
Deborah tidak percaya. Kalau seseorang seperti Jofferson bisa berkata manis dan lembut. Karena sangat kaget, Deborah sampai diam dan tidak bisa berkata-kata.
Melihat Deborah yang diam, Jofferson menjadi canggung. Ia pun mengatakan pada Deborah untuk melupakan perkataannya. Ia sudah menduga, kalau Deborah pasti tidak akan senang dan terbebani dengan pernyataan cintanya yang tiba-tiba.
"Lupakan saja kata-kataku. Ini sudah larut malam, sebaiknya kita kembali." kata Jofferson.
Jofferson melangkah melewati Deborah. Tangan Jofferson dipegang Deborah, sehingga langkah Jofferson terhenti.
"Joff ... " panggil Deborah.
Jofferson memalingkan pandanganya, "Ya?" jawab Jofferson.
"Hm ... aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Mengingat apa saja yang kita lakukan. Ma-maksudku kita syuting bersama untuk beberapa film, apalagi kita selalu mendapat peran pasangan. Aku ... aku bingung. Aku juga menyukaimu, tapi akaha perasaan ini nyata atau hanya perasaan semu yang kubangun untuk peranku. Aku tidak bisa membedakannya. Karena itu. Bisakah kamu memastikan persaanku? agar aku bisa menjawab perasaanmu," kata Deborah.
Jofferson langsung mendekat dan memeluk Deborah. Tidak lama pelukan terlepas dan Jofferson mencium bibir Deborah. Saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Jofferson, seketika itu juga jantung Deborah berdegup kencang.
"Rasanya berbeda, tidak sama seperti saat kami syuting." batin Deborah.
Deborah melebarkan mata. Ia akhirya tahu perasaan apa yang dirasakannya itu. Perasaan senang dan tak ingin kehilangan.
Ciuman terlepas, Jofferson mengusap wajah Deborah dan bertanya, apa ada sesuatu yang terjadi saat mereka berciuman? Deborah menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Jofferson dengan wajah bersemu merah.
"Perasaan senang dan tak ingin kehilangan. Itu yang kurasakan. Aku sangat senang sampai rasanya ada kembang api yang meletup-letup dalam hati juga pikiranku. Dan aku tidak mau momen manis ini berakhir begitu saja. Ini berbeda dengan perasaan yang kualami saat syuting." jelas Deborah.
"Jadi, apa kamu sudah bisa menjawab perasaanku? aku tidak masalah dengan apapun jawabanmu, Deborah." kata Jofferson.
"Se-sepertinya perasaanku juga sama sepertimu." gumam Deborah malu bercampur canggung. Ia langsung menundukkan kepala.
Jofferson tersenyum. Ia menadahkan wajah Deborah agar keduanya bisa saling memandang. Deborah menatap Jofferson, dan Jofferson menatap Deborah. Keduanya saling melempar senyuman dan kembali berciuman.
***
Deborah kembali ke apartemen. Ia merasa lelah karena seharian syuting. Ia segera pergi mandi. Ia juga ingin langsung tidur setelah mandi.
Setelah mandi, Deborah mendengarkan bell. Ia segera melihat monitor dan terlihat Jofferson berdiri di depan pintu. Deborah senang, ia segera membuka pintu dan menyambut kekasihnya itu.
"Joff ... "panggil Debroah tersenyum.
Jofferson memberikan buket bunga mawar yang ia sembunyikan di balik punggung. Ia tersenyum malu, karena ini pertama kali baginya memberikan bunga pada perempuan.
"Wuah, cantik sekali. Terima kasih," kata Deborah tersenyum cantik.
Deborah melihat sekitar dan langsung menarik tangan Jofferson untuk masuk ke dalam apartemennya. Deborah menggandeng tangan Jofferson untuk duduk di sofa.
Tiba-tiba Jofferson menghentikan langkah dan memeluk Deborah dari belakang. Jofferson langsung mengendus leher dan mencium leher Deborah.
"Kamu baru selesai mandi? kenapa tidak mengajakku mandi?" bisik Jofferson.
"A-apa? ka-kamu kan bi-bisa mandi sendiri. Lepaskan aku dan jangan mengendus-enduaku begitu." kata Deborah.
"Umhh ... Joff ... " gumam Deborah merasa geli.
Tangan Jofferson perlahan membuka tali kimono handuk yang dikenakan Deborah. Tali terlepas dan Jofferson langsung menanggalkan kimono handuk yang dikenakan Deborah.
"Tu-tunggu, Joff ... apa yang kamu lalukan? I-ini ... ini ... ahhh ..." kata Deborah saat merasakan tangan Jofferson menyentuh sesuatu yang tak seharusnya.
Tiba-tiba bell apartemen Deborah berbunyi. Deborah dan Jofferson kaget. Deborah segera mendorong Jofferson dan memungut kimono handuk. Ia buru-buru mengenakan kimono handuknya dan mengikat talinya. Ia berjalan mendekati monitor, dan terkejut melihat Damian datang.
"Joff, cepat masuk ke kamarku. Damian datang," kata Deborah. Ia buru-buru menarik tangan Jofferson agar mengikutinya ke kamar tidur.
Deborah buru-buru ganti pakaian. Ia sampai tidak sadar kalau Jofferson ada di tempat yang sama di mana ia sedang ganti pakaian. Baru setelah Deborah menatap cermin besar di kamarnya, ia melihat Jofferson di belakangnya melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"Gilaaa ... a-pa yang baru saja kulakukan? ahh ... sialan!" batin Deborah mengumpat.
Deborah pun masa bodoh, ia tidak peduli lagi mau Jofferson melihat tubuhnya atau tidak. Yang terpenting ia harus cepat ganti pakaian dan membukan Damian pintu. Kalau tidak Damian akan marah.
Debora berusaha memasang pengait pakaian dalamnya, tapi kesulitan. Jofferson langsung mengambil alih. Ia membantu Deborah memasang pengait dan dengan nakalnya menciumi punggung putih mulus Deborah.
"Sshh ... Joff ... aku harus cepat." kata Deborah.
Jofferson mau tidak mau harus membiarkan Deborah bergegas. Ia tidak harus menahan diri untuk memangsa Deborah.
Deborah mengenakan celana pendek dan kaus, lalu merapikan rambutnya. Ia meminta Jofferson diam di kamar tanpa suara, minta juga untuk jaga-jaga agar Jofferson diganti ke mode hening.
"Tetap di sini dan jangan bersuara, ok." Kata Deborah.
Jofferson memegang tangan Deborah, seolah tak rela Deborah pergi. Deborah mengusap wajah tampan Jofferson, lalu mencium kilas bibir Jofferson. Deborah berkata ia akan segera mengusir Damian pergi agar bisa berduaan dengan Jofferson.
Deborah keluar dari kamar tidurnya dan menutup pintu kamar. Ia berjalan menuju pintu apartemennya, lalu membuka pintu.
Damian menatap Deborah, "Lama sekali membuka pintunya. Kamu mau aku menjamur di depan pintu?" kata Damian yang langsung masuk ke dalam apartemen Adiknya.
"Maaf, aku tidak dengar karena sedang mandi tadi. Ada apa?" tanya Deborah.
"Kamu baru pulang?" tanya Damian.
Deborah menganggukkan kepala, "Ya, baru pulang. Mandi, lalu ingin tidur. Aku sangat lelah, karena di villa tak bisa tidur nyeyak." kata Deborah.
Damian merasa tidak enak karena tiba-tiba datang. Ia pun meminta maaf karena mendadak datang ke apartemen. Damian memberikan tas berisi colelat, desert dan makanan untuk Deborah.
"Makanlah sedikit sebelum pergi tidur. Aku pulang dulu. Aku juga mau tidur sebentar, karena nanti malam ada syuting lagi." Kata Damian.
"Ya, hati-hati pulang. Mandi dulu, lalu tidur. Jangan tidur tanpa menghapus riasanmu. Mengerti?" kata Deborah mengingatkan.
"Iya, iya. Aku mengerti." kata Damian.
Damian pun pergi meninggalkan apartemen Adiknya. Deborah mengantar kepergian sang Kakak sampai di depan pintu. Melihat Kakaknya sudah masuk ke dalam lift, ia pun masuk dan menutup pintu.
Debora segera mengeluarkan isi dalam tas. Ia menyimpan dessert, cokelat dan makanannya dalam lemari pendingin. Ia langsung pergi ke kamarnya, ia ingin tahu Jofferson sedang apa di dalam kamarnya.