
Satu minggu kemudian ....
Entah apa yang dilakukan Papa Exel. Akhirnya ia berhasil membebaskan putra kesayangannya dari dalam jeruji besi. Ia bahkan langsung mengirim putranya itu ke luar negeri untuk sementara waktu. Exel dipesani untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri sementara ini, karena Exel baru saja lepas dari jeratan yang mengancam nyawa.
"Kamu tahu maksud Papa, kan? kali ini sangat sulit melepaskanmu. Ternyata lawanmu bukanlah orang biasa-biasa saja," kata Papa Exel.
"Dia bukan lawanku, Papa. Aku menyukainya," kata Exel.
"Oh, begitu. Kalau suka kenapa tak kamu dekati saja? kenapa malah membuatmu dalam bahaya?" tanya Papa Exel.
"Itu karena dia tak menyukaiku. Dia hanya menganggapku teman Kakaknya saja, tak lebih. Aku kesal, dia acuh tak acuh padaku, dan akhirnya aku lalukan saja apa yang kumau." jawab Exel jujur.
Papa Exel tertawa keras. Ia menertawakan putranya yang sedang kasmaran pada wanita. Exel bingung, ia mengira Papanya akan marah karena ia bersikap kekanakan karena jatuh cinta pada wanita. Padahal ia sudah bersiap kalau memang dimarahi.
Exel bertanya, Papanya tak marah? Papanya menjawab, kenapa marah? jatuh cinta pada siapa saja itu wajar, karena itu adalah rasa yang tiba-tiba muncul saat melihat lawan jenis. Papanya berkata, kalau Papa Exel juga seperti itu dulu saat melihat Mama Exel. Bisa dilihat, tapi tak bisa diraih. Exel mengerutkan dahinya bingung dengan perkataan Papanya.
"Apa maksud Papa? kalau Mama tak bisa diraih, bagaimana bisa Mama dan Papa menikah aku lahir?" tanya Exel.
"Itu karena Mamamu tak punya pilihan selain menerima Papamu ini. Papa membuat pria yang dicintai Mamamu meninggalkan dunia ini tanpa rasa sakit, hahaha ... manarik bukan?" jawab Papa Exel.
Mata Exel melebar. Ia terkejut mendengar ucapan Papanya yang terang-terangan mengatakan hal seperti itu. Exel bertanya, bagaimana bisa Papanya melakukan itu? apa yang sebenarnya terjadi antara Papa dan Mamanya? Papa Exel menjawab, kalau kisahnya sama seperti Exel. Cintanya tak terbalas, padahal ia memiliki segalanya yang tidak dimiliki pria yang dicintai Mama Exel. Meski sudah berusaha keras, Papa Exel terus mendapatkan penolakan. Sampai akhirnya ia marah dan melakukan hal tak terkendali. Ia meracuni pria yang dicintai Mama Exel di depan Mama Exel, tanpa tahu pelakunya adalah Papa Exel. Karena Papa Exel memasukkan bubuk racun secara diam-diam ke dalam minuman yang akan diberikan pada kekasih Mama Exel saat itu. Hal itu mengejutkan semua orang di caffe. Meski sudah dilakukan penyelidikan, pelakunya tak terungkap. Kebetulan sekali kamera pengawas sedang diperbaiki, jadi tak berfungsi. Jadi, Papa Exel tak perlu bersusah payah menghapus jejak kejahatannya dari pantauan kamera pegawas. Begitulah, akhirnya secara paksa Mama Exel berhasil dinikahi Papa Exel.
"Meski begitu, sampai akhir pun Mamamu sepertinya tak bisa melupakan pria itu. Kamu lihat kan apa yang terjadi pada Mamamu? gara-gara cinta ia menjadi gila!" kata Papa Exel.
Exel kaget. Karena ia baru tahu penyebab Mamanya mengalami depresi berkepanjangan. Saat Exel dulu masih kecil, ia rasa gejala yang dialami Mamanya tak seperah saat ini. Mamanya masih bisa melakukan aktifitas seperti layaknya seorag Ibu rumah tangga. Membangunkanya untuk sekolah, membuat sarapan. Bahkan Mamanya sempat bekerja di sebuah toko bunga. Ia tahu Mamanya memang terkadang suka menangis diam-diam saat tengah malam atau menjelang pagi buta dengan bergumam-gumam. Dan pasti setelah menangis Mamanya akan melukai tubuhnya sendiri. Hanya saja Exel tak paham kalau Mamanya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Papa Exel.
Papa Exel meminta Exel segera berkemas dan mempersipakan barang bawaan yang memang ingin dibawa. Ia berkata untuk Exel tak berkecil hati. Sementara Exel pergi liburan nanti, ia yang akan bicara pada Deborah terkait perasaan Exel. Dengan kata lain Papa Exel akan melamar Deborah untuk Exel. Mendengar itu Exel pun tersenyum senang. Exel segera pergi ke kamarnya untuk berkemas sesuai perintah Papanya.
Papa Exel langsung menghubungi Asistennya, ia berkata untuk Asistenya bisa menyesuaikan jadwalnya karena ia harus menemui seseorang demi putra kesayangannya. Saat Asistennya bertanya siapa seseorang yang ingin ditemui Tuannya? Papa Exel menjawab, ia akan menemui Deborah dan melamarnya untuk Exel. Bagaimanapun ia harus bisa bertemu dengan Deborah secepatnya. Setelah menghubungi Asistennya, Papa Exel mengakhiri panggilan. Ia duduk bersandar sofa dan menatap langit-langit ruang tengah rumahnya.
"Apa yang harus aku lakukan, jika wanita itu menolak putraku? Kekasihnya itu ... apa aku bisa mengusik cucu orang itu?" batin Papa Exel mengerutkan dahinya.
Papa Exel memejamkan mata, ia terbayang wajah sang Istri. Pikirannya jauh membawanya pada masa lalu. Di mana ia harus melakukan hal tak terpuji hanya untuk mendapatkan keinginanya. Ia tahu benar, istrinya tak baik-baik saja karenannya, tapi ia menyangkal akan hal itu. Ia lebih nenyalahkan pria yang dicintai istrinya, yang mana jejaknya tak akan pernah bisa dihapus dari ingatan istrinya.
***
Sementara itu Deborah yang stres mengamuk. Ia tidak terima akan keputusan kepala polisi yang tiba-tiba menutup kasusnya dengan alasan tak jelas. Jofferson juga berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak hanya Jofferson, bahkan Antonio yang merupakan Manager Jofferson pun ikut mencari tahu, juga Ryan, Manager Debora.
"Siapa sebenarnya orang itu?" gumam Deborah menggigit bibir bawahanya.
Jofferson mengusap bibir Deborah, "Jangan gigit bibirmu, sayang. Tenang dulu. Pasti ada alasan kenapa dia begitu saja bebas, kan. Kita cari tahu bersama-sama." kata Jofferson.
"Aku kesal, Joff. Si bedebah itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Bisa-bisanya polisi lepas tangan juga. Sialan!" kesal Deborah melempar batalan sofa ke lantai.
Jofferson menatap Antonio dan mendekati Managernya itu. Jofferson bertanya apakah tidak menemuka satu petunjuk pun? Antonio menjawab, kalau sulit sekali baginya mencari tahu siapa dalang dibalik bebasnya Exel. Karena tak ada satupun pihak yang tutup mulut. Antonio menduga, besar kemungkinan orang tersebut adalah orang berpengaruh. Jofferson meminta pada Antonio untuk terus berusaha. Dan meminta maaf karena sudah merepotkan.
Jofferson mengeluarkan ponsel. Ia menghubungi seseorang yang disuruhnya mencari tahu, tapi hasilnya juga sama saja. Tak bisa dicari tahu siapa orang yang membantu Exel. Jofferson tak menyerah. Ia menyuruh orang itu mencari tahu bagaimana caranya, meskipun harus mengeluarkan banyak uang pun tak masalah baginya. Panggilan diakhiri, Jofferosn tanpak kecewa karena tak bisa membantu Deborah.
Tiba-tiba ponsel Ryan berdering. Ryan mengambil ponsel dari dalam sakunya dan melihat nomor asing menghubunginya. Ryan pun menerima panggilan itu kalau-kalau penting. Benar saja, Ryan langsung kaget saat seseorang di ujung panggilan minta Deborah dipertemukan dengan Tuannya. Ryan mengerutkan dahi, untungnya ia menerima panggilan di dapur, bukan di ruang tengah di mana semua orang berkumpul. Ryan bingung, haruskah ia menolak atau menerima? Ryan lantas bertanya, siapa orangnya dan untuk kepentingan apa? Ryan berkata Deborah tak bisa menemui sembarangan orang.
Asisten Papa Exel pun berkata kalau Ryan ternyata sangat peduli pada Adik sepupunya, dan tertawa. Ryan semakin terkejut, tak ada orang lain yang tahu, jika Ryan adalah sepupu Deborah selain kelurga Deborah, dan CEO agensi. Ryan semakin penasaran. Ia lantas meminta waktu untuk bertanya pada Deborah, dan akan mengabari, mau tidaknya Deborah bertemu. Segala sesuatu bukan Manager yang memutuskan, melainkan yang bersangkutan.