Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (17)



Esok harinya setelah selesai syuting, Deborah minta Ryan mengantarnya ke rumah orang tuanya. Karena besok ia akan pergi ke Bali bersama para kru, maka ia pun harus berpamitan dengan benar pada Papa dan Mamanya.


"Kak, tidak ikut masuk?" tanya Deborah.


"Aku harus menemui Pak CEO, dan mempersiapkan semuanya untuk keberangkatan kita besok. Aku titip salam saja untuk Bibi dan Paman, ya." jawab Ryan.


Deborah menganggukkan kepala, "Ya, baiklah. Kakak jangan terlalu memaksakan diri. Barang-barangku aku akan kemas sendiri nanti. Kakak kemasi saja barang kakak dan keperluan yang kita butuhkan." kata Deborah.


Ryan mengiakan kata-kata Deborah. Ia membuka pintu mobil dan Deborah pun turun dari dalam mobil. Deborah melambaikan tangan pada Ryan, lalu berjalan menuju pintu utama rumah orang tuanya. Ryan membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintu mobil. Tak lama mobil yang dikemudikan Ryan pergi meninggalkan halaman rumah kediaman orang tua Deborah.


Deborah menekan bell. Dan tidak lama pintu dibuka oleh pelayan rumah. Deborah menyapa pelayan rumah dan memeluk pelayan rumah yang sudah dikenalnya sejak ia kecil.


"Bibi ... aku merindukan Bibi," kata Deborah.


Bibi pelayan mengusap punggung Deborah, "Bibi juga merindukan Nona. Nona sekarang semakin cantik, ya." kata Bibi pelayan memuji.


Pelukan terlepas. Deborah dan Bibi pelayan berbincang singkat perihal keadaan rumah. Setelah itu Deborah bertanya tentang keberadaan Papa dan Mamanya. Bibi pelayan berkata, Dua majikannya sedang berada di kamar.


Deborah minta dibuatkan minuman dingin dan minta Bibi pelayan meletakkan minuman di meja makan kalau sudah siap. Deborah ingin bertemu Papa dan Mamanya. Ia pun berjalan pergi menuju kamar Papa dan Mamanya.


Deborah berdiri di depan kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu dan bersuara. Memanggil Papa juga Mamanya. Dari dalam kamar terdengar suara, sang Papa meminta Deborah masuk ke dalam kamar.


Deborah membuka pintu dan mengintip. Ia lantas masuk dan menutup pintu. Deborah berlari menghampiri Papanya yang sedang duduk bersandar bantal di atas tempat tidur. Ia langsung memeluk sang Papa.


"Papa ... " panggil Deborah.


"Oh, sayangku." Kata Papa Deborah mengusap punggung putri kesayangannya.


Deborah memejamkan matanya, merasakan kehangatan pelukan sang Papa. Tak beberapa lama pelukan terlepas. Papa Debora mengusap-usap kepala putrinya sembari tersenyum.


"Bagaimana kabarmu? apa syutingmu lancar?" tanya Papa Deborah.


Deborah menganggukkan kepala, "Aku baik-baik saja, Pa. Pekerjaanku juga lancar," jawab Deborah.


Deborah melihat sekeliling kamar. Ia tidak menemukan keberadaan sang Mama. Deborah menatap Papanya dan bertanya di mana Mamanya berada? sang Papa menjawab, kalau Mamanya sedang mandi setelah selesai berolah raga. Dan tak berselang lama, Mama Deborah pun keluar dari kamar mandi.


"Hai, Ma." sapa Deborah tersenyum.


"Oh, kamu datang, sayang. Bagaimana apartemen barumu?" tanya sang Mama.


"Lebih nyaman dari sebelumnya. Lebih luas dan tentu saja lebih aman. Yang paling mengejutkan, harganya murah karena kebetulan Direkturnya peggemarku. Dia langsung memotong uang sewanya. Hahaha ..." jawab Deborah tertawa.


"Iya, anak siapa dulu. Aku kan anak Papa dan Mama," kata Deborah dengan bangganya.


Papa Deborah tertawa, diikuti Mama Deborah. Setelah berganti pakaian, Mama Deborah mengajak suami dan putrinya makan siang bersama.


Ketiganya keluar dari kamar dan berjalam menuju meja makan. Di atas meja sudah tersaji makan siang dan minuman dingin yang dipesan Deborah.


"Mama dengar soal Exel dari Damian. Apa kamu sungguh tidak apa-apa? Mendengar itu Mama sangat kesal. Ingin rasanya Mama menghajarnya," kata Mama Deborah.


"Lupakan saja, Ma. Lagipula dia sudah mendapatkan hukumannya, kan. Aku tidak mau memikirkan kejadian itu lagi. Sangat menjijikan saat aku melihat dengan mataku dia memeluk pakaianku. Dan gara-gara dia aku terpaksa membuang semua koleksi pakaianku. Uhhh, aku kesal kalau mengingatnya." gerutu Deborah.


Bukan soal uang, tetapi koleksi pakaian Deborah adalah edisi khusus tiap musim yang hanya diproduksi beberapa saja tiap modelnya. Jika barang sudah terjual semua, maka tidak  akan ada model yang sama lagi. Deborah sangat menyayangkan. Belum lagi ia harus berebut dengan banyak aktris lain untuk mendapatkannya.


"Nanti Papa belikan banyak pakaian untukmu. Kita bisa jalan-jalan ke luar negeri, sekalian beli di sana juga. Pasti menyenangkan kalau kita sekeluarga bisa pergi ke luar negeri." kata Papa Deborah.


"Benar, Bora. Tanyakan pada Ryan, kapan kamu bisa pergi berlibur dengan kami. Mama juga akan minta Damian menyesuaikan jadwal," kata Mama Deborah.


"Mungkin setelah syuting filmku ini, Ma. Rencana aku mau libur beberapa bulan, tapi kita liat saja. Kalau ada naskah yang bagus, aku tidak jadi cuti. Hehe ... " jawab Deborah.


Deborah pun mengatakan, kalau ia datang ingin berpamitan pada Papa dan Mamanya. Besok ia harus pergi ke Bali untuk  syuting selama seminggu. Debora menawari Papa dan Mamanya ikut serta, kalau ingin. Sayang sekali Papa Debora sangat lelah setelah perjalanan mengunjungi makam orang tuanya di negara asalnya.


"Jaga diri dan hati-hati. Jaga pola makan dan juga istirahat yang cukup. Ok," pesan sang Mama pada Deborah.


Deborah menganggukkan kepala, mengiakan perkataan sang Mama. Sang Papa juga berpesan agar Deborah sering-sering memberi kabar.


Tiba-tiba Mama Deborah bertanya hal tak terduga. Bertanya tentang Jofferson. Mama Deborah penasaran dengan Jofferson, dan meminta lain waktu mengajak makan bersama.


"Dia kan lawan mainmu. Kalian bahkan selalu berperan sebagai pasangan kekasih sampai suami-istri. Jujur Mama penasaran melihat sosok aslinya seperti apa. Lain waktu ajaklah dia ke rumah atau kita bisa janjian di luar untuk makan bersama." kata sang Mama.


"Dia terlihat baik. Aktingnya juga bagus. Dia selalu menjiwai perannya," sambung Papa Deborah.


Deborah menatap Papanya, "Papa menyukai aktingnya?" tanya Deborah.


"Ya, dia seperti Papa dulu saat Papa masih aktif di dunia hiburan. Memang kerja keras dan usaha tidak akan berkhianat. Kamu juga sekarang sudah termasuk aktris top, sayang. Jangan lengah dan tetap waspada. Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Mengerti?" kata Papa Deborah.


"Papamu benar. Tetap perkatikan sekeliling. Jangan sampai terlibat skandal atau masalah apapun. Ya, meskipun hal-hal seperti itu terkadang tidak bisa dihindari. Seperti skandalmu waktu lalu. Bisa-bisanya media itu menerbitkan berita sampah." kata Mama Deborah emosi.


Deborah mengatakan, kalau masalah skandalnya dengan Jofferson sudah ditangani Pamannya, Adik dari sang Papa. Yang langsung menerbitkan berita bantahan terkait rumor yang beredar. Deborah mengaku, dia sendiri pun kaget dengan berita yang beredar. Padahal dia ke rumah sakit hanya untuk mengantar Jofferson yang terluka. Bukan untuk hal lain. Debora sangat kesal kalau ada wartawan yang menulis berita tidak benar. Bukannya memastikan kebenaran, atau bertanya pada Agensi, justru tak segan membuat berita semakin tak benar. Yang bisa membuat orang-orang salah paham.