Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (12)



Mama Jofferson mengajak Deborah sarapan bersama-sama dengannya dan Jofferson. Bahkan Mama Jofferson mengatakan kalau ia sangat senang bisa makan satu meja dengan aktris kesayangannya.


"Nanti berikan aku tanda tanganmu, ya? ok," kata Mama Jofferos tersenyum menatap Deborah.


Deborah menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum. Mama Jofferson sangat senang melihat jawaban dari Deborah.


Jofferson menggelengkan kepalanya. Rasanya ia seperti tak punya muka lagi berhadapan dengan Deborah karena sikap Mamanya yang berlebihan.


"Oh ... kebetulan sekali aku bertemu denganmu. Sudah sejak lama aku ingin kamu melakukan sesuatu saat kita bertemu. Nah, sekaranglah saatnya. Hoho ... sepertinya aku terlalu bersemangat, ya." Kata Mama Jofferson.


"Ma, duduk diam dan makan dengan tenang. Jangam aneh-aneh," kata Jofferson melarang Mamanya bertindak macam-macam.


"Aneh apa? Mama kan hanya ingin dipanggil Mama oleh Deborah. Dasar anak nakal," kata Mama Jofferson memukul lengan Jofferson.


Deborah kaget, begitu juga Jofferson. Saat minum Deborah bahkan sampai tersedak dan batuk. Jofferson pun langsung mendudukan Mamanya dan meminta Mamanya tak berulah.


Mama Jofferson menolak duduk dan memilih mendekati Deborah. Ia menepuk-nepuk punggung Deborah pelan.


"Apa sudah tidak apa-apa? maaf, ya. Aku terlalu senang sehingga membuatmu terkejut," kata Mama Jofferson.


"Tidak apa-apa, Bi. Terima kasih." jawab Deborah.


Mama Jofferson duduk di sisi Deborah, "Tapi ucapanku sungguhan, Deborah. Aku memang selalu ingin kamu panggil Mama. Bukan apa-apa, hanya saja kan kamu dan Jofferson selalu mendapat peran pasangan, jadi aku berpikir sesekali dipanggil Mama tidak masalah. Begitu maksudku," jelas Mama Jofferson.


"Ma, cukup. Jangan seperti anak-anak," kata Jofferson.


Deborah tersenyum, "Baiklah. Mungkin tidak apa-apa kalau hanya sebatas memanggil Bibi dengan sebutan Mama. Aku akan lakukan kemauan Bibi ahh ... Mama agar Mama senang." kata Deborah.


Mama Jofferson tercengang. Ia sangat senang dipanggil 'Mama' oleh Deborah. Jofferson juga kaget, ia tidak sangka Deborah akan menuruti permintaan Mamanya.


"Wah, senangnya. Sungguh, dadaku berdebar. Apakah ini rasanya punya menantu cantik dan seorang aktris?" kata Mama Jofferson.


Mama Jofferson pun punya permintaan lain. Ia ingin suasana sarapan mereka seperti yang ada dalam film-film, di mana Mertua sedang sarapan bersama anak dan menantunya. Mama Jofferson ingin Deborah berakting menjadi menantu yang sesungguhnya hanya untuk saat itu saja


Karena Deborah tahu Mama Jofferson orang yang baik, Deborah pun mengiakan permintaan Mama Jofferson. Deborah melayani Joffeson dan Mamanya seolah seorang istri dan menantu seperti di film-film. Bahkan untuk mendalami perannya, Deborah memanggil Jofferson dengan sebutan suamiku dan memanggil Mama Jofferson Mama dengan nada suara lembut nan merdu.


"Astaga ... apa aku perlu memvideo ini dan menunjukkan pada sayangku? sayang sekali, dia hanya akan memanggilku Mama untuk hari ini saja." batin Mama Jofferson.


Ketiganya pun sarapan bersama dengan tenang. Menyantap sarapan enakĀ  san lezat membuat mata Deborah berbinar. Ia benar-benar suka rasa dari makanan yang dimakannya. Mama Jofferson bertanya bagaimana rasa masakannya? Deborah langsung mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Mama Jofferson.


"Jika ibu jariku ada sepuluh, semua untuk Mama." kata Deborah memuji.


"Wahh ... aku mau. Apa tidak masalah kalau aku datang? Kalau jadwal syutingku tidak padat aku akan datang. Terima kasih, Ma-Ma ... " kata Deborah canggung.


Setelah sarapan dan puas berbincang, Mama Jofferson berpamitan pulang. Deborah mengantar kepergian Mama Jofferson sampai di depan pintu.


Jofferson mengintip, "Mama sudah naik lift?" tanya Jofferson.


Deborah menatap Jofferson, "Oh, ya. Sudah." jawab Deborah.


Jofferson menghela napas panjang dan meminta maaf untuk sikap Mamanya yang berlebihan. Jofferson tidak tahu kalau Mamanya akan datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Biasanya Mamanya menghubungi dulu. Mungkin karena tahu kalau Jofferson tidak ada jadwal dari Manager Jofferson, makanya Mama Jofferson lagsung datang.


"Aku tidak menyangka Mamaku akan begitu," gumam Jofferson.


"Tidak apa-apa. Beliau terlihat senang dan terus tersenyum. Aku juga senang bertemu beliau," kata Deborah.


"Tetap saja. Aku merasa malu sebagai putranya. Bisa-bisanya Mama meminta yang aneh-aneh padamu sampai berakting menjadi menantu," kata Jofferson.


"Makanya cepat menikah sana. Berikan Mamamu menatu agar beliau senang. Jangan hanya bermain-main dengan wanita," kata Deborah.


Deg ...


Jofferson merasa aneh saat Deborah mengatakan kata-kata seperti itu. Ia tak bisa menampik perkataan Deborah, karena Jofferson dulunya memang terkenal sebagai pemuda yang suka berganti-ganti kekasih. Padahal rumor itu tidak benar. Jofferson justru menolak semua perempuan yang dekat padanya. Sampai sekarang pun, Jofferson hanya menaruh hati pads satu wanita. Dan itu adalah wanita yang sama.


"Kenapa kamu bicara begitu. Memangnya kenapa kalau punya banyak teman kencan. Tidak salah, kan. Ahh, aku tahu. Jangan-jangan kamu iri melihatku dikerumuni banyak wanita, ya? atau kamu cemburu?" kata Jofferson menggoda Deborah.


"Hah? Apa? siapa juga yang iri. Aku juga tidak cemburu. Jangan asal bicara," kata Deborah.


"Jangan berbohong. Lihat hidungmu akan mengembang kalau kamu berbohong. Hahaha ... dasar pembohong. Deborah pembohong!" kata Jofferson mengolok Deborah.


Deborah menatap sinis pada Jofferson, "Inilah kenapa aku membencimu. Dasar tukang olok. Dasar Jofferson si badak!" kata Deborah berbalik mengolok.


Karena keperluannya sudah selesai, Deborah pun berpamitan pulang pada Jofferson. Sebelum ia masuk ke kamarnya, ia mengatai Jofferson lagi sambil menjulurkan lidah, lalu tertawa.


Jofferson tersenyum, "Dasar. Sejak dulu sikapnya itu tidak berubah." batin Jofferson.


Ia teringat akan masa lalunya. Meski dulu ia dan Deborah sering bertengkar, tapi mereka juga akrab satu sama lain dan mau membantu kalau salah satu dalam kesulitan. Awal mula berdebatan mereka adalah masalah nilai. Jofferson kesal karena Deborah yang merupakan siswi pindahan merebut posisinya yang selalu menjadi juara pertama. Bahkan selisih nilai mereka berdua pun tak banyak. Jofferson tidak terima, dan mengatai Deborah si rubah. Karena Deborah kesal dikatai rubah, Deborah pun mengatai balik Jofferson dengan badak yang tidak tahu malu. Karena suka mencari gara-gara dengannya, yang merupakan seorang perempuan. Setelah kejadian itu seluruh sekolah pun tahu bagaimana Deborah dan Jofferson saat bertemu. Pasti akan saling mengolok dan mengejek satu sama lain sampai harus dilerai guru atau teman-teman keduanya.


Setelah lulus dan pindah sekolah, Jofferson dan Deborah tak pernah sekalipun bertemu. Dan mereka bertemu kembali setelah sekian lama saat casting film pertama mereka. Dan siapa sangka, keduanya mendapatkan peran ssbagai pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Keduanya sempat canggung satu sama lain dan merasa aneh, tapi akhirnya mereka sukses menarik perhatian sutradara dengan akting mereka yang profesional.