Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (13)



Satu minggu kemudian ....


Sutradara menjelaskan singkat adegan yang akan diperankan Deborah dan Jofferson. Sesuai naskah yang tertulis. Jofferson yang berperan sebagai Mattew   salah paham, saat melihat sang istri, Tirsa, yang diperankan Deborah. Diantar pulang rekan sekantor. Mattew cemburu, ia meluapakan rasa kesal dan kecemburuannya pada Tirsa.


Syuting pun dimulai. Tirsa turun dari sebuah mobil. Seorang pria juga turun dan mereka mengucap salam perpisahan. Tirsa berterima kasih, karena rekan kerjanya mau mengantar pulang. Pria yang mengatar Tirsa mengatakan, tidak masalah karena memang  rumah mereka satu arah.


Tiba-tiba Mattew muncul dan menarik tangan Tirsa. Membuat Tirsa juga rekan kerjanya terkejut. Mattew bertanya, siapa pria yang bersama Tirsa. Tirsa pun mengenalkam rekan kerjanya pada Mattew, suaminya. Rekan kerja Tirsa tampak kaget, ia tidak tahu kalau Tirsa memiliki suami dan mengiwa Tirsa masih lajang.


"Apa kamu tidak lihat cincin di jari manis istriku? atau sudah melihat, tapi pura-pura tidak tahu?" kata Mattew kesal.


"Sayang. Jangan seperti itu. Ma-maaf, Pak. Saya permisi dulu. Selamat malam," kata Tirsa canggung.


Tirsa lantas mengajak Mattew pergi. Merangkul lengan Mattew berjalan masuk ke dalam rumah.


Sutradara menghentikan syuting dan memuji akting para aktor dan aktrisnya. Mereka melanjutkan adegan selanjutnya setelah istirahat sepuluh menit.


Saat istirahat, Deborah tampak bicara dengan rekan seprofesi yang berperan sebagai rekan kantor yang tadi mengantar pulang. Deborah tertawa, mereka sepertinya sedang membicarakan hal yang seru. Melihat itu  entah kenapa Jofferson menjadi kesal. Senyumam yang sering dilihatnya, kini bisa dinikmati orang lain.


"Apa dia memang suka dekat-dekat pria asing?" gumam Jofferson.


Jofferson terus melihat ke arah Deborah. Tanpa disadari, Deborah memalingkan kepala dan pandangan keduanya pun bertemu. Debora merasa aneh, karena tatapan Jofferson begitu menusuk.


Karena merasa tidak enak diawasi, Deborah pun berpamitan dan pergi meninggalkan temannya itu sendirian. Deborah mencari Ryan, ia ingin minum air dingin. Saat mencari Ryan, Jofferson datang dan mendekati Deborah.


"Bagaimana rasanya?" tanya Jofferson.


"A-apanya yang bagaimana? kenapa kamu ke sini?" tanya Deborah.


"Aku hanya ingin menghampiri si rubah yang menyebarkan aromanya. Apa kamu sengaja mendekatinya? pria tadi tipemu?" tanya Jofferson menahan rasa kesal.


Deborah menatap Jofferson, "Kamu itu aneh, ya. Memang apa hubungannya denganmu, mau aku mendekati atau didekati siapa saja. Dia tipeku ataupun bukan, itu juga bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri," kata Deborah.


Deborah ingin pergi, tapi ia ia dihadang oleh Jofferson. Deborah memutar bola mata karena kesal diganggu Jofferson. Debora ingin marah, ingin mengatai dan bila perlu memaki Jofferson. Akan tetapi mereka sedang dilokasi syuting, yang pastinya tidak mungkin untuknya bertindak gila.


"Minggir, Joff." bisik Deborah.


"Katakan, kamu suka dia atau tidak?" tanya Jofferson benar-benar ingin tahu.


Debora menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia memijat pangkal hidungnya karena rasanya ingin sekali menarik krah kemeja Jofferson.


"Sudah aku katakan, itu bukan urusanmu, kan." bisik Deborah tersenyum.


Jofferson tersenyum, "Cepat jawab, atau kamu akan terus terjebak bersamaku di sini." kata Jofferson.


"Aku tidak menyukainya, dan dia sama sekali bukan tipeku. Apa kamu sudah puas dengan jawabanku?" bisik Deborah.


"Oh, baguslah kalau begitu. Aku suka jawabanmu," kata Jofferson. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Deborah.


Deborah memalingkan pandangan menatap kepergian Joferson. Deborah kesal karena Jofferson bersikap aneh. Saat ia memalingkan pandangan ke meja, ia melihat botol air mineral dengan sebuah catatan yang menempel di botol.


Catatan itu bertulisakan, 'Tidak perlu berterima kasih'. Deborah langsung tahu, siapa orang yang meninggalkan botol berisi air minum untuknya. Seseorang itu tidak lain adalah Jofferson.


Ryan datang membawakan minum untuk Deborah. Ryan melihat Deborah memegang botol dan baru saja selesai minum. Ryan minta maaf, karena datang terlalu lama.


"Ah, maaf ... seharusnya aku lebih cepat datang," kata Ryan.


"Tidak apa-apa, Kak. Jangan seperti itu." kata Deborah.


Ryan bertanya, darimana Deborah mendapatkan botol air minum, dan fiona menjawab kalau ia mendapatkannya dari badak. Ryan langsung tertawa mendengar Deborah mengatai Jofferson badak.


"Jaga ucapanmu, Bora. Di sini kamu tidak boleh sembarangan memanggil, ok." kata Ryan.


"Huh, iya, iya, aku tahu. Lagipula kan hanya ada kita berdua. Apa tadi Kakak tahu, kami beradu mulut tadi." kata Deborah lantaa bercerita.


Ryan mengangguk-angguk mendengarkan. Ryan memikirkan kenapa Jofferson seperti itu dan akhirnya ia menemukan jawabannya.


"Ah, benar. Jofferson pasti cemburu, karena Deborah dekat dengan aktor lain. Hihi ... kenapa hal mudah begini saja Deborah tidak peka? dasar anak ini," batin Ryan.


"Ya, kali ini aku maafkan. Dia masih meninggalkan air minum karena aku kehausan juga. Lain kali dia seperti itu lagi, akan aku tendang kakinya." kata Deborah.


Ryan tersenyum, "Kalian ini musuh tapi saling perhatian, ya? Untung saja kalian sama-sama profesional. Kalau tidak akan kacau," kata Ryan.


Deborah menatap Ryan, "Jangan bicara aneh-aneh. Perhatian apa. Aku menganggap botol air minum ini bukan apa-apa tuh. Sudahlah, sspertinya aku harus mulai syuting lagi." kata Deborah.


Deborah segera menghabiskan air dalam botol dan memberikan botol pada Ryan. Meminya Ryan menyimpan botol tersebut.


Ryan mengerutkan dahi, "Apa katanya? menyimpan ini?" gumam  Ryan menatap botol yang dipegangnya.


Ryan menghela napas. Ia pun memasukkan botol ke saku mantelnya dan pergi mengikuti Deborah.


***


Syuting kembali dilanjutkan. Kali ini adegan di dalam rumah, di mana Mattew dan Tirsa sedang makan malam bersama. Selesai makan Tirsa mencucu piring, Mattew datang dan langsung memeluk Tirsa. Mattew meminta maaf pada istrinya dan mengatakan kalau ia memang sangatlah cemburu.


Tirsa tersenyum. Ia mencuci tangan, mengeringkan tangannya, lalu berbalik menghadap Mattew. Tirsa mengatakan, kalau di dunia ini tidak akan ada yang bisa menggantikan Mattew dalam hatinya. Sekalipun ada seribu laki-laki tampan melebihi Mattew.


"Ah, kurasa tidak ada pria lain yang setampan priaku ini." kata Tirsa.


Mattewa mendekatkan wajahnya ke wajah Tirsa, "Aku mencintaimu, sayang." kata Mattew.


"Aku juga mencintaimu," kata Tirsa.


Mattew memeluk pinggang Tirsa dengan tangan kiri, dan tangan kananya mengusap tengkuk leher Tirsa. Keduanya lantas berciuman. Tirsa mengalungkan dua tangannya ke leher Mattew. Memperdalam ciuman. Dan syuting pun berakhir hari itu.


Deborah dan Jofferson saling menatap. Mereka kemudian memalingkan pandangan menatap semua kru. Sutradara lagi-lagi memuji Deborah dan Jofferson.


"Kalian memang yang terbaik. Berkat akting kalian yang profesional, kita bisa syuting dengan lancar sejauh ini. Pertahankan itu, Bora, Joff." kata Sutradara.


"Baik, Pak." jawab Jofferson dan Deborah bersamaan.


Sutradara meminta Deborah dan Jofferson istirahat. Syuting besok akan dilakukan pagi, karena akan mengambil adegan Mattew dan Tirsa berjalan-jalan di tepi pantai dan untuk melihat matahari terbit.