Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (19)



Keesokan harinya. Sesuai hari yang telah ditentukan Jofferson. Papa dan Mama Deborah datang ke restoran yang yang diberitahukan Deborah. Tidak lama menunggu, Deborah datang bersama Jofferson dan Deborah langsung memperkenalkan Jofferson pada Papa dan Mamanya.


"Hallo, Joff. Aku Lydia Smith. Mama Deborah," kata Mama Deborah menyapa.


"Hallo, Bi. Senang bertemu Anda," kata Jofferson.


"Ini sumaiku, Papa Deborah. Adam Smith." kata Lydia memperkenalkan suaminya.


Jofferson tersenyum ke arah Adam, "Senang bertemu Anda juga, Paman." kata Jofferson.


"Ya, tidak perlu terlalu formal. Duduklah dan santai saja," kata Adam.


Deborah berharap pertemuan Jofferson dengan orang tuanya berjalan lancar. Deborah tegang, karena ia tidak tahu apakan Papa dan Mamanya akan menyukai Jofferson atau tidak.


Jofferson berbincang dengan Lydia dan Adam. Bahkan Jofferson mengenal sebagian aktris dan aktor angkatan Lydia dan Adam. Lydia tampak antusias, ia banyak mengurai senyuman saat berbincamg dengan Jofferson. Adam juga terlihat baik-baik saja dan menikmati percakapan dengan Jofferson.


"Bagaiman bisa kamu tahu banyak tentang mendiang? Mendiang itu aktor legendaris panutanku," kata Lydia.


"Mendiang adalah Kakek saya, Bibi. Kakek dari pihak Mama. Sayangnya Mama kurang suka berakting, beliau memilih mendalami kegemaraannya memasak seperti mendiang Nenek." jelas Jofferson.


Lydia terkejut sampai menutup mulutnya, "Ah, astaga. Aku tidak menyangka mendengar ini. Aku sangat terkejut, Joff. Pantas saja ketika melihatmu, aku merasakan aura mendiang. Dilihat cukup lekat, kamu punya kemiripan dengan mendiang. Hm ... cara bicaramu. Ya, cara bicaramu mirip sekali." kata Lydia yang juga mengingat-ingat cara bicara mendiang Kakek Jofferson.


Jofferson tersenyum, ia mengucapkan terima kasih karena Lydia sudah memujinya. Dan merupakan penggemar mendiang Kakeknya.


Tidak lama hidangan makan siang yang dipesan datang. Pelayan menyajikan hidangan dan pergi. Jofferson dengan sopan mempersilakan Adam dan Lydia untuk makan. Juga pada Deborah. Lydia berterima kasih, begitu juga Adam dan Deborah. Pembicaraan mereka terhenti dan mereka bersama-sama menikmati makan siang masing-masing.


Setelah menyantap hidangan penbuka dan hidangan utama, mereka menyantap hidangan penutup. Lydia bertanya beberapa hal tentang Jofferson dan Jofferson menjawab tanpa rasa ragu dan canggung semua pertanyaan yang dilontatkan Lydia padanya.


Tidak hanya Lidya, Adam pun juga melalukan hal sama. Menanyai beberapa hal terkait pekerjaan Jofferson dan tentang orang tua Jofferson. Karena tidak masalah bagi Jofferson menceritakan keluarganya, Jofferson menjawab sesuai pertanyaan yang ditanyakan padanya.


Dirasa sudah cukup lama   berbincang, Jofferson dan Deborah berpamitan pergi. Keduanya masih harus melakukan syuting sampai malam. Lydia dan Adam mengiakan. Meminta Jofferson dan Deborah berhati-hati.


Lydia menatap kepergian Deborah dan Jofferson, "Dia pemuda yang baik, ya?" kata Lydia.


"Ya, tentu saja. Dia berasal dari keluarga yang luar biasa. Kita bahkan tidak tahu kalau dia tidak bercerita tadi," kata Adam.


"Itu benar. Aku sungguh terkejut, sayang. Aku sampai tak bisa berkata-kata tadi." jawab Lydia.


Adam teridam. Ia merasa  ada sesuatu antara putrinya dengan pemuda yang baru saja ia temui dan ia ajak berbincang. Melihat putrinya terus menatap pria di sisinya dengan lekat.


Melihat suaminya diam saja, Lydia pun bertanya apa hal yang terjadi. Adam langsung menjawab, bukan hal besar. Hanya memikirkan sesuatu. Adam lantas mengajak istrinya untuk pergi. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan restoran.


***


Sesampainya di rumah, saat Lydia dan Adam sama-sama berganti pakaian. Tiba-tiba saja Lydia bertanya sesuatu pada suaminya.


"Sayang ... apa kamu tadi tidak memperhatikan Deborah?" tanya Lydia menatap suaminya.


"Memangnya ada apa? aku kurang perhatian karena fokus dengar cerita Jofferson." jawab Adam berpura-pura kurang memperhatikan situasi.


"Apa Lydia merasakan apa yang kurasakan tentang Deborah?" batin Adam.


"Hmm ... bagaimana menjelaskannya, ya. Aku merasa kalau Deborah itu menaruh hati pada Jofferson. Dan Jofferson sepertinya juga punya perasaan yang sama. Ia terlihat begitu perhatian pada putri kita meski ia terlihat juga sedang berhati-hati." kata Lydia.


Adam sudah menduga. Ternyata istrinya sepemikiran dengannya. Meski begitu, Adam tetap pura-pura tidak mempehatikan dan memilih diam.


"Biarkan saja. Deborah dan Damian kan sudah dewasa. Mereka bisa memilih pasangan masing-masing yang mereka inginkan. Asalkan mereka bahagia, itu sudah cukup bagiku." kata Adam.


Lydia memeluk Adam, "Kalau memang benar apa yang aku pikirkan, bukankah itu manarik? Kita dulu juga seperti mereka.


Ya, meski peran kita dulu selalu bertentangan. Kalau diingat-ingat, lucu sekali." kata Lydia tersenyum cantik.


Adam membalas pelukan istrinya, "Kamu benar. Dulu aku bahkan tidak menyangka bisa kudapatkan. Padahal aku sudah merasa tersingkirkan saat tahu begitu banyak pesaingku." kata Adam. Mengenang masa lalu.


Lydia tertawa. Ia melepas pelukan dan menatap suaminya lekat-lekat. Lyida mengatakan, karena daru sekiam banyaknya orang yang menyatakan cinta padanya, hanya Adam lah satu-satunya yang peduli padanya, meski untuk hal kecil. Lydia masih ingat jelas, kalau dulu Adam selalu diam-diam meletakkan kukis kesukaannya ke dalam tasnya. Meski tidak ada tulisan yang menunjukkan siapa pemberi kukis itu, Lydia sangat yakin kalau itu adalah Adam. Hanya Adam yang tahu, apa yang paling disukai sampai paling tidak disukai Lydia.


"Aku sangat bersyukur bisa hidup bersamamu. Melahirkan anak-anakmu, Adam. Meski kamu mulai menua dan rambutmu sudah berubah warna, cintaku padamu takkan pudar sedikitpun. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," kata Lydia.


Adam mengusap wajah Lydia, "Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Melahirkan anak yang tampan dan cantik. Juga mencintaiku yang banyak kekurangan ini. Sepertimu yang bersyukur, aku berkali-kali lipat lebih bersyukur. Aku juga mencintaimu, sayangku. Aku mencintaimu ... " ucap Adam.


Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Lydia. Keduanya lantas berciuman mesra.


***


Tidak pernah sekalipun Adam lupa, bagaimana perjuangannya mendapatkan Lydia. Ia tidak menyerah meski banyak orang mengatainya tak tahu malu. Karena dulunya Adam hanyalah seorang aktor pendatang baru yang tidak terkenal. Berkat Lydia, Adam bisa menjadi tokoh utama dan beradu akting dengan Lydia. Meski dalam film keduanya berbeda peran. Lydia berperan sebagai seorang detektif dan Adam adalah seorang mafia buronan. Dalam film itulah nama Adam dikenal masyarakat luas dan serelah film itu, Adam menerima banyak tawaran dan menjadi aktor terkenal.


Lydia sejak awal memang sudah memandang keberadaan Adam. Melihat Adam yang dikucilkan, padahal mempunyai bakat, Lydia pun membujuk temannya yang merupakan seorang penulis naskah. Lydia meminta temannya mempertimbangkan Adam sebagai aktor utama dan mempercayainya, kalau Adam adalah seseorang yang berbakat. Karena penilaian Lydia akan seseorang itu benar. Temannya pun mencoba percaya dan meminta Adam menjadi lawan main Lydia. Teman Lydia itu bahkan sampai membujuk sutradara dengan susah payah.