Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (10)



Setelah menata rapi isi lemari dan memasang seprei baru untuk tempat tidurnya, Deborah pun pergi mandi. Ia merasa tubuhnya lengket dan bau karena keringat. Berjam-jam ia menghabiskan waktu membersihkan dan menata hunianya.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Deborah pun ingin segera makan. Ia lelah, ingin istirahat lebih awal. Baru saja ingin menghangatkam makanannya, bell pintunya berbunyi.


Deborah melihat di monitor, ternyata tamunya adalah Jofferson. Deborah membukakan pintu, ia melihat Jofferson membawa sesuatu di tangannya.


"Hai, Joff ... " sapa Deborah.


"Oh, hai ... maaf malam-malam menggangu. Aku hanya mau memberikan ini. Ini sup buatan Mamaku, karena aku sudah kenyang aku berikan saja padamu. Ambillah," kata Jofferson memberikan sebuah tas pada Deborah.


Deborah buru-buru menerima, "Te-terima kasih. Kamu sebenarnya tidak perlu repot. Ini kan bisa kamu masukan ke dalam lemari pendingin dan kamu hangatka besok. Kenapa diberikan padaku?" tanya Deborah tidak mengerti.


Deg ...


Jofferson tersentak. Ia tidk berpikira sejauh itu. Tidak mau ketahuan beralasan, ia pun segera berpamitan dan pergiĀ  meninggalkan Deborah masuk ke dalam apartemennya.


Melihat sikap aneh Jofferson, membuat Deborah bingung. Ia pun masuk ke dalam apartemennya membawa tas berisi makanan yang diberikan Jofferson padanya. Ia berjalan perlahan menuju meja makan. Ia meletakkan tas di atas meja dan langsung membukanya. Dikeluarkannya isi dari dalam tas.


"Katanya sup. Kenapa banyak sekali isinya? Apa dia tidak membukanya dulu sebelum memberikannya padaku? aneh sekali," gumam Deborah.


Penasaran dengan isi kotak-kotak yang ada dalam tas. Deborah pun membukanya. Ia melihat banyak lauk dari olahan daging, ayam dan ikan. Ada juga udang dan sayuran yang ditumis.


"Wuahh ... apa di rumahya sedang ada pesta? Mamanya memasak semua ini?" batin Deborah teekejut.


Ponsel Deborah berdering. Deborah mendapat panggilan dari Papanya. Melihat nama 'Papa Sayang' di ponselnya, Deborah tesenyum lebar dan menerima panggilan dari Papanya itu.


Deborah dan Papanya berbincang. Papanya baru saja mendengar kabar terkait penguntitan yang dilakukan Exel, juga skandal antara Deborah yang dikatakan berbadam dua dengan Jofferson. Sang Papa yang sedang mengunjungi makam kedua orang tuanya di luar negeri pun dibuat syok setelah tahu apa yang terjadi pada putrinya.


"Meski ada beberapa artikel yang sudah hilang, tetap saja ada jejak. Tangan orang-orang mudah dengan cepat menyebar berita ke sana sini. Jadi jelaskan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi, Anakku." kata sang Papa.


Deborah menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia meminta Papanya untuk tenang dan akan menjelaskan detail satu per satu.


Deborah menjelaskan tentang skandalnya lebih dulu. Ia membantah kebenaran dari berita tersebut. Bebora mengatakan sesuai keadaan yang terjadi secara menyeluruh pada Papanya.


"Hm, begitu. Jadi kamu salah paham dan tanpa pikir panjang mendatangi Joff. Karena kamu kesal kamu memukul lukanya, dan lukanya terbuka, begitu? Dan karena kamu merasa bersalah, kamu mengantarnya ke rumah sakit pagi-pagi sekali agar tidak terlihat oleh orang? kalian menghindari tatapan orang di rumah sakit, tetapi malah ditangkap kamera wartawan. Hahhh ... (menghela napas) lantas bagaiamana dengan penguntit itu? Papa sangat terkejut saat tahu itu perbuatan Exel." kata sang Papa.


Deborah menjelaskan dari awal, pertengahan hingga akhir. Apa saja yang sudah terjadi dan bagaimana kejadian bisa terungkap pada Papanya.


"Kurang ajar! Dasar bedebah sialan!" Maki sang Papa murka.


"Papa kesal, kenapa harua pada saat Papa dan Mama pergi. Besok Papa dan Mama masih harus mengunjungi makam Kakek dan Nenekmu. Mungkin kami akan pulang lusa. Mamaku juga harus mengunjungi yayasan panti asuhannya," kata sang Papa.


"Tidak perlu buru-buru pulang. Papa dan Mama nikmatilah perjalanan kalian dengan bersenang-senang. Aku tidak apa-apa. Ada Kakak, Kak Ryan dan Paman. Jadi, Papa dan Mama tak perlu cemas." kata Deborah menenangkan hati Papanya.


"Papa sunggu khawatir, sayang. Papa takut sesuatu terjadi padamu," kata sang Papa.


"Deborah sayang Papa. Sayang Mama juga Kakak. Kalian semua berharga dan akan selalu menjadi yang paling berharga. Papa dan Mama baik-baik di sana, ya. Jaga kesehatan dan jangan melakukan hal-hal aneh tanpa sepengetahuanku. Awas saja kalau Papa sampai cidera, aku tidak mau bicara pada Papa lagi." kata Deborah.


Sang Papa tertawa. Baginya Deborah tetaplah putri kecil mungilnya yang menggemaskan meski sudah tumbuh dewasa dan menjadi wanita hebat.


Setelah puas bercerita, Panggilan pun berakhir. Deborah tersenyum menatap layar ponsel dan meletakkan ponsel di atas meja. Deborah melanjutkan makan yang sebelumnya sempat tertunda. Karena penasaran dengan rasa makanan yang diberikan Jofferson. Ia pun mencoba semuanya.


Seketika mata Deborah beebinar-binar. Ia merasakam rasa lezat dan penuh kenikmatan dalam setiap hidangan yang ada di hadapannya.


"Emmhh ... enak sekali. Astaga, bagaimana bisa ada makanan seenak ini?" Batin Deborah.


Deborah berpikir, apakah Mama Jofferson adalah seseorang yang ahli memasak? kalau tidak, mustahil bagi orang biasa saja tanpa keahlian dan kemampuan memasak hidangan bak hidangan Hotel bintang lima itu.


Kaasikkan menikmati, tanpa sadar Debora telah menghabiskan satu kotak daging tumis sayuran. Debora ingat kalau ia juga harus menjaga berat badannya. Ia segera mengunyah cepat dan menela habis makanan dalam mulut.


"Aku harus meringkas ini sebelum aku kehilangan akal menghabiskannya. Berat badanku bisa bertambah dan aku akan seperti pingky. Si hewan gemuk berwarna pink." Batin Deborah.


Setelah selesai makan. Deborah meringkas makanan yang terisa, dan masukkan dalam kulkas. Ia meringkas juga piring kotor dan segera mencucinya. Setelah itu Deborah duduk di ruang tengah sambil bermain ponsel.


Deborah melihat ada pesan masuk. Saat dibuka, ia mendapat pesan dari Jofferson.


"Apa makanannya enak? kamu suka?"


Isi pesan yang dikirim Jofferson.


Deborah langsung menjawab, kalau makanan yang dimasak Mama Jofferson sangat enak. Deborah bahkan langsung bertanya, apakah Mama Jofferson seorang Chef? karena rasa masakan Mama Joff tak lah enak dari hidangan Hotel bintang lima.


Jofferson membalas lagi pesan Deborah. Ia mengatakan, kalau Mamanya memang seorag chef. Dan merupakan guru besar di sekolah memasak di luar negeri. Karena sedang ada keperluan Mamanya datang dan memasak untuknya.


"Kalau kamu suka. Besok mau lagi? Mamaku besok pagi akan mengirim sarapan," kata Jofferson.


Karena tidak enak merepotkan. Ddeborah lantas menolak. Ia mengatakan kalau ia harus menjaga berat badannya. Tak lupa deborah mengucapkan terima kasih pada Jofferson. Berkat Jofferson ia bisa makan enak dan kenyang, lalu tidur pasti akan tidur dengan nyeyak.