Sad Girl

Sad Girl
{Chapter 44}



🍁


Keesokan harinya Aleta mendengar kabar kalau Alvaro sakit, saat mendengar kabar itu ia langsung ke rumah Alvaro.


Aleta mengetuk pintu rumah Alvaro. "Assalamu'alaikum," ucap Aleta.


Pintu rumah Alvaro terbuka menampilkan sosok seorang perempuan yang seumur dengannya tapi ia tidak mengenali wanita itu dan ia baru melihat wanita itu.


"Lo siapa?" tanya wanita itu.


"Aku Aleta, aku pacarnya Alvaro kamu sendiri siapa?" tanya Aleta.


Wanita itu hanya diam, lalu ia menarik Aleta untuk masuk ke dalam. "Lo pasti mau jengukin Alvaro kan, masuk aja ke dalem kamarnya dia lagu tidur," ucap wanita itu.


"Tante Maria mana?" tanya Aleta, Tante Maria merupakan Ibu Alvaro, ia sudah mengenalnya bahkan kini ia sangat dekat dengannya.


"Tante lagi ke pasar," jawab wanita itu.


Aleta masuk ke dalam kamar Alvaro, ia melihat Alvaro tengah tertidur. Aleta menempelkan tangannya di dahi Alvaro. "Panas," ucap Aleta pelan.


Aleta mengambil air hangat dan kompres untuk Alvaro. Ia melihat bibir Alvaro yang tampak pucat. "Maafin aku Al, kamu sakit pasti gara-gara aku ya, harusnya kemarin aku gak bawa kamu hujan-hujanan," ujar Aleta merasa bersalah.


"Kamu gak salah Sayang," Aleta tersentak ketika mendengar suara Alvaro, ia kira Alvaro masih tertidur.


Alvaro membuka matanya perlahan-lahan lalu ia tersenyum sambil menatap Aleta. "Gue udah minta sama Allah kalau lo gak boleh sakit, mending gue aja yang sakit daripada gue ngelihat cewek kesayangan gue sampe sakit," ucap Alvaro sambil mengelus pipi Alvaro. 


"Tapi aku juga gak bisa ngeliat kamu sakit Al," balas Aleta.


Alvaro duduk lalu ia menarik Aleta ke dalam pelukannya. "Gak papa Sayang," ujar Alvaro sambil mengecup pucuk kepala Aleta.


Ketika Alvaro mau batuk ia segera menjauhkan Aleta darinya, ia tidak mau jika Aleta tertular sakitnya. "Jangan deket-deket gue dulu ya Ta, gue takut nanti lo ikut sakit," pinta Alvaro.


"Gak bisa, aku pengen selalu ada di dekat kamu Al," ujar Aleta sambil tersenyum.


Aleta mengambil bubur ayam yang ada di atas nakas, sebelum ia kerumah Alvaro ia menyempatkan diri untuk membeli bubur untuk Alvaro, "Ayo makan dulu Al."


"Lo juga harus makan," Alvaro mengambil mangkuk yang berisi bubur ayam itu dari tangan Aleta. Alvaro menyodorkan sesendok bubur ayam pada Aleta, "Makan Ta," perintah Alvaro lembut.


Tanpa berkata apapun Aleta membuka mulutnya lalu memakan sesendok bubur ayam itu, ia tahu kalau ia tidak makan Alvaro tidak akan mau makan.


"Sekarang gantian kamu," Aleta menyuapkan sesendok bubur ayam ke dalam mulut Alvaro, "Al, aku tadi ketemu cewek di rumah kamu, itu siapa Al?" tanya Aleta.


Ia sudah penasaran tentang wanita itu daritadi, pikirannya berlayar kemana-mana, ia hanya takut wanita itu masa lalu Alvaro atau wanita yang sedang dekat dengan Alvaro.


Alvaro tersenyum tipis menatap wajah Aleta yang tampak memikirkan sesuatu, ia bisa menebak apa yang dipikirkan Aleta.


Alvaro mencubit pipi Aleta pelan. "Jangan mikir yang aneh-aneh, gue cuma sayang sama lo dan lo satu-satunya cewek milik gue," ucap Alvaro.


Aleta malu sendiri mendengarnya, ternyata Alvaro bisa menebak apa yang ia pikirkan sekarang. "Maaf Al, aku percaya kok sama kamu," ucap Aleta sambil tersenyum.


Alvaro mengulurkan tangannya mencubit pipi Aleta gemas. "Gemesin banget sih cewek gue," ujar Alvaro gemas.


"Aleta," Aleta menolehkan kepalanya ke arah pintu kamar Alvaro dimana suara itu berasal.


Maria membalas pelukan Aleta. "Tante juga kangen sama kamu Sayang," balas Maria.


Maria melirik Alvaro. "Al, kamu udah makan? Mama udah beliin nasi padang kesukaan kamu, dimakan ya," ujar Maria.


"Alvaro udah makan kok Tante, tadi Aleta bawain bubur ayam buat Alvaro," jelas Aleta.


Maria mendekati Alvaro lalu ia mencubit pipi Alvaro. "Dasar kamu, pas Mama yang minta kamu makan dari semalam aja gak mau, tapi giliran Aleta yang minta kamu makan, kamu langsung mau," kesal Maria.


"Sakit Ma, Alvaro lagi sakit kok malah dikasarin," decak Alvaro.


"Nasi padangnya buat Aleta aja Ma, dia belum makan, Alvaro gak mau kalau Aleta sampe telat makan," lanjut Alvaro.


Maria kembali mencubit pipi Alvaro. "Dasar bucin!" ledek Maria.


Maria menggandeng Aleta keluar dari kamar Alvaro, sementara Alvaro mengikutinya dari belakang padahal Aleta sudah meminta Alvaro untuk beristirahat saja.


Maria, Aleta, dan Alvaro duduk di meja makan. "Rin," panggil Maria.


"Iya Tante," jawab Rin.


Maria melirik Rin. "Kenalin Rin, ini pacarnya Alvaro, namanya Aleta, dia cantik kan. Dan Aleta, ini Rin sepupunya Alvaro, kebetulan dia baru pulang dari Amerika terus nginep di sini," jelas Maria.


Aleta tersenyum ramah pada Rin begitupula Rin yang membalasnya dengan senyuman hangat.


"Ya udah, ayo makan," ajak Maria.


Alvaro duduk di samping Aleta, ia mendekatkan kursinya dengan kursi Aleta lalu ia menyenderkan kepalanya di bahu Aleta. "Kalau berat bilang ya Ta," ujar Alvaro.


"Gak berat kok," jawab Aleta.


"Kamu mau makan lagi gak Al?" tanya Aleta.


Alvaro menggeleng pelan. "Gak, gue cuma  pengen tetap kaya gini," jawab Alvaro. Alvaro merasa nyaman bersandar di bahunya Aleta.


"Aku mau ke kamar dulu ya, Tante, Aleta," pamit Rin setelah menyelesaikan makannya.


"Itu Alvaro kayanya tidur deh, bahu kamu gak cape apa? Bangunin aja deh suruh dia tidur di kamar," saran Maria.


"Gak usah Tante, aku gak mau tidur dia terganggu gara-gara aku bangunin," ujar Aleta pelan.


Maria tersenyum tipis. Ia bisa melihat kalau Aleta begitu mencintai Alvaro dan Alvaro juga terlihat sangat mencintai Aleta, ia tidak pernah melihat Alvaro sampai seperti ini pada wanita lain.


"Ya udah, kalau gitu Tante mau ke dapur dulu bentar ya Aleta. Kalau kamu cape nanti bangunin aja Alvaronya," ujar Maria lalu ia pergi ke arah dapur.


Aleta mengambil ponselnya yang ada di atas meja makan, ada nomor tak dikenal yang mengirimkannya pesan padanya. Aleta tersentak ketika membaca pesan itu, ketika ia mencoba menelepon nomor yang tidak ia kenal itu nomornya malah tidak aktif.


LO HARUS MATI MISKIN! TUNGGU AJA HARINYA GUE BAKAL BUNUH LO!


🍁


Jangan lupa votenya ❤