
Keesoakan harinya ....
Meski sudah beberapa kali mencari, tak ada satupun apartemen yang cocok. Deborah kesal, juga khawatir. Ia tidak mau merepotkan Ryan meskipun ia dan Ryan masih ada hubungan keluarga. Bagaimanapun, ia harus segera dapatkan tempat tinggal dan langsung pindah.
Ponsel Deborah berdering. Ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Siapa, ya?" batin Deborah.
Deborah berpikir itu adalah panggilan dari kantor polisi atau semacamnya terkait kasus yang melibatkannya sebagai korban.
Deborah menerima panggilan itu. Tak lama terdenga suara yang tak asing. Ternyata seseorang yang menghubungi Deborah adalah Jofferson.
"Kamu sibuk?" tanya Jofferson tiba-tiba.
"Ti-tidak. Aku sedanf berkeliling mencari tempat tinggal baru. Kenapa?" tanya Deborah.
"Tempat tinggal, ya? hm ... sepertinya aku bisa membantumu. Hanya saja aku tak yakin, kamu nyaman atau tidak dengan ini. Kebetulan saja tetanggaku pindah beberapa waktu lalu, dan sepertinya kamar di depan kamarku masih kosong. Kalau kamu mau aku akan coba tanyakan." tawar Jofferson.
Deborah terdiam mengerutkan dahi. Sebenarnya ia sudah lelah ke sana-sini mencari tempat tinggal yang cocok untuknya. Kali ini ia mendapatkan tawaran dari Jofferson.
"Kalau tetangga depan, berarti kamarnya berhadapan dengan kamar Jofferson? apa tidak apa-apa kami tinggal sedekat itu? ahh ... ini membuatku sakit kepala." batin Debora.
"Hallo ... " panggil Jofferson.
"Ah, ya? hmm ... apa kamu sedang di apartemenmu sekarang?" tanya Deborah.
"Ya," jawab Jofferson cepat.
"Aku akan ke sana dan bertanya sendiri saja. Kamu bisa mengantarku sebagai perantara. Lagipula aku harus melihat kamarnya karena aku butuh yang siap huni. Aku tidak bisa merepotkan Managerku lagi." kata Deborah.
"Baiklah. Kalau itu maumu. Kamu bisa ke sini dan nanti kita pergi sama-sama." kata Jofferson.
"Hm ... aku tutup teleponmu, ya. Dahh ... " kata Deborah.
Belum sampai Deborah menekam panel merah di ponselnya, Jofferson berteriak memaggil nama Deborah.
"Hei, Bora ... " paggil Jofferson.
"Ya?" jawab Debora menyimak dengar.
"Simpan nomorku," kata Jofferson yang langsung mengakhiri panggilan.
Deborah mengerutkan dahinya mentap layar ponselnya. Ia bingung dengan kelakuan aneh Jofferson. Karena sudah diminta menyimpan nomor, Deborah pun langsung menyimpan nomor Jofferson dengan nama "Si Badak" di kontaknya.
Ia segera pergi menuju apartemen Jofferson untuk menemui pemilik gedung dan melihat kamar apartemennya. Jika memang sesuai baik itu harga ataupun tempatnya, maka ia akan langsung mengambilnya. Tak masalah walaupun harus bertetangga dengan Jofferson.
***
Jofferson dan Deborah pergi menemui pemilik gedung apartemen. Pemilik itu tampak kaget saat tahu calon penyewanya adalah Deborah sang aktris fenomenal.
"Sebuah kerhormatab bertemu Queen." kata seseorang itu.
Jofferson mengerutkan dahinya menatap pria di hadapannya itu. Seketika pria itupun terdiam, dan tidak lama bicara memperkenalkan diri dengan benar.
"Hallo, Nona Deborah. Saya Arron Wilson. Saya adalah Direktur pengelola gedung ini. Saya sudah dengar, jika Anda mencari hunian. Kalau tidak keberatan, mau melihatnya langsung? saya akan jelaskan harga dan lainnya sekalian jalan." kata Arron.
Deborah setuju. Ia juga tidak bisa membuang-buang waktu lagi karena liburnya hanya tersisa esok. Liburnya esok akan ia gunakan untuk tidur.
Deborah, Arron dan Jofferson berjala bersama-sama menuju kamar yang akan disewa Deborah. Dalam perjalanan, Arron menjelaskan tentang fasilitas dan keamanan. Juga harga yang ditawarkan.
Jofferson menulis pesan untuk Arron, ia meminta Arron berusaha keras agar Deborah mau mengambil kamar yang ditawarkan. Kalau tidak berhasil, maka Arron akan langsung dipecat.
"Sialan kamu Jofferson!" umpat Arron dalam hatinya.
Arron melirik ke arah Joffersom dan tersenyum lebar. Sebenarnya ia sangat dongkol dan ingin sekali memukul Jofferson.
"Tenang, Arron. Tenang ... laki-laki muka tembok otot besi dibelakangmu adalah Bossmu. Kamu tidak boleh sembarangan melukai dan harua bersikap ramah. Tenang Arron." Batin Arron mencoba menenangkan hatinya yang kesal.
Deborah menatap Arron, lalu menatap Jofferson. Dan bertanya, apa ada yang terjadi?
Jofferson berpura-pura bermain ponsel dan Arron pun menjawab, jika ia tidak apa-apa. Hanya ingin melihat Jofferson saja karena ia lama tak melihatnya.
"Haha ... bukan apa-apa. Aku hanya sangat merindukan wajah Aktor kesayangaku, Jofferson. Hahahaa ... aku sudah lama tak melihag wajah tampannya itu. Jadi kamu pasti tahu maksudku, kan." kata Arron berbohong.
Deborah tertawa dalam hatinya. Ia merasa geli dan aneh mendengar perkataan Arron yang seolah Arron adalah penggemar berat Jofferson.
Jofferson yang mendengar pun merasa kesal. Ia kembali mengirim pesan pada Arron dan meminta Arron bersiap untuk dihukum.
***
Jofferson, Deborah Arron sudah sampai di kamar yang dimaksudkan. Debora melihat-lihat sekeliling dengan seksama. Ternyata dari ruang tamu ia bisa melihat pandangan indah. Langkah kaki Debora menyusuri dapur, kamar mandi luar dan kamar tidur.
"Wuah ... " gumam Debora senanng.
"Bagaimana, Nona? Apa Anda bersedia menempatinya?" tanya Arron.
"Ya, baiklah. Aku akan langsung bayar sewanya penuh untuk satu tahun. Apa aku bisa langsung menempatinya?" tanya Deborah menatap Arron.
"Tentu saja boleh. Silakan istirahat, Nona. Saya akan bawakan surat perjanjian kontraknya nanti." kata Arron.
"Ya, terima kasih.
"Kalau begitu aku dan dia pergi dulu, ya. Kamu istirhatlah," Kata Jofferson.
Jofferson dan Arron pergi meninggalkan Deborah.
***
Jofferson dan Arron berbincang di apartemen Jofferson.
"Ada apa kamu membawaku ke sini?" tanya Arron.
"Katakan padaku. Kamu mau diberi hukuman dulu, atau mau hadiah dulu?" tanya Jofferson.
"Apa? hu-hukuman apa? aku kan tidak melakukan apa-apa." sentak Arron.
Jofferson tersenyum lebar, "Tidak melakukan apa-apa? Hahaha ... benar, tidak melakukan apa-apa." Kata Jofferson menatap dingin.
Tubuh Arron seolah langsung membeku atas tatapan dingin Jofferson. Arron pun segera meminta maaf. Ia mengakui kesalahannya. Arron mengaku, jika tidak bermaksud jahat.
Jofferson sebenarnya tak marah sama sekali. Ia hanya bergurau dan menggoda Arron. Sudah lama ia tak berjumpa Adik dari Managernya itu.
"Kamu seriusa sekali, Arron. Aku hanya menggodamu saja tadi. Karena kamu sudah berhasil membuat Deborah menempati kamar depan kamarku, maka aku akan memberimu bonus nanti. Ayo, kita makan bersama lain waktu. Kakakmu pasti senang melihatmu." kata Jofferson.
"Ya, boleh saja. Kami sudah sangat jarang bertemu karena Kakak sibuk. Jika Managernya saja berkata begitu sibuk, apalagi akror sepertimu." kata Arron.
Jofferson mengiakan kata-kata Arron. Ia memang sibuk syuting akhir-akhir ini. Apalagi mendekati akhir film. Karena cidera, ia diizinkan istirahat oleh sutradara selama seminggu.
Arron lantas bertanya, apa alasan Jofferson melakukan itu tadi, maksudnya membuat Deborah menempati kamar depan kamar Jofferson? Dan Jofferson menjawab, agar ia bisa melindungi Debora diam-diam. Ia tidak ingin Debora mengalami hal sama seperti yang terjadi di apartemen lama.