
Paman Deborah memberikan apa yang ingin diberikannya selama ini pada Deborah. Ia berkata akan memberikan hal sama, jika nantinya Damian menikah. Ia tidak membeda-bedakan dua keponakannya karena keduanya sangatlah ia sayangi.
"Meski aku hanya bisa memberi ini, aku harap kalian mau menerimanya. Ini adalah hal yang aku nanti-nantikan sejak dulu. Kalau dua keponakan kesayanganku menemukan pasangannya dan menikah, maka aku akan berikan ini sebagai hadiah. Mungkin memang tak seberapa, dibandingkan dengan apa yang orang tua kalian akan berikan nantinya. Kalian bukan berasal dari kalangan biasa-biasa saja, tapi aku juga ingin memberikan sesuatu untuk kalian, kan." ucap Paman Deborah.
Deborah berdiri dan pindah duduk di samping Pamannya. Ia memeluk Pamannya erat-erat. Tangisan Deborah pun pecah. Deborah berkata, kalau Pamannya tak boleh berkata seperti itu. Apapun yang diberikan, adalah yang paling balik dari yang terbaik, Deborah tau itu. Ia berkata juga, kalau seharusnya ia dan Damian lah yang seharusnya berterima kasih, karena Pamannya mereka bisa diterima oleh kalangan luas. Agensi membantu Deborah dan Damian mewujudkan mimpi mereka.
Deborah melepas pelukan dan menatap Pamannya, "Paman tidak boleh berkata seperti itu lagi, ok. Paman kan tahu, aku bukanlah siapa-siapa tanpa Paman, begitu juga Damian. Kamilah yang seharusnya berterima kasih dan memberikan hadiah untuk Paman." kata Deborah.
"Oh, sayangku sudah besar, ya. Kamu sudah bisa bicara begitu sekarang." goda Paman Deborah tersenyum.
"Deborah benar, Paman. Saya juga berterima kasih, karena Paman mau menawari saya menjadi salah satu dari anggota agensi ini. Saya senang," kata Jofferson.
"Hm, kalau itu ... aku menawarimu karena melihat bakatmu. Kamu memang tidak terlatih sejak kecil, tapi kamu punya kemampuan dan tekat yang kuat. Juga wajahmu, itu dambaan semua gadis dari segala kalangan. Ehemmm ... maksudku bukan apa-apa, jadi kamu jangan tersinggung Deborah. Paman hanya mengatakan sesuai dengan yang dulu Paman lihat dari Jofferson." kata Paman Deborah.
Deborah tertawa. Ia pun menepis kalau ia merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan sang Paman. Sebagai tokoh dunia hiburan, ia tidak boleh mencampur adukkan perasaan dan emosi pribadi dalam pekerjaan. Karena itu Deborah tidak akan menganggap penggemar wanita Jofferson sebagai lawan ataupun saingan cinta. Deborah yakin pada Jofferson, kalau Jofferson juga sependapat dengannya.
"Iya kan, Joff." kata Deborah menatap Jofferson.
Jofferson terdiam sesaat, lalu menjawab. Kalau ia sependapat dengan catatan siapapun pria yang mendekati Deborah bisa menjaga sikap dan tatapannya. Jika tidak, maka Jofferson tak akan menerimanya begitu saja.
Deborah tersenyum, "Ah, begitu rupanya. Baiklah, baiklah. Karena sekarang aku punya perasaan yang harus dijaga, maka aku akan memperhatikan tindakanku." kata Deborah.
Paman Deborah ikut tersenyum, mendengar percakapan ponakan dan calon suaminya. Ia pun bertanya bagaimana dan seperti apa hasil pertemuan dua keluarga? Kapan pernikahan Deborah dan Jofferson digelar? Deborah memebritahu, kalau orang tuanya dan orang tua Jofferson sepakat menentukam tanggal dua belas Desember sebegai tanggal pernikaha. Deborah mengatakan, kalau ia dan Jofferson lahir di tanggal dan bulan bahkan tahun yang sama, karena itu mereka menganbil bulan kelahiran sebagai hari pernikahan dan memilih tanggal dua belas, karena Desember adalah bulan ke dua belas dalam satu tahun.
"Intinya seperti itu. Nanti Paman pasti akan dihubungi Papa," kata Deborah.
"Hm, begitu. Baiklah. Nanti Paman akan bertanya pada Papa dan Mamamu, apakah ada sesuatu yang bisa Paman lalukam untuk bisa membantu. Apapun itu Paman akan lalukan demimu, Deborah." kata Paman Deborah.
Jofferson, Debora dan Paman Deborah melakukan pembicaraan panjang. Setelah selesai berbincang, Deborah dan Jofferson pun pamit pulang karena mereka masih harus pergi ke tempat lain.
Jofferson dan Beborah sudah sampai di parkiran kantor polisi. Saat sedang berbincang dengan Paman Deborah tadi, Deborah mendapatkam beberapa panggilan tak terjawab. Dan saat pergi ke kamar kecil, Deborah sengaja menghubungi nomor yang sebelumnya beberapa kali memanggilnya.
Setelah tahu itu nomor petugas polisi yang menangani kasusnya, Deborah pun segera mengirim pesan pada Jofferson, kalau setelah dari kantor, mereka harus ke kantor polisi. Untuk selengkapnya akan ia jelaskan dalam perjalanan. Ia tidak mau Pamannya khwatir, meminta Jofferson untuk tidak cerita sesuatu apapun.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jofferson khawatir.
Deborah menganggukkan kepala, "Ada kamu disisiku, apalagi yang aku khawatirkan. Aku baik-baik saja," jawab Deborah.
Jofferson memegang tangan Deborah, "Jangan pura-pura begini. Aku tahu kamu gelisah dan tidak tenang. Apa kita tolak saja permintaan pertemuan ini dan kembali besok?" kata Jofferson.
Deborah menggelengkan kepalanya pelan. Ia berkata kalau ia ingin datang memenuhi panggila untuk tahu semuanya dan agar kasus Exel segera selesai. Deborah meminta Jofferson untuk tidak khawatir, karena semuanya pasti akan baik-baik saja.
Setelah itu Jofferson dan Deborah pun masuk ke dalam gedung kantor polisi dan menemui petugas yang sebelumnya menghubungi Deborah. Petugas itu membawa Deborah dan Jofferson ke sebuah ruangan seperti ruang tunggu. Di sana petugas meninggalkan Deborah dan Jofferson sebentar karena ingin mengambil sesuatu.
"Maaf, membuat Anda berdua menunggu lama." kata petugas polisi yang baru saja masuk dalam ruangan.
"Ya, Pak. Tidak apa-apa. Silakan Bicara senyamannya saja," jawab Deborah.
"Hm ... begini, Nona. Ternyata setelah dilakukannya penyelidikan secara intens, ada dua korban sebelum Anda. Sayangnya dua korban tersebut meninggal karena bunuh diri. Kami masih melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus tersebut. Apakah ini ada hubungannya dengan Exel atau faktor lain. Namun, saat saya mendengar keterangan keluarga dari dua korban, dua korbam ini mengalami hal serupa dengan Anda. Seperti diikuti dan foto-foto mereka diambil tanpa persetujuan yang bersangkutan. Hamya saja, saat saya bertanya apa tidak dilakukan penuntutan pada tersangka? keluarga korban mengaku memilih jalan kekeluargaan karena keluarga tersangka sudah membayarkan kompensasi. Terlebih dua korban bunuh diri, bukan dibunuh. Sepetinya keluarga dari tersangka memang sengaja menutup mulut para korbannya dengan sejumlah kompensasi agar tak memperpanjang masalah. Oh, ya. Selain itu ... kami menemukan inu di apartemen pribadi Exel. Silakan Anda pakai sarung tangan dan Anda periksa. Apakah ini sesuatu milik Anda atau orang lain." kata petugas Polisi.
Deborah mengambil sarung tangan karet dan mengenakannya. Ia lantas membuka sebuah kotak dan terkejut saat melihat isi di dalam kotak. Ia melihat banyak sekali fotonya dan beberapa barangnya yang memang pernah dicarinya.
"A-apa ini? apa dia sudah gila?" ucap Deborah.
"Apa ini pakaian, dan juga barang Anda?" tanya petugas.
Deborah menganggukkan kepala, "Benar, Pak. Ini barang milik saya dan sempet ada beberapa barang yang saya cari termasuk kaus ini. Ini adalah kaus peberian Kakak saya saat Kakak saya pergi berlibur, dan pakian yang paling sering saya gunakan saat saya tidak ada diapartemen. Saat ini hilang saya mencarinya, bahkan saya bertanya pada Maneger saya. Saya tidak sangk bedebah busuk itu yang sudah mencurinya." jawab Deborah marah.