Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (30)



Dua bulan kemudian ....


Exel kembali pulang dan berusaha menemui Deborah lewat Damian. Exel sampai harus rela dihajar Damian demi untuk bisa bertemu Deborah. Ia ingin memastikan apakah Deborah benar-benar menolaknya atau bisa memberinya kesempatan. Karena ia benar-benar mencintai Deborah.


"Sialan! padahal aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tapi ternyata kamu adalah seorang bedebah gila." kata Damian. Setelah mengjajar Exel.


Wajah Exel sudah babak belur. Meski dihajar Damian, Exel tak membalas atau menolak. Ia dengan senang hati menerima karena ia tahu kesalahannya tak akan termaafkan.


"Tolong pertemukan aku dengan Deborah.  Lima menit saja. Tidak. Bukan lima menit, satu menit pun tak apa-apa. Aku mohon," kata Damian berlutut di hadapan Damian.


"Apa kamu pikir dengan begini aku akan membuatmu bertemu Adikku? Enyah kamu dari hadapanku." sentak Damian.


Meski telah diusir, Exel tak lantas pergi meninggalkan Damian. Ia tetap pada posisinya, tidak ingin pergi ke mana-mana. Damian mengerutkan dahinya kesal. Ia tidak tahu harus bicara apa lagi untuk menghadapi Exel yang mengesalkan.


Secara tak terduga, Deborah datang ke apartemen Damian karena ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan perihal foto keluarga. Damian kaget, saat tiba-tiba Deborah masuk ke dalam apartemennya dan melihat Exel yang berlutut di hadapan Damian.


"Debora ...  " gumam Exel.


"Apa ini, Kak?" Kata Deborah menatap Damian.


"Bora ... kamu kenapa datang ke sini?" tanya Deborah.


"Memangnya kenapa? apa aku tak joleh datang ke apartemen Kakakku sendiri? dan dia ... kenapa ada di sini? wajahnya itu perbuatanmu?" tanya Deborah.


"Ya, aku. Kenapa?" tanya Damian kesal.


Damian lantas menjelaskan situasi yang terjadi. Dan penjelasan Damian membuat Deborah kaget. Meski Damian kesal dan marah, tak sepatutnya Damian memukul Exel, bahkan sampai wajahnya babak belur. Deborah menambahkan, kalau Damian tetap harus tenang dan berpikir jernih apapun situasinya.


Deborah membantu Exel berdiri dan memapah Exel ke ruang tengah. Meski Deborah menganggap Exel itu menyebalkan, ia tetap kasihan melihat Exel yang babak belur dihajar Kakaknya. Damian kaget, ia sempat melarang Deborah membantu Exel dan meminta adiknya itu membiarkan Exel terus berlutut, tapi perkataan Damian serasa tak didengar Deborah.


Deborah pergi ke dapur, ia mengambi tempat, mengambil es dan handuk kecil, juga kotak obat, lalu membawanya ke ruang tamu. Deborah meletakkak beberapa es ke dalam handuk kecil, dan meminta Exel mengompres memar di wajahnya sendiri.


"Kamu kan tahu bagaimana Damian kalau sudah turun tangan. Apa kamu bodoh? sampai mau dipukuli seperti ini?" kata Deborah.


"Aku memang pantas dipukul oleh Kakakmu. Karena aku sudah bersalah padamu." jawab Exel.


"Kalau seperti itu, bukankah seharusnya aku yang memukulmu?" kata Deborah.


"Ya, kalau kamu mau, kamu juga boleh memukulku." jawab Exel.


Deborah lantas diam. Ia mengeluarkan krim obat dan memberikanya krim obat pada Exel. Deborah meminta Exel mengoles krim obat sendiri ke wajahnya selagi ia arahkan di mana saja letak luka atau memar Exel. Damian diam melihat Deborah yang membantu Exel, ia tidak mengerti, kenapa Deborah masih bisa bersikap baik pada seseorang yang sudah menjahatinya.


Exel merasa malu. Padahal ia sudah menjahati Deborah. Akan tetapi Deborah justru membantunya sampai mengobati lukanya meski secar tak langsung. Exel menganggap diri sendiri bodoh dan tidak tahu malu karena masih memgharapkan diberi kesempatan kedua oleh Deborah. Ia sadar kalau ia memanglah tak pantas dan tidak layak untuk wanita sebaik Deborah.


Deborah mengerutkan dahi. Sejujurnya ia kesal, jika ingat kejadian saat itu. Namun, ia juga tak bisa melarang Exel untuk tidak menyukainya. Deborah mengatakan, kalau Exel harus hidup dengan selalu berbuat dan berprilaku baik. Tidak boleh memaksa kehendak dan mau mengerti perasaan orang lain.


"Jadilah dirimu apa adanya, Exel. Kamu pasti bisa melakukan itu. Suatu saat, akan tiba waktunya kamu bertemu seseorang yang mencintaimu melebihi orang lain. Jangan lakukam hal-hal tak berguna lagi. Jangan sia-siakan hidupmu, karena kita hidup hanya sekali." kata Deborah.


"Ya, aku mengerti. Terima kasih, Debora. Semoga pernikahamu berjalan lancar, dan kamu bisa hidup bahagia bersama Jofferson." jawab Exel mendoakan.


"Terima kasih," jawab Deborah.


Setelah mengobati memarnya, Exel pun berpamitan pulang. Ia meminta maaf pada Damian, juga berterima kasih. Exel pun pergi meninggalkan apartemen Damian.


***


Hari H pernikahan ....


Perniakahan Jofferson dan Deborah diselenggarakan disebuah hotel mewah. Banyak tamu undangan datang dari berbagai kalangan, termasuk media. Seluruh negeri bisa menyaksikam langsung jalannya proses pernikahan. Dari mulai pengucapan janji pernikahan, penyematan cincin, sampai ciuman mesra  Jofferson dan Deborah


Terlihat wajah kedua keluarga besar juga ikut bahagia sampai menangis. Jeniffer menangis haru menyaksikan Adik kesayangannya kini sudah menikah. Ia berharap Adikknya bisa hidup bahagia bersama dengan Deborah selamanya. Acar pernikahan mewah itupun lancar dari awal sampai akhir.


Selepas pesta, Jofferson dan Deborah langsung melakukan perjalanan jauh untuk bulan madu. Mereka pergi ke luar kota, ke villa yang dihadiahkan CEO agensi pada Deborah.


***


Sesampainya di Villa ....


Jofferson dan Deborah berkeliling sekitar. Ternyata di sana juga ada beberapa Villa lain yang jaraknya lumayan jauh. Setelah puas berkeliling, mereka lantas kembali ke Villa untuk mandi dan istirahat karena sudah malam.


Deborah mengaku senang dan lega, karena pernikahan mereka berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun.  Jofferson sependapat dengan Deborah. Ia merasa sangat senang. Akhirnya ia resmi menjadi suami Deborah.


Jofferson berbisik sesuatu. Membuat wajah Deborah bersemu merah. Deborah segera berlari, dan dikejar oleh Jofferson setelah berhasil menangkap Deborah Jofferson langsung membawa Deborah masuk ke dalam kamar tidur. Dibaringkannya Deborah ke atas tempat tidur dan ditatap lekat oleh Jofferson. Jofferson beraksi, ia mulai mencumbui Deborah. Hal-hal liar yang selama ia tahan mulai ia keluarkan. Jofferson tak enggan lagi untuk membuat Deborah gelisah dan merintih menikmati setiap sentuhannya.


Meski hubungannya dengan Jofferson telah resmi sebagai pasangan suami-istri, tapi Deborah masih merasa malu-malu dan canggung. Padahal jantungnya sudah berdegup kencang tak karuan karena perlakuan Jofferson. Perlahan dan pasti, keduanya saling menanggalkan pakaian yang mereka kenakan masing-masing. Jofferson dan Deborah akhirnya menghabiskan malam pertama mereka dengan panas dan menggebu.


Siapa sangka, dua orang yang dulunya bermusuhan, pada akhrinya menikah. Dulunya Jofferson dan Deborah memang tak pernah punya rasa, kini mereka saling mencintai dan menyayangi. Berjanji satu sama lain untuk saling setia sehidup semati bersama-sama.


~Tamat~