
Seorang pria duduk di dalam mobil di bangku belakang, ia sedang mengawasi mobil yang ditumpangi Jofferson dan Deborah. Pria itu menatap Asistennya dan bertanya apa yang terjadi di dalam kantor polisi, dan kenapa Asistennya tak membawa Exel?
"Apa terjadi sesuatu?" tanya pria paruh baya itu masih menatap ke arah yang sama.
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bisa membujuk kepala polisi untuk menjamin Tuan Muda. Terlebih wanita itu mengatakan sesuatu dan membuat saya terdiam tak bisa berkata-kata," jawab si Asisten.
"Cari tahu lebih lagi tetang wanita itu. Apapun tentangnya, juga keluarganya. Aku tidak tahu, bagaimana Exel sampai terlibat dengannya. Berusahalah untuk menjamin Exel, karena aku tak akan bisa menemui putraku kalau dia masih di dalam sana," kata pria itu.
"Baik, Tuan." jawab si Asisten cepat.
"Sialan! beraninya wanita itu menghalangiku membebaskan putra kesayanganku. Lihat saja, siapapun kamu aku akan menghancurkanmu." batin pria itu kesal.
Pria itu lantas menyuruh supirnya untuk mengemudikan mobil menuju kediamannya. Si supir mengiakan perintah Bossnya dan langsung mengemudikan mobil pergi meninggalkan parkiran.
***
Sementara itu, di dalam jeruji besi. Exel yang hanya sendiri itu duduk diam dipojokan. Ia mengerutkan dahinya, berpikir bagaimana cara agar ia bisa bebas dan mengacau pada acara pernikahan Deborah. Ia tidak terima, Deborah akan menikah dengan Jofferson.
Exel berpikir, apa kurangnya ia dibandingkan Jofferson? ia punya segalanya, yang juga dimiliki Jofferson. Ia lebih mengenal Deborah sekeluarga dibandingkan Jofferson. Semakin dipikirkan, semakin membuat Exel emosi.
"Sialan! bisa-bisanya pria itu merebut Deborah dariku. Memangnya dia siapa? hanya aktor saja sudah belagak. Apa karena ia sering beradu akting dengan Deborah, ia jadi ingin menikah sungguhan dengan Deborah? pasti diam-diam pria itu terus merayu Deborah saat mereka syuting. Dasar bedebah sialan! bahkan dia juga mencari muka pada Deborah saat itu, kan." batin Exel.
Exel teringat akan kejadian di mana ia dipergoki masuk ke apartemen Deborah. Tidak hanya Deborah yang melihatnya, tapi juga Jofferson. Dan Jofferson memang menatap tajam ke arahnya. Pada saat itu Exel memang tidak tahu, dan mengira Jofferson hanyalah pria biasa yang membantu. Namun, setelah ia mendengar kabar yang disiarkan ditelevisi dan membaca sutat kabar, bahwa Deborah akan menikah dengan Jofferson, barulah Exel sadar kalau Jofferson sepertinya memang sengaja ingin dipandang baik di depan Deborah saat memergokinya.
"Cih! Membuatku kesal saja. Aku tidak akan membiarkanmu begitu saja mendapatkan Deborah, sialan. Aku akan merebut wanitaku kembali," batin Exel lagi.
Ia berharap Papanya segera membantunya. Ia bertanya-tanya, kenapa kali ini ia begitu lama mendekam di jeruji besi? Biasanya ia bahkan tak sampai sehari ada di tempatnya berada saat itu. Exel pun ingin mencari tahu, ia segera berdiri dari duduknya dan memanggil petugas jaga. Exel bertanya apa ada seseorang yang mengunjunginya hari itu? atau seseorang yang menghubungi dan bertanya kabarnya? petugas jaga itu tidak tahu -menahu soal itu. Namun, ia bersedia mencari tahu. Exel berterima kasih, dan menunggu informasi dari petugas jaga. Petugas itupun langsung pergi meninggakan Exel.
Exel gelisah. Ia mondar-mandir menunggu kabar. Ia berharap Asisten Papanya segera datang dan membebaskannya. Tidak lama kemudian, ada seorang petugas masuk dan mendekati Exel. Petugas itu menyampaikan surat dari Asisten Papanya pada Exel. Petugas itu juga bercerita, jika tadi sempat ada keributan. Antara orang yang memberikan surat dengan seorang wanita. Saat Exel tanya siapa wanita yang dimaksud, petugas itu langsung nenjawab, jika itu adalah Deborah dan seorag aktor.
Exel bertanya lagi, apa petugas dengar perdebatan itu? dan petugas itupun menceritakan semua yang ia dengar pada Exel. Petugas itu meminta Exel segera membaca dan ia akan minta kembali suratnya untuk dibakar. Petugas itu berkata, akan ada masalah besar, jika sampai teman atau atasannya tahu ia diam-diam membantu Exel.
"Di mana petugas jaga yang di sini tadi?" tanya Exel.
"Aku memintanya pergi membeli kopi. Karena stok kopi di dapur habis," jawab petugas itu.
Exel segera membuka amplop dan membaca isi surat. Isi suratnya adalah permohonan maaf, dan permintaan untuk bersabar. Karena kali ini masalah yang dihadapi cukup serius dan ada pihak yang menentang Exel mendapatkan jaminan. Asisten Papanya memberitahu, kalau ditemukan bukti lain seperti foto dan barang pribadi di apartemen pribadi Exel dan itu membuat bebasnya Exel dengan jaminan dipersulit.
Exel segera merobek dan memberikan robekan kertas itu pada petugas yang menunggunya. Ia berkata pada petugas itu, apakah boleh pinjam ponsel? ia mau menghubungi Asisten Papanya karena ada hal yang mendesak. Petugas itupun mengiakan. Dan segera memberikan ponselnya pada Exel. Dengan cepat Exel memasukan nomor ponsel Asisten Papanya dan menghubunginya. Panggilan diterima, Exel langsung bertanya berapa lama ia harus menunggu? Dan Asisten Papanya itu menjelaskan kalau situasinya saat ini sulit.
"Bagaimana Papa?" tanya Exel.
"Beliau juga sedang mencari cara. Esok beliau akan menemui kepala kejaksaan bersama pengacara dan berunding. Apa Anda baik-baik saja, Tuan Muda? Tuan Besar mencemaskan Anda." jawab si Asisten.
"Aku baik-baik saja. Sampaikan pada Papa agar tak cemas ataupun khawatir. Dan aku percaya Papa akan mengeluarkanku secepatnya." jawab Exel.
"Saya akan sampaikan. Tuan Muda tidak perlu khawatir, Anda pasti akan mendapatkan jaminan." kata si Asisten.
"Ya, aku tutup dulu teleponnya." kata Exel.
Si Asisten berkata, jika ia ingin bicara dengan petugas yang ponselnya dipjnjam Exel. Exel mengiakan, ia memanggil petugas dan menyerahkan ponsel. Ia berkata kalau Asisten Papanya ingin bicara. Petugas itupun langsung mendekatkan ponsel ke telinganya dan meminta Asisten Papa Exel untuk bicara.
Exel melihat petugas itu serius mendengar dan mengiakan, juga menganggukkan kepala. Exel penasaran, apa yang dikatakan Asisten Papanya itu pada petugas. Tak lama panggilan berakhir. Petugas itu menatap Exel, ia berkata pada Exel untuk mencarinya saja kalau butuh sesuatu. Dan semisal ada informasi penting, ia akan menyampaikan pada Exel.
Exel mengerti, dan menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengerti kalau Asisten Papanya telah menjadikan petugas itu pekerja sementara yang akan menyampaikam informasi dan mengurusnya selama ditahan. Exel ditanya, apakah membutuhkan sesuatu? Exel menjawab, ia tidak butuh apa-apa. Ia ingin tidur karena lelah. Petugas itupun berpamitan dan pergi meninggalkan Exel.
Exel duduk bersandar dinding. Ia menatap langit-langit ruangan tempatnya berada. Ia lantas tersenyum masam, ini memang bukan kali pertama baginya masuk jeruji besi, jadi ia tak merasakan apa-apa saat masuk kembali ke dalamnya. Exel mengingat apa yang disampaikan Asiten Papanya dalam surat, jika ditemukan bukti lain berupa foto dan barang pribadi milik Deborah.
"Haahh ... (menghela napas) sayang sekali harus ketahuan. Padahal aku mengambil itu semua dengan susah payah. Aku juga mengumpulkan itu selama berbulan-bulan." batin Exel.