niatannya, beliau seharusnya mencari saya dan mengajak saya bertemu sejak awal. Kenapa baru sekarang? Setelah semua kebusukan Exel terkuak, hah?" sentak Deborah.


Deborah juga menjelaskan, kalau ia tidak butuh permintaan maaf dari orang lain. Yang bersalah padanya adalah Exel, tentu Exel lah yang harusnya meminta maaf. Lagi pula meski minta maaf pun, ia juga tidak akan pernah memaafkan Exel.


Seseorang itu masih gigih dan ingin kembali merayu Deborah. Saat seseorang itu hendak mendekati Deborah, Jofferson menghadang dan menatap seseorang itu dengan tatapan mata yang tajam. Joffersob berkata, apa seseorang itu tak punya mata dan tak punya telinga? Sehingga tak bisa melihat dan mendengar.


"Jangan suka memaksa kehendak seseorang. Atau Anda akan menanggung semua akibat dari tindakan Anda," kata Jofferson dengan nada suara dan tatapan mata yang dingin.


Deg ....


Seseorang itu tersentak. Jantungnta berdegup kencang karena ketakutan. Tubuhnya pun gemetaran tidak karuan karena melihat tampang Jofferson yang menyeramkan. Petugas polisi pun meminta salah seorang bawahannya untuk mengatar seseorang itu keluar.


Setelah berbincang sebentar, Deborah dan Jofferson pergi meninggalkan gedung kator kepolisian.


***


Diparkiran ....


Deborah mencoba menenangkan Jofferson yang marah. Ia tahu kalau Jofferson sudah sangat menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu pada orang itu.


"Aku sangat kesal, Bora." kata Jofferson menghela napas.


"Ya, aku tahu. Terima kasih karena sudah bersusah sapayah menahan diri, Joff. Sepertinya ini bukan hal yang akan mudah dilalui, tapi aku juga tak akan diam saja. Apapun yang terjadi, Exel harus menerima hukuman atas segala perbuatannya." kata Deborah.