Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (7)



Deborah memberitahu Ryan kalau ia sudah berhasil mencari apartemen baru. Saat Ryan tahu kalau Deborah tinggal di gedung yang sama dengan Jofferson, ia pun langsung kaget. Buru-buru Ryan datang ke apartemen Deborah. Ia ingin memastikan apakah di tempat baru itu aman atau tidak.


Saat Ryan masuk ke apartemen Deborah, pada saat yang sama Jofferson keluar dari apartemennya. Jofferson sempat melihat saat Ryan masuk ke apartemen Deborah.


"Dia langsung datang?" batin Jofferson tidak senang.


Jofferson keluar dan menutup pintu apartemennya. Ia hendak mengambil paket kiriman dari Antonio yang dititipkan pada penjaga di lantai bawah.


***


Ryan melihat-lihat sekeliling. Ia merasa tempat yang ditempati Deborah bagus dan terlihat lebih baik dari tempat sebelumnya.


"Bagaimana keamanan di sini?" tanya Ryan.


"Disini petugas keamanan dibagi tiga shif dan selalu berkeliling secara teratur. Parkirannya luas dan kamu liat sendiri kan, di sini tak mungkin ada pencuri yang bisa masuk. Penjagaan di pintu masuk lantai bawah sangat ketat. Saat aku datang kemarin juga mereka menanyai ini dan itu, tapi saat aku buka maskerku baru mereka mengizinkanku datang karena tahu aku mencari Jofferson." jawab Deborah.


Ryan menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia merasa lega, setidaknya sekarang Deborah ada di tempat yang aman.


"Oh, ya, Kak. Aku lupa beritahu sesuatu. Unit depan kamarku, itu hunian Jofferson." kata Deborah.


"Hah? Apa?" kata Ryan kaget.


Deborah menatap Ryan bingung, "Kenapa terkejut begitu. Aku dan Joff kan rekan kerja, tak masalah kan kalau kami juga tetangga." kata Deborah.


"Tidak hanya satu gedung, tapi kalian tinggal bersebrangan, ya. Benar-benar luar biasa," kata Ryan tersenyum canggung.


Ryan tidak tahu apakah keputusan Deborah tinggal bersebrangan dengan Jofferson itu tepat atau tidak. Meski keduanya merupakan rekan dan bisa dikatakan  sudah seperti pasangan Drama. Tetap saja Ryan khawatir akan adanya skandal yang muncul yang bisa merusak citra keduanya.


Ryan berharap kedepannya tak terjadi apa-apa. Hanya akan terjadi hal-hal yang baik-baik.


Deborah tak paham dengan ucapan Ryan. Ia bingung, kenapa Ryan terlihat khawatir. Saat ditanya, apakah ada sesuatu? Ryan pun menjawab, tidak ada apa-apa.


Setelah cukup lama berbincang, Ryan pun berpamitan. Ia harus pergi ke perusahaan untuk bicara dengan CEO agensi. Deborah pun mengantar Ryan sampai ke depan gedung apartemen.


Di depan, Deborah melihat Jofferson yang sedang berbicara dengan petugas keamanan. Ia menghampiri Jafferson dan menyapa.


"Hai ... " sapa Deborah.


"Oh, hai ... " sapa balik Jofferson.


"Itu apa?" tanya Deborah melihat sebuah tas yang dibawa Jofferson.


"Makanan. Kamu mau makan denganku?" tanya Jofferson.


"Hm ... boleh. Kebetulan aku lapar, hehe ... " jawab Debora tersenyum cantik.


Jofferson bertanya, apakah ada seseorang yang datang ke apartemen Deborah, karena saat keluar ia seperti melihat bayangan  yang masuk. Deborah mengiakan, menjawab kalau Managernya datang. Deborah mengatakan, Managernya hanya ingin memastikan tempat yang akan ditinggalinya.


***


Saat Deborah dan Jofferson sedang menikmati makanan. Tiba-tiba Jofferson  mendapatkan panggilan dari Antonio. Ada berita yang kurang enak beredar tentang Jofferson dan Deborah.


Mendengar itu, Jofferson segera menganbil tabletnya dan mencari beritanya diinternet dan membacanya langsung. Deborah yang penasaran pun ikut membaca. Ia langsung kaget karena diberitakan sedang berbadan dua.


"Siapa yang membuat berita ini? berani sekali!" batin Deborah kesal.


Jofferson membantah berita itu dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jofferson bahkan menjelaskan, jika sebelum pergi ke apartemen Deborah, ia dan Deborah memang ke rumah sakit. Untu memeriksaka luka, bukan untuk pemeriksaan lain.


"Kamu kan tahu bahuku terluka. Karena lukaya terbuka dan terasa nyeri, makanya aku minta Deborah mengantarku. Kebetulan saja aku dan dia sedang membahas naskah." kata Jofferson menutupi apa yang sebenarnya terjadi dan mengarang ceritanya sendiri.


Deborah terkejut. Tak menyangka seorang Jofferson akan berbohong dan mengarang cerita sedemikian rupa.


Setelah dijelaskan dan Antonio memahaminya, panggilan pun berakhir. Jofferson kembali menatap layar tabletnya dan menggulir semua artikel terkait berita yang tidak benar itu.


"Aku akan menghancurkan perusahaan yang berani memberitakan berita sampah seperti ini." Batin Jofferson.


"Bora ... tunggu sebentar, ya. Aku mau menghubungi seseorang dulu." kata Jofferson yang langsung pergi membawa ponselnya masuk ke dalam kamar.


Deborah yang penasaran dengan berita tidak benar itupun menghubungi Ryan. Ia bertanya asal berita itu. Ryan mengatakan, jika pihak agensi sudah langsung mengeluarkan artikel bantahan. Meminta Deborah untuk tidak panik ataupun gelisah. Ryan mengatajan Deborah untuk tak keluar dari apartemen sementara waktu sampai berita mereda. Tak lama Panggilan pun berakhir.


Ponsel Deborah kembali berdering, ia mendapat panggilan dari Damian, Kakaknya. Baru saja panggilan diterima, Damian sudah ribut bertanya banyak pertanyaan pada Deborah. Segera Deborah menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Hei, Bora ... kamu dengar aku tidak? hallo ... Bora? Deboraaa ... " panggil Damian.


Debora menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya. Ia pun mengatakan pada Damian kalau berita yang beredar itu tidaklah  benar. Ada alasan khusus, kenapa ia pergi ke rumah sakit pagi-pagi dengan Jofferson.


Belum sampai Deborah selesai menjelaskan, ponsel Deborah direbut oleh Jofferson dan Jofferson menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Damian.


"Jangan menyalahkan Debora. Akulah yang salah. Karena aku terluka dan tak bisa menyetir, Debora mengantarku ke rumah sakit. Kami ke sana pagi-pagi karena berpikir kalau pagi pasti sepi. Sepertinya ada wartawan yang berkeliaran mencari bahan berita dan melihat kami di rumah sakit." jelas Jofferson.


"Oh, begitu. Aku bukannya ingin menyalahkan Debora atau tidak percaya penjelasannya. Aku justru khawatir, kalau Debora Adikku terluka sampai dia harus ke rumah sakit." kata Damian.


"Oh, pria ini ternyata mengkhawatirkan Adiknya? Membuatku salah paha saja. Aku mengira dia sedang marah-marah," batin Jofferson.


"Eh, tunggu ... ke-kenapa kamu bersama Adikku? bukankah hari ini Adikku tak ada Jadwal syuting atau jadwal lainnya?" tanya Damian.


Jofferson menatap Deborah, "Ah, itu ... apa kamu sudah dengar tentang kejadian kemarin? tentang penyusup yang masuk tanpa izin ke aparteman Deborah? karena itu dia pindah dan dia pindah di   apartemen yang sama denganku. Kami tinggal satu gedung, di lantai yang sama dan bersebrangan." jawab Jofferson menjelaskan.


"Hah? Apa? tu-tunggu ... aku tak mengerti maksudmu. Jelaskan pelan-pelan agar aku paham situasinya. Siapa penyusup itu dan apa alasannya." tanya Damian.


Jofferson menatap Deborah dan berbisik. Ia bertanya apakah boleh menceritakan soal Exel pada Damian? Deborah menganggukkan kepala. Ia tahu Kakaknya pasti akan sangat kecewa pada temannya itu. Hanya saja ia tak bisa membiarkan Exel begitu saja karena sudah mengusik kehidupannya.