
Saat Deborah membuka pintu kamar tidurnya, ia mendapati Jofferson terlelap tidur di tempat tidurnya. Deborah tersenyum, ia mendekat, naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi Jofferson.
Deborah membelai wajah tampan kekasihnya itu. Ia berpikir Jofferson kelelahan sama sepertinya yang lelah. Deborah mendekat, ia masuk dalam dekapan Jofferson dan terlelap tidur.
***
Malam harinya ....
Deborah terbangun. Ia tidak mendapati adanya Jofferson di sisinya. Deborah segera bangun, ia mencari keberadaan Jofferson.
"Apa dia pulang?" gumam Deborah.
Deborah keluar dari kamar tidurnya. Ia melihat Jofferson sedang memasak di dapurnya. Seketika senyum Deborah mengembang, ia sudah takut kalau-kalau Jofferson pergi begitu saja tanpa memberitahunya.
Deborah segera berlari memeluk Jofferson dari belakang. Ia membenamkan wajahnya ke punggung Jofferson.
"Sudah bangun?" tanya Jofferson.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku? aku pikir kamu pulang," kata Deborah.
"Kalaupun aku pulang. Kamu bisa datang, kan. Dua lima, satu dua, dua lima. Itu sandi pintuku. Masuklah kapanpun kamu mau." kata Jofferson.
Deborah berpikir, kenapa sandi pintu Jofferson tak asing, karena ia juga menggunakan sandi dua lima, satu dua dan diikuti angka kembar kesukaannya, yaitu delapan-delapan.
"Apakah kamu lahir ditanggal dua puluh lima di bulan Desember?" tanya Deborah.
"Ya, bukankah kamu juga?" tanya balik Jofferson.
Deborah melepas pelukan dan menatap Jofferson. Karena curiga, ia lantas bertanya, apakah dua lima di akhir sandi pintu Jofferson adalah tanggal lahirnya? Dan Jofferson mengiakan pertanyaan Deborah.
"Wah, aku tidak sangka kamu bahkan mengetahui tanggal lahirku. Apa kamu sangat mengagumiku, Tuan?" goda Deborah.
Jofferson menatap Deborah, "Ini mungkin terdengar aneh, tapi aku bersyukur memiliki tanggal lahir dan bulan yang sama denganmu bukankah kita juga lahir di tahun yang sama? saat itu aku sudah memikirkan, apakah mungkin kita berjodoh satu sama lain? Ya, itu hanya pemikiran polos anak sekolah. Haha ... " kata Jofferson.
Deborah tersenyum, ia segera pergi menuju pintunya dan mengganti kode sandi pintunya menjadi dua lima, dua lima, satu dua.
Jofferson mendekati Deborah, "Apa yang kamu lakukan?" tanya Jofferson.
"Mengganti kode sandi pintuku. Sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan angka baru, karena aku sudah gabungkan tanggal lahir kita. Dua lima, dua lima, satu dua. Itu kode sandi pintuku. Kamu juga bisa masuk kapanpun kamu ingin masuk ke sini." Kata Deborah.
Jofferson tersenyum, "Apa kamu yakin? bagaimana kalau tiba-tiba aku menyelinap dan melakukan sesuatu padamu? kamu tidak takut?" tanya Jofferson.
Deborah tersenyum. Ia mengatakan, kalau Jofferson tak akan seperti itu, meski ingin. Jofferson terkejut, ia tidak sangka Deborah akan tahu isi pikirannya. Jofferson memang hanya asal bicara karena sengaja ingin menggoda Deborah. Meski ingin, setidaknya kalau masuk ke rumah Deborah ia akan izin. Ia tidak mau sampai Deborah tersinggung.
Deborah mengeluh lapar. Jofferson menggandeng tangan Deborah ke meja makan. Mereka duduk berdampingan dan makan bersama.
"Bagaimana? enak tidak? Ini pertama kalinya aku memasak untuk orang lain. Aku biasanya masak untuk aku makan sendiri. Aku tak sehebat Mamaku," kata Jofferson merasa tak enak, ia takut Deborah tak suka rasa masakannya.
Deborah menatap Jofferson, "Joff ... " panggil Deborah pelan.
Jofferson kaget. Ia langsung berdiri dan ingin meringkas piring di atas meja. Jofferson sudah menduga masakannya tak sesuai selera Deborah.
"Maafkan aku, Bora. Kita pesan makanan saja, ya. Kalau tidak suka jangan dimakan." Kata Jofferson panik.
"Eh, siapa bilang tidak suka? aku suka sekali. Sungguh, ini sangat enak. Rasanya hampir mirip masakan Bibi." kata Deborah memuji.
"Kenapa kamu tidak percaya diri begitu. Aku tidak bohong soal masakanmu. Ini benar-benar enak," kata Deborah.
Deborah tidak sangka. Kekasihnya ternyata punya bakat memasak juga selain akting. Deborah terus memuji masakan Jofferson sampai-sampai Jofferson menghentikan perkataan Deborah karena malu.
Jofferson mengatakan, kalau Deborah sesuaka itu pada masakannya, ia akan masak untuk Deborah setiap saat Deborah ingin makan masakannya.
"Sungguh? kamu mau melakukan itu untukku?" tanya Deborah.
Jofferson menganggukkan kepala, mengiakan perkataan Deborah. Ia meminta agar Deborah tidak sungkan memintanya memasak, atau meminta hal lain.
Deborah tersenyum cantik, lalu mengucapkak terima kasih. Ia mengatakan sangat senang karena Jofferson akan memasak lagi untuknya.
***
Selesai makan malam dab bersih-bersih dapur. Jofferson dan Deborah membaca naskah bersama dan berlatih untuk adegan esok hari. Mereka bergantian membaca dialog yang mereka herus ucapkan saat syuting berikut adegannya.
"Kamu ingin mengajakku pergi? ke mana?" tanya Tirsa menatap Mattew.
"Ke mana lagi. Tentu ke tempat yang kamu sukai," kata Mattew.
Dalam naskah tertulis, jika Mattew memberikan tiket liburan ke Bali. Salah satu Pulau yang ada di Indonesia, dan yang sering Tirsa kunjungi.
Tirsa senang, ia langsung memeluk Mattew. Memberikan Mattew ciuman sebagai hadiah dan rasa terima kasih.
Deborah menutup naskahnya, "Jadi ... setelah syuting besok. Esok lusa kita ke Bali, kan?" tanya Deborah.
"Ya ... " jawab Jofferson.
"Di Bali, kita akan syuting beberapa adegan. Selesai syuting kita bisa jalan-jalan. Ayo, kita jalan-jalan, Joff." ajak Deborah.
"Boleh saja. Asalkan kamu berikan aku upah yang sepadan." kata Jofferson.
Deborah mengerutkan dahi, "Upah? kamu meminta upah padaku? dasar pria matrealistis." kata Deborah menggerutu.
Debora memajukan bibirnya dan duduk menjaga jarak dengan Jofferson. Sikap Deborah yang seperti itulah yang membuat Jofferson gemas. Jofferson menggeser duduknya menempel pada Deborah, tapi Deborah menggeser duduknya sampai ke pojok. Tak mau kalah, Jofferson menggeser lagi duduknya. Deborah pun berdiri, belum sampai kakinya melangkah pergi, tangannya sudah di tarik sehingga tubuh Deborah langsung jatuh ke pangkuan Jofferson.
"Mau ke mana? ke mana saja kamu pergi, aku akan mengejarmu." kata Jofferson.
Deborah menatap Jofferson tajam, "Dasar mulut madu. Kalau aku lompat ke jurang, apa iya kamu akan ikut lompat? mustahil," kata Deborah.
"Tentu aku akam lompat. Karena aku tidak mau sendirian. Aku ingin kamu selalu ada di sisiku, terlihat oleh mataku dan tersentuh oleh tanganku." jawab Jofferson.
Wajah Deborah memerah. Entah mengapa ia malu sekali, saat mendengar kata-kata manis keluar dari bibir Jofferson.
Jofferson menangkup wajah Deborah dengan dua tangannya, "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku juga tak akan meninggalkanmu. Karena itu, berjanjilah untuk tidak membuangku. Dan berpaling dariku, ok." Kata Jofferson menatap lekat mata Deborah.
Deborah menganggukkan kepala, ia mencium kening Jofferson lembut dan cukup lama sampai mata Jofferson terpejam. Jofferson bisa merasakan kasih sayang Deborah dari kecupan dikeningnya. Deborah menatap Jofferson, ia lantas memeluk Jofferson. Deborah membisikkan kata cinta untuk Jofferson.
"Aku menyayangimu, Joff. Aku juga mencintaimu." bisik Deborah.
Jofferson mengeratkan pelukan. Ia juga mengatakan kalau ia menyayangi dan mencintai Deborah lebih dari apapun.