
Sebelumnya ....
Jofferson menghubungi Mamanya dan minta dibuatkan banyak makanan yang enak juga bergizi. Mama Jofferson bertanya untuk apa minta dibuatkan banyak makanan, sedangkan Jofferson adalah orang yang suka pilih-pilih makan.
"Katakan dengan jujur. Untuk siapa makanan yang kamu minta itu, hah?" Kata sang Mama ingin tahu.
"Mama bisa tidak hanya membuat dan tidak bertanya ini itu? apakah aku harus menjawabnya?" tanya Jofferson.
"Dasar anak kurang ajar. Ditanya tidak menjawab malah menawar. Ck ... " kata Mama Jofferson mengomel.
Jofferson tersenyum. Ia pun mengatakan, kalau makanan itu untuk Deborah. Saat mendengar nama Deborah, Mama Jofferson sangat keget. Ia lantas bertanya, kenapa Jofferson ingin memberikan Deborah makanan. Kenapa bukan cincin dan buket bunga mawar? Karena ia begitu mendambakan Deborah sebagai menantu sejak dulu.
"Berikan dia cincin dan seribu tangakai mawar. Kenapa kamu malah memberi makanan. Dasar bodoh!" kata Mama Jofferson mengatai anaknya.
"Sepertinya Mamaku ini sibuk hanya melihat baha makanan, ya. Mama tidak lihat berita dan mendengar apa-apa? kami bahkan teribat skandal." kata Jofferson.
Mama Jofferson meminta waktu sebentar untuk memeriksa apa yang dimaksud putranya. Tak lama terdengar suara jeritan sang Mama yang mengejutkan Jofferson. Mengira Mamanya jatuh atau kenapa-kenapa dan terluka.
"Ma, Mama ... Hallo, Ma ..." panggil Jofferson.
"Mama tidak apa-apa, kan? Mama ..." panggil Jofferson khawatir.
"Apa berita ini sungguhan? Dia mengandung anakmu? Jawab jujur, Joff." tanya sang Mama tiba-tiba.
Jofferson menghela napas lega. Ternyata Mamanya menjerit buka karena terjadi apa-apa melainkan karena kaget mendengar berita. Hati yang tadinya khawatir menjadi kesal serasa dipermainkan.
"Bisa tidak Mama mengatur jeritan Mama. Aku khawatir, aku mengira Mama jatuh atau terluka." omel Jofferson.
"Hei, jawab! berita itu benar atau tidak?" tanya Mama Jofferson.
"Mama tahu itu kan hanya skandal yang dibuat-buat oknum tidak bertanggung jawab. Mereka ingin membuat rumor palsu dengan itu. Berita itu bohong. Aku ke rumah sakit untuk keperluan lain." jelas Jofferson.
"Sayang sekali. Kenapa harus berita palsu. Kalau itu berita sungguhan Mamamu ini akan sangat senang. Cepatlah, minta dia menikah denganmu. Jangan hanya di drama saja kalian menikah. Di dunia nyata juga." Kata Mama Jofferson.
Jofferon sampai kehabisan kata-kata. Setiap bicara di telepon, atau bertemu langsung, Mamanya selalu memintanya menikahi Debora.
"Mama bisa langsung datang kalau aku bilang Deborah adalah tetanggaku. Lebih baik dirahasiaakan dulu. Bisa-bisa Mama membuatku malu nanti," batin Jofferson.
"Ma, aku sibuk. Mama jangan lupa pesananku, ya? Kalau masakan Mama sudah selesai, minta Antonio mengirimnya ke apartemenku," kata Jofferson.
"Oh, ya. Sibuklah. Mama akan langsung memasak pesananmu. Dahhh, sayang." kata Mama Jofferson.
"Dahh, Ma. Terima kasih sudah mau memasak untukku. Aku sayang Mama," kata Jofferson.
Panggilan pun berakhir. Jofferson tidak menyangka, perbincangan dengan Mamanya sangat panjang. Mungkin kalau tidak dihentikan, Mamanya akan mengajaknya bicara sampai tengah malam.
***
Keesokan paginya ....
Damian meminta tolong Managernya mengirim sarapan pada Adiknya, Deborah. Dengan senang hati Deborah menerima dan berterima kasih pada Manager Kakaknya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih untuk Kakaknya.
Melihat sarapan yang diantar terlalu banyak untuk dimakan satu orang, maka Deborah berniat membagi pada Jofferson. Deborah membawa sebuah kotak berisi roti isi dan dibawanya keluar.
Tidak lama Deborah menekan Bell dan menunggu dibukakan pintu. Tidak beberapa lama pintu terbuka, dan Jofferson muncul tanpa mengenakan pakaian. Melihat Jofferson bertelanjang dada, membuat Deborah kaget.
"Ke-kenapa tidak pakai pakaian?" tanya Deborah.
Deborah melihat ke kiri kanan, ia takut kalau-kalau ada orang yang melihat. Deborah pun mendorong Jofferson masuk ke dalam apartemen dan buru-buru menutup pintu.
"Bisa tidak kamu pakai pakaian dulu kalau mau keluar? atau kamu memang sengaja memamerkan ototmu? hahh ... (menghela napas) pria berotot lain tidak sepertimu yang sembarangan membuka pakaian." Kata Deborah.
"Apa katamu? pria berotot lain?" kata Jofferson.
Jofferson mengerutkan dahi, "Apa dia biasa melihat tubuh pria lain? Tubuh siapa yang dia lihat? berapa banyak pria yang tubuhnya dilihat olehnya?" batin Jofferson bertanya-tanya.
Melihat Jofferson diam saja, Deborah pun menjetikkam jarinya agar Jofferson tak hanyut dalam lamunannya.
"Hei, apa yang kamu pikirkan? Hmm ... aku tau, jangan bilang kamu ingin tahu siapa pria-pria berotot yang aku bicarakan." kata Deborah asal bicara.
Jofferson kaget seketika langsung menggelengkan kepalanya. Debora kembali menggoda Jofferson, mengatakan kalau Jofferson sedang berbohong.
"Kamu bohong. Lihat matamu itu, kalau kamu berbohong pasti ketahuan. Huh ... sudahlah, aku cuma mau memberikan ini lalu kembali. Dahh ... " kata Debora.
Debora berjalan hendak keluar dari tempat tinggal Jofferson, tapi tiba-tiba tangannya ditarik Jofferson sehingga tubuh Deborah berada dalam pelukan Jofferson.
"Siapa pria-pria itu? Ada berapa pria? apa kamu menyentuhnya?" tanya Jofferson bertubi-tubi.
Deborah menatap Jofferson, lalu tertawa. Ia merasa seperti sedang syuting film.
"Hahaha .... Joff, Joff. Kamu mencegahku pergi dan menarik tanganku sampai memelukku begini. Hanya karena penasaran siapa pria-pria itu? Apa kamu pikir kita sedang syuting, huh? di mana kamu sedang cemburu saat ada pria lain mendekatiku?" kata Deborah.
Jofferson kaget. Ia tidak sadar baru saja melakuka tindakan gila dengan menarik tanhan Deborah sampai memeluk Deborah. Sepertinya benar apa yang dikatakan Deborah, kalau Joffersom terbawa susana saat syuting, saat di mana ia memerankan adegan sedang cemburu dan menginterogasi Deborah.
"Jangan memikirkan terlalu jauh. Di keluargaku, ada Kakak dan Papaku. Mereka punya otot dan aku sampai bosan melihatnya. Barulah setelah main film, aku sering melihat ehemm ... (berdehem) ototmu ... sudahlah, aku mau makan sarapanku dulu. Aku ... " kata-kata Deborah terhenti karena tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen Jofferson.
"Sayang ... Mama bawakan sarapanmu." kata seseorang itu masuk dengan wajah cerah ceria.
Jofferson dan Deborah menatap ke arah Mama Jofferson. Dan Mama Jofferson terkejut melihat putranya dan menantu idamannya. Apalagi Jofferson sedang bertelanjang dada.
"Oh, maaf. Sepertinya Mama datang di waktu yang tidak tepat. Mama kembali dulu, kalian lanjutkan saja ... " kata Mama Jofferson.
"Mama, tunggu ... " kata Jofferson. Mencegah Mamanya pergi.
Jofferson menjelaskan, jika ia dan Deborah hanya sedang berbicara sesuatu. Bukan melakukan sesuatu yang aneh seperti yang Mamanya pikirkan. Jofferson pun mengenalkan Mamaya pada Deborah.
"Ma, ini Deborah. Bora, ini Mamaku ... " kata Jofferson canggung.
"Ha-hallo, Bibi." sapa Deborah.
"Hallo juga. Apa kamu tahu? Aku salah satu penggemar beratmu. Aku selalu mengikuti setiap filmmu. Aku senang sekali bertemu denganmu. Kamu sangat cantik," puji Mama Jofferson.
Deborah kaget, Mama Jofferson begitu antusias dan tampak bersemangat. Meski begitu Deborah senang, bisa bertemu orang seperti Mama Jofferson.