Scandal (Queen and King Drama)

Scandal (Queen and King Drama)
Scandal (21)



Pertanyaan yang datang tidak tertuju hanya pada Jofferson dan Deborah saja. Ada yang bertanya pada Aktor dan Aktris pendukung, sutradara, bahkan penulis naskahnya sampai kameramen juga kru lain. Semua pertanyaan dijawab dan acara pun hampir usai.


Saat acara hendak ditutup. Jofferson menghampiri pembawa acara dan berbisik sesuatu. Pembawa acara langsung mempersilakan Jofferson untuk bicara.


"Mohon perhatian semua. Sebelum acara sesi tanya jawab kami akhiri, ada yang Aktor kita, Jofferson Lewigh ingin sampaikan.  Silakan," kata pembawa acara.


Jofferson berdiri memegang mic. Ia menatap penggemar dan para wartawan, lalu menatap semua orang yang ada di sisi kiri dan kanannya.


"Maaf, sudah menyela. Sekalian saya ingin mengumumkan sesuatu hal yang penting. Saya dan Deborah, kami akan menikah." kata Jofferson.


Seketika suasana hening. Dan tidak lama ramai diiringi suara tepuk tangan. Para wartawan langsung menulis artikel terkait pernyataan Jofferson.


"Kapan pernikaha kalian dilaksanakan?"


"Apa kalian sudah lama menjalin hubungan?"


"Di mana kalian menikah?"


Tak lama setelah menyatakan kabar tentang pernikahan, banyak pertanyaan mucul. Baik dari para penggemar dan para wartawan.


"Mohon tenang, mohon tenang. Hmm ... bisa tolong jelaskan? Sepertinya kami terlalu syok mendegar beritanya." kata pembaca acara.


Jofferson mengulurkan tangan pada Deborah dan Deborah menyambut tangan Jofferson. Ia bangkit berdiri dari duduknya.


"Kapan dan di mana kami akan menikah, kami akan memberitahu sesegera mungkin. Apakah kami sudah lama menjalin hubungan? jawabanya belum lama. Hanya selama kami bersama bermain film. Akan tetapi kami sudah lama saling kenal. Kami adalah teman semasa sekolah menengah." kata Jofferson menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk.


Deborah menambahi. Mungkin banyak diantara mereka yang teekejut, dan tidak menyangka. Begitu juga Deborah. Ia tidak sangka, akan jatuh hati pada lawan mainnya, yakni Jofferson. Sejak kapan cinta itu bersemi? Deborah sendiri tidak tahu jawabannya. Yang jelas, ia memiliki perasaan mendalam terhadap Jofferson, begitu juga sebaliknya.


Suara tepuk tangan kembali terdengar. Semua orang mengucapkan selamat dan tak sabar menantikam hari bahagia Deborah dan Jofferson. Dengan berakhirnya pernyataan kedua belah pihak, berakhir juga acara sesi tanya jawab hari itu.


***


Seketika banyak artikel bermunculan terkait pernyataan Jofferson dan Deborah. Bahkan berita tentag keduanya masuk dalam jajaran pencarian teratas. Kabar itu benar-benar mengguncang dunia hiburan.


Adam dan Lydia yang menyaksikan siaran langsung pun kaget. Keduany tak menyangka akan dapat kejutan. Bahkan Damian langsung pulang ke rumah setelah membaca artikel dan melihat siaran langsungnya yang sudah tersebar luas di internet.


"Pa, Ma, a-apa i-itu benar?" kata Damian terengah-enggah. Ia menatap Papa dan Mamanya.


Adam dan Lydia bersamaan menatap Damian. Lydia menjawab, kalau sampai disiarkan secara langsung, berarti kemungkinannya benar. Adam menganggukkan kepala membenarkan perkataan sang istri.


Damian tak percaya, adik nya akan menikah. Bahkan ia baru tahu setelah melihat berita. Ia sedikit kecewa, karena tak diberitahu langsung oleh sang Adik.


Tidak lama Deborah datang. Ia tahu keluarganya pasti sudah membaca berita dan melihat siaran langsung. Karena itu ia datang untuk menjelaskan semuanya agar keluarganya tak salah paham.


***


Di lain tempat. Jofferson juga sedang bicara dengan Papa dan Mamanya. Jofferson mengatakan apa alasan ia memberikan pernyataan sebelum memberitahu Papa dan Mamanya.


"Jadi, kapan kita menemui keluarga Deborah?" kata Jonas, Papa Jofferson.


Jofferson kaget, ia tidak percaya Papanya bertanya hal tak terduga. Padahal Jofferson sudah menyiapkan mentalnya untuk dimarahi karena sudah bersikap tak selayaknya keluarga terhormat.


"Papamu benar. Kapan kita temui keluarga Deborah? kalau bisa secepatnya. Agar kita juga bisa langsung berdiskusi." kata Lissa, Mama Jofferson.


"Soal ini aku tanyakan dulu pada Deborah. Papa dan Mama tunggu saja kabar dariku," kata Jofferson tegang.


"Sayang, jangan menggodanya. Pulanglah dan istirahat sana. Papa dan Mama mau pergi belanja ke supermarket." kata Lissa.


Jofferson menuruti apa kata Mamanya. Ia pun segera berpamitan pulang pada Papa dan Mamanya.


Lissa memukul pelan bahu Jonas, "Kenapa kamu membuatnya takut? dia itu putramu, bukan putra orang lain." kata Lissa.


"Aku tidak membuatnya takut, sayang. Aku kan hanya bertanya. Kenapa kamu selalu membela putramu itu? sesekali bela aku, aku ini suamimu." kata Jonas.


Lissa berdiri dari duduknya, "Malas. Kamu itu hanya perusuh yang suka mengganggu putraku. Dasar Pak Tua. Ahh, iya. Ayo, kamu kan janji mengantarku belanja Pak Tua." kata Lissa menatap suaminya tajam.


"Tidak bisakah kamu memanggilku dengan panggilan sayang atau panggilan yang mesra. Kenapa Pak Tua?" omel Jonas menggerutu.


Lissa tertawa dalam hati. Sejujurnya ia sangat senang menjahili suaminya. Jonas berdiri, ia berjalan meninggalkan ruang tengah kediamannya. Lissa mengikuti Jonas, merangkul lengan Jonas.


***


Jofferson memasukkan sandi pintu dan membuka pintu. Ia lantas masuk ke dalam apartemennya. Begitu masuk ia dikejutkan oleh Deborah yang sedang memasak. Deborah tampak lucu menggunakan appron.


"Selamat datang, sayangku." sapa Deborah. Menatap Jofferson dari dapur.


Jofferson tersenyum, "Hai, aku mengira kamu masih di rumah orang tuamu. Bagaimana? pembicaraannya lancar?" tanya Jofferson.


"Papa dan Mamaku bertanya. Kapan bisa menemui orang tuamu." kata Deborah, melepas appron dan meletakkan appron di gantungan. Ia berjalan mendekati Jofferson.


"Oh, kebetulan sekali. Papaku juga tadi bertanya hal yang sama. Kita pertemukan saja orang tua kita," kata Jofferson.


Jofferson melepas jasnya dibantu Deborah. Tak hanya jas, bahkan Deborah juga membantu melepas dasi dan kemeja Jofferson.


"Mandilah dulu, lalu kita makan." kata Deborah.


Jofferson memeluk Deborah, "Kamu tahu? aku sangat senang." kata  Jofferson.


Deborah mengeratkan pelukan, "Aku juga sangat senang, Joff. Jantungku terus berdebar sejak tadi," kata Deborah.


Jofferson melepas pelukan. Ia mencium kening Deborah dan pergi mandi. Baru beberapa langkah, Jofferson menghentikan langkah dan berbalik.


"Sayang, tolong siapkan pakaianku, ya." kata Jofferson yang kembali berbalik  dan pergi ke kamarnya.


Deborah tersenyum, ia berjalan mengikuti Jofferson ke kamar. Ia melihat Jofferson masuk ke kamar mandi, dan Deborah berjalan mendekati lemari pakaian Jofferson. Perlahan Deborah membuka lemari, ia memilih pakaian ganti untuk Jofferson.


"Dia rapi sekali," gumam Deborah. Melihat isi lemari Jofferson.


Baru kali ini ia melihat isi lemari pria lain selain lemari Kakaknya. Ia terkejut, karena isi lemari Jofferson tertata rapi. Deborah menyentuh pakaian Jofferson dan tersenyum lebar. Ia segera mengambil pakaian ganti untuk Jofferson dan duduk di tepi tempat tidur menunggu Jofferson selesai mandi.


Sepuluh menit berlalu. Jofferson keluar dari kamar mandi. Ia melihat Deborah duduk di tepi tempat tidurnya memandang ke arahnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Jofferson.


"Melihat kesayanganku yang tampan," jawab Deborah tersenyum cantik.


Jofferson mendekati Deborah. Ia melihat pakaian gantinya sudah disiapkan. Dengan segera ia melepas handuk yang melingkari pinggangnya dan berganti pakaian. Deborah sempat kaget, ia pun segera memalingkan pandangan.