
Damian yang mendengar cerita tentang Exel dari Jofferson pun merasa sangat marah. Ia langsung menutup panggilan dan meminta tolong pada Jofferson untuk menjaga Adiknya, dan kalau ada apa-apa Jofferson diminta menghubunginya.
Jofferson mengembalikan ponsel Deborah. Jofferson mengatakan, kelihatannya Kakak Deborah sangat marah soal temannya yang gila itu.
"Suaranya sampai gemetar," kata Jofferson.
"Kalau suaranya sampai begitu. Berarti dia memang sangat marah." sahut Deborah.
"Kamu dihubungi Managermu?" tanya Jofferson.
"Aku yang menghubungi dulu. Aku penasaran dan bertanya apa yang terjadi. Kata Managerku perusahaan sudah menerbitkan artikel bantahan terkait berita itu." jawab Deborah.
Jofferson meminta Deborah untuk kembali makan dan tak perlu khawatir. Mengataka berita-berita sampah seperti itu pasti akan meredam setelah kebenaran terungkap.
Deborah lega, ada Jofferson yang membantunya menjelaskan pada Damian. Padahal kalau ia sendiri yang menjelaskan, Damian pasti akan lebih banyak mengomel dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang pastinya membuatnya pusing. Deborah pun merasa tak enak pada Jofferson.
"Lagi-lagi kamu membantuku, ya. Sudah berapa banyak hutangku padamu, Joff." kata Deborah.
Jofferson menatap Deborah, "Hutang ini pasti akan kamu bayar, kan? aku ini orang yang tidak mau rugi," kata Jofferson.
Deborah tersenyum, "Pasti akan aku bayar. Silakan katakan padaku kapanpun kalau kamu butuh bantuanku. Saat itu, dengan senang hati aku akan membantumu." jawab Deborah.
Jofferson tersenyum tampan. Ia sangat senang mendengar jawaban dari Deborah.
"Benar. Hutang ini akan kutagih nanti. Dan saat itu kamu tak boleh menolak. Seperti katamu, kamu akan harus dengan senang hati membantuku." sahut Jofferson.
Deborah merasa aneh. Ia merasa seperti terjebak dalam lubang sempit yang dalam sehingga tak akan bisa keluar.
"Apa ini cuma perasaanku saja, atau memang ada sesuatu dibalik kata-katanya, ya? kenapa aku merasa terjebak," batin Deborah.
Deborah dan Jofferson melanjutkan makan siang mereka yang tertunda. Karena makanannya sudah dingin, Jofferson memanaskan makanan sebentar agar hangat.
***
Damian mendatangi kantor polisi diam-diam. Ia meminta bertemu dengan Exel secara pribasi pada polisi. Setelah dijelaskan singkat oleh Manager Damian, Polisi pun mengerti dan mengizinkan Damian menemui Exel.
Sebelum bertemu Exel, polisi memberitahu beberapa hal terkait kasus penguntitan yang dialami Deborah. Ternyata di apartemen pribadi Exel ditemukan banyak foto yang jumlahnya dikisarkan mencapai ratusan. Dan yang lebih mengejutkan, ditemukan barang-barang pribadi yang diduga milik Deborah.
Damian mengepalkan dua tangannya erat-erat begitu mendengar penjelasan polisi. Ia tidak sangka teman baiknya begitu gila. Sampai diam-diam menguntit dan mengoleksi foto-foto adiknya.
"Karena pelaku tak mau banyak bicara, maka kami sulit melakukan penyelidikan. Kami masih akan terus mencari barang bukti dan menyelediki kasus ini lebih dalam. Mungkin saja ada oknum yang berkomplot atau ada korban-korban lain." terang polisi pada Damian.
"Saya mohon bantuannya, Pak. Saya ingin kasus ini diusut tuntas dan pelakunya diberi hukuman setimpal. Dia sudah merugikan Adik saya," kata Damian.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha agar masalah ini cepat selesai." jawab polisi itu.
Salah seorang polisi lain menghampiri dan mengatakan sudah membawa Exel ke ruang tunggu. Polisi mempersilakan Damian bertemu Exel. Polisi juga meminta bantuan Damian menanyakan motif Exel sesunguhnya. Mungkin saja saat bertemu Damian Exel akan mengaku.
Langkah Damian membawanya menuju ruang tunggu. Damian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Exel menatapnya dan tersenyum.
"Wah, ada angin apa kamu datang menemuiku?" tanya Exel tertawa seolah mengejek Damian.
Damian langsung berlari menghampiri Exel dan memukul wajah Exel sampai Exel tersungkur. Damian dengan kasar mamaki-maki Exel. Bahkan mengancam Exel.
"Dasar bedebah gila! lihat saja, laku tak akan pernah melepaskanmu." kata Damian.
"Hahaha ... hahahaa ...."
Exel tertawa lepas seperti orang yan sudah hilang akal. Ia menertawakan Damian yang emosi dan kesal padanya.
"Dasar gila! apa yang kamu tertawakan, hah? kamu minta kuhajar, ya?" kata Damian.
"Hajar saja. Aku tak masalah kamu hajar sampai babak belur. Hahaha ... " jawab Exel.
Damian merasa temanya itu sudah gila. Ia pun mencoba bertsnya apa motif Damian melakukan itu pada Deborah. Damian mengingatkan pada Exel, siapa itu Deborah.
Exel menjawab, jika ia sangat menyukai Deborah sejak awal melihat Deborah. Sayang ia selalu gagal mendapatkan perhatian dan sering kali diabaikan Deborah.
Damian tak mengerti, kenapa Exel begitu tega. Meski ia sangat menyukai Deborah, tapi tak seharunya ia memperlakukan Deborah seperti itu. Diam-diam ternyata menguntit, bahkan mencuri barang-barang pribadi miliknya.
"Kalau cinta, itu menjaga. Bukan sepertimu sialan!" Sentak Damian.
Damian ingin memukul Exel lagi, tapi tiba-tiba Managernya datang dan menghentikan aksinya. Manager Damian berbisik sesuatu, yang membuat Damian terkejut.
"Kamu yakin mereka yang menyebar gosip itu?" tanya Damian.
Si Manager menganggukkan kepala, ia pun mengatakan, jika seseorang sepertinya sudah membereskan. Karena langsung terbit pernyataan permintaan maaf dari pihak mereka yang menyebar gosip tidak benar tersebut.
Damian mengerutkan dahi, berpikir siapa orang yang melakukannya. Siapapun orangnya, ia bersyukur dan berterima kasih. Ia tidak bisa melihat Adiknya sedih, apalagi sampai terpuruk.
Damian menatap Exel, lalu menatap Managernya. Ayo, kita pergi. Sebelum itu aku mau bicara sedikit lagi dengan si sialan ini. Kata Damian.
Damian mendekari Exel, ia berkata agar Exel tak terus-terusan bungkam dan segera mengakui semua kesalahannya. Jika tak melakukan sesuai ucapannya, maka Damian akan mempertaruhkan kehidupannya sebagai artis untuk membongkar semua rahasia Exel yang dipegangnya.
Damian berbisik di telinga kanan Exel, "Aku tak main-main, Exel. Kamu pikir aku akan diam saja saat Adik kesayanganku kamu ganggu, hah? bukankah kamu sangat menyayangi Mamamu. Apa jadinya kalau Mamamu tahu anaknya seperti ini? Bisa-bisa ... " kata-kata Damian terhenti oleh Exel.
"Cukup! hentikan ucapanmu, dan tutup mulutmu." sentak Exel emosi.
Exel mengerutkan dahinya menatap Damian. Senyum Damian mengebang, ia berhasil memancing emosi Exel dan menyerang titik lemahnya. Sebenarnya Damian hanya asal bicara. Ia bukan orang sejahat itu sampai akan mengganggu Mama Exel yang sedang berada jauh untuk menenangkan diri karena sedang depresi. Ia demikian agar Exel mau cepat mengaku. Ia ingin kasus itu segera dituntaskan dan tak berlarut-larut.
"Aku terpaksa melibatkan Mamamu, karena kamu tak mau mengakui semuanya sampai akhir. Ini memang cara kotor dan pengecut, tapi aku tak peduli. Selama itu bisa membuatmu bicara." batin Damian.
Damian menepuk bahu Exel. Ia lantas berpamitan dan pergi. Damian percaya, kalau tidak lama lagi Exel pasti akan mengaku. Exel sangat sensitif kalau berkaitan dengan Mamanya.