
Hari pertemuan dua keluarga pun tiba. Orang tua Jofferson, bertemu dengan orang tua dan Kakak Deborah. Mereka bertemu diseuah restoran mewah dan menggunakan ruangan VIP untuk pertemuan. Setelah selesai memperkenalakan diri satu sama lain, mereka langsung membahas tentang pernikahan.
Orang tua Jofferson menyetujui kapanmu dan di manapun pernikaha itu terjadi. Orang tua Deborah pun mengusulkan untuk melakukan pernikahan di akhir tahun saja, tepat di bulan kelahiran anaknya. Mama Jofferson juga langsung setuju, karena di bulan yang sama adalah bulan kelahiran Jofferson.
Deborah memberitahu Papa dan Mamanya, kalau tanggal lahir, bulan lahir, juga tahun kelahirannya sama dengan Jofferson. Dan orang tuanya juga orang tua Jofferson sama-sama teekejut, lalu tertawa bersama.
Lydia dan Lissa sama sekali tidak menyangka, mereka melahirkan di hari yang sama meskipun di negara yang berbeda dan waktu yang berbeda juga.
"Sepertinya mereka sudah berjodoh sejak lahir, ya." kata Lissa.
"Sepertinya begitu," kata Lydia.
Damian hanya diam. Ia mengamati pembicaraan para orang tua itu dengan seksama. Karena ada pekerjaan, Damian tidak bisa ikut makan siang bersama. Ia harus segera pergi. Setelah berpamitan, Damian pun pergi meninggalkan semua orang.
Lissa menyayangkan kepergian Damian begitu saja, tapi ia juga tidak bisa memaksa orang yang sibuk untuk tetap tinggal.
Tidak beberapa lama, pelayan datang membawa hidangan yang sudah dipesan. Mereka semua makan bersama dengan tenang dan menikmati hidangan.
***
Tanggal pernikahan sudah disepakati. Pernikaha akan diselenggarakan di bulan Desember tanggal dua belas. Masih ada sekitar lima bulan untuk mempersiapkan semuanya. Masing-masing keluarga pun membagi tugas.
Karena Deborah dan Jofferson harus ke kantor, mereka tidak bisa mengikuti acara pertemuan para orang tua sampai akhir. Mereka meminta maaf dan berpamitan. Para orang tua tidak bisa mencegah, mereka mau tak mau membiarkan putra dan putrinya pergi.
Orang tua Jofferson dan Orang tua Deborah kembali melanjutkan diskusi. Mereka membicarakan banyak hal terkait pernikahan dan mencatat apa saja yang diperlukan. Pertemuan itu berlangsung cukup lama, karena mereka juga membicarakan hal lain selain pernikahan Deborah dan Jofferson.
***
Diperjalanan menuju kantor agensi. Deborah yang tegang terus diam menatap ke luar kaca mobil. Jofferson meraih dan mengenggam tangan Deborah. Ia kemudian mecium punggung tangan Deborah.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Jofferson.
"Banyak hal. Sampai aku merasa ini seperti mimpi." jawab Deborah.
"Aku juga merasa ini bukanlah kenyataan. Aku yang hanya bisa memadangmu dari jauh, kini bisa berada dekat bahkan menyentuhmu. Aku yang berpikir tak bisa mendapatkanmu, kini tak perlu khawatir karena aku akan memilikimu seorang diri. Aku berpikir, apakah ini nyata atau hanya mimpi?" kata Jofferson menjelaskan perasaannya.
"Terima kasih, Joff. Sudah datang menghampiriku," kata Deborah. Tersenyum cantik menatap Jofferson.
"Terima kasih juga. Sudah menyambut kedatanganku. Jujur saja aku tidak menduga kamu memiliki perasaan sama sepertiku. Aku bahkan sempat berpikir kalau kamu memang sangat membenciku, karena sejak dulu kamu selalu mengataiku dengan kata-kata pedas dan menatapku tajam." kata Jofferson.
Deborah menjawab kalau ia seperti itu karena Jofferson selalu saja mencari gara-gara dengannya. Siapa yang tidak kesal, kalau tiba-tiba disalahkan. Siapa yang tidak kesal, kalau diejek atau dikatai sebagai rubah. Padahal tak pernah sekalipun Deborah mengatai atau meamncing kekesalan Jofferson lebih dulu.
"Pikiranku dulu masih kekanakan," kata Jofferson.
"Apa kamu memang sekesal itu padaku? aku kan tidak salah apa-apa," kata Deborah.
"Itulah, aku juga bingung kenapa aku dulu seperti itu. Padahal aku ini tak pernah bersikap buruk pada anak-anak lain. Mungkin karena kamu cantik dan mengemaskan, juga mengesalkan. Makanya aku tak bisa membirkanmu." kata Jofferson.
Deborah pun mengejak Jofferson. Ia bertanya, apakah sejak saat itu Jofferson menyukainya? Deborah pun tertawa keras. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat menggoda Jofferson.
"Kamu pasti sangat tidak nyaman atas perlakukanku, Bora. Untuk itu semua aku minta maaf. Dulu aku seperti itu, tapi sekarang aku tak akan seperti itu." kata Jofferson.
"Aku percaya padamu, Joff. Aku sebenarnya tidak marah saat kamu terus mencari gara-gara denganku. Hanya saja aku sangat kesal sampai rasanya ingin sekali menarik telingamu. Setelah aku pikir baik-baik, dibandingkan aku dapet masalah karena sudah melakukan kekerasan fisik padamu, lebih baik untuk aku katai balik. Dan ... begitulah. Setiap kamu mengataiku, aku melemparkan kata-kata dua kali lebis pedas untuk meluapkan rasa kesalku." jelas Deborah.
Jofferson baru paham. Itulah sebabnya Deborah selalu mengatainya sebagai Badak yang tak punya rasa malu. Jofferson memuji sikap berani Deborah saat masih sekolah dulu. Karena dari sekian banyaknya siswa, hanya Deborah lah satu-satunya teman sekolahnya yang berani memanggilnya dengan sebutan badak. Padahal dulu ia adalah idola gadis-gadis dari semua kelas.
Sepanjang perjalanan, Deborah dan Joffeson saling bercerita kisah masa lalu mereka. Mereka kembali saling mengejek dan mengatai, lalu tertawa bersama-sama. Sungguh, masa-masa yang tak pernah bisa telupakan.
***
Jofferson dan Deborah disambut oleh CEO agensi. Mereka berdua dipersiklakan untuk duduk.
"Paman, apa ada hal penting?" tanya Deborah menatap Pamannya.
"Aku memanggil kalian karena ingin mengucapkan terima kasih. Atas kerja keras dan usaha kalian sejauh ini, kini nama Agensi kita semakin melejit juga dikenal oleh berbagi kalangan." kata Paman Deborah.
"Itu kan sudah jadi kewajiban kami sebagai Aktor dan Akris dari Agensi Paman." jawab Deborah.
"Bora benar, Pak. Ah ... maksud saya, Paman. Saya sependapat dengannya. Kalau kami sebagai anggota Agensi berkewajiban untuk mengembagkan dan tak menodai reputasi Agensi." sambung Jofferson.
Paman Deborah menganggukkan kepala, "Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Karena kalian sudah berkata seperti itu, maka kalian harus menerima pemberianku yang tak seberapa ini, ya. "kata Paman Deborah.
Sebuah kotak dan sebuah dokumen diletakkan Paman Deborah di atas meja. Ia ingin Deborah dan Jofferson membuka hadiah darinya. Deborah dan Jofferson saling menatap, sebelum keduanya membuka bersama-sama apa isi hadiah dari Paman Deborah.
Deborah membuka kotak, dan Jofferson membuka dokumen. Saat membuka kotak, Deborah melihat dua jam tangan mewah yang sepertinya di design khusus. Bahkan ada namanya juga nama Jofferson.
"Kapan Paman menyiapkan ini?" tanya Deborah.
"Oh, itu ... saat memilih ini aku juga tidak sangka kalau kalian akan menjadi pasangan sungguhan seperti sekarang. Aku bahkan sudah meminta pihak mengemas secara terpisah. Barulah setelah berita tentang kalian tersebar, aku meminta toko mengemas menjadi satu tempat. Haha ... " jawab Paman Deborah. Yang sepertinya memiliki firasat yang bagus.
Deborah melihat dokume yang dibaca Jofferson. Deborah dibuat kaget lagi. Ia dan Jofferson dihadiahkan sebuah Villa mewah oleh Paman Deborah.